Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Berhasil >



Cahaya rembulan menerobos masuk ke dalam ruangan melalui jendela yang terbuka lebar. Angin dingin ikut bertiup seiring dengan waktu yang terus berlalu.


Nampak seorang lelaki yang tengah membaringkan diri di atas ranjang berukuran besar, dalam diam.


Manik kemerahan miliknya menatap kanopi yang mengelantung indah di kedua sisi tempat tidur.


Ia lantas mengangkat satu tangannya dan menyentuh pelan wajah sebelah kanan yang halus itu. Pikirannya kembali berotasi mengingat kejadian siang tadi yang cukup membuatnya malu.


Air mukanya seketika berubah menjadi merah padam. Sembari berdecak pelan, ia mengacak-acak surai silvernya menjadi tidak beraturan. Sedikit mengerang pelan kala wajah wanita yang ia sukai terus terbayang-bayang dalam benaknya.


Hanya karna sebuah ciuman yang di berikan wanita itu, ia jadi tidak bisa tenang selama beberapa jam ke depan. Bahkan untuk sekedar membaca atau mengalihkan perhatiannya pada kegiatan yang lain pun sangat sulit.


"Sial ... Aku sudah gila karenanya."


Menghembuskan nafas kasar, Mikel mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk. Tangannya bergerak mengambil segelas air yang tentunya selalu tersedia di atas meja samping tempat tidur.


Meneguknya hingga tak tersisa, ia kembali lagi meletakan gelas itu ke tempatnya semula. Mulai beranjak dari atas tempat tidur menuju jendela kamar yang masih terbuka menampilkan pemandangan taman kediaman Aristotle.


Sedikit Mikel menghela nafas pelan sebelum melempar pandang ke arah langit malam yang terlihat indah. Sungguh suasana yang sangat ia idam-idamkan. Tenang dan damai tanpa ada keributan.


Jangan salah sangka. Meskipun dia seringkali bersikap onar, dirinya sangat menyukai ketenangan. Juga, alasannya selama ini berbuat seperti itu karena hanya ingin mempermalukan martabat keluarganya.


Tapi, seiring berjalannya waktu, banyak hal yang telah mengubahnya. Rere. Wanita dengan 1001 tingkah anehnya yang selalu membuat Mikel merasa kesal sekaligus bahagia.


Ah ... Lagi-lagi dia memikirkan wanita itu. Sebenarnya sejak kapan ia menyukainya? Mungkinkah sejak mereka pertama kali bertemu? Atau ... Saat ia mengetahui Rere adalah wanita yang berbeda dari yang lain?


Mengusap kasar wajahnya, Mikel berkata pelan.


"Aku sungguh tidak mengerti dengan perasaan ini." Memutuskan untuk menutup jendela kamar, ia kembali teringat akan satu hal penting.


Tubuhnya yang sekarang masih tersihir. Dia harus berbuat sesuatu agar Duke mau melepaskan sihir yang mengikatnya sejak lama.


Sepertinya ia harus membicarakan ini dengan ayahnya, si Duke yang menyebalkan itu besok. Ia berharap orang itu mau mengabulkan permintaanya tanpa mempersulit dia lagi.


...✾✾✾...


Pagi menyingsing. Sang surya perlahan-lahan menampakkan cahayanya ke setiap sudut kekaisaran yang terbilang sangat besar.


Seiring dengan itu, kabar tentang Duke Eld yang telah ikut campur dalam pemilihan Kandidat, menjadi berita yang sangat menggemparkan masyarakat kekaisaran.


Bagaimana tidak, Duke dengan statusnya yang tergolong netral malah menunjukan dengan kentara siapa pilihannya. Apalagi dengan sifatnya yang kukuh dalam mengambil keputusan, makin membuat masyarakat tidak percaya bahwa Duke Eld melanggar perkataannya sendiri.


Berita itupun makin tersebar di kalangan bangsawan tingkat atas dan berakhir pada Pangeran kedua.


Dia nampak kesal saat mendengar berita yang di bawakan oleh salah satu mata-matanya.


Jadi inilah alasan mengapa Killian sering mengunjungi Distrik Timur. Ternyata dia berencana mengumpulkan pendukung yang adalah Duke Eld sendiri.


