
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Seorang gadis bersurai pirang keemasan berdiri di depan makam dengan raut datar. Tidak ada gairah hidup lagi dalam tatapan matanya, liquid bening yang terus jatuh membasahi pipinya membuat seseorang di samping anak itu menatap dengan penuh rasa khawatir .
Ia lantas menunduk sambil menghadapkan tubuh gadis kecil itu ke arahnya. Menghapus air mata yang terpampang jelas di kedua sisian wajah.
"Rebecca, ayo kita pulang ya?" ajaknya yang entah sudah ke berapa kali, namun tidak di jawab oleh sang anak. Tetapi kali ini berbeda, ternyata ada respon dari gadis tersebut.
Tangan kecilnya terangkat menunjuk makam baru di depannya sambil menatap pria yang adalah ayahnya. Bibir pucat Rebecca bergerak mengatakan beberapa kalimat sebagai jawaban.
"Bagaimana dengan ibu? Dia pasti sendirian di sini. Apa lagi ibu tidak suka kegelapan."
Perasaan pedih dan pilu seketika bercampur dalam hatinya ketika mendengar jawaban Rebecca. Cairan bening yang ia tahan untuk tidak keluar lagi akhirnya meluncur begitu saja.
Edgar langsung memeluk anaknya tanpa berbicara sepatah kata. Kehilangan istrinya adalah suatu pukulan besar untuk dia dan Rebecca, apalagi anaknya masih dalam masa pertumbuhan yang membutuhkan sosok seorang ibu.
Melody, aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang...
Pikirannya berkecamuk sambil terus saja memeluk erat Rebecca yang diam di tempat.
"Ayah...?"
Setelah mendengar panggilan sang anak, Pria itu langsung melepaskan pelukan tersebut sambil menghapus sisa air matanya.
"Sayang... Ibu akan baik-baik saja di sana, jadi jangan khawatir oke? Ayo kita pulang ya?"
Rebecca kecil sempat menatap netra ayahnya yang berair kemudian mengangguk pelan sebagai tanggapan. Keduanya lalu pergi dari sana dengan Rebecca yang ada di dalam gendongan Edgar.
...∆••∆...
Sejak kepergian mediang istrinya, Rebecca menjadi cukup pendiam selama beberapa tahun ke depan. Namun Edgar terus berjuang memberikan yang terbaik untuknya sampai anak itu kembali normal seperti semula.
Di tahun berikutnya, saat Rebecca berusia 13 tahun, Edgar membawa seorang wanita berparas cantik ke dalam kediaman. Namanya Stella.
Memperkenalkan perempuan itu pada Rebecca sembari mengatakan bahwa Stella akan segera menjadi ibu keduanya. Tanggapan yang di berikan oleh gadis itu cuma biasa saja. Hingga akhirnya Edgar menikahi Stella.
Awalnya Edgar berfikir bahwa rasa rindu Rebecca pada sosok ibu akan terobati setelah kedatangan Stella. Tetapi hal tersebut malah berbanding jauh, Rebecca selalu saja bersikap dingin dan menganggap Stella seperti orang asing sampai anak itu beranjak dewasa.
Edgar yang melihat hal tersebut jadi merasa sedih sekaligus bersalah pada istrinya. Mungkin bagi Rebecca ibunya hanya Melody seorang dan tidak bisa di gantikan oleh siapapun, makanya anak itu bersikap dingin pada Stella.
Sampai ketika Rebecca terpeleset dan kepalanya membentur lantai, hal tersebut sangat membuat mereka terkejut. Di tambah alasan dasar Rebecca terjatuh karna ia terus-terusan memikirkan gosip yang beredar tentang tunangannya.
Padahal Edgar dan Stella sudah menyakinkan Rebecca untuk tidak percaya pada rumor tersebut. Tetapi dia sudah termakan omongan diluar sana.
Rebecca tidak sadarkan diri selama beberapa hari dan itu cukup membuat mereka merasa khawatir.
Pria itu tidak siap jika harus kehilangan orang tercintanya lagi. Ia mulai menuduh dirinya sendiri karna merasa tidak becus menjadi seorang ayah. Dia terlalu fokus pada pekerjaannya yang bisa di katakan dalam masa kritis hingga melupakan Rebecca.
