Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Sihir Pengingat >



Sinar mentari yang menyentuh keseluruhan tubuh Rebecca, tidak membuatnya terusik sama sekali. Tatapan matanya masih menerawang jauh ke depan, memandang perkotaan kecil yang jauh nan indah.


Angin lembut perlahan-lahan bertiup menerbangkan helaian rambutnya, memberikan kesejukan pada sang puan di kala pikirannya masih terus bekelana tanpa henti.


Bayangan tentang pembicaraan mereka kemarin, masih terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Fakta nyata yang tidak bisa di terima olehnya, membuat Rebecca pusing sendiri.


‘Hei ... Kamu baik-baik saja? Sudah hampir sejam lebih kamu tidak bergerak dari sana.’


Suara yang akrab terdengar memanggilnya dari samping. Ia lantas menoleh untuk sekedar menatap ruangan kosong yang ada di sebelahnya.


Rebecca lantas mengulas senyuman ragu sebagai tanggapan, sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan temannya itu.


“Tidak. Aku tidak baik-baik saja saat ini. Mengetahui bagaimana fakta yang sebenarnya, hampir membuat ku kehilangan akal sehat untuk berpikir.”


Mendengar jawaban skeptis yang di katakan lawan bicaranya itu, membungkam penuh sosok yang berada di sampingnya.


Sejujurnya, dia juga sama terkejutnya saat mendengar penjelasan yang dikatakan Eros kemarin. Tentang siapa sebenarnya Viely, beserta kehidupan yang ia lewati.


“Kamu masih ingat bukan, penjelasan selanjutnya yang dikatakan Eros? Apa itu?” tanyanya setelah melewati keheningan yang cukup panjang di antara mereka.


‘Dia...’


Roh itu menjawab sembari mengingat-ingat pembicaraan mereka yang berlanjut hingga matahari hampir kembali pada peraduannya.


Saat itu, setelah Eros menjawab bahwa reinkarnasi Viely sebelumnya adalah sahabat dari Rebecca, yakni Isabel Photer, ia hampir saja berteriak karna terkejut.


“Kau sedang tidak becanda 'kan?” tanya Viely sedikit ragu. Karna kalau dia tidak salah ingat, Rebecca pernah mengatakan bahwa dia memiliki sahabat bernama Isabel Photer.


“Sampai kapan kamu akan menganggap perkataan ku ini adalah sebuah candaan? Aku mengatakan fakta yang sebenarnya.”


Eros menghela nafas frustasi, setelah ia selesai melontarkan sejumlah kata pada Viely. Kelihatan sekali bahwa pria itu merasa kesal saat lawan bicaranya terus saja menolak fakta yang ia katakan.


‘Jadi ... Dia adalah Isabel Photer? Tapi kenapa! Maksudku, bagaimana bisa itu terjadi?’ pekiknya memecahkan ketegangan yang mengudara di dalam ruangan itu.


“Apa maksudmu?”


Viely bertanya bingung saat mendengar perkataan yang dilontarkan roh Rebecca pada Eros. Kepalanya benar-benar tidak bisa berfikir jernih, saat menerima sejumlah kebenaran yang mengharuskannya untuk percaya.


“Biar ku jelaskan secara singkat. Dalam dunia sihir maupun reinkarnasi kembali, jika dua orang meninggal di saat bersamaan, ada sedikit kemungkinan, jika waktu di putar kembali, maka dua jiwa tersebut dapat menempati tubuh satu sama lain. Contohnya seperti kalian. Namun...”


Eros berhenti berbicara sembari memandangi langit-langit kediaman cukup intens. Dia terlihat memikirkan sesuatu sebelum berbicara kembali.


“Namun, jika itu terjadi, artinya ada kesalahan dalam perputaran waktu. Mungkin karna Killian melakukannya setelah seminggu kematian Rebecca.”


“Lalu, apa hubungannya dengan kematian Isabel?”


Viely bertanya, bingung. Semakin mendengar penjelasan Eros, semakin membuatnya pusing sendiri.


“Hei, jadi kamu tidak mengerti sama sekali? Padahal aku sudah meringkasnya agar mudah di mengerti!”


