Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Racun >



...Happy Reading...


.......


.......


.......


Keadaan jadi makin runyam, dua kesatria tadi sudah bertarung habis-habisan di belakang sana. Belum lagi si penyerangan jarak jauh cukup menyebalkan juga, karna mereka mengganggu pergerakan kesatria dalam pertarungan.


Rebecca lantas berbalik, menarik anak panah yang tertancap dalam lantai kereta kuda.


Sreek!


Ia memotong ujung gaun pelayan yang semula panjangnya di bawah lutut sekarang sudah di atas lutut. Mikel yang melihat hal itu jadi was-was.


"Apa yang kamu lakukan!" pekiknya yang merasakan firasat buruk.


"Saya akan keluar membantu mereka, anda tunggu saja di sini dan jangan keluar." Rebecca menjelaskan sembari mempersiapkan dirinya untuk bertarung dengan para penjahat.


Namun Mikel mencegat pergerakan Rebecca yang sedang melingkarkan kain pakaian yang ia robek tadi pada tangannya. Lelaki itu menatap Rebecca dengan kedua manik Ruby-nya dengan serius.


"Jangan! Di luar bahaya, serahkan saja semua pada dua kesatria itu. Mereka adalah kesatria handal, jadi mana mungkin bisa kalah."


Rebecca menelan ludahnya kasar sambil menghela nafas pelan, ia kemudian bergerak menyentuh puncak kepala Mikel lembut.


"Tuan muda, kita kalah jumlah. Dan juga ada penyerang jarak jauh yang mengganggu pergerakan kesatria, jadi saya tidak bisa diam di sini saja."


"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut dengan mu-"


"Tidak, itu bahaya. Anda yang di incar mereka, akan sangat merepotkan jika Tuan muda tertangkap. Jadi, percayakan semuanya pada saya."


Netra violet Rebecca memancarkan kilatan serius, Mikel yang melihat hal itu jadi menunduk dalam sambil merutuki dirinya yang tidak bisa bertarung.


Rebecca pun menghela nafas pelan, lalu melanjutkan aktivitas sebelumnya yang tertunda. Setelah selesai membungkus kedua tangannya dengan kain, ia menatap Mikel yang sejak tadi tidak mengangkat kepalanya.


Ia lantas menyentuh wajah majikannya sambil tersenyum kecil.


"Tenanglah... jangan khawatir, saya ini kuat. Kalau begitu saya pergi dulu."


Sebelum Rebecca beranjak keluar dari dalam kabin, Mikel membuka suara mengatakan sesuatu yang tidak ia sangka. Yakni jangan sampai terluka.


Ia mengangguk paham akan perkataan tersebut kemudian keluar dari dalam kereta kuda.


Tak.


Setelah menutup pintu kereta kuda, Rebecca bersembunyi sambil melihat sekitar. Dua kesatria penjaga sudah sangat kewalahan, jadi dia harus bergerak cepat.


Rebecca menyapu pandang ke sekeliling tempat, hendak mencari si penyerang jarak jauh yang bersembunyi. Begitu matanya mengarah ke dalam hutan, terlihat siluet seorang sedang bersembunyi di balik pohon dengan busur dan anak panah yang siap di tembakkan kapan saja.


"Itu dia...," gumam Rebecca pelan kemudian bergerak mengendap-endap mendekati sang pemanah.


Dia mengambil jalan berputar untuk dapat menyerang penjahat itu dari belakang. Kalau dari arah sebaliknya, itu namanya bodoh. Rebecca kan tidak menggunakan senjata saat ini, jadi akan sangat bahaya jika dia menyerang dengan cara membabibuta.


Setelah ia sudah semakin dekat dengan pemanah tersebut, Rebecca langsung saja menggunakan gerakan mencekik leher lawan dengan lengan tangan kiri dan menariknya ke bawah. Tidak hanya diam saja, sang pemanah melakukan perlawanan, dia mengeluarkan belati dari dalam saku celana dan melukai lengan Rebecca.


