
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Siang ini matahari bersinar cukup terang dari biasanya, dengan suara-suara alam yang sangat menenangkan telinga. Rebecca duduk tenang di atas kursi sambil memandangi keadaan luar gerbong yang menampilkan hutan perbatasan.
Karna acara pertemuan anak-anak bangsawan di laksanakan dekat kerajaan, jadi butuh waktu lima sampai enam jam jika memakai kereta kuda untuk sampai di sana.
Pasti bokongku akan sakit...
Mengingat saat ia pertama kali menaiki kereta kuda dalam perjalanan yang panjang, membuat keram berkepanjangan di bagian tulang ekor sampai punggungnya. Itu cukup menyiksa Rebecca, padahal kursi yang ia duduki sudah di alas beludru. Tapi namanya perjalanan jauh, pasti dia tidak luput dari hal seperti keram.
"Kenapa kau tidak memakai pakaian yang layak."
Mikel angkat bicara dengan pandangan yang masih tertuju pada buku yang sejak tadi ia baca. Sekilas Rebecca berkedip dan menjawab seadanya.
"Ini karna saya seorang dayang, dan masih dalam jam pekerjaan. Saya juga tidak punya gaun bagus."
"Ya, kau kan miskin. Jadi mana mungkin dapat membeli gaun yang bagus."
Perasaan jengkel tiba-tiba saja muncul ketika dia mendengar jawaban kurang ajar yang di katakan Mikel. Sombong sekali dia! Jika saja Rebecca tidak menyamar, sudah ia tampar wajah majikannya dengan satu kotak harta karun berisikan emas dan berlian yang ia miliki.
"Begitulah tuan muda, bersyukurlah anda terlahir di keluarga kaya. Apapun sudah terpenuhi. Tapi kami? Rakyat biasa harus bekerja keras demi mencari makan sehari-hari."
Mikel menutup bukunya sembari menatap dayangnya sebentar.
"Kau kira jadi orang kaya enak? Banyak juga yang harus kami kerjakan dan perbuat."
"Hmm... Dari pada membandingkan nasip kita, lebih baik syukuri saja apa yang saya dan tuan milik sekarang."
Ia menutup mata sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi, banyak hal yang Rebecca pikiran sampai-sampai membuat kepalanya sakit. Tapi jika dia di suruh memilih antara tempatnya dulu dan sekarang, dia akan menjawab tempat yang sekarang.
Karna dia sangat senang memiliki dua orang tua yang sangat menyayanginya, tidak seperti dua orang tuanya dulu. Perlakuan kasar yang mereka berikan cukup memberikan trauma berkepanjangan padanya.
Rebecca mengernyitkan dahinya kala selintas memori lama muncul. Mikel yang melihat ekspresi dayangnya menatap aneh dia.
Apa perkataan ku sudah keterlaluan ya?
Lelaki itu bertanya dalam hatinya, ia lalu berdeham pelan kemudian angkat bicara.
"... Tapi meskipun menggunakan pakaian pelayan, kamu tetap cantik."
Rebecca langsung saja membuka kedua matanya menatap cengo Mikel yang sekarang sudah menghalangi wajahnya dengan buku.
"Ehh..., saya baru tahu mulut pedas anda bisa memuji seseorang. Bisakah sekali lagi saya mendengar pujian itu?" tanyanya sambil tersenyum lebar.
"Ck, berisik! Aku sedang membaca sekarang."
Rebecca merotasikan kedua matanya, namun saat ia melihat buku yang Mikel pengang terbalik, satu senyuman banyol tercetak jelas di wajahnya. Dia lantas berbatuk pelan sebelum kemudian berbicara.
"Ternyata tuan muda bisa membaca terbalik ya!"
Mendengar kata-kata Rebecca, dengan sesegera mungkin Mikel memutar buku yang di pegang sambil berdeham pelan. Sekarang tawa yang sejak tadi di tahan Rebecca terlepas juga.
Mikel yang merasa malu cuma bisa menggigit bibir bawahnya dengan lirikkan tajam yang tertuju pada Rebecca.
"Hahaha... Bilang saja anda malu karna memuji saya tuan muda," ujarnya di sela-sela tertawa.
"Cih! Tidak tuh! Berhenti tertawa! Kau terlihat jelek!" teriakan itu tidak membuat Rebecca berhenti, ia malah makin gencar tertawa sampai perutnya sakit serta terbatuk-batuk.
"Kaauuu!"
Sontak ia menahan nafas saat mendengar suara kekesalan yang tertuju padanya, Rebecca pun tersenyum kaku hendak meminta maaf. Tapi semuanya sudah terlambat. Dia bisa melihat letusan gunung berapi imajiner di atas kepala Mikel.
