
Memori kehidupan pertama. Ya, dia masih ingat dengan sangat jelas. Saat di mana masa kanak-kanak yang seharusnya bahagia, terenggut begitu saja oleh perlakuan orang tua angkatnya yang begitu kasar dan gila akan uang.
Tidak sedikit pukulan serta cacian yang ia dengar dari kedua orang tuanya saat dia tak bisa membawa sepeserpun uang hasil jualan kue. Masa-masa kelam yang ia hadapi sejak kecil, menghantuinya siang dan malam.
Seiring berjalannya waktu, Viely tumbuh menjadi sosok tangguh dan pantang menyerah terhadap apapun. Dia pun mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk pergi jauh dari kedua orang tuanya.
Setelah rencananya itu berhasil, dia memilih untuk menetap di salah satu kota yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Secara bertahap, Viely mulai mencari pekerjaan untuk mengumpulkan uang agar dirinya bisa berkuliah.
Satu hal yang ia pelajari dari kedua orang tuanya adalah, uang berperan besar dalam segala hal. Jika kau tidak memilikinya, maka kau akan tiada.
Kata-kata itu tertanam dalam relung hatinya, dan menjadikannya seorang yang cinta akan uang. Namun, meskipun begitu, ia tau membawa diri dan tidak menjadi orang yang sombong.
Sampai pada akhirnya dia bisa berkuliah dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Dia pun melamar kerja di salah satu perusahaan ternama dan mendapati posisi sebagai sekertaris.
Sejak saat itu, semuanya berubah. Dia bahkan membangun sebuah perusahaan miliknya sendiri setelah mengumpulkan uang dari hasil kerja kerasnya. Semua perjuangan yang ia lakukan, membawanya pada kesuksesan besar.
Viely berfikir, semua ini adalah buah dari keringat dan air mata yang ia cucurkan. Kehidupan yang awalnya penuh tangisan dan penderitaan, berubah menjadi tawa bahagia.
Namun naasnya, dia malah mati tertabrak dan masuk ke dalam novel. Hal mustahil yang tidak masuk akal itu, ia alami ketika membuka mata. Dan dari sanalah Viely sadar, bahwa dia akan berjuang kembali.
Di tambah dengan tubuh yang ia masuki sekarang memiliki akhir tragis, membuat Viely harus berfikir dua kali lipat dari biasanya. Demi bertahan hidup, dia akan melakukan apapun.
Rencana, siasat, berserta segala kemungkinan yang ada, ia pikirkan demi kelancaran misinya. Akan tetapi, sebelum ia mencapai akhir yang bahagia, Viely di perhadapkan dengan situasi yang mengharuskan dirinya untuk berkorban, bahkan merelakan nyawanya untuk seseorang.
Kebimbangan yang ia rasakan saat ini, cukup menghancurkan kewarasannya. Di satu sisi, tubuh yang ia tempati sejak awal bukanlah miliknya, tetapi milik orang lain. Makanya dia tidak berhak memutuskan apapun. Namun di sisi yang berbeda, keegoisan di dalam dirinya berteriak untuk tidak mengembalikan semua yang sudah ia perjuangan.
Dan di antara kedua hal itu, ia memilih untuk bersikap egois. Terdengar jahat, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan semuanya.
“Lady, sepertinya anda melupakan satu hal penting.”
Eros membuka pembicaraan yang sempat terhenti akibat teriakannya belum lama ini. Viely yang masih dalam kondisi tidak stabil, hanya menatap nyalang ke arah Eros tanpa berbicara satu katapun.
Jika seandainya tatapan bisa membunuh seseorang, maka Eros akan mati detik itu juga saat menerima tatapan tajam dari Viely.
“Anda hanyalah roh asing yang merasuki tubuh itu ketika jiwa yang asli terperangkap dalam dimensi ruang dan waktu.”
Pria itu bangkit berdiri dan menatap Viely cukup intens sebelum melanjutkan perkataannya.
“Juga, ini bukan dunia novel yang anda baca dan pahami. Tempat ini benar-benar ada.”
