
Cahaya sore yang menembus kaca jendela, menyentuh surai perak seorang pria yang tengah duduk tenang di belakang meja kerjanya sambil membaca beberapa dokumen penting hasil penyelidikan mata-matanya.
Sedikit kerutan terlihat di dahi sang adam kala ia mengernyit dalam. Manik mata pria itu terfokus pada sejumlah kalimat yang menurutnya cukup mencurigakan.
Ia kemudian menurunkan surat tersebut ke atas meja sambil melirik seseorang yang berdiri di hadapannya. Kini netra keduanya saling bersirobok antar satu sama lain.
“Apakah ada yang salah dengan laporannya, tuan?”
Pertanyaan dari sang bawahan di balas gelengan pelan dari lawan bicaranya. Ia pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sebelum berbicara.
“Laporannya tidak salah, hanya saja ada beberapa penjelasan tentang orang asing yang mencurigakan dari laporan mata-mataku.”
Begitu mendengar penjelasan singkat dari tuannya, ada sedikit rasa penasaran yang muncul dalam hati sang ajudan. Ia lantas melirik surat yang berada di atas meja kerja Duke Aristotle.
“Siapa orang asing itu, tuan?”
Duke melirik sang ajudan singkat sebelum bangkit berdiri dan berbalik melihat kaca jendela yang menampakkan keadaan luar kediaman.
“Itulah yang ku pertanyakan, siapa sebenarnya sosok itu. Kata mata-mataku, suaranya terdengar cukup familiar. Dan dia seorang perempuan.”
Pandangannya menerawang jauh ke depan dengan sejumlah asumsi serta beberapa pertanyaan yang muncul dalam kepala. Mempertanyakan, menebak, memikirkan berbagai kemungkinan tentang sosok misterius itu.
Hingga pertanyaannya itu jatuh pada kesimpulan yang cukup masuk akal. Dia lantas berbalik dan menatap sosok sang ajudan yang masih setia berdiri di depan meja kerjanya.
“Victor, apakah ada kemungkinan jika sosok itu adalah ... Rere?”
Pria yang di panggil Victor pun sedikit terkejut atas asumsi yang di berikan tuannya. Menurut pria itu, sangat tidak mungkin jika wanita yang merupakan mantan pelayan tuan muda kedua, melakukan hal aneh berupa menyelidiki dalang dari penjualan organ tubuh yang ada di kekaisaran ini.
Rakyat biasa sepertinya mana mungkin melakukan sesuatu yang seharusnya bukan tugas mereka. Kecuali jika orang tersebut ada sangkut-pautnya dengan sang korban atau pelaku.
“Kenapa anda bisa memikirkannya sampai sejauh itu? Bukankah Rere hanya seorang rakyat biasa?”
Duke terkekeh pelan saat mendengar tanggapan yang diberikan Victor. Dia kemudian bergerak dan mendudukkan diri di atas meja sebelum angkat bicara.
“Menurut mu, bagaimana bisa seorang rakyat jelata tau banyak tentang sejarah kekaisaran dan bisa membaca? Bukankah itu aneh?”
Victor seketika terkejut saat mendengar kebenaran tentang Rere yang dikatakan oleh Duke sendiri.
“Jangan bilang anda terus mengawasi wanita itu sejak ia menginjakan kaki di tempat ini?” tanyanya sembari menatap intens sang majikan.
Hanya dengan melihat tatapan yang di berikan Duke Aristotle, Victor bisa tahu bahwa pertanyaan yang di tanyakannya itu telah di jawab 'benar' oleh tuannya.
“Apakah Rere adalah seorang mata-mata yang di tugaskan untuk memantau kediaman Aristotle?”
Victor sekali lagi bertanya. Berbagai kemungkinan yang melintas tentang sosok Rere selama ini, mulai memenuhi pikirannya sedikit demi sedikit.
“... Dia sepertinya bukan seorang mata-mata. Perempuan itu hanya mencari uang saja—”
Duke berhenti bicara sembari mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil secangkir kopi yang ada di atas meja, sebelum kemudian menyeruput minuman itu perlahan-lahan.