...∆••∆...
Ruangan bernuansa klasik dengan perabotan elegan di atas meja dan dinding ruangan, nampak saat Aaron membuka pintu ruang kerja Killian. Dia membungkuk memberi salam hormat.
"Anda memanggil saya tuan?"
Killian menghentikan kegiatan menandatangani dokumen, sambil menatap kesatria kepercayaannya.
"Iya, tolong kamu letakkan beberapa kesatria bayangan di dekat tempat kemarin yang kita datangi. Kalau ada apa-apa laporkan padaku secepatnya."
Aaron mengangguk mengerti saat mendengar perkataan yang di katakan majikannya.
"Sebelum itu, ada yang ingin saya katakan."
"Apa itu?" Killian mengangkat satu alisnya bertanya.
"Ini soal Marquess Rone, dia telah beralih faksi sejak beberapa hari yang lalu."
Killian mengernyit bingung, apa yang sebenarnya terjadi sampai sahabat ayahnya sudah tidak mendukungnya lagi?
Meskipun dia sosok licik yang membuat hubungannya dan Rebecca merenggang, tapi Marqueess Rone bukanlah orang bodoh yang langsung melepaskan pion berharga seperti Killian begitu saja.
Mungkinkah ini karena dia yang sudah tidak mengunjungi kediaman Rone, jadi mereka mengganti pendukung? Tidak, mana mungkin Marquess Rone mengambil tindakan kekanak-kanakan seperti itu. Pasti ada maksud lain yang mereka sembunyikan.
Namun, Killian tidak bisa menanyakan itu. Sekarang ini dia harus mencari pendukung lebih banyak lagi.
"Baiklah, kamu boleh pergi."
Aaron menuduk sebagai salam dan beranjak pergi dari dalam ruangan, meninggalkan Killian yang sudah kembali pada tugasnya. Setelah kepergian kesatrianya, pintu di ketuk kembali dari luar.
Ketika mendengar izin dari pemilik ruangan, terlihat seorang pria tua yakni Butler kediaman yang masuk memberi salam hormat.
"Tuan muda, anda di panggil tuan untuk menghadap di ruangannya."
Killian mengangguk pelan, "Aku akan ke sana segera."
Killian bisa menebak alasannya di panggil secara tiba-tiba, pasti ini gara-gara Marquess Rone yang berahli faksi pada pangeran kedua.
Di belokan selanjutnya tepatnya di ujung lorong, keduanya berhenti di depan pintu besar berwarna putih polos tanpa ukiran. Di ketuknya pintu tersebut sampai terdengar suara Duke yang memberikan izin masuk.
Butler dengan tag name Xier segera mendorong pintu tersebut dan mempersilahkan Killian untuk masuk ke dalam.
Ruangan kerja yang selalu minim pencahayaan ini yang pertama kali menyambutnya, di ikuti aroma tembakau dari cerutu yang ada di tangan seorang pria.
"Salam ayah, ada keperluan apa anda mencari saya?"
Belum menjawab, Duke Osmond berbalik sembari menekan ujung cerutu ke atas asbak yang ada di atas nakas. Ia lalu melirik ke arah Killian dengan wajah datar. Netra coklat milik pria itu sempat berkilat sebelum akhirnya tersenyum kecil.
"Duduklah dulu Killian."
"Baik, ayah."
Mereka lalu bergerak ke arah tengah ruangan dan duduk saling bersebrangan di atas sofa hitam dalam diam. Duke Osmond atau sebut saja David, memangku kakinya dengan tatapan lurus ke depan. Wajahnya masih saja tampan meskipun ada beberapa kerutan di bagian dahi.
"Aku yakin kamu sudah mendengar soal berita Marquess Rone yang berahli faksi."
Tanpa basa-basi Duke Osmond langsung berbicara pada intinya, dan perkataan tersebut di jawab anggukan singkat oleh Killian.
"Itu terdengar aneh, padahal keluarga kita tidak membuat masalah."
"Masalahnya bukan ada pada kita, tapi mereka. Sepertinya Pangeran kedua berhasil memberikan negosiasi yang menguntungkan untuk mereka."
Killian menatap diam ayahnya. Perkataan itu tidak ada salahnya, jika di ingat-ingat, dulu Pangeran berusaha keras untuk mendapatkan dukungan dari keluarga Rone. Tapi selalu di tolak, sekarang entah apa yang mereka terima sampai harus berahli dukungan.
"Tidak perlu di pusingkan ayah, saya akan mencari dukungan yang lebih dari keluarga Rone," jawabannya yakin.
