
Brak!
Suara keras yang menghantam dinding, sontak membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan terkejut.
Mereka lantas menunduk memberi salam saat mengetahui siapa yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang tidak bersahabat sama sekali.
"Ck!"
Lagi-lagi decakan kesal itu terdengar saat dia tidak dapat menemukan seseorang yang ia cari selama kurang lebih setengah jam yang lalu.
Pakaiannya bahkan sudah basah karena keringat yang mengucur deras dari atas kepala.
Dia kemudian memutar haluan untuk pergi ke tempat selanjutnya secepat mungkin.
Namun, di tengah-tengah perjalanan, seorang tiba-tiba saja mencengkram pergelangan tangannya, hingga ia harus berhenti dan menoleh kebelakang dengan kesal.
"Apa yang ibu lakukan? Lepaskan aku!" bentakan itu sontak membuat seorang yang menahannya terkejut.
Dia bahkan tidak menduga bahwa anaknya akan membentaknya seperti ini.
"Mikel! Sudah ibu katakan bukan? Rere sudah tidak bekerja di sini lagi! Dia pergi untuk mengobati—"
"Diam! Karna aku yang akan mengeceknya secara langsung."
Mikel menghempas kasar cengkraman yang melilit pergelangan tangannya. Dia kemudian beranjak pergi menelusuri sekitar kediaman dengan langkah terburu-buru.
Dia tidak akan mempercayai apa yang di katakan ibunya sebelum dia memeriksa seluruh kediaman. Bisa saja orang tuanya berbohong bukan?
Tapi ... Bagaimana jika kenyataannya seperti—Tidak. Mana mungkin Rere mengundurkan diri tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu. Apa lagi perempuan itu tidak berpamitan sebelum pergi.
Aku yakin dia sedang bersembunyi sekarang. Mungkin saja dia merasa kesal karena pertengkaran kecil kita kemarin. Ya, pasti begitu.
Brak!
Dengan keras ia membanting pintu belakang kediaman. Menuju tempat yang sering di datangi dayangnya setiap sore untuk sekedar mengangkat jemuran yang sudah kering.
Perlahan, manik ruby-nya mulai menelisik ke sekitar tempat. Berharap bahwa dia dapat menemukan sosok tersebut.
Ketika ia menoleh ke samping, Mikel mendapati perawakan seseorang yang tengah membelakanginya. Sekilas, senyuman kecil muncul di balik bibir pria itu.
Sudah ia duga bahwa Rere tidak akan pergi. Mana mungkin dayang mata duitan sepertinya berhenti bekerja secara tiba-tiba. Sungguh tidak masuk akal sama sekali.
Sehabis ini, dia pasti akan menghukum Rere dan memarahi ibunya yang sudah bersekongkol membohonginya.
Mikel lantas mendekat sebelum kemudian memanggil sosok di hadapannya yang sejak tadi masih memasukkan beberapa kain ke dalam keranjang.
"Rere—"
Panggilan itu tiba-tiba terhenti saat wanita itu berbalik menghadapnya.
"Ah! Salam Tuan muda. Apa anda membutuhkan sesuatu?"
Senyuman yang sempat singgah di wajah tampannya seketika memudar saat mendapatkan wanita itu bukanlah Rere. Sosok yang ia cari selama hampir sejam penuh di seluruh kediaman Aristotle sekaligus wanita yang selama ini telah menemani bahkan mengisi hari-harinya yang suram dengan tingkah anehnya.
Cinta pertama sekaligus orang yang menerimanya apa adanya.
Mana mungkin dia meninggalkan ku begitu saja. Ini sungguh tidak adil. Lalu, kenapa dada ku terasa sakit?
Puk!
Mikel tiba-tiba tersentak saat merasakan tepukan pada bahu kanannya. Belum sempat menoleh, sosok itu malah membalikkan tubuhnya ke belakang dan memeluknya erat.
"Ibu...?"
Duchess tidak menjawab panggilan yang di arahkan padanya. Dia lebih memilih untuk menepuk pelan punggung anaknya, sekedar menenangkan.
Kalau boleh jujur, ia juga sebenarnya merasa sedih saat mendengar pengunduran diri yang di ajukan Rere kemarin.
Tapi dari pada itu, dia sungguh tidak menyangka bahwa Mikel akan bertindak jauh seperti ini.
Apa jangan-jangan dia memiliki perasaan khusus pada Rere?
Duchess tiba-tiba tersadar saat merasakan pelukannya di lepas.
Dia lantas menatap dalam kedua manik ruby Mikel yang terlihat sayu.
"Ibu ... Katakan di mana Rere tinggal. Aku akan menyusulnya ke sana."
Perkataannya itu sontak membuat Duchess terkejut setengah mati. Dia pikir Mikel akan berhenti sampai di sini saja, tapi kenyataannya malah berbanding jauh. Kenekatan anak ini memang tidak bisa di anggap remeh.
...❁❁❁...
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Saat ini Rebecca tengah berada di dalam kereta kuda yang sedang menuju ke kediaman Rone. Tempat berlangsungnya acara minum teh para Lady bangsawan.
Acara yang menurutnya tidak ada manfaat sama sekali. Karna hanya membicarakan kekurangan orang lain, saling menyindir, dan menyombongkan diri sendiri.
Tapi mau bagimana lagi, jika dia tidak menghadirinya, maka itu sama saja dengan menghina keluarga Rone.
"Benar-benar menyebalkan."
Rebecca berpangku tangan sembari menatap jalan kota yang ramai akan orang-orang berlalu-lalang. Tak hanya itu saja, banyak sekali bagunan yang berjejer rapi di sana.
