
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Langkah kaki yang ringan terdengar memasuki halaman kediaman Dowis. Rebecca sang tuan rumah langsung saja masuk kedalam.
Tak lupa untuk menyimpan rambut palsunya di dalam tas selempang yang ia bawah untuk mengisi beberapa perlengkapan pakaian.
Ceklek
Pintu ruangan tamu terbuka, menampilkan dua orang yang tengah duduk berbincang sambil menikmati secangkir teh dan beberapa kue kering.
Melihat kedatangan Rebecca, ibunya Stella langsung saja menyambut putri-nya dengan hangat sambil memanggilnya untuk duduk di samping Killian.
Wanita itu hanya tersenyum kecil sembari beranjak dari depan pintu menuju tempat duduk. Sebelum ia mendudukkan diri, terlebih dahulu Rebecca memberi salam pada pria Killian dengan sopan. Lalu lanjut duduk di samping-nya.
'Kenapa dia kesini lagi?' benaknya yang terus menatap wajah tampan Killian tanpa berkedip.
Sementara orang yang di tatap langsung merasa tidak nyaman, hingga perlahan-lahan semburat merah muncul di kedua pipinya.
Stella yang mengerti situasi sekarang, hanya bisa menunjukkan senyuman penuh arti sembari bangkit dari duduknya.
"Kalau begitu kalian bicara berdua saja. Ibu masih memiliki urusan yang tidak bisa di tinggal," bohongnya.
Sebelum benar-benar pergi, wanita itu berbalik melihat sang anak. Kemudian mengedipkan satu matanya. Rebecca yang menyadari hal tersebut hanya bisa terdiam kaku.
'Ibu! Anak mu ini tidak mau berduaan dengannya!' pekiknya dalam hati.
Sambil menatap kepergian Countess yang kini menghilang di balik pintu tertutup.
"Ada keperluan apa, sampai anda kesini?"
Tanpa berlama-lama lagi, wanita itu langsung saja mengangkat topik. Mengingat dirinya yang masih belum terlalu nyaman jika berada di dekat sang tunangan.
Tetapi bukan berarti ia tidak menyukai Killian, hello? Kalau saja pria ini ada di tempat tinggalnya dulu, sudah pasti Rebecca akan memilih Killian sebagai calon suami.
"Aku hanya merindukan mu saja. Lalu, aku membawa sedikit hadiah untuk mu."
Killian pria dingin itu tersenyum sambil menatap dalam kedua mata Rebecca. Membuat sang wanita hampir saja shock berat.
Lelaki es ini tersenyum? Lalu mengatakan kata rindu? What! Tapi bagaimana bisa? Dia ini mencintai Harmonie seorang. Mana mungkin Rebecca yang hanya sebuah kacang polong di sukainya?
Mungkinkah karena dia sedikit mengubah alur cerita, makanya itu dapat berdampak pada perubahan karakter? Tapi, itu sangat tidak mungkin.
"Anda baru beberapa hari yang lalu dari sini, dan bukan setahun. Masa sudah merindukan saya? Terlebih lagi hadiah yang anda berikan tanpa di minta, itu cukup membebani saya," ucap Rebecca.
Sebelum akhir yang tragis datang padanya, maka lebih baik untuk membuat pria ini membencinya.
"Aku ini tunangan mu Rebecca, jadi kamu tidak perlu merasa terbebani. Lalu, apa kamu tidak merindukan ku juga?"
Skakmat. Rebecca cuma tersenyum saja sambil menggaruk pelipisnya yang terasa gatal. Bingung harus menjawab Killian seperti apa. Dan jalan satu-satunya adalah ahlikan topik pembicaraan.
Sebelum mulutnya kembali terbuka, Killian tiba-tiba menarik tangan kanan wanita itu. Membuat Rebecca tekejut sambil menggigit bibir bawahnya, untuk saja Killian selalu memakai sarung tangan. Jika tidak trauma haphephobia -nya akan kambuh.
"Kamu .... tidak memakai cincin pertunangan kita?"
Pertanyaan tersebut sontak membuatnya terkejut. Sampai cincin pun di tanya? Ada apa sebenarnya dengan pria ini? Jangan-jangan otak-nya terbentur sesuatu, sampai memiliki rasa sayang sebesar ini pada Rebecca.
"Ah-di kamar. Itu ada di dalam kamar. Saya menyimpannya karena takut kotor."
Segera ia menarik kembali tanganya sambil membuang pandangan kesegala penjuru ruangan. Jujur saja, awalnya Rebecca akan menjual cincin emas tersebut sebagai jaminan awal untuk membeli tanah. Tapi itu tidak jadi.
'Syukurlah aku tidak menjualnya.'
"Begitu rupanya .... tetapi lebih baik kamu memakainya."
"Ia, ia, nanti akan saya pakai. Lalu, bagaimana dengan Harmonie? Apa dia baik-baik saja?"
Raut wajah Killian tiba-tiba berubah drastis. Membuat Rebecca kebingungan, kenapa sampai ia menunjukan raut tidak suka itu ketika mendengar nama Harmonie? Apakah mereka sedang bertengkar, makanya Killian jadi baik seperti ini padanya?
