
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Dalam kamar yang redup pencahayaannya, terdengar suara seseorang yang meringis kecil. Mata yang terpejam di bukanya perlahan kemudian mengerjap pelan. Menyapu pandang ke sekitar ruangan dan berakhir pada siluet seseorang yang sedang menumpu kedua tangan di samping tempat tidur.
"Eh, kenapa Tuan muda di sini?" suara pelan yang hampir sedikit berbisik itu terdengar dalam ruangan.
Rebecca lantas diam sejenak sambil memutar kembali ingatannya, untuk mengingat kembali kejadian sebelum ia pingsan dengan rasa sakit yang menjalar di lengan kiri.
Yang jadi pertanyaannya adalah, berapa jam dia pingsan? Lalu, soal penyamarannya...
"Oh... Tidak."
Lekas-lekas Rebecca menyentuh rambutnya, memastikan bahwa wig yang ia pakai tidak copot atau bergeser. Dan syukurlah itu tidak sesuai dengan dugaannya.
Kembali menatap lelaki kecil di sampingnya, Rebecca tersenyum samar. Pasti majikannya sangat khawatir melihat dia yang terluka, bahkan dirinya jadi malu saat mengingat ucapan yang ia lontarkan sebelum pergi berkelahi.
"Tidak, itu bahaya. Anda yang di incar mereka, akan sangat merepotkan jika Tuan muda tertangkap. Jadi, percayakan semuanya pada saya."
"Tenanglah... jangan khawatir, saya ini kuat. Kalau begitu saya pergi dulu."
Rebecca tersenyum miris. Padahal sudah keren-kerennya dia berbicara seperti itu tapi akhirnya malah dia terluka.
Habis sudah harga diriku...
Pikirnya sambil beranjak dari atas tempat tidur dan menyelimuti Mikel dengan selimut. Kasian juga tuannya tidur sambil duduk, pasti punggungnya akan kesemutan.
Ia pun memutuskan untuk mengangkat Mikel ke atas tempat tidur, dan ternyata anak itu cukup berat juga. Tangannya yang terluka bahkan terasa sakit.
"Tidak ku sangka tubuh kecil ini berat juga." Rebecca bergumam sambil bergerak ke arah jendela yang tertutup tirai. Menyibakkan kain tersebut ke kedua sisi yang berbeda.
Ternyata di luar masih gelap. Ia lalu melirik ke arah jam dinding yang ada atas meja rias, jarum jam di sana menunjukkan pukul lima pagi.
"Artinya aku ketiduran di sini... Dan ... oh tidak!" Ia menepuk dahinya pelan ketika mengingat sesuatu.
Jika dia tidur di sini, maka ayahnya pasti akan kebingungan dan mencari-cari dia kesana-kemari, di tambah sifat Count yang mudah khawatir pasti akan merepotkan nantinya.
"... Ku harap ibu tidak mengatakan yang sebenarnya, tidak-tidak. Aku harus segera kembali sekarang."
Rebecca berbalik kemudian menatap Mikel sebentar dan berpamitan dari sana. Di perjalanan, ia berjumpa dengan Helen yang tengah bersiap-siap membersihkan kediaman.
Wanita itu dengan cepat menghampirinya dengan raut wajah terkejut. Seperti merasa tidak percaya bahwa yang ia lihat sekarang adalah teman kerjanya.
"Rere?! Astaga kamu baik-baik saja kan? Aku sudah mendengar semuanya dari gosip para pelayan," ungkapnya sedikit heboh. Rebecca lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum menjawab pertanyaan Helen.
"Ahahaha iya, aku baik-baik saja kok," jawabnya kikuk sambil membuang pandangan ke samping.
"Syukurlah... Ku pikir kamu akan pingsan selama beberapa hari, ternyata cuma satu hari saja," Helen menimpali sembari tersenyum ke arah Rebecca. Sementara Rebecca malah sebaliknya, dia cukup terkejut akan hal yang di katakan temannya.
"Sa-satu hari? Jadi sudah satu hari! Ku pikir cuma beberapa jam saja. Kalau begitu aku pergi dulu, ada hal penting yang harus ku urus."
Bergegas Rebecca mengakhiri percakapannya dan berlengan pergi dari sana, dia harus segera pulang sekarang. Hatinya sungguh tidak tenang memikirkan kemungkinan buruk yang berkeliaran di dalam kepala.