“Dari mana anda bisa yakin bahwa dia bekerja di sini hanya untuk mencari uang?”
Duke sekali lagi terkekeh pelan saat mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya.
“Hmm, mungkin setiap istriku membahas bonus gaji, manik mata wanita itu langsung berbinar-binar.” jawab Duke seadanya.
“Kalau begitu, kenapa anda merasa jika Rere adalah sosok misterius itu? Dia kan bukan seorang mata-mata,” tanya Victor bingung dengan kedua alis yang saling bertaut.
“Mungkin karena dia membela Duke Osmond di depan Christopher saat para pelayan kediaman membicarakannya waktu itu?”
Duke kembali mengingat-ingat kejadian beberapa minggu yang lalu, tepatnya saat dayang Rere baru beberapa hari bekerja di kediamannya. Saat itu, dia tidak sengaja mendengar perseteruan antara Christopher dan Rere di belakang kediaman.
Dari situlah dia makin menaruh rasa curiga pada dayang Rere. Awalnya Duke mengira wanita itu sebagai mata-mata dari keluarga Osmond. Tapi setelah melihat Rere yang begitu antusias akan uang, Duke langsung membuang asumsinya itu jauh-jauh.
“Tapi kalau seandainya asumsi ku ini benar, maka ada hubungan apa Rere dengan keluarga Osmond? Karna sesuai dengan laporan yang ada, perempuan itu juga sedang menyelidiki tentang siapa dalang dari balik penjualan organ tubuh ini.”
Victor terdiam saat mendengar penjelasan yang dikatakan Duke Aristotle. Tak menyangka bahwa pria itu cukup menaruh rasa curiga pada dayang bernama Rere sampai sebegitunya.
“Siapa sebenarnya wanita itu?” gumaman yang diucapkan oleh Victor mengundang Duke untuk meliriknya.
“Intinya dia seorang bangsawan yang tinggal di daerah County.” jawab pria itu serius.
...✾✾✾...
“Kau yang di sana! Panggil kepala pelayan ke sini.”
Perintah seorang pria yang tengah duduk santai di belakang meja kerjanya sembari memasukan sebuah surat ke dalam amplop berwarna keemasan dengan ornamen bunga mawar sebagai penambah kesan mewah.
Pergerakan sosok itu pun tak luput dari seseorang yang berada cukup jauh di samping kirinya. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada atasan sekaligus kekasihnya itu.
“Charles, untuk siapa surat yang kamu buat dengan sepenuh hati itu?” tanya Rocksy penuh selidik.
Mendengar namanya di sebut, Charles seketika tersenyum simpul sambil mengangkat benda tipis yang berada di sela-sela jarinya ke udara.
“Untuk tunangan ku, bukankah pesta ulang tahun Kaisar tinggal beberapa minggu lagi? Aku harus mengirimkan pesan untuk membuat baju pasangan.”
Rocksy yang mendengar penjelasan dari Pangeran Charles sedikit mengeram dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.
Padahal baru kemarin dia bertemu dengan Harmonie, kenapa tidak membicarakannya saat itu juga? Kenapa harus mengirim surat segala! Apa lagi mereka akan membuat baju pasangan untuk pesta ulang tahun Kaisar.
Dia benar-benar merasa kesal sekaligus cemburu pada Harmonie, kenapa wanita itu mendapatkan perlakuan special dari kekasihnya? Meskipun Rocksy tahu bahwa dua orang itu hanya berpura-pura saja demi kelancaran rencana Pangeran Charles, tapi tetap saja dia merasa tidak terima.
“Rocksy?” panggilnya pelan sambil beranjak dari kursi kerjanya menuju tempat di mana sang kekasih berada.
Jika di jelaskan secara singkat, Pangeran Charles memerintahkan beberapa pelayan untuk menggabungkan ruang kerjanya dengan Rocksy, agar keduanya bisa menghabiskan waktu bersama sambil berbincang-bincang pasal rencana yang akan di lakukan mereka kedepannya.