Sampai satu keajaiban pun terjadi. Rebecca tersadar dari pingsannya, tetapi anak itu malah jadi bersikap aneh. Ia mulai merancau tidak jelas dengan mengatakan hal-hal di luar pikiran Edgar.
Namun, meskipun begitu, Rebecca perlahan menjadi dekat dengan Stella dan hal tersebut membuat hati Edgar merasa senang. Mungkin kebahagiaan yang sejak lama hilang akan segera hadir dalam keluarga mereka.
Kini Edgar sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil memandangi wajah tenang Rebecca yang tertidur.
Beberapa saat yang lalu setelah mereka selesai berbincang singkat, Rebecca memutuskan untuk mengirim surat izin ke kediaman Aristotle dengan beberapa alasan di dalamnya. Termasuk alasan kenapa ia langsung pulang tanpa berpamitan.
Setelah itu Rebecca memilih untuk beristirahat sejenak dari aktivitasnya. Dia juga mengatakan untuk tidak menganggunya saat sedang tidur.
Count Edgar perlahan menyentuh surai sang anak sambil menatapnya sayang, kemudian segera pergi dari dalam kamar.
...∆••∆...
Langit menjadi sangat biru ketika sang surya berada di tengah-tengah cakrawala. Perubahan udara pun menjadi cukup panas seperti hari-hari sebelumnya, di samping itu ada dua surat yang masuk ke dalam kediaman Aristotle.
Surat pertama di antarkan pada Duchess dan surat kedua di antarkan pada Mikel. Lelaki itu mengeryit saat menerima amplop putih dari sang pelayan kediaman.
"Ck, jika itu dari para nona bangsawan buang atau bakar saja." Mikel berucap sambil lanjut membaca buku untuk menenangkan perasaannya.
Dia begitu kesal saat melihat wanita yang ia jaga sudah hilang entah kemana, apalagi tanpa berpamitan dan pergi dengan kondisi tidak sehat.
Tunggu saja dia, akan ku marahi habis-habisan!
"Eh, tunggu!" cegah Mikel ketika teringat akan satu hal penting yang harus ia lakukan. Sang pelayan pun berhenti sambil menatap majikannya penuh tanya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya, kau pergi dan katakan pada Duke sombong itu kalau aku ingin berbicara dengannya."
"Baik Tuan muda," ucapnya sambil berbalik pergi.
Setelah pintu kamar tertutup, Mikel langsung membuka dan menarik surat yang ada di dalam amplop. Tetapi sesuatu yang lain jatuh saat ia menarik surat tersebut.
"Permen? Apa-apaan ini?"
Ia menatap lekat-lekat tiga permen dengan rasa yang berbeda-beda, kemudian lanjut membuka surat dari Rebecca. Manik merahnya mulai melihat tulisan yang tertera di sana satu-persatu.
Dari Rere, untuk Tuan Muda Mikel.
...Salam tuan muda, sebelum itu saya ingin meminta maaf karena menghilang secara tiba-tiba. Ada beberapa urusan yang harus di selesaikan termasuk memberi obat untuk orang tua saya yang sakit....
...Tuan jangan khawatir, luka saya tidak apa-apa. Dan saya hari ini tidak akan masuk, jadi tuan harus mengurus diri anda sendiri. Saya juga sudah mengatakan izin pada nyonya Duchess....
...Lalu... Terima kasih karna sudah mau menolong saya, apalagi sampai harus tidur sambil duduk demi menjaga saya, pasti punggung anda sakit. Sebagai gantinya saya membelikan anda permen tiga rasa!...
...Ada rasa coklat, strawberry, dan lemon! Tenang... Itu tidak beracun jadi anda tidak akan mati jika memakannya. Kalau begitu sampai nanti Tuan muda! Jangan merindukan saya lho hahaha!...
"Wanita bodoh!" Mikel menutup wajahnya dengan satu tangan sambil tersenyum kecil. Percuma saja ia mengkhawatirkan Rebecca, kalau pada akhirnya perempuan itu malah seperti ini.