Viely terkekeh dingin saat mendengar pernyataan tersebut. Dia lantas menyugarkan rambutnya ke belakang sambil menghela nafas pelan.
“Lantas, bagaimana bisa aku tau tentang seluk-beluk cerita yang akan terjadi nanti? Jangan bermulut besar tuan...”
Viely berhenti bicara sembari mengangkat salah satu tangannya dan menunjuk Eros dengan ekspresi angkuh.
"Karna anda hanya karakter sampingan dalam cerita ini.”
Mendengar hal itu, Eros cukup emosi di buatnya. Dia pun mengikis jarak di antara mereka hingga Viely harus mundur selangkah ke belakang untuk menjaga jarak.
“Oho! Benarkah? Bagaimana jika ku lihat faktanya terlebih dahulu...”
Detik itu juga cahaya kebiruan muncul dari manik mata Eros. Dia memindai keseluruhan tubuhnya layaknya robot. Viely tentu saja terkejut dan langsung menampar pria itu tanpa tanggung-tanggung.
“Sikap lancang apa ini, tuan? Saya tidak mengizinkan anda untuk melakukan hal tak senonoh itu.”
Eros lantas tertawa saat mendengar perkataan yang di tujukan padanya. Dia kemudian menjauhi wanita itu sambil bersedekap dada.
“Baiklah, terima kasih untuk tamparannya. Karna sekarang aku sudah tahu, apa alasan mu mengetahui seluk-beluk cerita ini.”
Viely mengernyit dalam tak kala melihat Eros yang terus saja menatapnya intens, seperti menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan.
‘Kenapa diam saja? Aku kan jadi penasaran.’
Suara Rebecca yang menggalun lembut dalam ruangan, seketika menyadarkan Viely. Karna sangking seriusnya mereka berbicara, dia melupakan eksistensi wanita itu yang sejak awal ada bersama-sama dengannya.
Dia pun menoleh ke asal suara, dengan tatapan sayu yang tergambar dalam manik violetnya. Perasaan bersalah yang menggeluti isi hatinya seketika membuncah tak terkira.
Padahal dia sudah bersikap egois dan ingin mengambil ahli tubuh ini, tapi Rebecca malah diam dan tidak memberikan komentar apa-apa. Seolah-olah dia sangat memahami apa yang Viely rasakan selama menempati tubuhnya.
“Tiga kehidupan.”
Viely bersama Rebecca seketika menoleh saat mendengar Eros yang berbicara serius. Pria itu mengapit dagunya dengan jari jempol dan juga telunjuk sambil menatap ke arah langit-langit ruangan dan berbalik menatap Viely.
“Sepertinya saya melihat tiga kehidupan saat memeriksa jiwa mu. Dan jawaban kenapa anda bisa mengetahui apa yang terjadi di sini adalah, karna lady berasal dari tempat ini sebelumnya.”
Manik matanya langsung bergetar saat mendengar penjelasan tak masuk akal yang di katakan Eros. Tiga kehidupan? Apa-apaan itu? Maksudnya dia mati dan bereinkarnasi 3 kali, dan di antara tiga kehidupan itu, dia pernah hidup di dunia ini lalu kembali lagi ke sini? Hah?
‘Jadi, dia sudah melewati tiga kehidupan terhitung dengan yang sekarang?’
Rebecca bertanya bingung dan hanya di balas anggukan etis dari Eros. Sementara di posisi Viely, dia terlihat resah saat kebingungan melanda isi pikirannya.
“Tunggu, Tunggu dulu! Lelucon apa ini? tiga kehidupan? Maksudmu aku pernah hidup di tempat ini, lalu mati, dan bereinkarnasi ke dunia modern kemudian mati, dan kembali lagi ke sini?! What! Are you kidding me, Eros? Jangan mengada-ada! Katakan saja bahwa kau hanya mengarang, kan!”
Eros mengerjap pelan saat mendengar Viely yang berbicara cepat hanya dalam satu tarikan nafas. Bagaimana bisa wanita itu dapat melakukannya? Apa lagi dengan bahasa asing yang tadi dia sebutkan.
