Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Mencari pekerjaan >



...Happy Reading...


.......


.......


.......


Akibat perkataan Rebecca pada Count Edgar, pria itu lekas memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Ia di buat sakit kepala karena tindakan tersebut.


Sementara itu, di samping kanan tempat tidur, berdiri dua orang yang adalah orang tua Rebecca dengan tatapan khawatir yang tidak pernah lepas dari sorot mata mereka.


Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Rebecca, buru-buru keduanya bertanya apakah kepala Rebecca terbentur cukup keras atau tidak? Tetapi yang di katakan dokter malahan kondisi Rebecca baik-baik saja.


Selanjutnya dokter segera berpamitan meninggalkan kamar Rebecca dengan di antar dayang Emily.


"Sudah saya katakan bukan? Saya serius dengan kata-kata ingin berbisnis," jelasnya menatap kedua orang tua tanpa berkedip.


Membuat mereka terpaku diam saling membuang pandangan satu sama lain.


Perlahan wanita bersurai cokelat muda mendekat dan duduk di samping kiri Rebecca, netranya yang berwarna biru menatapnya khawatir.


'Dalam novel, Stella ini adalah ibu tiri Rebecca. Sebab Count menikah lagi setelah kematian istri pertamanya,' pikirnya.


Tiba-tiba wanita itu langsung mendekap Rebecca dalam pelukan dan membelai lembut surainya sambil berbicara,


"Pasti kamu tertekan saat ini .... Ibu sungguh minta maaf padamu anakku."


Sedih. Itu suara yang terdengar dari balik bibir merah wanita ini. Namun Rebecca hanya diam saja, merasa serasa kaku. Entah kapan terakhir kali dia merasakan pelukan seorang ibu.


Pelan-pelan Rebecca melepas pelukannya dan menatap dua manik biru Stella.


"Ini bukan salah ibu .... saya hanya ingin membangun usaha sebelum berpisah dengan tuan Osmond."


Bagai petir di siang bolong, keterkejutan yang kedua datang pada mereka kembali.


"Apa yang kamu katakan Rebecca! Kamu tahukan, sebegitu pentingnya pertunangan ini untuk kebahagian mu. Jangan dengarkan gosip itu,"  celah ayahnya dengan sedikit meninggikan nada bicara.


"Tapi Tuan Count—"


"Ayah tidak ingin kamu hidup susah!" sergahnya segera tanpa membuang pandangan kearah lain.


Count langsung mengatakan maksudnya pada Rebecca dengan tatapan peduli. Sesudah berkata demikian, dia pergi keluar dari dalam kamar di ikuti Countess yang akan menenangkannya seperti biasa.


Setelah kepergian mereka, Rebecca menggigit bibir bawahnya sembari menautkan kedua alis.


"Maaf .... aku harus mengubah alur ini .... jika tidak, nasib keluarga kita akan hancur," gumamnya menunduk, sudah memantapkan tekat untuk kedepannya.


...❅️❅️❅️...


Hari berganti kembali. Kini Rebecca tengah berkutat dengan kertas rencana yang sudah di buatnya semalam, pertama-tama dia akan mencari pekerjaan untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu, kemudian membangun usaha.


Hal seperti ini sudah biasa baginya, karna di kehidupan sebelumnya, ia adalah anak yang mandiri dan cukup pintar.


"Mari kita keluar diam-diam dari sini," tutur pelan Rebecca.


Ia kemudian memakai sarung tangan pendek penambah aksesorisnya, atau lebih tepatnya untuk melindungi diri dari sentuhan pria.


Ya, di kehidupannya dulu dia mendapat trauma haphephobia atau ketakutan akan sentuhan, tapi yang anehnya itu hanya berlaku pada pria dewasa saja.


Mungkin Itu terjadi karena ayahnya sering menganiyaya dia sejak kecil, makanya saat kemarin Count menyentuhnya dengan tangan telanjang, perasaan takut itu muncul.


"Sungguh mengerikan," ujar Rebecca sembari bergerak mengunci pintu kamar.


Kemudian melanjutkan aksinya mengikatkan berbagai kain menjadi satu.


Begitu selesai, dia membuang nafas kasar. Mulai beranjak mengikat kembali ujung kain ke pion pembatas teras, dan segera turun secara perlahan-lahan.


Saat kakinya menyentuh permukaan rumput, dia langsung melepaskan pegangannya seraya mengendarkan pandangan untuk memantau sekitar.


"Oke. Aman," gumamnya pelan sembari menaikan tudung jubah menutupi kepala.


Sekarang yang menjadi masalahnya, bagaimana dia bisa keluar dari kediaman ini tanpa ketahuan.


Tatkala itu matanya menangkap satu pohon tinggi yang ada di dekat tembok pembatas kediaman, Rebecca pun mulai tersenyum simpul. Untungnya dia memakai celana dan bukan gaun, jadi pasti akan mudah menaiki pohon itu.


Bergegas ia pergi mendekat, sembari mengatur aba-aba. Segera Rebecca langsung memanjat keatas dengan hati-hati.


Begitu ia sudah sampai di atas pohon, dia langsung berpindah tempat dan duduk di atas pembatas dengan nafas terengah-engah. Sedikit dia beristirahat karna lelah.


"Huft ... ayo lanjutkan lagi," ujarnya menyeka peluh yang bercucuran.


Dia lalu mengintip kebawah mencari tempat aman untuk mendarat.


Rebecca mengangguk ketika mendapati semak-semak sebagai tempat pendaratan yang sempurna untuknya. Dia kemudian menghitung mundur lalu meloncat dari atas tembok.