Sikap anehnya selalu saja membuat Mikel tidak habis pikir. Ia kemudian menatap tiga permen yang ada di atas ranjang, lantas tangan Mikel bergerak menangkup semua dalam genggaman.
"Dia pikir aku anak kecil apa? Tapi ya... Karna aku penasaran akan rasanya, jadi ku makan saja."
Saat hendak membuka bungkusan permen tersebut, suara ketukan pintu terdengar memenuhi ruangan kamar Mikel. Dengan cepat dia menyuruh seseorang di luar sana untuk masuk ke dalam.
Nampak seorang pelayan yang tadi ia suruh untuk mengecek Duke jika orang tua itu ada waktu untuk berbincang dengannya.
"Salam Tuan muda, Tuan Duke sedang menunggu anda di ruangannya."
Mikel mengangguk paham kemudian bergerak menyimpan surat serta permen ke dalam nakas lalu keluar dari dalam kamar. Dia memiliki beberapa hal untuk diperbincangkan bersama Duke, walau sebenarnya ia sangat malas ketika melihat wajah pria itu.
Setibanya Mikel di depan pintu, di ketuknya benda persegi panjang tersebut sampai terdengar suara dari dalam ruangan. Ia pun bergerak masuk, tidak lupa untuk menutup pintu terlebih dahulu setelah kemudian memberi salam.
"Apa yang hendak kamu katakan?"
Tanpa melihat Mikel Duke bertanya segera, sebab pekerjaannya masih menumpuk di atas meja. Ada beberapa masalah yang harus ia urusi di bagian perbatasan kekaisaran, tepat pada wilayahnya.
"Ya. Saya ingin anda memberikan seorang guru pelatih pedang untuk saya."
Sontak Duke memberhentikan aktivitas menulisnya kemudian beralih menatap Mikel penuh tanya. Jujur saja, semenjak hari di mana Mikel berubah, ini adalah kali pertama Duke mendengar Mikel berbicara sopan. Salah satu alisnya terangkat, merasa penasaran akan apa yang sementara di pikiran anaknya.
"Guru pelatih? Mengejutkan sekali, jika kamu hanya ingin bermain-main aku tidak akan memberikannya."
"Sayangnya saya tidak sedang bermain-main. Saya ingin belajar berpedang sekali lagi."
Duke tersenyum miring. Tumben sekali putra keduanya ini meminta hal seperti guru pelatih pedang. Padahal yang Duke tahu, semenjak Mikel mulai membangkang ia tidak pernah lagi menyentuh pedang ataupun menginjakkan kaki di lapangan latihan.
"Sepertinya kamu sudah sedikit sadar akan tindakan mu selama ini. Baiklah... Akan ku berikan seorang guru pelatih, tetapi jika hasilnya kurang memuaskan. Aku akan langsung memberhentikan latihan mu," jelas Duke dan di angguki oleh Mikel secepatnya.
"Saya akan berusaha untuk mendapatkan hasil yang anda inginkan."
Setelah berucap seperti itu, Mikel berpamitan dari sana dan segera keluar dari dalam ruangan secepatnya. Duke yang memerhatikan gerak-gerik anaknya pun tersenyum tipis.
"Apa yang membuatnya mau berpedang lagi?" Duke bergumam kecil sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja kerja.
Terakhir kali anak itu berhenti berpedang dan belajar dengan giat saat ia berumur 10 tahun, setelah itu dia berbuat onar sana sini sampai beranjak dewasa.
Karna hal tersebut Duke pun memanggil seorang penyihir untuk menyihir Mikel menjadi anak berusia 12 tahun sebagai hukuman untuknya. Tetapi tetap saja dia terus berbuat onar dan mengacau, namun beberapa hari berjalan ini sikapnya jadi berubah drastis.
"Pasti ini semua ada hubungannya dengan wanita desa itu, tidak ku sangka dia bisa mengubah Mikel. Menarik," Duke tersenyum dingin sambil melanjutkan tugasnya yang tadi sempat tertunda akibat kedatangan Mikel ke ruangannya.
...~Charles De Liconia~...
...gambar di ambil dari pin...
^^^To be continued...^^^