“Huft ... Sejak kapan aku mengarang? Aku mengatakan semua yang ku lihat di dalam jiwa mu, Viely.”
Sang puan seketika tersentak saat mendengar Eros yang berbicara santai padanya. Apa lagi dengan namanya di kehidupan modern yang di sebut pria itu, cukup membuat Viely sadar bahwa Eros tidak berbohong ataupun mengarang.
Jadi, tempat yang aku tinggali ini bukan cerita novel? Melainkan ingatan yang ada di kehidupan pertama?
Artinya, semua mimpi yang ku lihat selama ini sebagian dari ingatan pemilik tubuh, dan sebagian lagi dari ingatan di kehidupan pertama. Tidak mungkin.
Viely memegang kepalanya. Merasa pusing akan kebenaran yang ia dengar dari Eros. Rebecca bahkan merasa khawatir saat melihat temannya itu terdiam dan tidak lagi berbicara.
“Lalu, aku menjadi siapa di kehidupan pertama?”
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Viely melontarkan pertanyaan yang masih membekas dalam benaknya. Sedangkan Eros yang mendapati pertanyaan itu, mengulas senyuman penuh arti sebelum kemudian menjawabnya.
“Isabel Pother. Anak dari Duke Pother.”
...✾✾✾...
Ribuan bintang yang berkelap-kelip di langit malam, merupakan pemandangan yang indah untuk seorang pria bersurai silver yang tengah berdiri di depan teras kamarnya.
Memandang penuh makna benda-benda angkasa dengan manik matanya yang berwarna merah layaknya batu ruby. Apa lagi dengan sang rembulan yang ada di tengah-tengah cakrawala, menambah kesan estetika di malam kelabu.
Terhitung sudah beberapa hari berlalu sejak kepergian Rere, dia menjalani rutinitas sehari-hari seperti biasanya. Mengikuti berbagai jenis pembelajaran termasuk latihan berpedang dan hal lainnya yang tidak dapat di sebutkan satu persatu. Namun hal tersebut tidak membuatnya melupakan sosok Rere yang sudah mengisi keseharianya selama sebulan.
Entah kenapa dia sangat merindukan wanita itu. Walaupun dia sudah berusaha untuk melupakannya, bayangan Rere selalu saja muncul dalam benaknya.
Menghela nafas panjang, pria bernama Mikel malah teringat sosok yang di temuinya di wilayah County. Bagaimana perawakan serta suara dan warna matanya yang sama persis dengan Rere, cukup membuat Mikel goyah.
Tak menyangka bahwa ada seseorang yang mirip dengan dayangnya dalam segi rupa juga suara.
“Rebecca ... Itukan nama mu, nona pemarah?”
Gumam Mikel pelan seperti bisa melihat raut garang Rebecca di langit malam penuh bintang. Tiba-tiba seulas senyuman muncul di balik bibirnya, yang sontak menyadarkan pria itu.
“Ada apa dengan ku?” tanyanya bingung pada diri sendiri.
Aneh, mungkinkah karena Rebecca memiliki kemiripan yang sama dengan Rere—kecuali warna rambut mereka—makanya dia jadi tertarik?
“Rasanya ada yang mengganjal. Lebih baik aku menyelidiki asal-usul wanita itu, aku yakin ada yang tidak beres di sini.”
Mikel pun memantapkan tujuannya untuk pergi menemui Rebecca di wilayah County. Dia pasti akan langsung menemukan letak keberadaan wanita itu, mengingat hanya ada beberapa bangsawan yang tinggal di sana.
Walau sedikit, entah kenapa dia berharap bahwa Rebecca adalah dayang yang ia cari selama beberapa hari lalu, meskipun itu tidak mungkin.
Dia kemudian berbalik meninggalkan teras kamar, saat udara sekitar sudah mulai mendingin. Sepertinya musim salju akan segera tiba, tepatnya saat pesta ulang tahun Kaisar yang akan di gelar beberapa minggu lagi.
“Aku benci musim dingin.”
Mikel bergumam pelan sebelum sosoknya menghilang di balik pintu bergagang dua yang tertutup rapat.