
...Happy Reading...
.......
.......
.......
"Apa yang membuatnya mau berpedang lagi?" Duke bergumam kecil sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja kerja.
Terakhir kali anak itu berhenti berpedang dan belajar dengan giat saat ia berumur 10 tahun, setelah itu dia berbuat onar sana sini sampai beranjak dewasa.
Karna hal tersebut Duke pun memanggil seorang penyihir untuk menyihir Mikel menjadi anak berusia 12 tahun sebagai hukuman untuknya. Tetapi tetap saja dia terus berbuat onar dan mengacau, namun beberapa hari berjalan ini sikapnya jadi berubah drastis.
"Pasti ini semua ada hubungannya dengan wanita desa itu, tidak ku sangka dia bisa mengubah Mikel. Menarik."
Duke tersenyum dingin sambil melanjutkan tugasnya yang tadi sempat tertunda akibat kedatangan Mikel ke ruangannya.
...⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆...
Menjelang senja, langit sore menampakkan warna jingga yang memanjakan mata. Tidak terlewatkan dengan kumpulan awan yang juga menghiasi cakrawala. Suara kicauan burung yang saling bersahutan terdengar kala seseorang membuka jendela ruangan kerjanya.
Lagi-lagi hari sudah sore kembali. Sangking sibuknya dia beberapa hari ini, sangat jarang dirinya berkunjung ke kediaman Dowis untuk sekedar melihat keadaan Rebecca.
"Aku harus menyempatkan waktu untuk bertemu dengannya," gumam Killian sambil menatap taman kediaman yang begitu asri.
Sampai tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Killian. Dia lantas berbalik mendapati seorang pelayan yang masuk setelah mendengar izin darinya.
"Ada apa?" tanyanya tanpa berlama-lama setelah mendengar salam dari pelayan kediaman.
"Tuan, Lady Dowis datang berkunjung ke kediaman."
Killian seketika terkejut saat mendengar bahwa tunangannya datang berkunjung setelah sekian lama. Tetapi kenapa dia tidak memberikan surat pemberitahuan terlebih dahulu? Padahal jika seperti itu Killian bisa dengan mudah menyiapkan semua keperluan Rebecca agar wanita itu nyaman saat berada di kediamannya.
"Di mana dia sekarang?"
"Lady ada di ruangan tamu, Tuan."
"Baiklah... Layani dia sebaik mungkin. Katakan aku akan segera ke sana," Killian berkata sembari beranjak meninggalkan ruangan.
Dia perlu untuk mengganti pakaian dan merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan ini sebelum bertemu dengan Rebecca.
Beberapa menit pun berlalu. Setelah dirinya sudah siap dengan setelan jas berwarna hitam dengan rambut yang di sisir ke belakang, Killian lekas-lekas turun ke bawah ingin menjumpai Rebecca yang mungkin saja sudah menunggunya lama.
Begitu Killian membuka pintu ruangan tamu, nampak seorang wanita yang ia rindukan tengah duduk memakan beberapa cemilan yang tersedia di atas meja dengan lahap.
Saat mata keduanya saling bersitatap, dengan cepat Rebecca menghabiskan kue yang ada di dalam mulutnya sambil bangkit berdiri.
Melihat tingkah panik Rebecca, membuat Killian tersenyum kecil sembari melangkah mendekati wanita itu.
"Salam hormat untuk anda-emm maksud ku untuk mu Killian."
"Sudah ku katakan untuk jangan terlalu formal kan?" ucap Killian lembut sambil menggerakkan tangannya membersihkan sisian mulut Rebecca yang terdapat sisa-sisa renyahan kue.
Rebecca terkesiap saat menerima perlakuan yang di berikan Killian padanya. Pria itupun mengajaknya untuk duduk kembali sebelum membuka obrolan mereka.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Rebecca pada tunangannya yang berada di samping kanan tempat duduk.
Ia terlihat menampilkan senyuman menawannya sekali lagi sebelum kemudian menjawab pertanyaan Rebecca.
"Aku baik-baik saja, kamu sendiri? Baik-baik saja kan? Maaf aku tidak dapat berkunjung. Beberapa hari ini ada sedikit urusan yang harus ku selesaikan."
Killian memberikan tatapan bersalah pada Rebecca. Sedangkan orang yang di tatap seperti itu langsung saja merasa tidak nyaman. Bergegas Rebecca menampilkan senyuman terbaiknya sambil menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa Killian, aku mengerti." Rebecca berkata tenang, karna sebenarnya ia sudah tahu urusan apa yang sedang di selesaikan Killian.
