Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Kesal >



Hiruk-pikuk kota terlihat kala Rebecca turun dari dalam kereta kuda. Udara siang yang tidak terlalu panas, terasa hangat saat menyentuh kulit wajahnya.


Ia lantas menaikan tudung jubah sebelum kemudian membaur dengan keramaian kota. Saat ini dia sedang berada di wilayah Dukedom yang di pegang oleh keluarga Osmond.


Ternyata wilayah tersebut sangatlah indah. Kelihatan sekali bahwa Duke merawat dan menjaga tempat ini dengan sepenuh hati. Benar-benar mencerminkan seorang pemimpin yang bijaksana dan peduli pada rakyat.


Dia pun kembali fokus pada tujuannya sekarang. Mencari hal yang menurutnya mencurigakan. Di mulai dari tempat-tempat kios minuman berserta lorong-lorong yang cukup mencurigakan.


Rebecca sangat yakin bahwa orang-orang dari Pangeran kedua tengah bersembunyi di sekitar Dokedom untuk membuat beberapa rumor buruk tentang Killian.


‘Hei, untuk apa kau ada di sini?’


Satu pertanyaan yang diarahkan padanya, membuat fokus Rebecca buyar. Dia lantas menghela nafas pelan sambil berpangku tangan di atas meja bundar.


Sekarang dia berada di salah satu bar yang cukup mencurigakan.


“Tentu saja sedang menyelidiki orang-orang dari Pangeran kedua yang akan memfitnah Killian.”


Rebecca menjawab bosan. Namun berbeda dengan roh yang sejak tadi mengikutinya dalam diam. Perempuan itu berteriak cukup keras karena rasa terkejutnya.


“Oh, jangan berteriak seperti itu! Telingaku akan berdarah nantinya.”


Marah. Rebecca marah karena teriakan melengking dari samping tubuhnya. Dia pikir roh itu sudah tahu, masalah yang di hadapi Killian.


‘Memfitnah? Kenapa sampai segitunya? Memangnya apa yang tengah Pangeran Gay rencanakan?’


Rebecca seketika menyemburkan tawanya saat mendengar panggilan aneh yang diucapkan lawan bicaranya untuk Pangeran kedua.


Dia memang sudah tahu bahwa Pangeran kedua adalah seorang yang menyukai sesama jenisnya, tapi entah kenapa, mendengar orang lain mengatakan kebenaran itu, membuatnya merasa lucu.


Sementara dari posisi Rebecca asli, dia hanya mengernyit heran saat melihat teman perempuannya tertawa terbahak-bahak sambil sesekali memukul meja yang ada di hadapannya.


‘Apa yang sedang kau tertawakan? Lihatlah, kau jadi pusat perhatian sekarang.’


Mendengar hal itu, Rebecca lekas-lekas berdeham pelan sembari mengatur ekspresinya sedatar mungkin.


Orang-orang yang semula menatapnya aneh, segera kembali pada aktifitas mereka seperti semula. Kelihatannya mereka menganggap dia gila.


"Hei, berhentilah berbicara dengan ku. Saat ini aku akan fokus."


Rebecca memperingati roh itu sebelum kemudian mengendarkan pandangan ke sekeliling tempat. Menatap satu per satu orang-orang yang sedang duduk berbincang.


Hingga tiba-tiba, sosok yang terlihat familiar nampak pada pandangannya. Seorang pria yang menutupi setengah wajahnya dengan pakaian serba hitam. Dia duduk di salah satu bangku yang berjarak beberapa meter dari Rebecca.


"Di mana aku pernah melihatnya?" gumamnya sembari terus memandang curiga sosok tersebut, yang di tatap pun segera menoleh dan membuat Rebecca salah tingkah.


Lekas-lekas wanita itu membuang pandang ke sembarangan arah. Hampir saja ia ketahuan. Lain kali dia akan bertindak hati-hati dengan tidak menatap objek mencurigakan secara langsung.


Namun, ketenangan Rebecca tidak berakhir sampai di sana saat sebuah suara datang menyapanya.


"Hallo, bisakah aku duduk di sini?"


Rebecca terjengit pelan dan segera berbalik secara kasar. Sosok sebelumnya yang ia perhatikan malah duduk di hadapannya tanpa menunggu persetujuan sang puan.


Oh, sial.


...✾✾✾...


"Maaf, nona kami sedang keluar."


Perkataan yang diucapkan oleh seorang pelayan kediaman Dowis, membuat Eros melunturkan senyumannya.


Bayangkan saja, dia yang sudah datang jauh-jauh ke sini malah mendapatkan kabar kurang menyenangkan seperti ini.


"Begitu rupanya, bisa tahu di mana Lady Dowis berada sekarang?"


Eros tersenyum sembari menebarkan pesonanya yang membuat sang pelayan terpaku diam.


"Nona?" panggilnya bingung saat tak mendapati jawaban apa-apa dari lawan bicaranya.


"Ah! Maafkan saya. Kalau tidak salah, nona bilang ingin berbelanja. Tapi untuk tempatnya saya kurang tahu."


Seraya menyeka darah imajiner yang menetes dari hidung, pelayan itu tersenyum lebar pada Eros. Kelihatan sekali bahwa dia sudah terpesona dengan sosok tampan di hadapannya.


Ya, jika dikatakan, Eros itu memiliki wajah yang menawan—tapi tak se-menawan Killian—surai birunya yang unik, seiras dengan manik matanya, juga bentuk wajahnya yang proporsional, menambah nilai plus pada ketampanan Eros.


"Hmm, sepertinya saya akan datang lain waktu. Kalau begitu saya undur diri dulu."


"Anu ... Tuan," panggilnya yang tidak mendapatkan respon apa-apa dari Eros.