Pendaratan berjalan sempurna. Rebecca lalu bangkit berdiri seraya menepuk-nepuk pakaiannya yang berdaun, kemudian segera meninggalkan kediaman Dowis.


...❅️❅️❅️...


Cahaya matahari pagi menyinari tudung hitam yang di pakai Rebecca. Sekarang wanita itu sudah tiba di kota yang cukup berdekatan dengan kediaman Count, untuk melanjutkan misinya.


Namun sebelum itu, Rebecca berfikir untuk membeli wig agar ia tidak ketahuan oleh para bangsawan yang berpapasan dengannya.


Di sudut kota ada satu toko yang akan menjadi tujuannya sekarang. Tanpa berlama-lama bergegas Rebecca kesana.


Begitu pintu toko di dorong, terdengar dentingan lonceng kecil berbunyi. Seorang penjaga toko pun berbalik sambil tersenyum ramah.


"Selamat datang .... silahkan pilih wig yang anda sukai," jelasnya menunjukkan deretan kepala manekin yang di atasnya ada beberapa rambut palsu.


Rebecca berpangku tangan sambil memilih berbagai bentuk serta warna rambut yang ada. Dia lalu menunjuk manekin ke empat.


Rambut sebahu berwarna hitam lurus. Itu pilihan Rebecca, dia segera membayarnya dan mengambil wig tersebut.


Sebelum di pakai, Rebecca mengikat rambut pirangnya rendah seraya menggulungnya kecil, kemudian mulai memakai wig-nya.


Dia lalu bercermin guna mengatur penampilan, kemudian segera beranjak pergi dari sana.


Kini Rebecca mulai meronggo sesuatu dalam kantong jubah, mengeluarkan kertas lamaran kerja dan segera berlenggang pergi ke setiap toko yang sudah di tandai untuk melamar kerja di sana.


...❅️❅️❅️...


Saat hari semakin siang dan keadaan atmosfer semakin panas, rasa penat datang padanya. Sudah beberapa toko di masuki Rebecca untuk mencari pekerjaan, tapi semua menolak, ada juga yang menatap curiga Rebecca.


Langkah kakinya terhenti, netra violet Rebecca menangkap tempat beristirahat di dekat pohon besar yang rimbun.


Dia pun segera mendekat kesana dan langsung terduduk lemas di atas bangku, sembari meyandarkan tubuhnya ke belakang, menatap langit luas berwarna biru dengan gumpalan awan yang bergerak menghiasi cakrawala.


Perlahan-lahan kedua kelopak mata Rebecca tertutup, saat angin lembut menyentuh kulit wajahnya. Dia merasa mengantuk sekarang.


Begitu Rebecca akan tertidur, suara teriakan dari samping kanan mengusiknya untuk membuka mata kembali, tidak mengizinkannya beristirahat sejenak.


"Apa lagi ini!" lontarnya geram seraya berbalik ke samping kanan.


Nampak seorang pria berlari sambil memeluk tas putih besar. Di belakangnya terdapat dua pria lain yang menggunakan seragam sedang mengejarnya.


'Sepertinya pencuri,' pikirnya.


Rebecca yang merasa kesal telah di ganggu oleh orang-orang itu, langsung menjulurkan kakinya kedepan, menyandung pencuri tersebut ketika lewat di depannya.


Pria itupun jatuh ke atas jalan setapak dengan kasar bersama tas yang di pegangnya. Bergegas Rebecca bangkit berdiri menginjak punggung pencuri itu tanpa belas kasih.


"Ahkk! Siapa kau! Lepaskan aku!" teriaknya meronta-ronta.


Tapi Rebecca makin mengeratkan injakannya sampai terdengar suara remukan tulang.


Begitu kedua pengawal itu tiba, mereka langsung menyergap sang pencuri dan mengambil barang yang di curi.


Di waktu yang bersamaan, terlihat dari kejauhan ada seorang wanita dengan gaun hijau muda mewah sedang berlari mendekat kearah Rebecca.


Begitu dia tiba, salah satu pengawal bergerak memberikan tas tersebut.


"Terima kasih sudah menolong ku ...., " ucapnya dengan lembut sambil tersenyum ramah.


"Sepertinya nyonya harus berterima kasih padanya. Dialah yang menangkap pencuri ini," jelas pria itu sembari menujuk Rebecca yang ada di samping kanannya.


Wanita itupun maju selangkah menatapnya lurus sambil mengungkapkan rasa terima kasih sekali lagi.


"Itu hanya kebetulan saja nyonya," jawabnya segera.


"Astaga .... sekarang katakan, apa yang kamu inginkan nona muda? Aku akan memberikannya padamu," tuturnya pelan sambil menunggu jawaban Rebecca.


Ingin sekali dirinya menolak. Namun, sepertinya wanita di depannya ini tidak akan menyetujui hal tersebut.


"Kalau begitu, bisakah nyonya memberi tahu di mana tempat yang membuka lowongan pekerjaan?"


Perkataan Rebecca membuat wanita bernetra merah muda itu terkejut.


"Apakah nona sedang mencari pekerjaan?"


"Iya benar," jawabnya secepat mungkin.


"Hmm .... bagaimana jika nona bekerja di kediaman ku saja. Saat ini aku membutuhkan seorang dayang pribadi," jelasnya mengundang satu senyuman bahagia di wajah Rebecca.


Tidak ia sangka keberuntungan datang pada-nya seperti ini!


^^^To be continued...^^^