Karna itulah dia ada di sini untuk sekedar memberi sedikit bantuan. Walaupun tidak seberapa, tetapi mungkin saja akan sangat membantu. Ini juga ada hubungannya dengan plan C yang ia susun sejak lama, jadi tentu saja dia harus melaksanakannya sampai selesai.
"Lalu... Ada keperluan apa kamu ke sini?"
"Ah, sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan. Juga..., aku ingin menemuimu."
Senyuman indah seketika terpatri di wajah tampan Killian. Ia lalu menggenggam tangan kanan Rebecca erat kemudian menciumnya pelan.
"Apa kamu merindukan ku?" tanyanya sambil menatap dalam manik violet sang wanita.
Rebecca langsung saja di buat kaku oleh tingkah-laku Killian. Wajah menawannya sungguh hampir membuat Rebecca mimisan. Memang benar, pesona seorang pemeran utama pria sangatlah bahaya bagi kesehatan jantung.
Tampan sekali dia ya Tuhan!
"Err... Ya, ma-maksud ku. A-aku tentu saja merindukan mu."
Killian menghela nafas pelan sambil mengusap permukaan tangan Rebecca lembut.
"Kamu malu? Kedua pipi mu memerah sekarang."
Langsung saja Rebecca berpaling sambil menarik tangannya dari genggaman Killian. Sedikit dia menggeser tubuhnya untuk menjauh, sebab posisi duduk mereka cukup berdekatan.
"Ti-tidak. Aku hanya merasa panas," timpalnya sambil mengibaskan satu tangan di depan wajah.
Memikirkan tentang sifat Killian yang makin hari makin aneh-aneh saja, membuat Rebecca pusing sendiri. Bagaimana bisa pria dingin dan kaku sepertinya dapat bersikap romantis?
Ya meskipun dia senang saat melihat sikap Killian yang berubah baik dan perhatian seperti ini. Artinya Rebecca tidak akan mati di tangan Killian lagi.
"... Baiklah kalau begitu... Jadi, apa yang ingin kamu katakan?"
Pertanyaan itu sontak memberhentikan kegiatan mengipas-ngipas wajahnya. Hampir saja dia melupakan tujuan awalnya datang ke sini. Rebecca pun berbalik sembari berdeham pelan memecahkan rasa kering dalam tenggorokan.
"Aku... Aku ingin membantu mu Killian, aku sudah mendengar permasalahan mu dari gosip yang beredar di Kekaisaran. Tentang perpindahan faksi keluarga Rone yang membuat sebagian pendukung mu berkurang."
Senyuman lembut dan penuh perhatian tadi langsung tergantikan dengan senyuman samar. Killian yang menatap Rebecca sejak tadi tanpa berpaling, kini menunduk dalam.
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu, karna aku dapat mengatasinya dengan baik."
Rebecca menghela nafas pelan saat mendengar jawaban tersebut. Ia lantas menyentuh pundak Killian dengan hati-hati. Pria itu reflek mendongkak dan berbalik menatapnya secara intens.
"Meskipun begitu, aku tetap akan membantu mu. Mana mungkin aku tidak membantu tunangan ku yang sedang butuh bantuan kan?"
Mendengar perkataan tersebut Killian jadi merasa tersentuh. Memang Rebecca terlihat berbeda, namun, kebaikan hatinya tetap saja ada. Hal itulah yang membuat Killian tidak dapat berpaling barang sedikit darinya.
Killian bahkan jadi merasa bersalah ketika mengingat saat di mana ia terlambat menyelamatkan wanita itu.
"Killian?"
"Ah, maaf. Aku tidak mendengar mu tadi, apa yang kamu katakan?" tanya Killian yang tadi sempat melamunkan masa depan.
"Aku bertanya apa kamu mau mendengar usul ku ini?"
Rebecca berucap pelan, berharap bahwa Killian mau mendengarkan dia. Sebab rencana yang Rebecca susun beberapa hari lalu pasti akan berhasil.
"Aku mendengarkan."
Jawaban itu sontak membuat Rebecca tersenyum lebar, ia dengan semangat menjelaskan tentang semua rencana yang sudah dia pertimbangkan baik dan buruknya pada Killian sesederhana mungkin.
...⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆...
Pagi hari di kediaman Aristotle. Nampak seorang wanita tengah sibuk berbincang dengan pria kecil yang tidak lain adalah Mikel, sang tuan muda.