Eros di buat geram akan jawaban yang diucapkan Viely padanya. Dia bahkan jadi ragu jika perempuan itu adalah pemimpin di suatu perusahaan besar.


‘Singkatnya, kamu meninggal setelah aku mati. Apakah kamu mengidap penyakit parah, tanpa sepengetahuan ku, Isabel?’


Pertanyaan menuntut terdengar dari balik bibir Rebecca asli, membuat Viely mengernyitkan dahinya sebagai tanggapan.


“Sekarang kamu memanggilku Isabel? Aku bahkan masih beradaptasi dengan nama Rebecca.”


Viely menyentuh dahinya saat kepalanya terasa berdenyut. Tiga nama dalam satu tubuh? Lelucon yang sangat garing.


“Aku ikut prihatin dengan keadaanmu sekarang, Rebecca, ah! maksudku Viely, atau ... Isabel? Pilihlah nama yang kamu izinkan sebagai panggilan untuk mu.”


Eros tersenyum mengejek sambil mengerlingkan matanya. Hal tersebut membuat Viely geram sendiri. Hampir saja ia melompat dan menghajar pria itu jika saja Rebecca tidak berbicara kembali.


‘Jawab pertanyaanku, Isabel.’


Meskipun Viely tidak dapat melihat ekspresi yang di tunjukan Rebecca asli, tetapi perubahan suasana dan nada bicara yang diucapkannya, membuat ia paham bahwa roh itu sedang menatapnya tajam.


“Aku bahkan tidak tahu-menahu soal penyakit itu, termasuk ingatan ku tentang kehidupan pertama. Jadi, percuma kamu menanyakannya padaku.”


Ia menjawab dengan nada datar sembari menyandarkan punggungnya ke tempat sandaran kursi. Mungkin karna sejak tadi dia bersitegang dengan Eros, punggungnya jadi ikutan sakit. Apa lagi dengan beberapa penjelasan mengejutkan yang di terima olehnya, sungguh membuat Viely merasa bodoh.


“Ah ... Dari yang ku dengar sebelum Killian memutar balikkan waktu, anak satu-satunya dari Duke Pother meninggal secara misterius di dalam kamarnya.”


Eros ikut menimpali setelah beberapa saat berlalu, yang mana membuat kedua perempuan itu terkejut dengan ekspresi yang berbeda-beda.


Isabel meninggal secara misterius? Bagaimana bisa itu terjadi?


“Setelah kematian putri semata wayangnya, Duke Pother mati-matian mencari pelaku pembunuhan anaknya, meskipun pada akhirnya dia tidak dapat menemukannya dan menjadi gila kemudian membunuh dirinya sendiri. Sungguh bodoh.”


Eros mencela di akhir kalimat yang membuat Viely menatapnya sengit dari jarak beberapa meter di hadapannya.


“Jangan menyebutnya bodoh. Itu adalah bukti bahwa dia begitu mencintai putrinya.”


Meskipun ekspresi wajahnya terlihat datar, tetapi begitu mendengar intonasi suara yang di keluarkan Viely, Eros sadar bahwa perempuan itu tengah merasa kesal.


“Yaahh ... Cinta membuat orang-orang menjadi bodoh, kau tahu. Termasuk Killian yang memutar balikkan waktu. Padahal sedikit lagi dia akan menjadi Kaisar.”


Merasa geram akan tanggapan selanjutnya yang dikatakan Eros, Viely langsung menendang meja di depannya hingga teh yang ada di dalam cangkir tumpah kemana-mana, akibat guncangan yang begitu kasar.


“Berhenti mengolok-olok seseorang seperti itu. Mungkin karna kau tidak memiliki sosok yang berharga, makanya kau dengan seenaknya menghina orang lain, beserta cinta yang mereka rasakan—”


Viely berhenti sejenak sebelum mengeluarkan senyuman mematikan untuk Eros.


“Ku harap kau dapat menemukan sosok yang berharga dalam hidupmu, agar nantinya kau sadar apa itu cinta dan menjadi gila karnanya.”