“Ada apa Pangeran?” tanya Rocksy tanpa minat sedikitpun.
Charles yang merasa aneh akan sikap kekasihnya segera menggenggam erat kedua tangannya dengan pandangan menelisik.
“Hey, katakan, kenapa kamu terlihat tidak seperti biasanya. Apa aku melakukan sebuah kesalahan?”
Rocksy pun menarik tangannya yang di genggam oleh Pangeran sambil menghela nafas panjang dan membuang pandangan ke sembarang arah.
“Kamulah yang terlihat tidak seperti biasanya. Bukankah kalian hanya berpura-pura saja? Kenapa harus membuat baju pasangan?”
Terdapat sedikit nada kekesalan yang di lontarkan Rocksy pada Charles, meskipun ekspresi yang di tampilkannya begitu datar.
Mendengar suara tawa Pangeran kedua, membuat Rocksy melemparkan tatapan tajamnya pada sang kekasih. Apa-apaan reaksi menyebalkan itu? Dia jadi makin merasa kesal sekarang.
“Tidak ada yang lucu di sini, Pangeran.”
Di akhir kalimat Rocksy tersenyum masam yang mana membuat Pangeran makin mengeraskan tawanya.
“Astaga ... Kamu cemburu? Rocksy sayang ku, andaikan kamu tahun bahwa Harmonie hanya ku jadikan sebagai alat saja, jika rencana penjualan organ tubuh yang kita lakukan terbongkar—”
“Aku tahu,” ia memotong perkataan Pangeran sembari menatap intens pria yang berdiri di samping tubuhnya.
“Tapi biasakah kamu tidak terlalu menempel padanya? Aku begitu risih saat melihat bahkan mendengar pujian yang di lontarkan para wanita bangsawan tentang kecocokan kalian berdua!”
Rocksy membentak dengan ekspresi wajahnya yang sudah merah padam. Pria itu tidak bisa menahan gejolak aneh yang menguap dalam hatinya. Namun itu semua terhenti saat kedua pundaknya di cengkraman erat oleh Charles, ia pun meringis pelan tanda merasa sakit.
Rocksy lantas mendongak menatap Pangeran dengan pandangan heran. Di detik selanjutnya wajah pria itu langsung memucat tak kala menjumpai ekspresi dingin dari kekasihnya yang tidak pernah ia lihat atau tunjukkan padanya.
“C-charles,” panggilnya gugup.
“Jika kamu menghalangi tujuan ku hanya karna rasa cemburu mu itu, maka aku tidak akan segan-segan melenyapkan mu, sayang ku.”
Manik mata Rocksy membulat sempurna saat mendengar sejumlah kalimat yang dikatakan Pangeran Charles.
Tok, tok, tok
Keadaan yang mencengkam seketika sirna saat seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Pangeran. Charles pun melepaskan cengkramannya pada kedua bahu Rocksy sambil membelai lembut wajah pria itu sebelum kemudian mengizinkan seseorang di luar sana untuk masuk ke dalam.
Sementara dari posisi Rocksy, ia hanya terdiam membisu sembari menatap punggung Pangeran Charles yang perlahan-lahan menjauh darinya.
...✾✾✾...
“Uhuk!”
Saat sedang duduk menulis hasil penelitian di atas kertas putih polos di depan jendela kamarnya, Rebecca di kejutkan dengan darah yang keluar dari dalam mulutnya.
Manik matanya seketika membesar melihat cairan kental itu membasahi gaun beserta meja belajarnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera bangkit berdiri dan pergi membersihkan darah yang mengotori tangan dan pakaiannya. Ia juga mengambil sebuah kain basah untuk membersihkan mejanya yang kecipratan darah.
Setelah menyelesaikan semuanya tanpa keributan sedikit pun, Ia lantas mendudukkan diri di pinggiran tempat tidur sembari memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Rebecca bertanya bingung pada dirinya sendiri sambil mengingat-ingat kejadian kemarin. Mungkin saja dia memakan sesuatu yang mengandung racun atau hal lainnya tanpa sadar. Namun, setelah hampir 15 menit berlalu, ia tak mengingat kejadian aneh di kemarin hari.
