
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Rebecca Mengatur nafasnya guna memelankan degupan jantung sehabis di peluk sang pemeran utama secara tiba-tiba.
Dia bahkan sempat mencubit kulit tangannya, ingin memastikan bahwa hal sebelumnya bukan mimpi atau khayalan semata. Dan hasilnya sakit, pertanda kejadian itu nyata.
Tangannya lalu bergerak mengambil secangkir teh yang ada di atas meja, sambil sesekali melirik sang tunangan.
'Dia memang pantas menjadi tokoh utama. Tapi tetap saja, aku agak kecewa pada Killian karna dia tidak mencegah Rebecca bunuh diri,' benaknya menatap sayu cangkir teh yang mengepul-ngepul.
Tetapi untuk sekarang, hal seperti itu tidak akan terjadi. Maka berbahagialah Rebecca, karena jiwa Viely yang menggantikannya.
Ia lalu menyeruput tehnya secara perlahan-lahan, kemudian meletakkan cangkir itu ke atas meja.
"Tumben sekali anda datang kesini. Biasanya kan tidak pernah," singgungnya.
Sambil menunjukkan satu senyuman kecil, membuat sang pria menatapnya sekali lagi.
"Maaf tidak dapat membuat mu bahagia, Rebecca," jawabnya seraya meremas kain celana hitam yang ia pakai.
Sedangkan Rebecca yang mendengar perkataan tersebut, hanya diam membisu di tempat duduknya.
'Tunggu dulu! di novel tidak ada tuh kata-kata seperti ini. Apakah karena aku mengubah alurnya sedikit, jadi dapat berpengaruh pada perubahan karakter?' tanyanya pada diri sendiri.
Sungguh sekarang dia di landa kebingungan.
"Apa yang anda katakan Killian, saya baik-baik saja. Memangnya kenapa dengan rumor itu? Jika anda memang menyukai Harmonie—"
Perkataan Rebecca seketika terhenti, kala menatap ekspresi wajah yang di tunjukan Killian saat mendengar nama Harmonie.
Pria itupun segera bangkit berdiri sambil mendekati wanita bersurai Golden white, kemudian berlutut di depannya sambil menggenggam tangan putih wanita itu yang berbalutkan sarung tangan.
"Kamu tidak akan mengerti, tetapi satu hal yang pasti. Aku tidak akan meninggalkan mu lagi," ucapnya dengan bahasa informal.
Yang sekali lagi membuat Rebecca tidak dapat menebak isi kepala Killian, dan jatuh dalam kebingungan.
"Apa yang kamu katakan? Rasanya terdengar aneh, seperti bukan dirimu saja," balasnya sambil menarik kedua tangan yang di genggam oleh pria Osmond ini secara perlahan-lahan.
Kini keheningan datang melanda keduanya. Setelah Rebecca berucap seperti tadi, pria itu malah diam sambil menundukan kepala, menatap lurus tangan tunangannya.
Satu detik ....
Dua detik ....
Tiga detik ....
Killian tidak membuka mulut berbicara, sampai Rebecca perlahan-lahan mengerakan tangannya menyentuh wajah lembut dan menawan pria tersebut.
'Ouh! dia terlihat sangat tampan dalam jarak sedekat ini,' pekiknya dalam hati.
Namun masih bisa menunjukkan ekspresi wajah tenang.
"Apakah kamu melakukan kesalahan sampai berbicara seperti tadi?"
Pertanyaan tersebut membuat hati Killian sakit, dia lalu memegang tangan Rebecca yang ada pada wajahnya sambil mengecupnya singkat.
"Intinya sekarang, aku hanya ingin bersamamu saja."
...∆••∆...
Di dalam ruangan kamar bernuansa cerah, Rebecca tengah mengelap debu yang berada di atas meja sejak tadi tanpa berpindah tempat.
Membuat sang pemilik kamar memberikan tatapan heran pada dayangnya yang sejak pagi bersikap aneh. Mungkinkah rencananya kemarin sudah menjatuhkan mental Rere?
"Hei! Sudah yang ke lima puluh kali kau mengelap meja itu!"
teriakan Mikel mampu menembus ruang pikiran Rebecca, sampai wanita itu tersadar dari pemikiran panjangnya tentang perubahan sikap Killian.
"Apakah aku melewatkan sesuatu yang penting?"
monolognya pelan, sambil menggigit kuku jari telunjuk. Ia tidak memperdulikan tuanya yang sudah kesal.
Hingga sebelah sepatu melayang di udara dan tepat mengenai wajah Rebecca secara kasar. Dia seketika meringis sakit, memegangi hidung mancungnya yang terkena sepatu.
Rebecca kemudian menatap nyalang sang pelaku, tapi begitu mengingat misinya, amarah tersebut perlahan-lahan menghilang.
