Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Keluarga Rone >



...Happy Reading...


.... ...


.... ...


.... ...


"Bolehkah saya menanyakan sesuatu?"


Rebecca angkat bicara saat di rasa keadaan dalam kabin terasa sunyi dan membosankan. Masih tersisa setengah jam lagi untuk mereka sampai di tempat pertemuan. Keadaan di luar juga sudah petang, karna dari perbatasan kerajaan menuju ibu kota cukup jauh.


"Hmm," jawab Mikel sambil melirik Rebecca yang sedang menatapnya.


"Kenapa anda tidak mau saya minum dari botol kesatria tadi? Dan malah memberikan botol milik anda?" tanyanya beruntun membuat Mikel memutar kedua bola matanya bosan.


"Tidak ada jawaban untuk itu. Dan berhentilah bertanya hal yang tidak penting."


Dia menutup buku sembari membuang pandang ke arah jendela gerbong. Menatap lama pepohonan tinggi yang ada dalam hutan. Rebecca pun menghela nafas kasar sambil menurunkan kedua kelopak mata, merasa mengantuk untuk sesaat.


Ruangan gelap dan suram pertama kali menyambutnya saat membuka mata. Rebecca lantas melirik kesana-kemari untuk memastikan keadaan sekitar. Banyak sekali benda-benda yang tertutup kain putih dan satu lemari besar yang di atasnya ada sebuah ventilasi udara yang sudah tidak berfungsi.


"Tuan muda?" panggilnya pelan, akan tetapi suara yang keluar malah seperti suara anak-anak berumur 6 tahun.


Rebecca lantas bangkit berdiri menuju pintu yang tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk. Namun hal itu tidak kesampean sebab kedua kakinya terasa sakit.


Bruk!


Ia pun terjatuh membentur lantai dingin, menatap dua telapak tangan yang penuh luka gores dan memar. Dia tiba-tiba tersentak saat seseorang membuka pintu secara kasar. Siraman cahaya dari luar ruangan membuat Rebecca menutup matanya.


"Owh... Sudah bangun?" Suara seorang pria menyapu pendengarannya terlebih dahulu. Rebecca tahu milik siapa suara itu, dan sekarang ia ingat kejadian ini.


"Ahk!"


Ia memekik keras saat pria tadi yang adalah ayahnya di kehidupan sebelumnya menarik kasar surai hitam Rebecca. Pria itu menyeretnya ke luar ruangan dan menghempas dia ke lantai dapur, di mana ada seorang wanita paruh baya yang berdiri menatap dingin ke arahnya.


"Jangan cuma bengong! Kamu harus membantu ibu berjualan kue! Dasar anak sialan."


Wanita itu bergerak menendang perutnya hingga Rebecca mengadu kesakitan sambil memohon ampun. Ingatan kelam ini sangatlah ia ingat. Saat di mana ayahnya mengurung dia di gudang rumah hanya karna kue jualannya tidak habis.


Masa-masa yang sungguh mengerikan bagi anak seusianya, dua orang tua yang sangat tegas dan disiplin membuat dia merasa seperti tinggal di dalam neraka. Siksaan itu berlanjut sampai ia menginjak sekolah tingkat akhir.


"Kenapa diam! Kerja sana!!"


Teriakan ibunya sekaligus tamparan yang mendarat di pipi membuat Rebecca terbangun dari tidurnya. Seluruh tubuh wanita itu seketika berkeringat dingin dan gemeteran. Ingatan kelam yang di proses menjadi mimpi sangatlah mengerikan.


"Kau kenapa?"


Rebecca tersentak saat mendengar suara Mikel. Mungkin karena mimpi tadi terasa begitu nyata, dia bahkan lupa bahwa sekarang ia sedang ada dalam kereta kuda menemani Mikel ke acara pertemuan.


"Ah! Tidak. Sa-saya baik-baik saja."


"Lalu kenapa kamu menangis?"


Segera Rebecca menyentuh wajahnya dan benar saja, kedua pipinya basa dengan air mata.


"Mimpi buruk?"


"Saya-"


"Tuan muda, kita sudah sampai di ibu kota." Satu kesatria yang sedang menunggangi kuda berbicara dari luar.


Kini kereta kuda mereka masuk ke ibu kota setelah dua prajurit kerajaan memeriksa identitas mereka. Rebecca langsung saja mengintip keadaan luar yang terlihat begitu ramai, berbeda dengan kota county.


