Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Suara >



Kertas laporan hasil penyelidikan milik Aaron, sekarang berada di tangan Killian yang baru saja tiba beberapa menit lalu sehabis mengunjungi keluarga Dowis, atau lebih tepatnya tunangannya sendiri.


Manik mata kebiruan bagaikan batu safir, meneliti sejumlah kalimat yang berupa informasi penting soal penjualan organ tubuh manusia.


Pandangan keseriusan yang perlahan-lahan terlihat setelah makin dalam menelusuri surat tersebut, kini beralih pada pria yang berdiri tengak di depan meja kerjanya.


"Jadi, kau menemukan sebuah fakta bahwa ada orang lain yang membantu pangeran kedua?"


Aaron mengangguk singkat sebagai jawaban sebelum kemudian angkat bicara dengan nada suara yang terdengar serius.


"Ya, dari jawaban yang orang itu katakan, ketuanya adalah seorang bangsawan yang dekat dengan Pangeran kedua."


Ia berhenti bicara sebelum kemudian melirik ke arah surat yang di letakan Killian di atas meja setelah selesai membacanya.


"Sayangnya dia tidak bisa mengatakan siapa bangsawan itu, karena sudah bersumpah setia menggunakan sihir untuk tidak mengatakan apapun yang merugikan majikannya. Jika orang itu hendak mengatakannya, maka dia akan mati."


Terlihat Aaron mengepalkan kedua tangannya. Menahan kekesalan yang membuncah dalam hati ketika mengingat perkataan tersebut.


Sebelumnya, ia hampir saja menghajar pria gendut yang mengetahui siapa sosok yang membantu pangeran kedua. Namun, dia langsung menahan hasrat itu dan lebih memilih pergi setelah pembicaraan mereka selesai.


"Tenanglah ... Kita yang mengetahui bahwa ada pemeran lain yang membantu Pangeran saja, sudah sangat membantu. Kerja bagus Aaron."


Killian memberikan apresiasinya pada ajudan sekaligus penjaganya atas apa yang telah ia lakukan. Pria yang selama ini selalu bekerja keras dan menjadi partner setianya, benar-benar tidak mengecewakan.


Mungkin setelah semuanya selesai, dia akan memberikan hadiah keberhasilan yang pantas untuk Aaron.


"Di sini kita memiliki dua kemungkinan, keluarga yang dekat dengan Pangeran kedua."


Killian mengangkat dua jarinya dengan tangan yang lain mengetuk-ngetuk meja kerja pelan-pelan. Hal itu mengundang tatapan penasaran dari sang ajudan untuk beberapa saat ke depan.


"Pertama adalah keluarga Duke Aristotle, karna mereka pendukung Pangeran kedua. Lalu untuk selanjutnya adalah keluarga Marquess Rone yang berpindah faksi."


Keheningan panjang terjadi di antara mereka sebelum Aaron membuka suara mengatakan beberapa asumsinya pada sang majikan.


"Mungkin keluarga Duke Aristotle bisa menjadi tersangkanya."


Killian berhenti mengetuk-ngetuk meja dan beralih melirik Aaron dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


Perkataan ajudannya itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi menurut pandangannya tentang keluarga Aristotle setelah mengulang waktu, mereka tidak akan melakukan hal kotor yang dapat merugikan diri sendiri di masa mendatang.


Malahan ia lebih mencurigai Marquess Rone. Sosok licik yang menjebak dia dan Rebecca. Pria itu akan melakukan berbagai macam cara agar dia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.


Akan tetapi, kembali lagi pada kenyataan. Bahwa ada beberapa poin yang melenceng dari apa yang seharusnya terjadi. Dan karna hal itu, Killian cukup kesulitan saat mengambil sebuah keputusan. Serta harus mengganti rencananya lagi.


"Kita letakan saja beberapa mata-mata di kediaman Aristotle juga Rone."


Aaron mengangguk singkat. Menyetujui akan keputusan adil yang di ambil majikannya.


"Ngomong-ngomong, saat ini kerajaan sedang heboh saat mendengar gosip tentang Pangeran kedua dan Lady Harmonie yang akan bertunangan."


Perkataannya itu sontak membuat Killian terkejut. Lagi-lagi kejadian tak terduga terjadi di masa lalu.


