
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Ketika sang surya mengintip dari ufuk timur, membawa sedikit cahaya hangatnya untuk menyinari berbagai pelosok bumi, Rebecca yang sudah tiba di kediaman Aristotle bersiap-siap memulai pekerjaan paginya seperti biasa.
Dia dengan gembira melangkahkan kaki menulusuri setiap ruang bahkan lorong kediaman sambil bersenandung kecil. Dirinya merasa senang sebab beberapa hari ini Mikel tidak menganggu aktifitas bekerjanya, karna anak itu sedang fokus pada pelajaran.
Harga dirinya begitu tinggi sampai tidak mau kalah dalam tantangan yang Rebecca berikan, tapi itu cukup membuktikan bahwa Mikel tidak seburuk dulu.
Saat tangan putih Rebecca bergerak hendak membuka pintu kamar, tarikan dari dalam ruangan membuat aksinya terhenti. Terlihat Mikel yang keluar dari sana sambil mengucek-ucek satu mata nya, sedang tangan yang lain memegang buku sejarah.
"Selamat pagi tuan muda!" pekiknya sembari menunduk memberi salam.
"Hmm,"
Mikel hanya berdeham singkat sebagai tanggapan dan berlalu dari sana. Rebecca yang melihat tingkah anak itu, jadi menghela nafas pelan. Dia memang cukup senang karena tidak ada gangguan dari sang tuan muda kedua, tetapi kalau memaksakan diri seperti itu pastinya dia akan sakit dan keuntungan yang Rebecca peroleh pasti akan berkurang.
"Tidak! Itu tidak boleh terjadi."
Rebecca pun segera menarik gagang pintu untuk menutup kamar tersebut, pertama-tama dia akan membuatkan segelas susu coklat hangat pada Mikel agar anak itu tidak kelaparan nantinya.
Ia lalu berbalik arah dan segera turun ke lantai berikutnya, mengingat dapur berada di lantai bawah dan cukup jauh dari perpustakaan utama, jadi dia harus bergegas.
...∆••∆...
Begitu ia akan melangkah masuk ke dalam dapur, di dapati nya seorang pria muda dengan pakaian serba putih sedang mengelap beberapa piring dan gelas yang baru selesai di cuci.
Di lihat dari sisi manapun sepertinya orang ini adalah bawahan koki, jadi Rebecca harus meminta izin terlebih dahulu untuk memakai sebagian dapur.
"Permisi tuan," ucapnya sopan.
Pria itu lalu berbalik sambil tersenyum kecil, mengundangnya untuk masuk. Rebecca mengangguk kecil sebagai tanggapan, kemudian beranjak dari sana.
"Kamu yang namanya Rere bukan?"
Pertanyaan itu langsung saja di angguki olehnya, mungkin karena beberapa hari ini dia jadi bahan pembicaraan para pelayan kediaman, makanya sampai pekerja dapur pun tahu nama nya.
"Ada keperluan apa sampai Rere datang ke sini?"
"Ah, saya hanya ingin membuat susu untuk tuan Mikel."
Setelah menjelaskan maksud dan tujuan nya, pria itu segera memberikan izin untuk memakai peralatan dan bahan yang di perlukan.
Tanpa berlama-lama lagi Rebecca langsung saja memanaskan air dalam panci, itu harus ia lakukan karena di zaman seperti ini tidak ada alat praktis seperti di tempatnya dulu.
Setelah beberapa menit berlalu, susu yang di buat sudah siap untuk di hidangkan. Sambil berpamitan pada pria tadi, Rebecca segera pergi dari sana dengan kedua tangan memegang nampan yang di atasnya ada segelas susu coklat hangat.
Berjalan hati-hati menulusuri koridor kediaman yang panjangnya tidak terkira. Sampai ketika ia tiba di depan pintu perpustakaan utama, segera para penjaga membukakan benda persegi panjang itu supaya Rebecca bisa masuk.
Mendengar suara pintu yang terbuka, membuat Mikel mengalihkan eksistensinya dari buku sejarah. Menatap datar sosok yang mendekati dia sekarang.
"Kenapa?" tanya Mikel singkat sambil menutup buku sejarah yang ada di tangan nya.
"Saya membawakan susu untuk anda, sebab tidak baik jika belajar dengan perut kosong."
Mikel jadi heran akan tingkah-laku dayangnya yang tidak bisa di tebak ini. Bukankah itu sebuah keuntungan bagi Rere, jika dia tidak dapat meresap pelajaran karena perut kosong?
"Dasar bodoh, kalau seperti ini pastinya aku yang akan menang."
Dia tersenyum meratapi sikap Rere yang tidak peka akan situasi. Padahal maksud sebenarnya wanita itu melakukannya, karna dia tidak mau bonus uang yang di dapati akan di tarik kembali oleh Marquess Aristotle yang pelit itu.
Huh! Jika saja pria itu tidak pelit, pasti aku akan kaya mendadak.
"Terserah apa yang anda katakan, yang paling penting tuan muda tidak boleh jatuh sakit. Mengerti?!"
Tak!
Rebecca meletakan segelas susu itu di depan Mikel sambil berlalu dari sana sesegera mungkin, karna masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum semakin siang.
Sementara Mikel yang menatap kepergian sang dayang, malah berdecak pelan dengan kedua pipi yang merah padam.
"Apa-apa wanita itu! Kenapa dia sangat peduli pada kesehatan ku?" monolognya sambil menghela nafas kasar.
Jujur saja ia cukup tersentuh dan malu akan perkataan yang di ucapkan Rere sebelumnya, sambil bertanya-tanya mengapa dia harus mendengar hal itu dari dayang nya, dan bukan dari mulut ibu nya?