Setelah berucap dengan nada sarkastis, lambat laun terdengar suara tawa Eros yang terendam di balik telapak tangannya. Dia ternyata sejak tadi sedang menertawakan tanggapan Viely yang terasa lucu.


“Kenapa kau tertawa—”


“Kau pikir, sudah berapa lama aku hidup? Hingga dengan gampangnya kau mengajariku tentang sosok yang berharga dan cinta?”


Deg!


Viely terkejut dan detik itu juga ia menyadari bahwa Eros adalah penyihir agung yang sudah hidup bertahun-tahun lamanya. Tapi, meskipun begitu, dia tidak suka saat mendengar pria itu mengolok-olok Duke Pother beserta Killian.


“Jangan membawa-bawa umurmu jika ingin membela diri sendiri. Memang benar, kau hidup lebih lama dari ku, tapi setidaknya hargailah orang-orang di sekitar mu saat mereka sedang berjuang untuk orang yang mereka cintai, kau mengerti bukan? Pak tua.”


Viely menekan kalimat terakhir seraya menghembuskan nafas kasar. Eros sendiri terdiam saat mendengar perkataan yang terlontar dari balik bibir Viely. Ia kemudian menunduk sembari menggumamkan kata 'menghargai' yang hanya bisa di dengar olehnya.


“Ngomong-ngomong, mau ku bantu untuk mengungkap siapa dalang yang membunuh dirimu di masa lalu, Lady?”


Secara tiba-tiba gaya bicara Eros berubah drastis. Dia kemudian mengangkat pandangannya dan menatap tepat ke dalam manik violet milik sang puan.


“Karna, mana mungkin kamu mati begitu saja. Yah .... Atau bisa jadi, kamu bunuh diri, sih.”


Eros berucap santai sembari menunggu tanggapan yang akan dikatakan Viely.


“Bagaimana caranya?”


Pertanyaan itu mengundang seringai kecil untuk terbit di balik bibir Eros. Dia pun memangku kedua kakinya dengan tatapan mata yang terlihat aneh dan sulit terbaca. Hal tersebut membuat Viely jadi was-was. Takut bila pria itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk.


“Tentu saja dengan sihir pengingat. Kamu juga tidak perlu khawatir, karna sihir itu tidak ada efek sampingnya, asalkan Lady mampu menahan memori masa lalu yang akan muncul.”


Viely tampak berfikir sejenak. Menimbang-nimbang apa yang dikatakan Eros padanya.


‘Terima saja, Isabel.’


Suara lembut yang terdengar dari samping tubuhnya, meyakinkan Viely untuk menyutujui saran tersebut.


“Tapi...”


Dia pun teringat akan seringai kecil yang di tunjukkan Eros sebelumnya, namun hal tersebut segera di tepis jauh oleh Viely. Dia kemudian menatap Eros dan menganggukan kepalanya dengan yakin.


“Baiklah, aku setujuh.”


Senyuman puas seketika tersungging di balik bibir sang adam.


“Tapi, jika sesuatu yang buruk terjadi padaku, aku tidak akan segan-segan menikam mu dengan belati ini.”


Viely mengeluarkan belati kecil yang memang sering dibawanya kemana-mana untuk melindungi dirinya sendiri dari orang-orang jahat.


“Saya akan menjamin anda baik-baik saja.”


Setelah berkata seperti itu, Eros bangkit berdiri dan melangkah mendekati Viely yang ada di seberang meja.


“Tutup kedua mata anda dan jangan gugup,” ucapnya yang segera di patuhi oleh Viely meskipun keraguan sempat singgah di hatinya.


Perlahan-lahan Eros mengangkat satu tangannya dan menyentuh dahi Viely. Di detik selanjutnya pria itu menggumamkan bahasa kuno yang belum pernah di dengar olehnya.


Sepersekian detik, cahaya kekuningan muncul dan langsung menghilang dalam satu kedipan mata. Rebecca yang menyaksikan hal tersebut di buat tertengun, karna untuk pertama kalinya ia melihat sihir seperti itu.


Eros kemudian menjauhkan tangannya dari Viely sembari mengambil langkah mundur.