Wanita itu meringis sakit kemudian melayangkan pukulan pada kepala lawan menggunakan siku-siku tangan kanannya.


Pemanah itupun langsung pingsan di tempat, Rebecca kemudian beranjak pergi dari sana. Begitu hampir tiba di depan kereta kuda, netranya melihat salah satu penjahat hendak masuk ke dalam kabin.


Lekas-lekas ia berlari dan melompat tinggi kemudian menendang tengkuk leher pria itu.


Buak!


Penjahat tersebut terhempas jauh dengan pedangnya terlepas dari genggaman tangan. Ia merintih kesakitan sembari memegang tengkuk leher yang terasa sakit dan nyeri.


Rebecca lalu mendekat dan menendang dagu pria itu sampai pingsan. Melihat kejadian yang di lakukan Rebecca, dua penjahat yang tersisa segera berbalik pergi dari sana secepat mungkin.


"Nona pelayan, apa kamu baik-baik saja?" Satu kesatria yang tadi memberikan dia botol minuman mendekat dengan raut khawatir, di susul teman kesatrianya.


"Rere!" teriak seorang dari belakang yang tidak lain adalah Mikel. Anak itu berlari mendekatinya dengan raut yang sama seperti dua kesatria tadi.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya secepat kilat.


"Ah! Ya, saya baik-baik saja. Cuma--"


Perkataan Rebecca tiba-tiba terhenti saat di rasa kepalanya berdenyut sakit. Melihat keanehan yang di tunjukkan Rebecca, dua kesatria itu lekas-lekas menahan tubuhnya yang akan roboh.


"Itu... Racun!" pekiknya merasa panik. Lekas-lekas Mikel menyuruh dua kesatria itu untuk memasukkannya ke dalam kereta kuda.


Ketika akan melanjutkan perjalanan, ternyata sang kusir terkena luka di bagian bahunya atas tembakan pemanah sebelumnya. Mikel lalu menyuruh salah satu kesatria untuk menganti sang kusir dan mereka pun segera pergi dari sana.


Di dalam kabin Mikel terus saja berteriak untuk mempercepat perjalanannya agar sampai di kediaman Aristotle. Rebecca yang saat itu setengah sadar perlahan bergerak membuka ikatan kain yang ada pada tangannya.


"Apa yang kamu lakukan! Jangan bergerak, nanti racunnya menyebar lebih cepat," bentak Mikel yang saat ini duduk di sebelah kanan Rebecca.


"To-tolong ikatkan kain ini di lengan atas saya. Supaya racunnya tidak menyebar."


Mendengar penuturan tersebut, dengan sigap Mikel bergerak mengikat kain tersebut agar menahan racunnya untuk tidak menyebar cepat. Sangking paniknya Mikel, ia bahkan melupakan tindakan pencegahan itu.


"Sudah ku katakan bukan! Diam saja di sini! Kau malah keras kepala! Dasar bodoh!"


"Ahaha maaf. Tapi jika saya tidak Ke-keluar tadi, mungkin kita akan kalah."


Rebecca berucap pelan sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Mikel berdecak kesal menatap khawatir dayangnya dalam diam.


"Ck, bertahanlah. Jika kau mati, aku tidak akan mengubur jazad mu."


Wanita itu terkekeh pelan ketika mendengar penuturan tersebut, tidak sehat ataupun sakit selalu saja perkataan majikan kecilnya begitu menyakitkan telinga serta hati nurani Rebecca.


...∆••∆...


Kediaman Aristotle seketika ribut saat majikan mereka pulang dengan membawa dayangnya yang terluka. Rebecca pun di bimbing oleh dua prajurit tadi ke dalam kamar tamu dan di baringkan dengan hati-hati agar lukanya tidak terbuka lebar.


Duchess langsung saja menyuruh salah seorang pelayan untuk segera memanggilkan dokter keluarga mereka. Dia sungguh khawatir akan keadaan Rebecca, di tambah racunnya sudah melewati batas kain yang di ikat dan akan mendekati bahu wanita itu.