Pelayan itupun menghela nafas berat sembari memandangi punggung lawan jenisnya yang kian menjauh.


"Padahal aku ingin mengetahui namanya," monolognya sembari mencak-mencak dan berbalik masuk ke dalam kediaman dengan perasaan dongkol.


Sedang Eros yang sudah cukup jauh dari pintu masuk mansion, segera menjentikkan jarinya dan menghilang dari sana secepat satu kedipan mata.


Sepertinya, hari ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan tunangan Killian. Mungkin, dia akan kembali lagi besok untuk menemui wanita itu.


Dia juga akan meminta imbalan besar pada Killian karna sudah membuatnya bekerja keras.


...✾✾✾...


Taman mawar yang indah terlihat jelas saat seorang wanita berparas cantik memasuki tempat tersebut. Matahari yang bersinar terang di atas sana, tidak membakar sang puan sama sekali, mengingat ia yang berada di dalam naungan payung kecil berwarna putih.


Saat ia semakin memasuki taman istana Pangeran kedua, perempuan itu dapat melihat sebuah gazebo yang di kelilingi oleh tanaman menjalar. Di depan tempat itupun ada sebuah jembatan kecil sebagai penghubung, karna di bawahnya ada sebuah sungai buatan yang dirancang sedemikian indah.


Ketika ia menginjakan kaki ke atas jembatan, manik matanya menangkap sosok seorang pria berparas rupawan yang tengah duduk santai di salah satu bangku gazebo sambil membaca sebuah buku bersampul coklat.


Merasakan keberadaan seseorang yang datang mendekat, Pangeran seketika menoleh ke samping kiri dan mendapati seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Harmonie.


Sedikit ia tersenyum kecil sebelum kemudian meletakkan bukunya ke atas meja sembari berpangku tangan.


"Salam kepada Yang Mulia Pangeran kedua."


Harmonie menunduk sopan sebagai bentuk penghormatan sebelum kemudian berdiri tengak kembali.


"Silakan duduk, Lady Harmonie."


Pangeran mempersilakan perempuan itu untuk duduk terlebih dahulu sebelum melakukan perbincangan yang serius.


Harmonie dengan gerakan anggun mengambil tempat yang bersebrangan dengan Pangeran kedua. Tak lupa dia mengucapkan kata terima kasih sebagai bentuk kesopanan pada sosok yang memiliki derajat lebih tinggi darinya.


"Bagaimana kabarmu, Lady. Apakah anda baik-baik saja setelah gagal dalam rencana itu?"


Pangeran Charles menekan setiap kalimat yang ia lontarkan, dan membuat Harmonie merenggut kesal atas perkataannya itu.


Jujur saja, saat dia melihat ada orang lain yang dengan sengaja menumpahkan teh milik Rebecca, hampir saja ia berteriak saat itu juga.


Padahal, tinggal sedikit lagi perempuan itu akan menelan racun mematikan yang di rekomendasiakan oleh Pangeran, tapi kesenangannya berakhir saat cairan itu malah tumpah ke atas gaun Rebecca.


"Saya benar-benar merasa kesal saat melihat ada seekor tikus kecil yang berani membantu wanita itu."


Harmonie berwajah masam, yang mana membuat Pangeran tertawa pelan sembari menyeruput segelas teh Chamomile yang memang sudah tersedia sejak ia menduduki tempat itu.


"Akupun sama kesalnya, Lady. Tapi tenang saja, rencana penghancuran keluarga Osmond dapat dipastikan akan berhasil." ucap Pangeran santai.


Memang, tidak ada yang lebih menyebalkan dari sebuah rencana yang gagal hanya karna orang luar. Lihat saja, dia akan mencari Lady Felicia untuk membalas semua perbuatan campur tangan yang telah ia lakukan.


"Hmm, aku sudah tidak sabar melihat Killian memohon di bawah kakiku, Yang Mulia."


Harmonie tersenyum penuh arti sembari mengangkat segelas teh yang sudah agak mendingin. Sial, bisa-bisanya pria itu menyajikan minuman tidak layak seperti ini padanya. Jika saja dia bukan Pangeran, sudah lama Harmonie akan menendang wajahnya.


Namun sayangnya, dunia tidak berpihak pada Harmonie. Dia malah menjadi bawahan Pangeran dan mengotori tangannya dengan rencana kotor yang di buat pria itu.


Ya, walaupun begitu, dia cukup tersanjung dengan satu kotak emas yang di kirimkan Pangeran pada kediamannya. Harmonie pastikan, jika dia sudah menjadi bangsawan kaya raya, maka dia akan membuang Pangeran kedua.


Intinya, jika dia merasa di untungkan dalam hal ini, maka Harmonie akan tetap mendukung Pangeran kedua. Namun, jika yang terjadi malah sebaliknya, dia akan langsung meninggalkan pria itu dan memutuskan ekornya serapi mungkin.


"Tenang saja, Lady. Keinginanmu itu akan segera terwujud sebentar lagi."


Pangeran kedua menyentuh punggung tangannya sembari tersenyum penuh arti. Ia yang menerima perlakuan itu hanya bisa mengangguk etis seraya membalas senyuman Charles.


Dan tanpa sadar, interaksi keduanya telah terekam jelas dalam pandangan seseorang yang sejak tadi bersembunyi di balik semak-semak.


Dia mengeram kesal sembari mengepalkan salah satu tangannya menahan diri untuk tidak bertindak gegabah.


Namun, siapapun pasti akan merasa marah saat melihat kekasihnya bersama orang lain, meskipun kedekatan mereka hanya akting semata.


"Ck, menyebalkan sekali!"


Segera ia berbalik meninggalkan taman istana dengan perasaan jengkel yang sudah mencapai batasnya.