Ia lantas menguap. Merasa mengantuk karna hanya berdiam diri saja tanpa berbuat apa-apa. Rebecca kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan mulai tertidur.
Namun ketika ia membuka kedua kelopak matanya, hal pertama yang telihat adalah ruangan gelap tanpa secercah cahaya.
Ia lantas melangkahkan kedua tungkai kakinya. Menelusuri lebih dalam tempat tersebut tanpa rasa curiga.
Dia sekarang berada di tengah-tengah padang rumput hijau yang luas dengan cahaya matahari menerpa lembut seluruh tubuhnya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat siluet seseorang yang tengah berdiri sembari menatapnya lama.
Rebecca begitu yakin bahwa sosok yang ia lihat itu adalah seorang wanita. Tapi wajahnya tidak terlalu jelas karna terpaan sinar matahari yang terlalu terang tapi tidak menyengat.
Samar-samar ia melihat perempuan itu menggerakkan satu tangannya. Memanggil Rebecca untuk mendekat.
Namun, saat ia hendak mendekati sosok tersebut, terasa ada dinding tak kasat mata yang menghalanginya untuk tidak bergerak lebih jauh lagi.
‘Sial! kenapa aku tidak bisa mendekatinya?’
Rebecca bertanya-tanya dalam benaknya. Dia sungguh merasa kesal akan situasi sekarang. Apa lagi dengan dirinya yang tidak bisa berbicara sejak masuk ke tempat aneh ini.
Ia kemudian menyentuh dinding tak kasat mata itu sambil menatap lurus ke depan. Tepatnya pada seorang wanita yang terus saja memanggilnya untuk mendekat.
‘Ck! Bagaimana cara untuk ku ke sana!’
‘Pecahkan pembatas itu’
Rebecca tiba-tiba saja tersentak saat mendengar bisikan lembut menyapa indra pendengarannya.
‘Pecahkan? Bagaimana cara untuk memecahkan—’
‘Tidak! Jangan lakukan itu!’
Suara berbeda datang dari arah yang berlawanan. Ia lantas menatap sekitar dengan pandangan heran.
Sebenarnya siapa yang berbicara sejak tadi? Kenapa perkataan yang mereka ucapkan berbanding terbalik?
‘Jangan bertele-tele! Mana yang harus aku lakukan?’
Rebecca bingung harus berbuat apa. Yang dia inginkan hanyalah pergi dari sini secepat mungkin.
‘Pecahkan sekarang!’
‘Tidak! Jangan!’
Lagi-lagi perdebatan dua orang yang tidak terlihat wujudnya mengganggu Rebecca. Kepalanya sampai berdenyut sakit karna suara-suara tersebut.
Hingga tanpa sadar, dia mengepalkan satu tangannya dan berteriak keras menyuruh mereka untuk diam.
Crak!
Prang!
Suara pecahan kaca tiba-tiba terdengar di iringi angin kencang yang menerpa tubuhnya hingga ia jatuh terduduk.
Sebelum kesadarannya menghilang, Rebecca mendengar suara yang ia yakini adalah sosok yang menyuruhnya untuk tidak memecahkan dinding tersebut. Ia melontarkan beberapa kalimat tak jelas padanya.
‘Kamu sudah salah ... Jiwa ... Dia datang ... seharusnya ... tidak terjadi.’
Deg!
Rebecca seketika terbangun dengan nafas yang tidak beraturan. Dia tersengal-sengal seperti habis berlari jarak jauh. Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhnya.
Mimpi aneh yang ia lihat sebelumnya terasa janggal dan cukup membingungkan.
"Se-sebenarnya apa maksudnya? Apa yang salah, dan ji-jiwa? Apa lagi itu!"
...❁❁❁...
Tok, tok, tok
"Masuk."
Setelah mendengar izin dari pemilik ruangan, seorang pelayan muncul dari balik pintu yang tertutup dengan ekspresi takut.
Ia kemudian melangkah mendekati seorang wanita yang tengah duduk di depan meja rias.
Sembari memberikan salam hormat, pelayan itu segera menyerahkan sebungkus bubuk yang di terimanya dari bawahan Pangeran kedua.
"Nona Harmonie, ini adalah racun dari bunga Lily lonceng yang telah di keringkan."
Penjelasan yang di katakannya membuat aktifitas merias diri sang puan terhenti. Ia kemudian menyuruh pelayan itu untuk meletakan racun tersebut di atas meja samping tempat tidur sebelum bangkit berdiri.
"Sesudah ini, panggilah salah satu pelayan dapur yang mengurus pembuatan teh untuk datang ke kamar ku."
Dengan takut-takut pelayan itu mengangguk mengerti. Dia kemudian menunduk hormat dan segera meninggalkan ruangan kamar majikannya dengan terburu-buru.
Setelah kepergian pelayannya, Harmonie mendekat ke arah tempat tidur dan mengambil bungkusan racun yang ada di atas meja.
Senyuman aneh seketika muncul di balik wajahnya yang ayu sebelum berubah menjadi tawa mengerikan.
Rencana gila yang di susun Pangeran sangatlah berisiko.
Selain karna perintah mutlak yang tidak bisa di tolak, alasan lain Harmonie menyetujuinya hanya karena ingin membalas perbuatan Killian yang dengan seenaknya meninggalkannya dan berpaling pada perempuan lain.
Dia bahkan jadi penasaran, ekspresi apa yang akan di tunjukkan Killian jika dia melihat tubuh kaku tunangannya.
Pastilah itu akan menjadi hiburan tersendiri untuknya dan Pangeran saat melihat Killian menderita.
"Aku sudah tidak sabar lagi."