"Kau baru pertama kali datang ke ibu kota?"


"Iya tuan muda, ternyata di sini sangat ramai."


Rebecca tersenyum lebar seperti melupakan kejadian sebelumnya. Mikel yang melihat hal itu cuma bisa menggeleng pelan. Teringat lagi saat di mana dayangnya menggumamkan sesuatu sambil meminta maaf.


Mikel ingin bertanya lebih lanjut, namun dia juga tidak ingin melihat dayangnya mengeluarkan ekspresi takut bercampur sedih seperti tadi.


Sebenarnya mimpi apa yang ia lihat?


...∆••∆...


Saat ini di ibu kota masih di hebohkan tentang perpindahan faksi yang di lakukan keluarga Rone secara tiba-tiba. Para bangsawan bahkan cukup terkejut mendengar hal itu beberapa hari yang lalu dari surat kabar yang mereka baca.


Padahal keluarga Rone adalah pendukung setia Duke Osmond. Tetapi, setelah beberapa bulan berlalu malah mereka berubah pikiran dan mendukung Pangeran kedua.


Karna hal itu, rakyat mulai bertanya-tanya tentang kesetiaan Marquess Rone serta sikap kandidat kedua, Killian. Tanggapan buruk dan baik mulai menjadi satu. Membuat satu kubu pendukung beradu orgumen.


Sebab, kata mereka, mana mungkin orang setia seperti Marquess Rone berpaling tanpa ragu. Pastilah ada masalah yang terjadi antar dua keluarga itu, atau mungkin sikap jelek kandidat Killian sudah terbongkar hingga Marquess Rone tidak lagi mendukung keluarga Osmond.


Sekarang jumlah keseimbangan pendukung menjadi berubah total, awalnya posisi Pangeran dan Killian sama rata. Namun setelah kejadian itu, pendukung Pangeran mulai bertambah sedikit demi sedikit.


Mengetahui hal itu, seorang yang ada dalam ruangan kerja menjadi sangat bahagia. Sejak tadi senyuman lebar tidak pernah luput dari wajahnya. Tidak menyangka bahwa rencana mereka akan berhasil sampai sejauh ini.


"Kamu sangat bahagia kan, Pangeran ku." Rocksy masuk dengan kedua tangan memegang nampan berisi teh serta cemilan ringan, untuk merayakan kemenangan awal mereka.


Ia mulai menyajikan semuanya di atas meja kemudian memanggil Pangeran Charles untuk duduk di sampingnya.


"Tentu saja sayang. Aku sangat bahagia, terima kasih."


Charles mendekat sembari menunduk dan mengecup singkat surai kekasihnya yang berwarna coklat terang, cukup lama. Setelahnya ia duduk dan menikmati teh yang telah tersedia di atas meja.


"Ini baru awalnya saja Pangeran, sebentar lagi kejatuhan Killian akan datang. Lalu kemenangan dan tahta Kaisar akan Pangeran dapatkan," ucapnya sembari mengambil kue kering yang ada di atas piring dan menyuapi Charles.


"Hmnhmn... Kamu benar, dan aku sudah tidak sabar untuk itu."


Pangeran tersenyum miring ketika membayangkan kehancuran keluarga Osmond. Siapa suruh mereka mau melawannya, maka bersiap-siaplah untuk kejatuhan mereka.


"Oh ya, ada satu hal lagi. Killian masih memiliki tambang spirit stone langka. Kamu pasti mengerti yang ku maksud."


Pangeran menatap serius kekasihnya.


Saat ini kekaisaran sedang kekurangan spirit stone, juga mereka membutuhkan benda sihir itu untuk membayar penyihir agar dapat membantu kekaisaran jika sewaktu-waktu terjadi perang.


Jadi bisa bahaya jika Killian melakukan bisnis perdagangan spirit stone di dalam kerajaan dan luar kerajaan atau kontinen, karna bisa saja itu akan sangat menguntungkan baginya dan kekaisaran. Kalau sudah seperti itu, pastinya Kaisar akan mendukung Killian. Dan saat itu terjadi, maka percuma saja rencana mereka selama ini.


"Tenanglah Pangeran sayang... Kitakan masih punya rencana penjualan organ tubuh atas nama Killian, bukankah jika berhasil dia akan langsung jatuh?" jelasnya lembut.