Lalu, kenapa aku bisa batuk berdarah? Apakah Rebecca memiliki penyakit fatal!? Tapi kenapa baru sekarang!
“Rebecca? Kamu mendengar ku?”
Ia mendongak menatap sekeliling langit-langit kamar. Berharap bahwa panggilannya itu di jawab oleh sosok tak kasat mata yang selalu bersama-sama dengannya.
‘Tumben sekali kamu memanggilku lebih dulu. Ada apa?’
Mendengar jawaban seseorang dari samping kanannya, segera Rebecca mengenyampingkan tubuhnya ke arah kanan dengan pandangan serius.
“Apakah kamu memiliki penyakit berbahaya?”
Tanpa diketahui olehnya, roh Rebecca asli mengernyit dalam saat mendengar pertanyaan dari sang lawan bicara.
‘Kenapa tiba-tiba bertanya tentang penyakit berbahaya? Tentu saja selama hidup, aku tidak memiliki penyakit fatal—mungkin cuma penyakit lambung saja.’
Kini balas ia yang mengernyit dalam saat mendengar jawaban yang di lontarkan roh Rebecca asli. Jika seperti itu, kenapa dia bisa batuk darah?
“Rebecca ... Sebenarnya aku tadi habis batuk darah. Jadi karna itu aku memanggil mu—”
‘Apa! Hei! Kau apakan tubuhku yang sehat-sehat ini!’ pekiknya yang membuat telinga Rebecca berdenging.
Ia lantas menatap tajam roh tak kasat mata itu sebelum kemudian menjawab dengan nada kesal.
“Tidak ada! Aku bahkan terkejut saat terbatuk darah! Kenapa kau jadi menuduh ku yang tidak-tidak, hah!”
Bentakan terakhir darinya menciptakan kesunyian di antara mereka. Rebecca kemudian menunduk dalam sembari menatap kedua telapak tangannya. Terbayang akan kejadian sebelumnya.
“Aku merasakan sesuatu yang aneh. Tapi kenapa baru sekarang, ya?” tanyanya bingung.
‘Eh, aku juga sama.’
Rebecca mendongak sambil mengangkat salah satu alisnya sebagai respon saat mendengar sahutan dari samping kanannya. Ternyata roh itu belum beranjak pergi dari tempatnya.
“Apa maksudmu? Kau batuk darah juga?”
Roh Rebecca asli langsung menepuk jidatnya sambil menggeleng pelan saat mendengar pertanyaan aneh dari teman perempuannya.
‘Bodoh, mana mungkin roh gentayangan seperti ku bisa batuk berdarah. Ckckck.’
Ia berdecak kesal di akhir kalimat sembari berkacak pinggang.
“Lalu?” Rebecca sekali lagi bertanya bingung. Dia masih belum memahami arti kata yang sebelumnya diucapkan roh itu.
‘Aish! Maksud ku adalah, aku juga merasa aneh hari ini. Eh, bukan, lebih tepatnya sejak saat pesta teh yang di laksanakan oleh Harmonie, kau ingat bukan?’ tanyanya yang di balas anggukan singkat dari lawan bicara.
‘Roh ku terasa di tarik saat terlalu dekat atau berlama-lama dengan mu. Seperti sekarang ini, rasanya aku—’
Tok, Tok, Tok
Ketukan pintu yang terdengar cukup nyaring di dalam ruangan, memberhentikan pembicaraan mereka. Setelah mengizinkan sosok di luar sana untuk masuk, terlihat Olivia yang datang mendekat kearahnya.
“Nona, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.”
Rebecca mengernyit heran saat mendengar perkataan Olivia. Siapa yang mau bertemu dengannya? Padahal ia tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini.
“Siapa orang itu?” tanya Rebecca penasaran. Terlihat Olivia berpikir sejenak sebelum kemudian memberikan sebuah jawaban.
“Kalau tidak salah, namanya Eros.”