"Hmm, bagaimana jika kamu putuskan saja pertunangan mu dengan Lady Dowis dan mencari wanita lain yang derajatnya setara dengan kita, lagi pula aku sudah membantu perbaikan lahan Dowis yang rusak. Jadi pasti mereka tidak akan keberatan--"
"Saya menolaknya. Lebih baik saya berjuang dengan susah payah untuk mencari pendukung dari pada harus meninggalkan Rebecca."
Tatapan keseriusan tertuju pada David, membuatnya tertawa pelan. Ia lalu menyalakan cerutu dan menghisapnya sebentar.
Asap putih keluar dari mulut Duke Osmond. Sembari menyugarkan rambut hitamnya, ia pun berbicara.
"Kelihatannya kamu sudah mencintai Lady Dowis, baiklah. Ayah tidak akan memaksa mu. Tapi, jika kamu gagal dalam mengumpulkan pendukung, maka ayah tidak akan segan-segan mengakhiri hubungan kalian dan menjodohkan mu dengan wanita bangsawan lain."
"Saya tidak akan mengecewakan anda."
Killian menatap tajam orang tuanya sebentar sebelum kemudian berpamitan dari sana.
Setelah kepergian sang anak, David tersenyum tipis. Sepertinya ancaman yang ia katakan barusan akan membuat Killian berusaha keras untuk mendapatkan pendukung yang lebih banyak.
"Sebenarnya ada hal special apa yang di milik Lady Dowis, sampai Killian tidak mau melepaskannya...? Menarik."
...∆••∆...
Keringat yang bercucuran deras dari atas kepala karena kepanasan, membuat Rebecca harus terus menyekanya dengan sapu tangan yang ia bawa dalam kantong baju.
Dia lantas melirik ke arah kereta kuda yang di dalamnya ada Mikel yang sedang duduk santai sambil membaca buku. Rebecca berdecih merasa kesal saat mengingat kejadian sebelumnya, saat ia menertawai sang majikan dan berakhir di keluarkan dari dalam kereta kuda.
Di tambah Mikel tidak mengizinkan para kesatria untuk memberi tumpangan pada Rebecca, jadi dirinya harus jalan kaki atau lebih tepatnya jalan cepat.
Anak kurang ajar! Lihat saja, akan ku balas perbuatan mu ini.
Rebecca dengan kesal menyumpahi Mikel karna sudah memberikan hukuman seperti ini padanya. Kalau di hitung-hitung, sudah sejam dia berjalan kaki tanpa berhenti untuk istirahat sejenak.
Mata violetnya kini menatap nanar jalan bebatuan yang ia lewati. Hembusan nafas lelah terdengar dari balik bibir ranum wanita itu.
Tiba-tiba salah satu kesatria mendekat dan memberikan botol minum dari kulit padanya.
"Eh, ini benar untuk ku? Lalu bagaimana dengan mu?"
"Aku masih ada simpanan minuman lain, jadi itu untuk mu saja."
"Waahh! Terima kasih tuan kesatria!"
Rebecca memekik gembira sambil membuka penutup botol. Saat hendak meminumnya, dengan cepat jendela kereta kuda terbuka dan tangan Mikel bergerak merampas minumannya.
"Apa yang anda--"
"Pak berhenti!" teriakan itu membuat kusir memberhentikan kereta kuda.
Mikel lalu menyuruh Rebecca untuk masuk ke dalam kabin, perempuan itu sempat terlihat bingung. Namun ia tetap bergerak masuk dan duduk tenang.
"Jalan!"
Kereta kuda kembali bergerak ketika menerima perintah dari Mikel, anak itu lalu melempar botol minuman tadi kepada kesatria sebelumnya, membuat Rebecca menelan kasar ludahnya sendiri.
Padahal ia sedang haus dan kekurangan air. Tapi kenapa malah Mikel tidak memberinya minum barang setetes atau seteguk? Dan sekarang ia telihat sedang mencari sesuatu yang ada di belakang tempat duduk.
"Ini minumlah."
Mikel melempar tempat minum berwarna transparan padanya. Dan dengan wajah kebingungan Rebecca menunjuk botol tersebut.
"Untuk saya?"
"Ck, tidak. Untuk kuda di depan. Kau ini bodoh ya," celetuk Mikel.
Rebecca lantas menatap kesal sambil berdecak pelan, "Bukan bodoh tuan muda! Tapi saya dehidrasi!"
"Dehi-apa?"
Pertanyaan itu tidak di jawab oleh Rebecca karna sangking kesalnya dia. Sungguh benar-benar menyebalkan! Lain kali dia tidak akan ikut bersama Mikel lagi walau anak itu memaksanya.
^^^To be continued...^^^