Pria yang bahkan sulit untuk di ajak kerja sama meskipun Charles sudah memberikan beberapa kesepakatan yang begitu menguntungkan pihak kedua, bagaimana bisa Duke Eld langsung memberikan dukungannya pada Killian.


"Apa mungkin dia membuat negosiasi yang lebih menarik dari ku? Tapi apa itu!"


Merasa kesal dengan apa yang telah terjadi, ia bahkan melupakan Rocksy yang ada di sampingnya.


Tangannya lantas menyentuh dahi Charles yang terlihat mengkerut. Kini atensinya berahli ke arah Rocksy yang sedang menatapnya serius.


"Sepertinya aku mendapatkan jawabannya," ucapnya sembari mengetuk-ngetuk meja kerja Pangeran.


Mendengar rentetan kalimat yang di katakan Rocksy, Charles menjadi makin penasaran akan apa yang sebenarnya ingin di katakan kekasihnya.


"Coba kamu jelaskan."


Ketukan di meja memelan kala Rocksy mulai menjelaskan beberapa asumsinya pada Pangeran yang belum menyadarinya.


"Pangeran ingatkan soal surat kemarin, tentang Killian yang pergi ke Distrik Timur setelah kedatangan tunangannya?"


Pertanyaan itu di angguki Charles sekali. "Lalu, apa hubungannya?"


Rocksy sempat mendesah pelan. Sedikit frustasi karena Pangerannya yang masih belum mencerna dengan baik apa yang ia katakan.


"Maksud saya, mungkin saja tunangannya itu yang menyusun rencana agar Killian bisa mendapatkan dukungan dari Duke Eld."


Seiring dengan ketukan meja yang terhenti, raut wajah Pangeran berubah menjadi tidak percaya akan apa yang di jelaskan Rocksy.


"Tapi, bagaimana bisa Lady Dowis jadi sepintar itu! Aku memang mencurigainya, tetapi tidak terlalu yakin akan rencana yang mereka lakukan."


Ia berkata tidak setuju. Namun, bukti sudah di depan mata. Charles makin di buat pusing oleh keadaan yang terjadi sekarang. Baru saja ia menjatuhkan Killian, datang lagi satu penghalang yang membantu pria itu. Sungguh menyebalkan.


"Kita harus menyingkirkan Lady Dowis secepatnya. Sebelum keadaan berpihak pada mereka."


"Saya akan menjatuhkan wanita itu secepatnya, Pangeran."


Ia tersenyum penuh arti sebelum kemudian berbalik mengambil kertas rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa untuk membuat Pangeran kedua menjadi Kaisar nantinya.


...✾✾✾...


Rebecca termenung menatap tanah lapang di hadapannya. Ia masih tidak percaya akan rencananya yang berhasil mendapatkan dukungan Duke Eld.


Padahal dalam novel tertulis bahwa Duke adalah seorang yang keras kepala dan memiliki pendirian yang teguh. Karna hal itu, dirinya memilih posisi netral dan tidak ingin ikut campur dalam pemilihan Kandidat.


Bahkan Charles saja sulit membujuk Duke untuk ikut dalam faksinya. Tapi tidak di sangka-sangka dia dapat merebut hati Duke. Meskipun sedikit dari rencananya di ambil dari jalan cerita dalam novel.


Ya, itu soal cerita masalalu Distrik Timur. Di mana tempat tersebut telah rusak akibat sihir gelap yang masih tersimpan di dalamnya. Dalam novel hanya di ceritakan sekilas saja, karna dari sudut pandang sang Duke dan yang menjadi alasan dia tidak ikut bergabung dalam urusan Kandidat.


Tapi karena aku telah mengangkat satu beban pikiran Duke, maka pastilah ia merasa senang.


Rebecca tersenyum kecil. Merasa bangga akan dirinya sendiri. Di saat yang bersamaan, Mikel datang mendekat padanya. Anak itu ternyata sudah selesai latihan.


Sesegera mungkin ia menyeka keringat yang bercucuran dari pelipis manjikannya. Namun, tangannya malah di tahan.


"Biar aku sendiri saja."


Setelah berucap seperti itu, Mikel berbalik meninggalkan Rebecca yang termangu menatap tuannya dengan tatapan heran.


