Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Rebecca? >



Kesunyian malam ini terasa lebih mencekam dari pada malam sebelumnya. Rembulan menjadi saksi bahwa Rebecca mendengar suara seseorang yang memotong perkataannya belum lama ini.


Dia tidak ingin percaya pada hal-hal yang berbau horor. Karna ia begitu yakin bahwa novel yang saat ini di masukinya tidak memiliki genre horor sama sekali.


Tapi dari mana suara itu berasal kalau bukan dia yang berhalusinasi. Menghela nafas pelan, Rebecca kembali memberanikan diri untuk bicara beberapa patah kata hendak memastikan sesuatu.


"Ka-kau! Siapa kau sebenarnya? Apakah kau hantu yang tinggal di kediaman ini?"


Sunyi. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Dia merasa seperti orang gila sekarang. Mungkin saja ini terjadi karena efek kelelahan.


"Huft ... Lebih baik aku tidur saja," ujarnya sembari melangkahkan kedua tungkai kakinya.


‘Aku bukan hantu atau penghuni di tempat ini.’


Langkah kakinya tiba-tiba terhenti secara kasar. Tanpa berlama-lama lagi, Rebecca langsung berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu teras dengan kecepatan kilat.


"Ternyata suara itu benar-benar ada!"


Dengan heboh ia berkata sembari menjauhi pintu teras perlahan-lahan dengan langkah mundur.


‘Percuma saja kau menguncinya. Aku ini tembus pandang. Huft ... Ternyata jiwa bodoh seperti mu yang masuk ke dalam raga ku ya.’


Kalimat hinaan yang terdengar lembut tapi menusuk, membuat Rebecca berbalik secara kasar dan menunjuk udara yang kosong.


"Hah! Karna si bodoh inilah raga mu masih utuh!"


Ia memekik di akhir kata dengan ekspresi wajah yang sudah tidak bersahabat lagi. Berani sekali roh gentanyangan itu mengatai dia bodoh karena telah masuk ke dalam tubuhnya.


"... Eh? Tunggu sebentar. Kau tadi mengatakan raga mu! R-a-g-a mu! Benarkan?! Apakah kau Rebecca asli! Tapi bagaimana bisa ini terjadi! Hei! Jawab aku—"


Tok, tok, tok


"Rebecca?"


Suara ketukan di iringi panggilan seseorang dari luar ruangan, menginterupsi perkataannya secara tiba-tiba. Ia lantas berdeham pelan sembari melangkahkan kedua tungkai kakinya menuju pintu kamar.


Deritan pintu terdengar kala Rebecca membukanya dengan hati-hati. Kini di hadapannya berdiri seorang wanita paru baya berparas cantik, tengah menatapnya khawatir.


"Ibu? Ada apa ke sini malam-malam?" tanyanya dengan seulas senyuman kecil yang terpatri di bibir ranumnya.


"Nak, kamu baik-baik saja kan? Ibu tadi mendengar mu menjerit."


Stella menangkup wajahnya. Meneliti setiap inci tubuh Rebecca dengan seksama sebelum kemudian menatap kedua manik violetnya yang terlihat indah.


"Err ... Ibu, aku baik-baik saja. Tadi itu aku sedang membaca novel dan reflek menjerit. Maaf telah membangunkan mu," ucapnya pelan dengan berlapis kebohongan hanya agar terlepas dari pertanyaan singkat Stella.


Karna bisa gawat jika dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Pastilah wanita itu akan jatuh pingsan saat mendengar bahwa ada roh asli anaknya di dalam kamar.


Stella lantas tersenyum kecil sembari mengelus surai bergelombang milik Rebecca.


"Astaga ... Apa novelnya sangat seru, sampai kamu menjerit seperti itu?"


Ia hanya terkekeh pelan sambil melempar pandangan ke samping. Merasa enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebab, ia masih harus menginterogasi roh Rebecca asli.


"... Sepertinya aku sudah mengantuk. Ibu, kembalilah ke dalam kamar. Pasti ayah sedang mencari ibu sekarang."


"Ah! Kamu benar, kalau begitu selamat malam nak."


Stella tersenyum kecil sebelum kemudian berbalik pergi dari sana. Melihat hal itu, Rebecca menghembuskan nafas lega sembari menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


"Oke! Ibu sudah pergi. Sekarang, kamu keluarlah."


...✾✾✾...


"Kau dekat dengannya?"


Setelah 30 menit berlalu, akhirnya suara yang di tunggu-tunggu Rebecca terdengar kembali. Perempuan itu lantas mengganti posisinya dari terlentang menjadi duduk dengan menyilangkan kedua kaki.


"Kenapa baru mucul sekarang? Lalu, apakah kau roh Rebecca asli?"


Pertanyaan di balas pertanyaan. Itulah yang di lakukan mereka. Kesunyian pun mengambil ahli semuanya, karna keduanya masih belum memberikan sebuah jawaban.


