
Rebecca mengernyit dalam kala sosok di depannya masih belum melepaskan cengkraman pada pergelangan tangannya.
Ia malah makin mengeratkan pegangan tersebut seperti menuntut Rebecca untuk segera menjawab pertanyaannya.
Sembari merotasikan kedua bola matanya, Rebecca langsung menghempas tangan pria itu sambil bersedekap dada.
"Maaf sebelumnya tuan? Sepertinya anda salah orang. Jadi, permisi."
Tanpa memperpanjang masalah, Rebecca segera menyudahi percakapan mereka dengan sangat singkat, padat, dan jelas. Kemudian segera berbalik pergi hendak memesan beberapa dessert yang ada dalam toko kue.
Sementara sosok pria yang tidak lain adalah Mikel, hanya menatap lurus punggung wanita yang mirip seperti mantan dayangnya itu dalam diam.
Entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa wanita itu adalah Rere.
Tapi mengingat warna rambut beserta sifat mereka yang sedikit berbeda, membuatnya berfikir dua kali. Apa lagi dengan gayanya yang terlihat seperti seorang bangsawan, cukup meyakinkan Mikel bahwa dia bukan Rere.
Karna yang ia tahu, wanita itu hanyalah rakyat biasa dan tinggal di kota county bersama orang tuanya yang sedang sakit.
Mikel lantas menunduk. Memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi. Sudah beberapa jam ia mengelilingi kota ini tapi tidak menemukan sosok Rere.
Apakah dia memang sudah pergi?
Ia bertanya dalam hati dengan kedua tangan yang terkepal erat. Tak sanggup membayangkan bahwa wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan kata pamit.
"Oi tuan."
Mikel segera berbalik di kala seseorang memanggilnya dengan tidak sopan. Nampak wanita sebelumnya yang ia tahan karena mirip seperti Rere, dayangnya. Dia sedang menatap datar Mikel sembari bersedekap dada.
Melihat tingkah laku menyebalkan yang di lakukan sang puan, membuat perempatan imajiner muncul di pelipis kanannya.
"Ada apa? Bukankah sebelumnya—"
"Anda menghalangi pintu keluarnya. Bagaimana bisa saya pergi, anda ingin saya lompat jendela?"
Rebecca bertanya kesal sambil terus menatap manik ruby milik pria itu. Mungkin ini hanya perasaannya saja, atau dia memang mirip dengan seseorang yang Rebecca kenal. Tapi siapa?
"Ugh..."
Ia memegang kepala yang berdenyut sakit saat itu juga. Sepertinya ini efek kelelahan karena pesta teh di kediaman Marquess Rone.
"Nona? Apa kau baik-baik saja? Jangan sampai ada pingsan di sini. Karna saya tidak suka membantu orang lain."
Rebecca tersenyum kesal sebagai balasan kemudian mendorong pria itu ke samping meskipun tidak terdorong sepenuhnya.
Dia pun segera melangkah keluar dari dalam toko sebelum di cegat kembali dari belakang.
"Bisakah kau memberitahukan nama mu?"
Sudah merasa bosan dengan apa yang terjadi, Rebecca putuskan untuk memberitahukan namanya pada pria menyebalkan yang selalu menahannya.
"Nama saya Rebecca. Apa anda puas? Jadi minggir."
Ia memukul tangan yang menghadang di depan tubuhnya, dan kembali melangkah pergi ke luar toko. Meninggalkan Mikel yang mendengus kasar sambil memegang pergelangan tangannya yang di pukul Rebecca.
"Walaupun kecil, tenaganya kuat juga," ujarnya sembari menggeleng pelan dan kembali melanjutkan pencariannya sebelum menjelang sore.
...✾✾✾...
Semilir angin bertiup pelan menerbangkan beberapa helai rambut Rebecca yang baru saja keluar dari dalam kabin kereta kuda.
Begitu kedua kakinya menapak ke atas jalan setapak kediaman, manik violet wanita itu menangkap satu kereta kuda lain yang terparkir indah bersama dengan kereta kuda milik keluarganya.
Ada tamu? Siapa?
Rebecca mempertajam penglihatannya untuk melihat siapa gerangan tamu yang datang. Lambang keluarga yang tidak asing dalam pandangan matanya, membuat Rebecca mendengus pelan sembari melangkah maju.