"Mungkinkah dia masih marah soal ciuman kemarin?" monolognya sembari mengernyitkan dahi. Tapi, kalau di ingat-ingat, kemarin itu Mikel tanpa berkata apa-apa langsung pergi begitu saja.


Biasanya jika anak itu marah, dia akan membentak atau mendelik tajam padanya. Tetapi, dia tidak melakukan keduanya.


"Aduh ... Kenapa aku malah memikirkan hal tidak penting itu? Lebih baik aku persiapkan saja beberapa rencana tambahan."


Rebecca menghela nafas panjang sembari menatap langit biru yang cerah. Tinggal menghitung hari dia akan mengundurkan diri dari tempat ini. Makanya dia akan mempersiapkan semuanya dengan matang.


...✾✾✾...


Sore hari menyambut dalam damai. Langit biru perlahan tergantikan dengan warna jingga dari pantulan cahaya matahari.


Keadaan itu dapat di lihat dari jendela ruangan kerja Duke Aristotle yang tengah duduk di salah satu sofa.


Manik yang bagaikan batu permata merah menatap dalam seorang anak yang tengah duduk diam di hadapannya.


Anak itu masih menunggu jawaban dari sang ayah tentang permintaan pencabutan sihir pengecil tubuhnya.


Duke sempat terkekeh pelan sebelum angkat bicara. "Aku cukup terkejut saat kamu meminta hal itu setelah sekian lama." ia terhenti sebentar sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku akan melakukannya, tapi tidak sekarang." Pria itu mengambil segelas teh dan menyeruputnya pelan.


"Kenapa tidak sekarang?"


Pertanyaan tersebut membuat Duke melirik Mikel sebentar dan kembali meletakkan cangkir teh ke atas meja.


"Karena para penyihir sulit untuk di ajak bertemu. Mungkin jika aku memanggilnya hari ini, dua atau tiga hari mereka baru akan datang." Duke terhenti. Ia melempar pandang ke arah jendela. Selain alasan itu, dia harus merombak para pekerja kediaman.


Bisa-bisa setelah Mikel berubah menjadi dewasa, mereka akan heboh dan mulai bergosip. Duke tidak ingin berita tersebut sampai pada telinga para bangsawan.


Mikel lantas bangkit berdiri. Ia segera menunduk sebagai salam. "Terima kasih karena telah mendengarkan permintaan saya. Saya janji akan melakukan yang terbaik kedepannya agar tidak mempermalukan keluarga ini lagi."


Mendengar lontaran yang di katakan sang anak, mengundang Duke untuk tersenyum sumringah. Tidak menyangka bahwa Mikel akan berubah drastis seperti ini.


"Sebegitu sukanya kamu pada dayang itu? Kemana sikap mu yang congkak, Mikel?" tanyanya yang kini sudah menatap balik lelaki kecil di depannya.


Mendongak. Mikel menatap Duke datar dengan tatapan dinginnya. Manik yang sama persis itu saling beradu dalam diam, menciptakan suasana yang mencekam di antara mereka.


"Itu bukan urusan anda, Tuan Duke. Lagi pula, kenapa anda malah repot-repot mengurus wanita mana yang saya sukai? Lebih baik anda mulai bekerja saja."


Urat kekesalan seketika menghiasi wajah Duke. Ternyata sikap congkaknya masih ada dan belum menghilang.


"... Intinya, kamu harus mencari seorang pendamping yang layak. Bukan seorang pelayan dari kalangan rakyat biasa. Kamu kan sudah berjanji sebelumnya?"


"Ck."


Tanpa menjawab sepatah kata lagi, Mikel berbalik meninggal ruangan kerja Duke yang terasa menyesakkan. Ia tidak ingin mereka semakin larut menceritakan hal itu.


Mengingat sikap Duke yang selalu merendahkan derajat seseorang, Mikel tidak akan tahan jika ia merendahkan Rere.


Memangnya kenapa jika ia menyukai seorang wanita dari kalangan rakyat biasa? Dunia juga tidak akan hancur karna itu.


Pokoknya apapun yang terjadi, dia harus bisa kembali seperti semula. Nanti setelahnya, ia akan menjelaskan tentang sihir itu pada Rere.