Hingga secara tiba-tiba salah satu di antaranya memutuskan untuk bicara terlebih dahulu setelah semenit berlalu.


"Iya, aku adalah Rebecca yang tubuhnya kau rasuki."


Sontak ia terjengit di tempat saat mendengar jawaban mengejutkan yang di ucapkan roh itu.


Kini, berbagai pertanyaan mulai mengambang dalam kepala. Dia begitu tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi, dan malah menjadi rumit.


"Tapi bagaimana bisa? Kau kan sudah mati—Maksudku, roh orang yang sudah meninggal mana mungkin kembali lagi."


Sekali lagi perkataannya tidak langsung di balas oleh roh Rebecca asli. Sepertinya dia juga bingung akan kejadian aneh ini. Sampai di detik selanjutnya, barulah wanita itu memberikan jawabannya.


"Setelah aku bunuh diri di hadapannya. Aku terjebak di antara dua alam. Bahkan alasannya pun tidak ku ketahui."


Ia seketika menoleh ke samping kanan saat mendengar suara Rebecca asli yang terdengar dari sana.


Sepertinya dia merasa kelelahan karena terus melayang. Makanya dia berpindah tempat dan duduk di samping tempat tidur. Itu hanya asumsinya saja.


"Sampai tiba-tiba aku melihat mu yang memecahkan pembatas alam jiwa dan mungkin karna itulah aku berada di sini."


Sosok Rebecca asli menatap serius ke arah tubuhnya yang terdapat jiwa lain di sana. Ia masih bertanya-tanya kenapa ada jiwa lain yang masuk ke dalam tubuhnya.


Dan keanehan lainnya adalah kenapa dia masih hidup? Apa itu semua karena orang asing ini yang telah menggantikannya?


"Katakan, apa saat kau datang ke sini, kau berada di koridor penjara atau dalam penjara?"


Rebecca menggeleng pelan sebagai jawabannya. Dia terlihat memikirkan sesuatu sebelum kemudian angkat bicara.


"Saat itu, aku terbangun di sini. Dari gosip para pelayan kediaman, mereka mengatakan bahwa aku terpeleset dan jatuh dari tangga."


"Tidak mungkin."


Nada suara getir yang terdengar darinya, mengundang tatapan tanya dari Rebecca. Belum sempat melontarkan pertanyaannya, roh Rebecca asli sudah terlebih dahulu berbicara.


"Meskipun aku sudah mati, tapi aku masih mengingat dengan jelas bahwa kejadian saat aku terpeleset terjadi di beberapa tahun lalu. Tepatnya pada saat desas-desus tentang kedekatan Harmonie dan Killian."


Penjelasan itu sedikit membuatnya berpikir keras. Sebenarnya apa bedanya dengan terbangun dalam penjara dan kamar tidur? Apa lagi dengan perbedaan tahun.


Bukankah khasus perpindahan jiwa yang sering di lihatnya dalam novel memang seperti ini? Orang yang merasuk akan tiba tepat di beberapa tahun sebelum karakter yang ia rasuki mati. Lantas, kenapa Rebecca asli terlihat berpikir keras soal ini?


"Lalu, apa hubungannya dengan itu semua? Ini memang sering terjadi ketika seseorang masuk ke dalam novel yang ia baca—"


"Novel? Apa maksud mu dengan novel?"


Tiba-tiba saja Rebecca asli memotong ucapannya dengan sebuah pertanyaan melengking.


"Tentu saja dunia ini. Sebelum aku mati dan merasuk ke dalam tubuhmu, aku adalah pembaca dari cerita novel Love Prince. Di sana menceritakan kisah kalian."


Untuk sesaat, terjadi kebungkaman di antara mereka sebelum kemudian terdengar suara kekehan pelan dari sosok yang tidak terlihat.


"Jadi, kau menganggap dunia ini adalah cerita novel yang kau baca? Lucu sekali."


Rebecca mengernyit tidak suka saat mendengar kata lucu yang di lontarkan untuknya. Terlihat sekali bahwa dia sedang di ejek sekarang.


Belum sempat ia angkat bicara, Rebecca asli sudah mendahuluinya seperti tadi.


"Begini saja, coba kau pikirkan baik-baik. Bagaimana jika dunia ini bukanlah cerita novel yang kau baca?"


Sekarang gantian ia yang menertawai balik perkataan yang di ucapkan Rebecca asli. Ya, beginilah jika seseorang tidak bisa menerima bahwa dunia yang ia tinggali adalah cerita novel buatan manusia.


"Lantas, dari mana aku mengetahui seluruh kejadian serta alur yang ada di sini? Kalau bukan karna dunia ini adalah cerita novel."


Ia menyunggingkan senyuman kemenangan saat menerima keterdiaman dari Rebecca asli. Jawaban mutlak darinya tidak bisa di tepis begitu saja.


