
Pagi menyingsing, tanda hari telah berganti. Semburat cahaya mentari telah nampak dari ufuk timur, membawa kehangatan untuk setiap umat manusia yang tinggal di bumi.
Pagi ini terlihat beberapa orang tengah berdiri menatap tanah lapang yang tergolong luas itu. Satu di antara empat orang mulai menunduk, hendak memperkirakan sesuatu.
Sekilas senyuman kecil terbit di balik bibirnya. Beberapa yang melihat hal itu segera melontarkan sejumlah pertanyaan yang sama.
"Apakah kamu sudah tahu cara mengobatinya?"
Pertanyaan yang mewakili dua orang di sampingnya, membuat mereka menatap seorang yang berstatus penyihir.
"Yaa... Ku rasa ada obatnya. Mungkin beberapa ramuan dari ku akan mengembalikan kesuburan tanah ini."
Dia berkata sembari mengambil sesuatu dalam jubah putih kebesarannya. Sekarang, di tangan pria itu terdapat sebuah botol kaca berukuran kecil yang di isi cairan berwarna hijau pekat.
"Apa itu?"
Aaron melontarkan pertanyaannya setelah melihat botol cairan yang di pegang Eros. Lelaki itu lantas tersenyum lebar sembari menggoyangkan sedikit ramuan kecil di tangannya.
"Ini adalah obat untuk menyembuhkan tanah di sekitar sini."
Penjelasan yang di ucapkannya membuat binar bahagia nampak dalam manik sang kepala desa. Dia sangat bersyukur ada orang yang dapat mengembalikan kesuburan tanah di desanya.
"Begitu rupanya... Lakukanlah Eros."
Killian menatap mantap sahabatnya. Pria yang di perintahkan pun menurut dan segera membuka penutup ramuan kemudian menuangkan cairan hijau itu ke atas permukaan tanah.
Di menit pertama tidak memperlihatkan perubahan tanah sekitar. Namun, lama-kelamaan bentala yang awalnya kering dan terbelah-belah, mulai membaik dan kembali normal.
"Tanahnya... bisa terobati!!"
Aaron berteriak takjub saat melihat sihir yang terjadi di depan mata kepalanya langsung. Sementara kepala desa yang berdiri di samping Killian, merasa terharu sekaligus lega.
"Tidak ku sangka ramuan itu dapat bekerja dengan baik..."
Killian berkomentar seraya memberi tepukan lembut di bahu kanan Eros. Sedangkan pria yang menerima pujian hanya terkekeh pelan sebagai tanggapannya.
"Tentu saja. Sebenarnya alasan tanah di sekitar sini menjadi rusak, karna adanya sedikit sihir gelap yang tersisa dari pertarungan penyihir beberapa tahun silam."
Eros menjelaskannya secara spesifik agar mudah di mengerti oleh lawan bicaranya. Killian lantas mengangguk paham akan keadaan yang terjadi, ternyata ini alasan mengapa Rebecca memintanya untuk membawa seorang penyihir, jika ingin mengobati tanah di desa Distrik timur.
Tapi... bagaimana bisa Rebecca mengetahui hal yang bahkan tidak ku ketahui?
"Terima kasih tuan penyihir! Terima kasih tuan Duke dan anda juga tuan kesatria!"
Kepala desa menundukkan kepala sebagai rasa hormat sekaligus rasa terima kasih telah membantu masalah yang di alami desanya.
"Eyy... Tidak perlu sampai segitunya, aku senang membantu kok. Itupun tanpa imbalan."
Eros tersenyum sumringah seraya melirik Killian sekilas. Lirikan itu membuat pria bermarga Osmond mengerti. Memang, sejak dulu Eros tidak pernah berubah.
Mulutnya berkata lain, tetapi tindakan yang ia lakukan tidak sama dengan yang ia katakan. Mungkin sebentar, Eros akan meminta imbalan batu sihir yang ia inginkan sejak awal.
"Anda sangat murah hati tuan penyihir..."
Pria parubaya itu menatap lembut Eros yang masih cengar-cengir tidak jelas. Kelihatannya dia jadi besar kepala saat di puji oleh seseorang.
"Kalau begitu kami pamit dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Duke Eld setelah ini."
Killian segera menginterupsi pembicaraan dua orang di hadapannya sembari memanggil Aaron untuk ikut bersamanya.
Sang kepala desa pun lekas-lekas mengajukan diri untuk mengantar mereka ke tempat Duke Eld yang tidak terlalu jauh tempatnya dari desa mereka.
Sedangkan Eros yang di tinggal malah bingung sendiri. Harusnya dia juga di panggil Killian ikut bersama, tetapi sampai mereka sudah cukup jauh dari pandangan, pria itu tidak memanggilnya.
