
Di pagi hari yang cerah, dengan sinar matahari apik yang bersinar terang di atas sana, nampak seorang wanita bersurai hitam tengah duduk di salah satu tempat istirahat para kesatria kediaman Aristotle.
Pagi ini dia kembali di sibukan dengan Mikel yang merengek ingin dia ikut menemani latihan berpedang seperti di hari-hari sebelumnya.
Dan selama itu, perkembangan Mikel dalam latihan berpedang sudah terlihat lebih baik dari saat pertama kali ia berlatih.
Rebecca sedikit merasa lega saat melihat majikannya sudah berkembang seperti sekarang. Apalagi selama ia bekerja di kediaman ini, banyak desas-desus tentang Mikel yang sudah berubah sedikit demi sedikit.
Meskipun bagi Rebecca itu tidak sama sekali, karna Mikel yang selalu menganggu dan memarahinya tanpa kenal waktu.
Ia lantas menghela nafas pelan sembari melempar pandang ke arah sosok bersurai silver. Kalau di lihat-lihat, anak itu ternyata memiliki paras yang rupawan.
Pantas saja dia terkenal di kalangan nona bangsawan. Terbukti saat berberapa hari yang lalu ia mendengar kabar bahwa Lady dari keluarga Krysta, yang katanya terkenal akan kecantikan dan kepintarannya, mengirimkan surat permohonan pertunangan pada Mikel.
Jujur saja, Rebecca merasa senang saat mendengar berita itu. Sebelum sebuah fakta yang lain datang dan cukup mengejutkannya.
Fakta bahwa Lady Krysta sepantaran dengannya.
Memang, tidak sedikit cerita romantis yang menceritakan tentang kisah cinta dengan umur para pemeran utama yang berbanding jauh.
Tetapi, jika kisah itu terjadi pada majikannya, Rebecca tidak bisa membayangkan hal itu.
"Umur Tuan muda saja masih sekitar tiga belasan tahun."
"Lalu? Apa masalahnya?"
Pertanyaan Mikel yang secara tiba-tiba ia lontarkan, membuat Rebecca terlonjat kaget. Jantungnya serasa hampir naik ke otak saat mendengar tuannya ikut menimpali apa yang ia katakan tadi.
"Tidak bisakah anda muncul dengan normal tanpa mengagetkan saya?"
Rebecca menatap kesal sosok yang dengan seenaknya muncul tanpa mempedulikan kondisi jantungnya saat ini.
Mikel yang merasa tidak bersalah sama sekali, malah mengangkat satu alisnya tanda heran. Dia lantas bersedekap sembari berdecak pelan.
"Itu salah mu sendiri karna tidak menyadari kedatangan ku semenit yang lalu."
Rebecca seketika bungkam saat mendengar penjelasan yang di katakan majikannya. Mungkin karena dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri, ia malah tidak menyadari kedatangan Mikel.
"Hmm... ya, sepertinya anda benar," ucapnya mengala sembari menyondorkan handuk wajah berserta minuman pada Mikel.
Tetapi, yang di beri hanya menatap dua benda itu lama. Rebecca pun mengernyitkan dahi tanda merasa bingung.
"Ada apa Tuan muda? Apa ada yang kurang?"
Mikel menggelengkan kepalanya sembari menatap kedua manik violet milik Rebecca.
"Bukankah tugas mu untuk membantu ku? Jadi, lakukanlah tugas itu."
Rebecca menghela nafas jengah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera mengelap keringat majikannya yang menetes cukup banyak. Senyuman kemenangan pun terbit di balik bibir Mikel, sebelum ia berbicara.
"Maksud mu soal umurku itu kenapa?"
Rebecca sempat memberhentikan kegiatannya itu, saat mendengar pertanyaan yang di tujukan padanya. Mau tidak mau di harus mengatakannya pada Mikel.
"Ini tentang Lady dari keluarga Krysta yang melamar anda. Bukankah umur kalian berbanding jauh?"
Sebelum mendengar jawaban yang akan di lontarkannya, Rebecca sempat menangkap suara decakan dari anak itu. Keliatannya dia tidak tertarik dengan berita tersebut.
"Kau ini aneh-aneh saja. 'Kan belum tentu aku menerimanya," jelasnya sembari menyetil dahi sang dayang.