"Ya, tolong ambilkan buku yang ada di dalam kotak harta karun, cepat!" pekiknya memerintah.
Rebecca hanya mengangguk patuh saja, sambil mendekati kotak harta karun yang berada di samping lemari baju.
Mikel yang melihat hal itu malah menunjukan senyuman sumringah, jebakannya kali ini pasti akan berhasil dan akan membuat wanita itu takut.
Dia pun menutup matanya, membayangkan wajah pucat pasih milik sang dayang yang ketakutan kala melihat isi kotak harta karun.
"Ini tuan muda."
"Eh!"
Mikel seketika terkejut saat melihat Rere yang berada di hadapannya, sedang menyodorkan sebuah buku tebal dengan raut biasa saja.
"Bagaimana bisa kau tidak takut," ucapnya spontan yang membuat Rebecca menampilkan sebuah senyuman lebar.
"Maksud anda ini?"
Ia langsung mengangkat ular mainan berwarna hitam ke depan wajah sang majikan, anak itupun melongo tidak percaya akan rencananya yang gagal total.
'Tidak mungkin! Padahal banyak dayang ku yang lari ketakutan saat melihat ular mainan itu. Ta-tapi bagaimana bisa dia tidak takut!' pikir Mikel yang kini mengubah ekspresi wajahnya jadi kesal.
Ia lalu menghempas ular tersebut sambil bergerak meninggalkan ruangan kamar.
Sedangkan Rebecca hanya tersenyum penuh kemenangan, ketika melihat majikannya menunjukkan raut seperti itu.
'Aku tidak akan kalah bocah.'
...∆••∆...
Di halaman belakang saat hari menjelang siang, Rebecca tengah menjemur beberapa pakaian serta seprai milik majikannya yang menyebalkan.
Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang yang berada tidak jauh dari tempat jemuran. Bisa di tebak itu pasti para pelayan kediaman, siapa lagi yang suka gosip selain mereka?
Ia lalu menajamkan telinga, ingin mendengar hal apa yang di perbincangkan oleh wanita-wanita penggosip tersebut.
"Hei, ku dengar tuan kita sudah memilih faksi pangeran kedua untuk di dukung."
"Iya, itu sudah pasti. Keluarga Duke Osmond kan musuh bebuyutan Tuan Aristotle, masa beliau mau mendukung faksi musuhnya."
"Hmm .... Iya juga ya .... Tapi, bukankah sebelumnya kedua keluarga ini baik-baik saja? Kenapa sekarang mereka malah bertengkar?"
"Eh? Kau belum mendengar gosipnya?"
"Gosip apa?"
"Gosip tentang Duke Osmond mau merebut wilayah tuan kita, jika nanti anaknya jadi putra mahkota. Makanya tuan Aristotle marah, dan mereka bermusuhan."
'Oh jadi konfliknya ini toh .... hmm .... aku yakin, pasti ini semua ulah dari pangeran kedua. Diakan antagonisnya di sini,' benaknya menebak-nebak
Rebecca kemudian bergerak mendekati para pelayan tadi, ingin menjelaskan bahwa Duke Osmond tidak sejahat itu.
"Hei! Kalian jangan berbicara sembarangan tentang Duke Osmond. Belum tentu gosip yang tersebar benar!" tegurnya sambil menatap kedua pelayan yang bergosip tadi.
"Bukti apa yang kau miliki sampai membela Duke Osmond."
Suara yang terdengar berat tiba-tiba saja muncul dari balik pintu, dan itu berhasil membuat Rebecca kaget.
Ketika ia berbalik, nampak tuan muda pertama sedang berdiri di ambang pintu, sambil menatapnya dengan raut datar.
'Ck, kenapa dia muncul seperti hantu sih!'
kesalnya sembari menunduk memberi salam, begitu juga dengan dua pelayan lainnya yang ada di belakang Rebecca.
"Kalian pergilah. Kecuali Rere," tunjuknya dengan dagu ke arah wanita bersurai hitam sebahu.
Setelah kepergian mereka, pria itupun melangkahkan kakinya mendekati Rebecca yang terus menunduk.
Bukan karna dia takut, tapi sesuai peraturan yang ada, para dayang atau pelayan di larangan menatap wajah sang majikan secara langsung, kecuali saat sudah di beri izin, atau keduanya dekat satu sama lain.
"Tatap aku sekarang," pintahnya sambil memegang dagu Rebecca.
Kemudian menggerakan wajah wanita itu untuk mendongkak menatapnya.
Kini mereka saling melempar pandang satu sama lain dalam diam, hingga sebuah senyuman kecil terukir di balik bibir pria itu.
"Wanita yang unik."
^^^To be continued ....^^^