"Kenapa aku harus peduli pada orang yang bukan tunangan ku? Tapi kamu sepertinya sangat peduli pada Harmonie, terlihat bukan dirimu saja."
Nada yang terdengar kesal itu membuat Rebecca menelan kasar ludahnya sendiri. Ia lantas tertawa kaku menutupi rasa gugup dan takut yang datang.
"Dia kan sahabat kecil mu. Bukannya tidak apa-apa kita peduli? Dia juga sementara bersedih atas kepergian pangeran pertama—"
"Aku pergi dulu."
Dengan gusar Killian keluar dari dalam ruang tamu keluarga Dowis, meninggalkan sebuah tanda tanya besar dalam kepala Rebecca.
Sementara Killian sendiri, ia begitu merasa kesal saat sang tunangan mengangkat topik yang tidak bisanya. Dia sungguh berubah drastis, apakah karena hal itu sifat Rebecca jadi berubah?
Tidak. Orang lain saja sifatnya masih sama. Jadi tidak ada kemungkinan karena hal itu dia berubah.
...∆••∆...
Brak!
Suara pecahan vas bunga terdengar dari dalam ruangan kamar. Para pelayan yang ada di tempat kejadian hanya bisa menunduk dalam diam sembari meremas gaun maid mereka ketakutan.
"Kenapa dia tidak datang berkunjung lagi! Arrghhh!" pekiknya marah.
"Nona, tenanglah ...."
Akhirnya salah satu dari mereka membuka mulut berbicara. Namun yang di nasehati malah menatap nyalang pelayan tersebut.
Duak!
Kini vas kedua yang di lempar majikan mereka mengenai pelayan yang berbicara tadi. Membuat wanita itu ambruk tidak sadarkan diri di lantai kamar.
Tubuh mereka pun makin gemetar saat melihat hal tersebut, bisa-bisa tidak ada yang keluar hidup-hidup dari ruangan ini.
"Siapa lagi yang mau menasehati ku! Hah! Mau, nasip kalian sama sepertinya!" teriaknya.
Menatap satu persatu para pelayan yang berjejer rapi dengan kepala tertunduk.
Sampai tiba-tiba suara pintu yang terbuka mengabaikan semua eksistensi mereka. Di sana berdiri seorang wanita paru baya dengan raut datar tanpa ekspresi sedikitpun.
"Kalian keluarlah sekarang," ucapnya memerintah.
Membuat beberapa pelayan yang masih bertahan di sana sedikit mengeluarkan nafas lega.
Beruntunglah ada nyonya besar yang menyelamatkan mereka, jika tidak pasti mereka akan menjadi korban selanjutnya dari kekerasan nona keluarga ini.
Setelah pintu kamar tertutup rapat, wanita bersurai cokelat gelap itu kini mendekat dan memegangi kedua bahu anaknya pelan. Mengajaknya untuk duduk terlebih dahulu sebelum berbicara.
Mengikuti kemauan sang ibu, wanita itu perlahan-lahan merilekskan tubuhnya di atas sofa. Sambil sesekali menghela nafas kasar.
"Kamu jadi sedikit emosional rupanya. Apa karena rencana kali ini gagal? Atau malah berbeda dengan keinginan mu?"
Suara pelan yang begitu mendominasi pikiran seseorang, membuat wanita muda itu berdecak kesal kala teringat kembali hal yang tidak ingin ia pikirkan.
"Melenceng dari keinginan kita, ibu. Padahal jika Killian datang kali ini, maka gosip yang kita buat akan semakin di percayai mereka,"
jelasnya menggigit bibir atas, seraya memijat daerah alis pelan-pelan.
Padahal ia sudah sengaja membuat rumor bahwa Killian tidak mencintai Rebecca, melainkan dirinya.
Agar bisa menjadi pasangan pria itu sekaligus ratu di masa depan, namun hal tersebut kandas di tengah jalan.
"Harmonie, kamu terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak penting,"
timpalnya sembari mengusap surai berwarnaLilac yang mirip seperti Marquess Rone dengan penuh rasa sayang.
"Tapi bagaimana jika benar gagal?! Cita-cita ku yang ingin menjadi ratu akan hilang di ambil wanita Count rendahan itu! Ck, sial sekali. Ini terjadi gara-gara kematian pangeran pertama. Jika tidak, maka aku akan jadi ratunya."
Harmonie menggertakan giginya merasa kesal. Sebenarnya siapa yang sudah berencana menjatuhkan dia untuk jadi ratu? Karna ia begitu yakin, kematian pangeran pertama ini di rencanakan seseorang.
"Tenanglah sayang, ibu punya banyak rencana. Dan ibu juga akan menghukum Killian karna sudah membuat mu jadi seperti ini,"
jelasnya sembari mencium dahi putrinya, hendak memberikan sebuah ketenangan.
Tetapi dalam kepala wanita paru baya itu, ia terus saja mengutuk Killian yang telah berubah dan merusak rencana mereka.
...~Harmonie Rose Rone~...
...Gambar di ambil dari pin...
^^^To be continued ....^^^