Tamu yang tidak lain adalah tunangannya sendiri, datang lagi tanpa memberikan surat pemberitahuan. Sebenarnya apa lagi yang ingin Killian bicarakan dengannya di saat-saat seperti ini.
Bukannya Rebecca tidak mau bertemu dengan pria tampan itu. Hanya saja dia merasa sangat lelah dan ingin beristirahat sambil menikmati kue yang beberapa waktu lalu di belinya.
Tapi, menurut peraturan bangsawan sejati. Membiarkan tamu atau tidak meladeninya, sama saja dengan merendahkan si tamu. Jadi mau tak mau dia harus melakukan tugasnya sebagai tuan rumah yang baik.
Ceklek.
Saat pintu utama terbuka lebar, salah seorang pelayan datang mendekat sembari memberi salam hormat padanya.
"Nona, tuan Osmond sedang menunggu anda di ruangan tamu sejak sejam yang lalu."
Rebecca menaikan salah satu alisnya merasa tidak percaya akan penjelasan tersebut. Dia pikir pria itu baru saja tiba, tapi malah sudah sejam lamanya Killian menunggu kedatangannya.
"Antarkan aku ke sana."
Ia mengatakan satu perintah yang di angguki oleh sang pelayan. Keduanya pun segera beranjak pergi dari sana. Hendak menemui Killian yang sudah menunggu cukup lama.
Kelihatan sekali bahwa ada hal serius yang ingin ia katakan padaku.
Benaknya sembari terus mengikuti pelayan kediaman yang berjalan di depannya sebagai pemandu.
Padahal Rebecca bisa pergi sendiri tanpa di antar. Namun, kembali lagi pada penjelasan beberapa saat lalu. Bahwa dia merasa lelah, juga malas jika harus mengingat jalan menuju ruang tamu.
Setibanya mereka di depan pintu, Rebecca segera memberhentikan gerakan tangan pelayan yang hendak mengetuk pintu.
"Kau pergi saja. Dan ambil ini. Simpan baik-baik."
Ia menyerahkan tas kertas berisi beberapa dessert kue yang gagal di nikmati karena kedatangan Killian secara tiba-tiba.
Pelayan itupun mengangguk patuh kemudian mengambil tas tersebut dan berbalik pergi menuju dapur kediaman Dowis.
Hal pertama yang di lihatnya tentu saja Pria bermarga Osmond yang memiliki ketampanan tiada tara. Dia tengah duduk di salah satu sofa sembari menyeruput secangkir teh.
Melihat kedatangan Rebecca, Killian lekas-lekas bangkit berdiri dengan seulas senyum menawan yang hanya ia tampilkan untuk Rebecca seorang.
"Killian? Ada keperluan apa hingga kamu harus menunggu ku selama ini?"
Tanpa berbasa-basi, ia langsung mengambil jalur tengah. Menanyakan secara keseluruhan alasan kedatangan sang tunangan.
"Sebelum itu, kita duduk dulu Rebecca."
Killian menarik pergelangan tangannya sembari mendudukkan dia ke atas sofa panjang yang bisa di isi oleh tiga orang.
"Jadi?"
Rebecca menatap tanya pria yang duduk tepat di samping kanannya.
"Itu, sebenarnya aku lupa menanyakan ini padamu kemarin."
Ia menjelaskan dengan nada suara yang terdengar sedikit kaku. Tidak seperti biasanya. Rebecca memincingkan matanya seperti bertanya 'apa itu?' pada Killian.
Sejenak terjadi keheningan panjang sebelum pria Osmond itu melontarkan satu pertanyaannya.
"Ini tentang tanah yang ada di Distrik timur. Bagaimana bisa kamu tahu soal keadaan tanah di sana?"
Deg!
Detak jantung Rebecca berpacu cukup kencang. Rasa terkejut sekaligus bingung menyatu dalam pikiran dan membuatnya panik seketika.
Dia melupakan sebuah fakta bahwa tidak banyak orang yang mengetahui keadaan tanah Distrik timur sekaligus cara pengobatannya. Dan sekarang, alasan apa lagi yang harus ia katakan pada Killian?
...✾✾✾...