"Eh, tapi beliau dari keluarga yang terkenal lho. Apalagi Lady Krysta tergolong wanita cantik dan pintar, yang hanya ada sedikit di Kekaisaran."
Rebecca menjelaskan secara singkat, garis besar tentang Lady dari keluarga Krysta pada Mikel. Namun tetap saja, ekspresi datar yang terlihat tidak tertarik sama sekali itu, masih terpampang jelas dalam raut wajahnya.
"Aku tidak tertarik, dan tidak akan pernah tertarik padanya."
Jawaban ketus dan penuh penekanan pada akhir kalimat, membuat Rebecca sadar akan satu hal.
"Ah, anda menolaknya karna perbedaan umur kan? Jika tidak, pasti sudah di terima."
Rebecca tersenyum di akhir kalimat sembari menyudahi aktifitasnya. Tetapi, saat ia hendak berdiri, Mikel malah menahan kedua bahunya secara tiba-tiba.
Ia seketika mendongak, memberi tatapan tanya pada Mikel yang berdiri di hadapannya. Ada sedikit jeda sebelum lelaki itu membuka suara.
"Aku sudah memiliki seorang yang ku sukai. Lalu... Soal umurku, jika ku katakan sudah berada di angka dua puluhan, apa kau akan percaya?"
Netra sang puan seketika membola. Ia berkedip beberapa kali sebelum menertawai pernyataan yang di katakan tuannya.
"Pfftt... Hahaha... Astaga bualan anda sangatlah lucu. Bilang saja anda sudah ingin dewasa secepatnya, agar bisa bertunangan dengan Lady Krysta."
Beberapa kalimat yang ia katakan membuat Mikel merasa kesal. Di berinya tatapan tajam pada Rebecca sebelum berbalik memunggungi wanita itu.
"Ck, ya sudah kalau tidak mau percaya. Intinya aku tidak membual dan aku tidak menyukai wanita itu."
"Oh ya? Lalu, siapa wanita beruntung yang anda sukai?"
Rebecca bertanya sembari mengusap liquid bening yang tadi sempat keluar karna tertawa berlebihan. Bagaimana tidak? Tuan mudanya yang masih kecil itu mengatakan hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Dia... Dia... Pokoknya dia wanita yang lebih cantik dari pada Lady Krysta. Orangnya ceria sekaligus cerewet, dan tidak peka!"
"Astaga... Kasian sekali anda. Kalau memang sikapnya seperti itu, maka Tuan muda harus menunjukkan ketertarikan anda secara terang-terangan."
Rebecca menjelaskannya secara terperinci agar mudah di mengerti untuk anak seusia Mikel. Karena, yang ia tahu, anak seusia mereka masih bodoh dalam hal percintaan.
Apalagi dengan sikap tuannya yang menyebalkan dan sulit di mengerti, pasti akan memperlambat kepekaan gadis yang majikannya sukai.
"Tapi... Kalau Tuan muda tidak tahu cara menunjukkan perasaan anda, maka saya akan siap membantu kapanpun itu."
Mikel seketika mengepalkan kedua telapak tangannya dan menatap tajam dayangnya sekali lagi. Padahal yang ia maksudkan adalah Rebecca sendiri, tapi kenapa dia malah berkata seperti itu!
"Ck, tidak perlu! Karna selain tidak peka, dia juga bodoh dalam menilai sesuatu. Sudah! Aku mau istirahat sekarang! Jangan mengganggu ku!!"
Mikel meninggikan nada bicaranya kemudian berbalik mengambil langkah lebar meninggalkan lapangan latihan.
Rebecca sedikit meringis pelan saat memikirkan nasip percintaan Tuan mudanya yang sepertinya tidak akan berjalan lancar.
"Aku turut prihatin Tuan muda. Wanita yang seperti itu memang ada. Tapi, siapa sih dia? Jika aku tahu dia siapa, sudah ku marahi habis-habisan."
Rebecca mengepalkan satu tangannya ikut merasa kasal. Setelah itu dia segera menyusul Mikel yang sudah berada cukup jauh dari pandangan.
...✾✾✾...
Matahari siang bersinar terang di langit biru. Pemandangan tanah tandus di depan sana, sangat terlihat oleh kedua manik biru seorang pria yang menyandang gelar kandidat.
Sedikit ia menunduk untuk sekedar menyentuh tanah yang di pinjakinya. Keras dan begitu kering. Itu adalah penilaian pertama yang muncul saat telapak tangan sang pria menangkup segumpal tanah dalam satu genggaman.