“Sudah selesai. Sekarang, semua ingatan masa lalu berserta hal yang anda lupakan akan di ingat kembali.”


Perlahan-lahan ia membuka kedua kelopak matanya dan menatap Eros dengan ekspresi aneh.


“Hei, mungkin sihir mu itu gagal. Aku bahkan tidak mengingat ingatan masa lalu Isa ... bel.”


Bruk!


Viely tiba-tiba saja jatuh pingsan, yang mana membuat Rebecca sangat terkejut. Dia kemudian menatap marah Eros sambil berfikir bahwa pria itu sudah menipu mereka.


Namun, melihat ekspresi wajah yang di tampilkan penyihir itu, mengundang tanda tanya besar dalam benak Rebecca.


“Dia akan baik-baik saja. Itu hanya efek samping ringan karena dia tidak dapat menampung ingatan masa lalunya,” jelasnya sembari terus memandangi Viely yang terlelap di atas sofa.


Sementara Rebecca, dia malah mengernyit dalam lantaran mendengar perkataan Eros.


‘Katamu sihir itu tidak memiliki efek samping! Tapi kenapa sekarang—”


“Sepertinya kamu tidak mendengarkan perkataan ku dengan jelas. Sihir ini tidak memiliki efek samping, asalkan dia mampu menahannya.”


Rebecca seketika terdiam dan langsung menatap Viely yang tertidur di sampingnya.


‘Artinya ... Dia tidak mampu menahannya?’


Eros tidak menjawab apa yang di tanyakan Rebecca padanya. Ia malahan mengeluarkan sebuah kertas putih dan meletakkannya di atas meja.


‘Apa itu?’


Rebecca bertanya bingung sambil menatap kertas putih berbentuk persegi panjang.


“Tentu saja kertas tagihan! Aku sudah mengeluarkan sihir cukup banyak hari ini, jadi kalian harus membayarnya dengan uang!”


Eros tersenyum lebar hingga cahaya imajiner yang menyilaukan terlihat dari belakang tubuhnya. Rebecca yang melihatnya pun langsung terdiam dengan ekspresi datar.


Sekarang ia sadar, arti seringai yang Eros tunjukkan sebelumnya adalah ini.


‘Dasar penipu!’


Mendengar hinaan yang di tujukan padanya, mengundang Eros untuk tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha! Bukan menipu, tapi berbisnis. Akukan tidak bilang bahwa sihir itu gratis. Nah, kalau begitu, Aku pergi dulu. Katakan pada Viely untuk melunasi hutangnya, juga...”


Eros terdiam selama beberapa saat sebelum kemudian menatap Rebecca dengan pandangan serius.


“Pikiran untuk segera menyerahkan tubuh itu kepadamu. Karna jika tidak, dia akan dalam bahaya.”


Brak!


Rebecca asli seketika tersadar dari lamunan panjangnya dan berhenti bicara saat mendengar suara keras yang dibuat teman perempuannya.


“Sialan! Pak tua itu, selain menipuku, dia juga berkata hal yang menyebalkan!”


Viely menggeram marah sembari mencengkram pembatas balkon erat-erat. Rebecca yang menyaksikan hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Tapi, kamu harus mempertimbangkannya, karna aku tidak ingin kamu kenapa-napa.”


Mendengar tanggapan yang diberikan Rebecca, mengundang keterdiaman Viely. Sebenarnya, dia sedikit mengerti tentang ancaman yang dikatakan Eros lewat cerita Rebecca. Tapi, dia lebih memilih untuk bungkam sebelum memastikannya secara langsung. Oleh karena itu, dia harus menemui Eros.


“Ngomong-ngomong, kamu belum menceritakan apapun padaku sejak sadar dari pingsan. Jadi, siapa yang membunuhmu?”


Mendengar pertanyaan itu, membuat Viely melepaskan cengkraman tangannya pada pembatas balkon dan langsung berbalik dengan tatapan sayu ke arah Rebecca.


“Tidak ada yang membunuhku. Malahan, akulah yang membunuh diriku sendiri.”