Ruangan temaram yang hanya di terangi oleh cahaya lentera, menjadi salah satu tempat tujuan pria bersurai coklat gandum itu.
Aroma tembakau beserta alkohol yang memenuhi penciumannya, sempat membuat ia mendengus kecil tanda tak suka.
Namun berbeda dengan sejumlah orang yang malah asik dengan kelompoknya masing-masing sambil bermain kartu beserta catur.
Memilih menyendiri, pria bernama Aaron itu memutuskan untuk duduk di sudut ruangan agar tidak seorangpun yang melihatnya.
Well, saat ini dia sedang berada dalam sebuah misi yang sama seperti beberapa minggu lalu. Yakni mencari bukti tentang penjualan organ tubuh manusia.
Salah satu tempat yang menunjukkan kecurigaan paling besar hanyalah di sini. Yakni Bar.
Meskipun beberapa kesatria bayangan yang di kerjakan Killian mengatakan bahwa tempat tersebut sudah tidak mencurigakan, mengingat sosok yang waktu itu sudah tidak pernah datang kembali, tetapi Aaron masih saja bersikukuh dan terus menyelidiki tempat ini.
"Hei! Bagaimana dengan pekerjaan baru mu itu?"
Seorang pria berotot tanpa rambut yang duduk tak jauh dari posisinya, angkat bicara sambil sedikit memelankan nada bicaranya.
Merasa curiga akan perbicaraan yang mereka lakukan, pria itu langsung mempertajam pendengarnya di tengah kebisingan yang ada.
"Tentu saja sukses besar. Aku bahkan mendapat untung yang banyak."
Pria lain dengan tubuh yang sedikit gendut serasi dengan rambut keritingnya yang terurai sebahu, membalas pertanyaan yang di lontarkan kawan semejanya.
"Hohoho! Begitu rupanya. Tapi, apa kau tidak takut akan ketahuan oleh Kaisar dan para anjing setianya?" tanya pria pertama sambil menatap serius lawan bicaranya.
Sementara Aaron yang mendengarkan perbincangan sejak tadi, makin mengernyitkan dahinya dengan tatapan yang memincing tajam ke arah dua makhluk hidup yang tidak sadar akan situasi sekitar.
"Tentu saja tidak. Apa kau tahu, Bos kami itu bangsawan besar yang dekat dengan keluarga Kaisar."
Manik matanya seketika membola saat mendengar penuturan tersebut. Rasanya ia ingin segera menghampiri mereka dan bertanya lebih lanjut tentang pekerjaan apa yang mereka maksudkan.
Jangan katakan bahwa itu semua ada hubungannya dengan penjualan organ tubuh manusia yang sedang ia selidiki sekarang. Kalau memang benar, artinya ada orang lain yang bekerja sama dengan pangeran kedua saat ini.
"Wah, menarik! Aku juga ingin ikut bergabung dalam penjualan organ tubuh itu."
Deg!
"Hei! Pelan-pelan bicaranya! Bagaimana jika ada yang dengar, Bodoh!"
Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, Aaron bergerak maju menuju dua orang yang telah menjadi targetnya sejak tadi.
Penampilannya yang mengenakan jubah hitam dengan penutup kepala yang menyembunyikan wajah serta rambutnya, tidak mengundang kecurigaan orang-orang sekitar yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing.
"Permisi, tuan-tuan. Bisakah saya meminta waktunya sebentar?"
Ia mengubah nada bicaranya seramah mungkin agar mereka berfikir bahwa dia hanya seorang pendatang luar.
Salah satu dari mereka menatap remeh ajudan dari keluarga Osmond itu. Dia adalah pria gendut berambut keriting yang menjadi target inti Aaron.
"Ya, silakan bicara."
Tuk!
Pria bersurai coklat itu langsung meletakkan sekantung emas yang sejak tadi tersimpan dalam kantung jubahnya saat mendengar jawaban tersebut.
Dua orang yang ada di hadapannya seketika melongo dengan ekspresi wajah yang menjijikkan.
"Baiklah. Saya harap tuan sekalian mau menceritakan secara detail tentang penjualan organ tubuh itu pada saya."
Aaron tersenyum dingin di balik tudung jubahnya sembari mendudukkan diri ke atas kursi kayu yang berdekatan dengannya. Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang cukup panjang.