...∆••∆...
Roda kereta kuda berhenti tepat di depan kediaman Dowis. Wanita itu pun turun dari dalam kabin dan membayar pak kusir yang sudah membawanya ke tempat tujuan.
Beruntung sekali Rebecca bisa menemukannya di pagi buta. Dia rasa, sang Dewi keberuntungan sedang berpihak padanya.
Tapi itu ketika dia turun dari kereta, tidak saat ia memasuki kediaman dan melihat butler yang berdiri di ambang pintu. Pria itu lalu menunduk memberi salam dengan senyuman anggun. Tidak, senyuman itu lebih ke lega? Pria itu seperti ingin mengatakan 'akhirnya anda pulang juga nona'
"Emm... Tumben sekali kamu menunggu di depan pintu," Ia berucap hendak berbasa-basi.
"Nona, Tuan sedang menunggu anda di ruangannya."
Rebecca menelan kasar ludahnya kemudian mengangguk kecil. Detak jantungnya berpacu cukup kencang saat sang butler bersedia menuntunnya ke ruangan kerja Count.
Sepanjang perjalanan dia terus merutuki nasipnya yang tidak beruntung kali ini. Tiba-tiba nafasnya tercekal saat melihat pintu ruangan kerja Count yang terpampang jelas di depan mata kepalanya.
Aku bahkan tidak sadar sudah tiba di sini.
Tok, tok, tok.
"Tuan, ini saya. Sesuai perintah, nona datang bersama saya."
"Masuklah."
Hal pertama yang menyambutnya adalah figur Count yang sedang duduk di kursi kerjanya. Pria paruh baya itu lantas memberhentikan kegiatan menulisnya kemudian menatap Rebecca dengan satu senyuman kecil terpatri di bibirnya.
"Salam, ayah. A-ada apa mencari ku?"
Setelah cukup lama tinggal bersama pasangan Dowis, Rebecca jadi lebih santai dengan memanggil mereka ayah maupun ibu. Tidak lagi tuan dan nyonya atau embel-embel Count dan Countess.
"Ayah kira kamu sudah tahu, maksud kedatangan mu ke sini." Count menghela nafas pelan sebelum lanjut berbicara, "Ibu mu sudah mengatakan semuanya pada ayah. Rebecca, sudah ayah katakan sebelumnya kan? Kamu tidak perlu mencari uang."
Rebecca menunduk dalam sambil mengucapkan kata maaf pada ayahnya.
"Pokoknya ayah tidak mau tahu, kamu harus berhenti berkerja sebagai pelayan di rumah Aristotle. Apa lagi dengan menyamarkan identias mu, kamu tahu itu sangat berbahaya. Di tambah keluarga itu pendukung pangeran kedua,"
Ia seketika mendongkak dan bersitatap dengan Count. Rebecca memang merasa bersalah akan dirinya yang sudah membohongi sang ayah, tetapi dia tidak terima jika pria itu memintanya untuk berhenti bekerja.
Padahal gaji ku sudah banyak. Mana bisa berhenti begitu saja.
"Tidak ayah, aku tidak mau berhenti bekerja di sana. Mereka juga tidak curiga akan Identitas ku," jawab Rebecca menolak permintaan ayahnya. Count menatapnya intens sambil menghela nafas pelan sekali lagi.
"... Rebecca, mau sampai kapan kamu bersikap keras kepala? Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan, lagi pula ekonomi kita sudah tercukupkan berkat bantuan keluarga Osmond."
Count dengan wajah tenangnya berbicara, mencoba untuk memberi pengertian pada anak semata wayang yang ia jaga sepenuh hati. Namun ternyata penjelasannya tidak membuahkan hasil yang baik.
"Bergantung pada orang itu tidak baik ayah. Bagaimana jika suatu saat Killian malah meninggalkan ku?" timpal Rebecca yang membuat Count terkejut. Merasa tidak percaya akan anaknya yang berfikiran seperti itu.
"Pemikiran apa itu Rebecca! Killian tidak akan meninggalkan mu, dan sudah ayah katakan jangan percaya pada gosip tidak jelas itu." Count sedikit meninggikan nada suaranya, membuat Rebecca menggigit bibir bawahnya pelan. Susah memang menyakinkan ayahnya ini.