"Bagaimana jika kau berasal dari tempat ini? Dan karna itulah kau mengetahui alur ceritanya."


...✾✾✾...


Pagi menyambut. Angin lembut perlahan-lahan bertiup menerbangkan beberapa helai daun untuk jatuh menapak tanah. Menandakan musim akan segera berganti.


Mengetahui hal itu, banyak orang-orang yang mulai mengumpulkan kayu bakar serta membeli persediaan makanan serta pakaian hangat untuk kedepannya.


Begitu pun dengan keluarga Aristotle yang tengah berbincang ringan di dalam ruangan makan sembari menikmati hidangan yang di sediakan oleh para pelayan dapur.


"Mikel, apakah kamu mau menemani ibu untuk pergi berbelanja pakai hangat? Sebentar lagi musim gugur akan tiba, jadi udara sekitar pasti akan terasa dingin."


Pemuda yang di panggil sedikit melirik ke samping. Tepatnya pada sosok sang ibu yang tengah tersenyum dengan raut memohon.


Helaan nafas kasar seketika terdengar darinya. Sambil melepas alat makan, ia melihat ke arah Duke yang masih menikmati makanannya.


"Apakah tuan Duke tidak bisa menemani ibu? Diakan istri mu?"


Mendengar jawaban tersebut, Christopher yang duduk di sampingnya segera menepuk pundak kanan Mikel.


"Ibu ingin kamu yang menemaninya berbelanja."


Sekali lagi Mikel menghela nafas kasarnya sebelum akhirnya ia mengangguk pasrah menyetujui permintaan Duchess.


Hingga tak terasa waktu berputar lebih cepat dari yang mereka kira. Saat ini, kedua orang, yakni ibu dan anak sedang duduk diam di dalam kereta kuda menuju ibu kota kekaisaran.


Tidak ada perbincangan sama sekali di antara mereka. Kecanggungan pun memutuskan untuk hinggap di sana. Menemani kedua insan dalam perjalanan.


Duchess lantas melirik ke arah Mikel yang tengah memandang jendela kereta kuda dengan ekspresi datarnya. Entah apa yang di pikirkan pria itu sekarang.


"Mikel."


Panggilan dari ibunya hanya di balas dehaman singkat Mikel tanpa menoleh ke asal suara.


"Ibu tau bahwa kamu masih marah karena kepergian Rere. Maafkan ibu Mikel," ucapnya sembari menundukkan kepala menatap lantai kereta kuda.


Mikel yang mendengar hal itu lebih memilih bungkam dari pada berkomentar lebih. Memang, ia sangat marah saat ibunya tidak memberitahukan kepergian dayangnya.


Tapi, apa mau buat jika sudah terjadi? Dengan terpaksa dia harus melupakan cinta pertamanya itu walaupun terasa sulit.


"... Selama ini juga sikapku padamu tidak mencerminkan sosok seorang ibu yang baik. Aku sangat menyesalinya."


Duchess lantas menoleh dan mendapati Mikel yang sedang menatapnya bimbang. Antara terkejut juga bingung. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa baru sekarang ibunya menyesali perbuatan yang telah ia lakukan? Kenapa tidak dari dulu saja.


Tapi meskipun begitu, Mikel cukup merasa senang saat mendengar perkataan ibunya.


"Ibu tidak perlu meminta maaf. Lagi pula saya sudah melupakannya, dan saya harap anda benar-benar menyesalinya."


Beberapa kata yang di ucapkan Mikel mengundang rasa bahagia untuk singgah dalam hati wanita paru baya itu. Dia tersenyum lembut sebelum berucap terimakasih yang hampir seperti berbisik.


Sekarang, Duchess berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi ibu yang baik untuk Mikel setelah semua kesulitan yang anak itu alami karena dirinya juga Duke sebagai seorang ayah.


"Ah, ngomong-ngomong. Apa kamu ingat putri semata wayang dari Duke Pother?"


Mikel mengangguk singkat. "Ada apa dengannya?" tanyanya yang terlihat penasaran, sebab anak dari Duke Pother adalah sahabat masa kecil Mikel.


"Ibu dengar bahwa dia jatuh sakit dan tidak sadarkan diri. Sampai sekarang dokter tidak menemukan gejala penyakit apa yang di derita anak itu," jelas Duchess panjang lebar.


Sedangkan si pendengar hanya bisa diam. Tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Sepertinya Mikel sudah tahu kenapa ibunya mengangkat cerita perihal sahabat kecilnya itu.


"Ibu harap kamu mengunjunginya Mikel. Sudah cukup lama kalian tidak bertemu."


Sesuai dengan dugaannya. Meskipun begitu, ia tetap menyetujuinya. Toh, wanita itu juga bukan orang asing, melainkan sahabat masa kecilnya.


Jadi tidak ada salahnya jika dia pergi untuk sekedar melihat keadaan sahabatnya.