"Ya, tapi kamu tahu sendiri sikap Kaisar seperti apa? Di tambah beliau sudah mengenal Killian begitu lama. Pasti akan sulit jika cuma bukti penjualan atas namanya saja," jawab Charles sambil mengernyitkan dahi memikirkan jalan keluar.


Berbeda dengan Rocksy yang hanya tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di pundak Pangeran. Dia lalu menautkan kedua jari mereka sambil berbicara pelan hampir seperti berbisik.


"Meskipun begitu, Kaisar akan tetap menghukumnya kan? Di saat itulah Pangeran bisa memberi pendapat untuk menyita pertambangan spirit stone Killian."


Sontak saja Charles menatap kekasihnya dengan raut tidak percaya, dan di detik selanjutnya dia tersenyum lebar kembali. Ternyata dirinya tidak salah meletakan Rocksy di sisinya, lihatlah sekarang? Pria ini sangat membantunya.


"Aku jadi makin mencintaimu Rocksy...," ucap Pangeran sembari mencium bibir pria itu singkat.


...∆••∆...


Di dalam ruangan rahasia milik keluarga Rone, Harmonie bersama Marchioness silviana tengah tertawa gembira saat lima peti harta karun sudah di kirimkan ke kediaman mereka.


Harmonie langsung menangkup emas tersebut ke dalam tangannya dan menghirup aroma kesukaannya itu. Sungguh, mereka tidak menyangka negosiasi dengan putra mahkota akan se-menguntungkan ini, jika tahu sejak awal pastilah mereka akan mendukung faksi Pangeran.


"Tidak sia-sia ayah mengikuti keinginan ku, lihatlah! Kita makin kaya! Ahahahhaha."


Wanita cantik itu tertawa terbahak-bahak sambil menatap kedua orang tuanya bergantian. Harta sebanyak ini akan dia dapati setiap sebulan sekali, sangat hebat bukan?


"Kamu benar sayang, ibu bahkan tidak percaya. Jika sejak awal Pangeran menawarkan lebih banyak untung pada kita, pasti kita akan setuju. Benarkan suamiku?"


Pria bersuarai lilac yang tidak lain adalah Marquess Justis, kini menatap diam istrinya dan di detik selanjutnya dia berbicara,


"Kamu benar, tapi... Apa tidak apa-apa kita melakukan hal ini? Bukankah sejak awal keluarga Osmond-lah yang telah membantu kita--"


"Berhentilah mengoceh suamiku. Mereka memang membantu, tapi kitakan yang berusaha? Jadi, tidak ada salahnya juga. Pikirkan itu baik-baik."


Dengan tegas Marchioness berbicara, sembari memakai gelang emas yang ia ambil dari dalam peti harta karun. Marquess pun terdiam, kemudian mengangguk pelan, ia berfikir bahwa semua yang di katakan istrinya benar. Lagi pula, keuntungan mendukung Pangeran lebih banyak dari pada keuntungan yang mereka dapati dari Duke Osmond.


"Kalau begitu, aku akan urus masalah bawah tanah dulu. Kalian tahu kan, selain menerima harta kita harus membantu Pangeran," jelas Marquess yang di angguki anak serta istrinya.


Dalam surat perjanjian negosiasi yang ia baca, Pangeran akan mengirimkan mereka lima peti harta karun setiap bulan, asalkan mereka membantu Pangeran dalam melaksanakan rencananya menghancurkan Killian.


Karena lelaki itu sudah membuat kesal Harmonie, maka Marquess menyetujui permintaan anaknya untuk berahli faksi.


Salah satu rencana Pangeran yang mereka bantu adalah, menculik anak-anak dan mengurung mereka di ruang bawah tanah Marquess. Nanti saat anak-anak itu akan dijual, barulah Justis akan menyuruh penjaga untuk membunuh mereka.


Awalnya ia terkejut saat mendengar rencana ini, sebab bisa bahaya kalau ketahuan. Tetapi Pangeran menyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Jadi, karna itulah dia setuju.


"Berhati-hatilah ayah," Harmonie berteriak sambil melambaikan tangannya dengan bibir yang tersenyum.


"Ayo nak, kita simpan harta ini ke tempat yang aman."


Marchioness Silviana mulai menutup peti harta karun itu dan memanggil para pelayan agar memindahkannya ke gudang atas dengan hati-hati.


^^^To be continued... ^^^