Sementara Mikel, dia duduk di samping tempat tidur memerhatikan dayangnya yang berkeringat dingin. Ia lantas mengeluarkan sapu tangan dan menyeka peluh yang bercucuran dari atas kepala wanita itu.


Tiba-tiba dari arah pintu datang Christof di ikuti Duke dari belakang. Kedua pria itu menatap lama keadaan Rebecca yang terbaring tidak sadarkan diri. Sang kakak pun melirik Mikel dengan tatapan dingin.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Pertanyaan itu seketika menghentikan kegiatan Mikel yang sedang menyeka keringat Rebecca. Kepalanya menunduk dalam dengan tangan yang terkepal erat.


"Ini semua karna aku, dia melindungi ku."


Mikel menceritakan semua kejadian penyerangan tadi, di mana Rebecca bersikeras untuk keluar serta dia yang tidak dapat berbuat apa-apa untuk wanita itu di karenakan tidak bisa bertarung.


"Sudah..., yang terpenting kamu tidak kenapa-napa." Duke menimpali sambil menatap Mikel datar. Mendengar tutur kata yang di ucap ayahnya, Mikel jadi merasa kesal.


Dia langsung memberikan tatapan tajam ke arah Duke dengan kedua tangan makin terkepal erat. Netra keduanya bersitatap cukup lama.


"Memang benar, kau cuma tahu kesenangan mu saja, tapi tidak dengan penderitaan orang lain. Karna itulah aku sangat membenci mu."


Dengan penuh penekanan Mikel berbicara. Rahangnya mengeras di ikuti kilatan kemarahan tercetak jelas dalam maniknya yang berwarna darah. Christof yang melihat hal itu segera berdiri di antara keduanya sebagai penengah.


Jujur, kali ini Christof lebih mendukung sang adik. Ayahnya sungguh sangat keterlaluan sekarang. Padahal Rebecca sudah mengorbankan nyawanya untuk melindungi Mikel, tetapi ini balasan yang di terimanya?


"Karna sikap pembangkang mu itulah yang membuat ku tidak mencabut sihir pengecil tubuh dari mu, kau cocok menjadi anak kecil selamanya dari pada orang dewasa."


Duke menjawab dingin dengan tatapan tajam yang tertuju pada Mikel. Dia lalu berbalik meninggalkan ruangan kamar, menyisakan kesunyian yang mencengkam.


Duchess lantas bergerak hendak mendekati Mikel tetapi itu di cegah oleh Christof, dia menggeleng pelan memberikan tanda pada ibunya untuk tetap diam. Duchess pun menurut dan segera berbalik pergi dari dalam kamar menyusul suaminya.


"Ck, aku kan jadi pembangkang karna mereka," gumamnya pelan sambil melirik wanita yang terbaring di atas tempat tidur.


Setelah beberapa saat kemudian, dokter datang memeriksa keadaan Rebecca yang terbilang gawat. Beruntungnya sang dokter memiliki obat penawaran rancunnya, jadi Rebecca bisa di tangani dengan cepat.


Begitu selesai, dokter pun memberikan salep luka pada Mikel agar supaya luka yang ada di lengan Rebecca tidak meninggalkan bekas. Pria itu lalu berpamitan dari sana setelah memberi salam.


Mikel mendengus berat sambil menatap dalam wanita yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang. Ini adalah kali pertama dia merasa khawatir pada seseorang, apalagi dengan status orang itu adalah dayang pribadinya. Aneh bukan?


Tangannya pun terkepal erat saat melihat perban putih yang membungkus lengan kiri dayangnya. Perasaan bersalah muncul sangat jelas dari tatapan mata yang Mikel tunjukkan pada Rebecca. Ia lalu berucap lirih.


"Kumohon... jangan tinggalkan aku."


.... ...


.... ...


.... ...


^^^To be continued... ^^^