"Hei Killian! Tunggu aku!"
...✾✾✾...
Siang hari yang terik, di mana matahari berada di tengah-tengah cakrawala, bersinar terang hingga membuat beberapa mahkluk bumi sedikit kepanasan akan cahayanya.
Rebecca yang tengah menjemur beberapa kain di belakang kediaman, berkeringat banyak akibat udara sekitar. Di tambah angin yang jarang bertiup, membuatnya sangat kegerahan.
Sedikit ia menggerutu pelan sembari sesekali menatap jumantara biru yang terlihat begitu jelas dalam pandangan.
Sampai ketika seorang pelayan memanggilnya dari kejauhan, barulah ia memberhentikan kegiatan menjemurnya yang memang sudah selesai.
"Ada apa?" Rebecca segera bertanya ketika tiba di depan pelayan yang ia kenali adalah Helen.
"Rere! Ada berita besar!" Wanita itu berkata heboh sambil mengacungkan kedua tangannya tinggi-tinggi, membentuk sebuah lingkaran pelangi.
"Oh ya? Apa itu... berita besar?" Ia mengikuti gerakan Helen yang terlihat menarik saat menjelaskan sesuatu.
Sembari tertawa kecil, Helen mulai menjelaskan tentang berita besar yang ia maksudkan.
"Tuan muda mendapatkan nilai 100 dalam pelajaran sejarah!"
Helen memekik gembira sambil melompat-lompat kecil bertepuk tangan. Sementara Rebecca sendiri malah menepuk pelan dahinya. Habislah sudah, pasti Mikel akan meminta hadiah yang ia janjikan jika ulangan sejarahnya mendapatkan nilai seratus.
Juga, misinya yang akan mengejek sang majikan jika dia tidak mendapatkan nilai sempurna, malah jadi gagal total.
Melihat respon temannya yang berbanding terbalik, membuat Helen kebingungan sendiri. Dia lantas menyudahi aktivitas melompat di tempat dan menyentuh pundak Rebecca pelan.
"Hei, apa yang terjadi? Kau terlihat tidak bahagia."
Sontak Rebecca melambaikan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum kaku.
"Ti-tidak, aku senang kok. Kalau begitu aku ke dalam dulu ya, karna ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan."
"Rere aneh sekali..." gumamnya sembari beranjak pergi.
...✾✾✾...
Dalam perjalanan, Rebecca terus saja menundukkan kepalanya menatap lantai koridor kediaman. Sesekali ia menggigit kuku jarinya merasa panik.
Berbagai kemungkinan mulai melayang di dalam benak, tentang Tuan mudanya yang akan meminta barang-barang mewah dan membuatnya bangkrut dalam sekejap mata.
"Eh, tunggu dulu. Kalau di ingat-ingat, aku sendiri yang mengatakan akan memberikan hadiah, bukan Tuan muda yang di suruh memilih hadiah apa yang ia inginkan! Artinya... Yes! Uang ku akan aman!"
Rebecca tersenyum lebar. Sekarang ia sudah cukup tenang. Sampai sebuah suara yang sangat ia kenali, terdengar dari arah belakang dan mampu membuat senyumannya luntur dalam hitungan detik.
"Meskipun begitu, kau harus memberikan hadiah berharga dengan kualitas bagus padaku."
Ia menghela nafas pelan sebelum akhirnya berbalik melihat sosok kecil yang berdiri di depannya, dengan raut wajah yang penuh dengan kemenangan.
"Jadi... Aku tidak bodoh ya, hanya lupa saja. Terbukti dari ulangan sejarah yang mendapatkan nilai sempurna."
Mikel berkata dengan senyuman mengejek, mengingatkan Rebecca yang pernah menganggapnya bodoh.
"Ya, selamat Tuan muda. Lagipula, anda sendiri 'kan yang menganggap diri anda bodoh."
"Hei, jaga bicara mu. Kau kelihatan makin tidak sopan pada ku ya!"
Rebecca seketika mengulum senyumannya saat melihat ekspresi Mikel yang terlihat lucu. Sungguh, majikannya ketika sedang kesal, akan terlihat seperti seekor katak.
"Pftt...Astaga... Maafkan saya Tuan muda. Tadi itu hanya bercanda."
Mikel berdecak pelan sembari membuang pandangan ke samping kiri. Menjadi malas meladeni dayangnya yang terasa menyebalkan dari hari ke hari.
"Sekarang berikan hadiah yang kau janjikan. Cepat!"
Ia menekan kata hadiah pada Rebecca, membuat wanita itu menghela nafas panjang. Beruntung sekali dia sudah menemukan hadiah apa yang pantas untuk di berikan, dan tentunya tidak mengeluarkan biaya banyak atau sebut saja gratis.