Mungkinkah ini terjadi karena dia menjauhi keluarga Rone? Atau ada alasan lain di balik ini semua? Tidak ada yang tahu.


Oleh karna itu, lebih baik ia menyusun rencana baru, agar kembalinya dia ke sini tidak menjadi sia-sia.


"Fokus saja pada tujuan kita, Aaron."


Killian berkata sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Namun sebelum itu, Aaron sudah berpamitan dari sana dan pergi melaksanakan rencana yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.


Kini manik kebiruan milik Killian menatap lurus langit-langit ruangan. Pikirannya mulai melayang kebeberapa saat lalu tentang pertemuannya dengan Rebecca.


"Aku mengetahuinya karena pernah mengunjungi distrik timur dan mendengar gosip masyarakat sekitar."


Perkataan Rebecca yang melintas dalam kepala, di balas helaan nafas pelan dari Killian. Entah kenapa dia sedikit tidak percaya akan apa yang di katakan Rebecca.


Mungkin karena ia yang melakukan beberapa gelagat aneh, Killian jadi menaruh rasa curiga padanya. Namun, jika dipikirkan kembali, mungkin saja Rebecca berkata jujur dan dialah yang terlalu berasumsi yang tidak-tidak tentang tunangannya itu.


"Hmm ... Aku harus memanggil Eros untuk memastikannya. Dia juga sudah berjanji untuk memeriksa keadaan Rebecca."


...✾✾✾...


Gemerisik dedaunan terdengar kala angin senja bertiup lembut membawa kesejukan mendalam bagi mereka yang berada di luar ruangan.


Jumantara biru perlahan berubah menjadi orange kemerahan. Tanda sebentar lagi sang mentari akan kembali pada peraduannya, dan mengizinkan sang rembulan untuk menempati posisinya dalam beberapa jam ke depan.


Pemandangan itulah yang tengah di nanti-nanti oleh seorang pria bersurai putih. Namun sebelum itu terjadi, suara seseorang yang cukup familiar terdengar dari arah belakang tubuhnya.


Memutuskan untuk menoleh, kini manik merah bagai permata ruby itu mendapati sosok ajudan yang sedang menunduk hormat sebagai salam.


"Ada apa?"


Dua kalimat darinya mengundang si ajudan untuk angkat bicara. Mengatakan sepatah kata yang akan di sukai tuannya.


"Prajurit bayangan yang sudah anda kerahkan, kembali dengan membawa sejumlah informasi penting."


Tanpa berkomentar lebih, pria itu segera melangkahkan kedua tungkai kakinya meninggalkan sang ajudan di depan pintu teras.


Saat ia memasuki ruangan tersebut, di lihatnya sang majikan sedang berbincang serius dengan salah satu prajurit bayangan yang telah bekerja selama beberapa bulan terakhir ini di bawah naungan keluarga Aristotle.


Mereka terlihat sedang berbincang serius antar satu sama lain. Membahas hal yang sedang menyebar luas di kalangan masyarakat bawah.


"Dari bukti serta saksi yang telah saya selidiki, sekelompok orang yang saat itu menyerang tuan muda kedua adalah para bandit."


Sosok berpakaian serba hitam yang menutupi sebagian wajahnya, menjelaskan secara rincih sembari menunduk dengan satu kaki bertumpu pada lantai.


"Mereka adalah orang-orang yang sudah di bayar untuk menculik para anak kecil. Motif di balik kejadian ini belum semuanya saya dapatkan. Akan tetapi—"


Perkataannya tiba-tiba terhenti. Membuat si pendengar yang tidak lain adalah Duke Aristotle mengangkat salah satu alisnya, merasa penasaran.


"Apa kau ragu untuk mengatakannya?" tanyanya yang tentu saja mengejutkan prajurit bayangan.


"Tidak tuan, hanya saja ... Dari yang saya dengar, ada salah satu kelompok rahasia yang memperjualbelikan organ tubuh manusia pada kerajaan tetangga. Sepertinya itu ada hubungannya dengan penculikan anak-anak di ibu kota."


Duke seketika tersentak saat mendengar berita tersebut. Orang keji mana yang dengan beraninya melanggar peraturan kekaisaran tanpa takut sama sekali.


"Apakah kau tidak mengetahui siapa dalang dari kelompok rahasia itu?"