"Kau temani aku berlatih hari ini. Jangan bekerja, Jangan menolak, karna ini perintah."
Menghela nafas pelan. Perkataan itu sudah yang ke tiga kalinya Mikel ucapkan karena Rebecca menolak untuk ikut dengannya.
"Tidak ada alasan untuk yang ke sekian kalinya. Ikuti aku atau kau ku hukum."
Mikel berkata sambil menunjuk Rebecca dengan jari telunjuknya. Wanita itu pun tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan Mikel yang terdengar sedikit memaksa.
Tumben sekali tuan muda ingin di temani, biasanya kan tidak.
Ia menggerutu dalam hati sambil sesekali melirik Mikel yang berjalan di sampingnya. Anak itu sudah siap dengan pakaian latihan dan sebuah pedang yang terlampir di pinggangnya sejak awal mereka bertemu.
Sesaat Rebecca menghela nafas pelan. Ia bingung jika nanti dirinya akan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai dayang, apakah Mikel akan menyetujuinya?
Ku harap dia menyetujuinya. Benaknya yang sejak tadi menatap Mikel dari samping.
Secara tiba-tiba anak itu memberhentikan langkahnya di tengah jalan. Ia lantas berbalik menghadap Rebecca dengan wajah datarnya.
"Menunduklah."
Merasa bingung akan yang di katakan sang majikan, Rebecca dengan patuh menunduk di hadapan Mikel.
Tak!
"Aduh!"
Wanita itu memekik saat Mikel menyentil dahinya cukup kuat. Mengosok pelan bekas merah yang tercetak di sana, Rebecca memberikan tatapan tajam pada tuannya.
"Kau membuat ku risih dengan tatapan itu."
Mengeryit bingung. Rebecca cukup heran, mengapa Mikel dapat mengetahui kalau dia sedang menatapnya dalam diam.
"Jangan memikirkan hal yang tidak penting. Ayo pergi."
Segera dia berbalik meninggalkan Rebecca yang masih saja menggosok dahinya pelan. Entah hanya perasaannya saja, atau memang tuan muda bersikap aneh hari ini.
Meskipun sikap kasar dan perkataan pedasnya masih ada, tetapi... Rebecca menangkap siratan kekhawatiran dalam matanya sejak tadi.
Mungkinkah dia mengkhawatirkan ku karna terluka? Jadi karna itu dia tidak mengizinkan ku untuk bekerja?
Lantas ia menatap punggung Mikel yang sudah jauh di depan sana. Dan secara tiba-tiba anak itu berbalik menatapnya.
"Apakah kaki mu bermasalah?! Jangan membuang waktu ku terlalu banyak."
Mikel berteriak cukup keras, membuat Rebecca terkejut dan bergegas menyusulnya. Sepertinya dugaan soal lelaki itu khawatir padanya, salah. Dia masilah Mikel yang sama seperti dulu.
Mana mungkin tuan muda mengkhawatirkan seorang dayang bukan?
...⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆...
Hari ini langit nampak cerah dengan cahaya mentari yang bersinar terang di atas sana. Perlahan, angin sepoi-sepoi bertiup menyentuh surai seorang wanita yang tengah duduk mengamati pelatihan di depannya.
Suara pedang yang saling beradu memenuhi udara di sekitar lapangan.
Sudah lewat beberapa jam dia berada di sini. Menunggu tuannya untuk selesai latihan. Tapi dari yang ia lihat, tidak ada perubahan dalam latihannya.
Ku pikir setiap anak bangsawan sudah di latih sejak kecil untuk berpedang. Tapi mengapa tuan muda terlihat kaku? Mungkinkah ini kali pertama ia latihan pedang?
Wanita bernama Rebecca mengeryitkan dahi memikirkan jawabannya sendiri. Tetapi sepertinya dia harus menanyakan itu pada Mikel.
Kembali lagi dia memerhatikan pertarungan dua orang di depan sana. Tetapi keduanya sudah berhenti dan sedang berbincang. Bergegas Rebecca bangkit dari duduknya, dan pergi membawa tempat minum beserta handuk kecil di tangannya.
"Tuan mu--"
"Tuan muda, perkembangan anda kali ini menurun drastis. Saya pikir dengan anda beristirahat selama beberapa tahun ini, anda akan mendapatkan kemajuan. Ternyata itu tidak sama sekali. Sungguh mengecewakan."