Namun, bisa di katakan berharga dengan nilai kualitas yang tinggi.
"Baiklah. Tapi, tutup dulu kedua mata anda."
Rebecca memberikan syarat sebelum memberikan hadiah yang di minta Mikel padanya.
"Heh? Apa-apaan itu! Aku tidak mau." Dengan keras sang majikan menolak atas apa yang telah di katakannya. Rebecca pun tidak merasa keberatan dengan pertentangan yang di katakan Mikel.
Wanita itu lantas menunduk dan mempersempit jarak di antara mereka. Ia lalu menempelkan permukaan bibirnya tepat di atas pipi kanan Mikel.
"Nah itu hadiahnya! Selamatnya Tuan muda, atas nilai sempurna anda!" Rebecca menatap majikannya dengan satu senyuman kecil yang tercetak dalam ekspresi wajahnya.
Di detik selanjutnya, ia menatap bingung Mikel yang malah terdiam di tempat layaknya patung pahatan kediaman Aristotle. Apalagi dengan perubahan warna kulit wajahnya yang semerah tomat, membuat Rebecca panik di tempat.
Oh tidak, jangan bilang dia marah.
...✾✾✾...
Seorang pelayan mengetuk pintu besar milik pangeran kedua, hendak mengantarkan surat pada majikannya. Dengan hati-hati ia masuk ke dalam ruangan, begitu mendengar izin dari sang pemilik.
Sebelum menyerahkan amplop putih yang ada padanya, pelayan itu menunduk memberikan salam seperti yang seharusnya mereka lakukan.
"Yang mulia, ada surat untuk anda."
Wanita itu segera menyerahkan benda yang ia pegang sebelumnya dengan sopan. Pria yang awalnya hanya berkutat dengan berbagai surat di tangannya, menoleh, melihat selembar surat dengan lambang burung gagak hitam di atasnya.
"Letakan di situ dan pergilah."
Sesuai dengan perintah, pelayan itupun pergi sesudah memberi salam. Pangeran lantas membuka surat yang tentu saja berisikan informasi tentang Killian.
Sebenarnya, sejak awal dia sudah meletakkan mata-mata dalam kediaman Osmond tanpa sepengetahuan mereka, dengan tujuan agar dia bisa mengetahui gerak-gerik mencurigakan dari kandidat nomor dua itu.
Ekspresi santai Charles seketika berubah menjadi serius, saat membaca sejumlah keterangan yang tertera di sana. Itu mengenai Killian yang beberapa hari ini sering mengunjungi Distrik timur, selepas kedatangan tunangannya Rebecca.
"Hmm... Rebecca... Ah! Wanita itu rupanya. Apa yang sedang mereka rencanakan?"
Charles bertanya pada dirinya sendiri mengenai apa yang di lakukan wanita itu. Mungkinkah ia hendak membantu Killian untuk mendapatkan tahta kerajaan?
"Hee... Menarik sekali," ucapnya sembari tersenyum miring. Ia lalu melirik Rocksy yang duduk tepat di sampingnya. Lelaki itu tengah serius mengerjakan beberapa pekerjaannya yang bersangkutan dengan rencana mereka ke depan.
"Hukuman apa yang menarik untuk orang luar yang menganggu rencana kita ya?"
Pangeran bertanya tiba-tiba sembari menopang wajahnya dengan satu tangan dan menatap intens Rocksy.
"Entahlah Charles, bukankah menghilangkan sebelah kakinya akan cukup? Atau, bagaimana jika membuatnya tidak bicara lagi?" Ia tersenyum penuh arti, yang membuat Pangeran tidak mengerti.
"Apa rencana mu?"
Rocksy menghentikan kegiatan menulisnya dan berbalik menatap Charles yang masih belum memahami isi kepalanya.
"Suruh saja Harmonie mengadakan jamuan teh para putri bangsawan, dan berikan teh beracun pada Rebecca."
Charles terkekeh pelan. Rencana yang bagus untuk menjatuhkan salah satu pendukung Killian.
"Boleh juga, sekalian aku akan memperkenalkan diri sebagai tunangan palsu Harmonie di acara besok, bukankah akan menarik?"
Rocksy hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu, ia lalu kembali berkutat pada setumpuk surat yang tergeletak di atas meja sejak tadi.
Sebenarnya ia sedikit tidak setuju dengan apa yang di rencana Charles, apalagi sampai menyangkut pautkan wanita Rone itu. Tapi, selama pangeran tidak berkhianat, dia akan tetap mendukung rencana apapun yang di lakukan pria itu.