Mengingat itu hatinya jadi sakit. Tapi saat Mikel melihat segelas susu yang ada di atas meja, perlahan-lahan perasaannya mulai tenang. Dia lalu mengulurkan tangan menagkup gelas bening itu dalam genggaman.
Menghirup aroma manis yang keluar dari sana, sambil meminumnya pelan-pelan. Rasanya begitu enak, berbeda dari biasanya. Nanti dia akan menyuruh koki membuatkan susu ini lagi.
...∆••∆...
Sambil bersembunyi di belakang vas bunga, dia pun mulai mempertajam pendengaran pada objek yang tidak terlalu jauh dari tempat persembunyiannya sambil sedikit mengintip.
Eh! itukan Duke dan .... Prajurit bayaran!
"Apa! Benarkah informasi yang kau bawa ini?!" tekannya sambil menatap pria yang menggunakan pakaian serba hitam itu sengit.
"Benar tuan, bahkan rumornya sudah menyebar luas sekarang."
Pria itu menjawab dengan raut yakin walaupun sebagian wajahnya tertutup kain hitam.
Rebecca yang penasaran akan pembicaraan itu makin mendekatkan diri ke tembok, dan mengesampingkan rambutnya kebelakang telinga.
"Tidak ku sangka dia akan menemukan spirit stone berharga sebanyak itu."
Ungkapan Duke mampu membuatnya tekejut, dia bahkan menutup mulutnya dengan tangan secara reflek dan hampir menjatuhkan vas bunga yang ada di depannya.
Aku tidak salah dengar?!
Dia masih tidak percaya akan penemuan spirit stone yang berharga itu. Apalagi orang yang menemukannya tidak lain adalah Killian, bukankah hal ini terlalu cepat?
Rebecca jadi khawatir akan perubahan alur novel yang semakin jauh, jika seperti ini terus maka dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Beruntung kalau dia bisa hidup lebih lama, tapi jika malah sebaliknya bagaimana?
Segera Rebecca bangkit dari duduknya, ia harus merencanakan plan C sebagai cadangan jikalau alurnya dapat mengancam kehidupannya bersama dengan kehidupan pasangan Dowis itu.
Saat hendak pergi, suara seseorang yang memanggilnya dari belakang menghentikan kegiatan tersebut. Rebecca yang mengenali suara itu segera berbalik kaku, tak lupa juga tersenyum sambil memberi salam hormat.
"Sedang apa kau di sana."
Nada suara yang terdengar begitu kelam mampu membuat Rebecca menelan kasar ludahnya sendiri.
"Saya hanya mengikat tali sepatu yang lepas, tadi."
Bukan Rebecca namanya jika tidak bisa mengelak atau membohongi seseorang. Karna dia memiliki jutaan bahkan miliaran kata agar bisa lari dari situasi yang berbahaya seperti sekarang.
Menaikan salah satu alis, pria itu menatap sang dayang dalam. Ekspresi wanita itu cukup tenang jika di bilang berbohong, tetapi dia masih ragu akan perkataannya.
"... Baiklah," ucapnya sembari berlenggang pergi dari sana.
Rebecca lantas menghela nafas lega sambil melirik ke belakang. Menatap singkat punggung pria yang sekarang sudah menjauh dari pandangan.
Tidak biasanya tuan muda pertama melepaskannya begitu saja. Mungkin dia sedang terburu-buru.
...∆••∆...
Brak!
Suara gebrakan meja terdengar memenuhi ruangan mewah yang luas itu. Membuat seorang yang ada di sana harus menunduk diam, situasi seperti ini sudah biasa untuknya. Bahkan ada yang lebih parah dari pada sekarang.
"Tidak mungkin!! Padahal aku sudah bersusah payah menggali sana-sini, tetapi si brengsek itu yang menemukannya!"
Pria itu berteriak marah dengan ekspresi wajah berkerut. Padahal dia sudah menyingkirkan hama yang mengganggu, dan berfikir semua akan berjalan lancar. Tetapi muncul lagi satu hama lain yang berencana mengambil posisi serta bisnisnya.
"Anda harus tenang Yang mulia, saya yakin anda akan menemukan jalan keluar seperti sebelumnya."
Rocksy, tangan kanan pangeran kedua sekaligus pemberi saran yang handal, mulai angkat bicara. Ia tahu pangeran saat ini sedang marah besar dan bahaya jika ada seseorang yang angkat bicara menyuruhnya tenang.
Tapi itu berlaku untuk orang lain dan bukan dirinya, karna meskipun pangeran mengamuk besar dia bisa menenangkan pria itu dengan kata-kata bijak dan juga licik.
"Aku tahu itu! Tetapi kali ini berbeda, dia akan mengganggu bisnis spirit stone ku dan merusaknya. Aku yakin!"
Pangeran menggeram dengan rahang yang mengeras. Rocksy yang melihat itu perlahan mendekati pangeran sambil menyentuh bahunya pelan.
Sontak yang di sentuh malah terkejut dan berbalik menatap seorang yang ada di samping kirinya. Pangeran lantas menggenggam tangan Rocksy pelan.
"Aku akan menyusun rencana untuk menjatuhkan dia .... tetapi itu butuh bantuan keluarga Rone, pangeran ku tersayang."
"Apa?! Tapi keluarga Rone adalah pendukung pria Osmond itu!"
Rocksy melirik pangeran dari ekor matanya, ia lalu menunduk sambil berbisik pelan.
"Kamu meragukan kemampuan ku ...?"
Mendengar hal tersebut pangeran menarik ujung bibirnya tersenyum kecil. Dia lalu berbalik sambil mencium telapak tangan Rocksy cukup lama.
Menatap dalam manik biru yang hampir seiras dengan miliknya, setelah kemudian berbicara memberikan tanggapan.
"Akan ku lakukan sesuai rencana."
^^^To be continued ....^^^