Manik merahnya menatap lurus ke arah prajurit bayangan yang sejak tadi masih menunduk hormat di bawah kakinya.


"Sebenarnya ada desas-desus yang mengatakan bahwa kelompok itu sering kali beraktivitas di sekitar wilayah kekuasaan Duke Osmond."


Duke mengernyit dalam saat mendengar penjelasan tersebut. Dia sangat tahu maksud dari perkataan pria di hadapannya, dan dia juga merasa ada kejanggalan dari cerita tersebut.


Meskipun kepala keluarga Osmond memiliki sikap tegas dan licik, tapi dia tidak mungkin mempertaruhkan harga diri keluarganya seperti ini.


Dia sangat mengenal sikap pak tua itu, jadi tidak mungkin dia melakukan hal keji tersebut.


"Selidiki lebih lanjut tentang khasus ini, dan laporkan padaku secepatnya."


Prajurit itu mengangguk patuh saat mendengar perintah tersebut. Ia pun segera memberi salam sebelum pergi meninggalkan ruangan kerja Duke Aristotle.


...✾✾✾...


Surai golden white yang tergerai indah, menambah kesan cantik di wajah sang puan yang sekarang tengah memandangi sang rembulan di langit malam.


Suasana tenang yang menyelimuti dirinya kala itu, mengundang rasa nyaman untuk masuk ke dalam sudut hatinya terdalam.


Menghela nafas pelan. Perlahan Rebecca berpangku tangan di atas pembatas teras sembari menatap taman kediaman yang terlihat sunyi.


Pikirannya kini mulai berkecamuk. Memikirkan tentang rencana serta kejadian dalam novel yang sudah memasuki masa pertengahan cerita.


Mungkin sebentar lagi kecurigaan masyarakat ibu kota pada keluarga Osmond soal penjualan organ tubuh manusia akan tersebar luas. Namun, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.


Besok, dia akan melancarkan rencananya meskipun presentasi keberhasilan yang ia dapati hanya 30% saja. Dan akibat dari rencananya ini akan berimbas pada alur novel yang semakin kacau.


Walaupun begitu, ia masih mau berusaha agar kematiannya di masa depan tidak terjadi.


"... Kematian ... Sebenarnya pemicunya adalah sikapku bukan?"


Rebecca bertanya pada dirinya sendiri sambil mengingat-ingat alasan kematian Rebecca asli.


Seketika maniknya membola saat mendapati jawaban dari pertanyaannya barusan.


"Benar juga! Akukan sudah tidak bertindak seperti Rebecca yang ada dalam novel, bahkan alurnya sudah melenceng. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang!"


Ia menepuk jidatnya beberapa kali sembari bergumam kata bodoh untuk diri sendiri. Sampai tiba-tiba gerakannya melambat saat otaknya mulai melemparkan pertanyaan baru.


"Bagaimana jika kematian dalam versi yang berbeda malah datang pada ku! Tidak mungkin 'kan?"


Rebecca seketika menggeleng pelan saat menemukan jawaban dari pertanyaannya lagi.


"Tidak ... Tidak. Itu mungkin saja terjadi. Apa lagi dengan alur cerita yang kian berubah, kemungkinan persentase kematianku semakin tinggi."


Ia menggigit pelan bibirnya kemudian berbalik menghadap pintu teras yang terbuka. Menampilkan keadaan kamarnya yang temaram dan hanya di terangi oleh cahaya rembulan.


"Tadi saja aku hampir mati karena racun yang di letakan Harmonie dalam tehku. Tapi ... Kenapa sampai pemeran utama wanita yang punya image baik hati melakukan hal jahat itu? Apa gara-gara Pangeran kedua?"


Lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri. Masih bingung dengan apa yang telah terjadi.


‘Harmonie tidak pernah baik. Dia hanya berpura-pura baik.’


Sontak Rebecca terjengit di tempat saat mendengar jawaban tersebut. Ia kemudian melempar pandang ke segala arah namun tidak menjumpai siapapun di sana.


Tadi itu bukan dia yang menjawabnya. Melainkan orang lain. Tapi siapa? Apa dia sedang berhalusinasi sekarang?


"Astaga ... Mungkin aku sedang berhalusi—"


‘Kau sedang tidak berhalusinasi sekarang, orang asing.’


Deg!