"Kerusakannya sangat parah."
Seorang pria bersurai coklat yang sejak tadi berdiri dalam diam di samping majikannya, kini angkat bicara memberikan komentar terhadap keadaan tanah sekitar.
"Meskipun begitu, pasti ada satu cara agar bisa mengembalikan kesuburan tanah ini."
Killian lantas bangkit berdiri sembari menatap kesatria pribadinya dengan serius. Menerima tatapan tuanya, pria bernama Aaron hanya menghela nafas panjang.
"Saya pikir anda sudah tahu bahwa distrik di bagian timur kekaisaran ini, tanahnya sudah tidak bisa di perbaiki. Bahkan warga sekitar sudah menyerah untuk mengobatinya."
Penjelasan yang di terimanya tidak membuat keinginan Killian kendur. Dia lalu memerintahkan Aaron untuk membawa semua data berisikan informasi tanah distrik timur untuk di telaah.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera berbalik melaksanakan perintah untuk mengambil data tanah sekitar dari kepala desa.
Setelah beberapa saat berlalu, Aaron tiba dengan membawa satu dokumen di tangannya.
Sempat pria itu menangkap siluet seseorang yang ada di belakang kesatrianya.
"Tuan muda, ini dokumen yang anda minta sebelumnya."
Aaron segera menyerahkan surat tersebut dan langsung di terima oleh Killian.
"Siapa dia?"
Lelaki Osmond itu mengarahkan pandangannya pada sosok yang berdiri tenang di belakang Aaron. Yang di tanya pun segera menjelaskan bahwa orang yang mengikutinya ke sini adalah kepala desa.
"Salam tuan Duke, saya Ash selaku pemimpin di desa ini. Maafkan saya karna tidak bisa menyambut anda. Sebab ada beberapa perkerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan. Jika ada yang perlu anda ketahui lebih lanjut, maka saya akan dengan senang hati menjelaskannya."
Pria berumur itu menunduk sebagai salam sebelum kemudian memberikan sedikit senyuman kecilnya pada Killian.
Ia sungguh merasa senang saat mendengar pemimpin dari distrik timur yakni Duke Eld, memberitahukan sebuah kabar bahwa akan ada seseorang yang akan membantu pengobatan tanah di desanya.
"Tidak apa-apa, tuan Ash. Kehadiran anda di sini pun, sudah memberikan bantuan untuk kami."
Setelah berucap, Killian segera membuka dan membaca beberapa informasi tentang tanah sekitar. Di mulai dari suhu serta berlanjut pada iklim.
Sedikit ia mengeryit bingung saat membaca deretan informasi itu. Semuanya terlihat normal, tetapi kenapa tanah di desa ini kering?
Berbagai argumentasi mulai berterbangan dalam benaknya. Melihat ekspresi wajah yang di tunjukkan Killian, membuat tuan Ash selaku pemimpin desa angkat bicara.
"Sebenarnya kami sudah berusaha untuk mengubah kondisi tanah ini, tetapi hal tersebut selalu gagal."
Pria tua itu melempar pandang ke sekitar lahan yang terbilang sangat luas.
"Mungkin karna desa ini adalah bekas peperangan beberapa tahun silam, jadi tanah di sini sudah tidak bisa di perbaiki."
"Apakah anda sudah mencoba pengapuran di sekitar sini?"
Pertanyaan Aaron di beri anggukan singkat oleh tuan Ash. Sementara Killian yang sejak tadi hanya diam mencerna cerita dari kepala desa, sudah mendapatkan jawabannya.
"Aku tahu apa yang harus di lakukan untuk tanah ini. Jadi, tuan Ash bisa tenang sekarang."
Mendengar rangkaian kata yang di ucapan Killian, mengundang kilatan harapan dalam manik hitam pria tua itu.
Sedangkan Aaron yang ada di samping tuannya, sedikit melongo dan merasa tidak percaya akan apa yang di ucapan Killian. Sungguh, otak majikannya sangatlah pintar.
Selanjutnya mereka segera berpamitan dari sana untuk melanjutkan rencana berikutnya.
Sekarang, Killian mengerti tentang rencana yang di katakan Rebecca kemarin. Mungkin, dengan sedikit sihir dari mereka, maka tanah di desa ini dapat di obati.