Perkataan itu sontak membuat langkah Rebecca melambat. Kalimat yang berbentuk sebuah hinaan itu di tujukan pada Mikel. Membuat Rebecca sedikit kesal.
Harusnya seorang guru membimbing dan menasehati muridnya dengan baik, bukannya menghina dan merendahkan muridnya sendiri.
Lalu, ada apa dengan tuan muda? Kenapa dia hanya berdiam diri saja tanpa membalas perkataan pria itu.
"Jadi--"
"Tuan muda!"
Segera Rebecca menginterupsi perkataan pria itu sebelum dia meluncurkan kata-kata yang menyakiti hati anak laki-laki di depannya.
"Rere... ada apa?"
Mikel menjawab dengan nada datar seperti biasanya. Rebecca perlahan mempersempit jarak di antara mereka kemudian berbalik menatap pria berotot yang menjadi guru pelatih majikannya.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan kesatria, saat ini tuan Mikel harus sarapan. Jadi saya akan membawanya."
Tanpa menunggu di jawab, Rebecca menangkap pergelangan tangan Mikel dan menariknya pergi dari sana. Sang tuan pun menjadi bingung atas apa yang telah di lakukan dayangnya.
Di rasa cukup jauh dari lapangan latihan, Rebecca memberhentikan langkahnya dan berbalik menatap Mikel.
"Apa anda baik-baik saja?" Rebecca berkata sembari memberikan tatapan intens pada tuannya.
Mikel sendiri hanya melirik dia sebentar, kemudian membuang pandangannya ke samping sembari melepaskan genggaman tangan sang dayang.
"Seperti yang kau lihat? Aku baik-baik saja. Lagi pula hinaan seperti itu sudah sering ku dengar dari orang-orang."
Sontak Rebecca mengepalkan tangannya merasa kesal. Padahal Mikel di cap sebagai pembuat onar, tetapi saat orang lain merendahkannya kenapa dia hanya diam?
Jangan-jangan Mikel memang sengaja membuat dirinya di hina orang-orang. Jika memang seperti itu... tujuannya untuk apa?
Berbagai dugaan berterbangan dalam kepalanya. Rebecca kemudian menghela nafas berat. Dia sungguh tidak mengerti.
"Tetapi, tidak sepantasnya anda di rendahkan hanya karena tidak dapat melakukan hal yang memang menjadi kelemahan anda."
Mikel terkejut. Sontak ia berbalik dan bersitatap dengan Rebecca. Mempertanyakan kenapa dayangnya bisa memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang-orang yang ada di kediaman?
"Kenapa kau berpendapat seperti itu? Ah, aku tahu. Karna kau bukan seorang bangsawan, jadi kau tidak pernah di tuntut untuk jadi sempurna. Makanya kau berkata seperti itu."
Rebecca terdiam. Dia menatap Mikel dengan kedua manik yang membola. Setelahnya ia tersenyum tipis sebelum kemudian menjawab perkataan tuannya.
"Apa anda tahu, setiap orang punya kekurangan masing-masing. Dan jika anda menemukan seorang yang sempurna, mungkin dia hanya pandai menyembunyikan kekurangannya."
Wanita itu berhenti berbicara untuk sesaat. Perlahan dia menggerakkan tangannya menyeka peluh Mikel yang menetes dari pelipis dengan handuk kecil.
"Karna itu, jangan merasa sedih dan terpuruk jika anda memiliki kekurangan serta tidak bisa memenuhi ekspetasi seseorang. Percayalah pada diri anda sendiri."
Senyuman manis yang terpatri indah di bibir Rebecca membuat Mikel terbuai karenanya. Dan tanpa sadar kedua pipinya bersemu merah bersamaan dengan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Cantik..."
Mikel bergumam pelan, dan itu dapat di dengar oleh Rebecca.
"Anda memuji saya?"
Pertanyaannya sontak membuat Mikel terkejut. Bergegas ia menjauhkan diri dari Rebecca kemudian berdeham pelan.
"Cih, tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa. Kau salah dengar tadi."
Sesudah menjawab, Mikel melangkah lebar meninggalkan Rebecca yang hendak memberikan sebuah tanggapan.
Dengan raut aneh dia menatap majikannya. Wanita itu lalu memegang telinganya pelan sembari berfikir.
Benarkah aku salah dengar? Tetapi, tuan muda berdecih tadi. Bukankah kata Duchess kalau tuan muda seperti itu artinya dia berbohong? Ah, tidak tahulah.