"Masa depan tidak ada yang tahu ayah. Makanya aku bertindak seperti ini--"
"Hentikan Rebecca! Jika kamu tidak tahu masa depan akan seperti apa, jangan bertindak seperti kamu sudah mengetahui masa depan mu!"
Wajah Count berubah menjadi merah padam, dia merasa marah karna Rebecca terus saja melawan perkataannya. Padahal Count tidak ingin anaknya kenapa-napa, karna sudah cukup ia kehilangan orang yang ia cintai. Tidak untuk yang kedua kalinya.
"Ayah..."
"Cukup! Pokoknya kamu harus berhenti bekerja di tempat itu."
Rebecca menatap kecewa Count. Ia begitu tahu sifat ayahnya yang ingin melindungi dan memberikan yang terbaik padanya, tetapi dirinya juga tidak mau menjadi beban orang tuanya dan di sebut anak manja.
Ia sudah terbiasa sejak kecil mencari uang untuk menghidupi diri sendiri. Bahkan sampai dirinya sukses dan menjadi salah satu pemimpin di perusahaan besar, adalah berkat perjuangannya dari bawah.
Rebecca hanya ingin membuat keluarga keduanya bahagia. Tetapi, membangkang perkataan atau permintaan orang tuanya juga tidak baik.
Ia pun menghela nafas pelan sebelum kemudian berbicara.
"... Aku akan turuti kemauan ayah. Tetapi biarkan aku bekerja di sana dalam dua minggu ke depan," jelas Rebecca sembari menatap ayahnya yang sedang duduk diam mengatur emosinya agar stabil kembali.
Sebenarnya dua minggu lagi adalah sebulan ia bekerja di sana. Dia hanya ingin menggenapinya saja. Lagi pula, kalau misalnya dia berhenti secara tiba-tiba seperti ini, maka akan sangat aneh bagi keluarga Aristotle.
"Baiklah... Akan ayah turuti, tapi setelah itu ayah tidak ingin melihat kamu bekerja seperti ini."
Ia menunjuk pakaian pelayan yang Rebecca kenakan. Lantas matanya malah menangkap perban yang melilit lengan kiri anaknya. Segera Count bangkit berdiri dan memegang pergelangan tangan Rebecca.
Wanita itu tentu saja terkejut, tapi tidak merasa mual atau pusing. Jujur saja, setelah ia tinggal lama di tubuh Rebecca, perlahan-lahan phobia takut sentuhannya menghilang, dan ia sangat bersyukur untuk itu.
"Apa ini? Kamu terluka!" Count sangat shock melihat anaknya terluka. Dirinya bahkan jadi merasa bersalah karna tidak menjadi ayah yang baik.
"Ti-tidak parah kok, ayah jangan khawatir." Rebecca meringis dalam hati. Sangking gugupnya, ia bahkan lupa untuk menutupi luka di lengan kirinya akibat pertarungan di hutan.
"Bisakah kamu langsung berhenti bekerja saja?" permintaan yang melenceng dari persetujuan Count sebelumnya, membuat wanita itu menatap kesal ayahnya.
"Tidak boleh! Ayahkan sudah janji, dan janji harus di tepati."
Count menghela nafas pelan sembari menyentuh surai Rebecca dengan tatapan yang menyiratkan rasa khawatir. Mungkin Count sangatlah mengkhawatirkan Rebecca lebih dari yang wanita itu kira.
"Baiklah... Jaga dirimu baik-baik selama dua minggu ini." Count berpesan kemudian menarik Rebecca ke dalam dekapan sambil sesekali mencium puncak kepalanya.
"Ngomong-ngomong, kamu cocok juga dengan wig hitam ini. Ayah seperti melihat sosok ibu mu saja."
"Eh, benarkah? Bagus kalau begitu."
Rebecca cengegesan dalam pelukan ayahnya sampai momen mereka di ganggu oleh suara seseorang di depan pintu. Itu adalah ibu tirinya, Stella.
"Sepertinya kalian sudah selesai bernegosiasi, kalau begitu... Ibu juga ingin di peluk oleh mu."
Rebecca tersenyum kecil kemudian bergerak mendekati Stella dan memeluk wanita itu erat. Melihat tingkah dua orang di depannya, membuat Count tersenyum kecil merasa senang akan anaknya yang ternyata sudah menerima Stella sebagai ibu keduanya.
^^^To be continued...^^^