Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Kerja sama >



...Happy Reading...


.......


.......


.......


"Katakan, ada urusan apa sampai anda datang ke sini tanpa surat pemberitahuan."


Wanita bersurai Lilac itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap datar seorang pria yang hampir saja menjadi adik iparnya jika saja Pangeran pertama tidak meninggal secara tiba-tiba.


"Jangan terlalu bersikap dingin seperti itu, karna aku membawakan sebuah negosiasi yang menguntungkan untuk mu, Lady Harmonie..."


Senyuman kecil di ujung bibirnya membuat Harmonie menaikan salah satu alis tidak percaya. Dia lantas terkekeh pelan sembari menyugarkan rambut lembutnya.


"Sepertinya anda tidak pernah menyerah, bukankah waktu itu sudah jelas kami katakan tidak akan mendukung faksi anda, Yang mulia terhormat."


Lontaran itu berhasil membuat Pangeran mengepalkan salah satu tangannya menahan amarah. Jika saja Rocksy tidak menyuruhnya, mana mau dia masuk ke tempat terkutuk ini. Sungguh membuatnya jengkel.


Menghembuskan nafas pelan, ia tersenyum lagi sambil menatap wajah sang lawan bicara, "Tetapi aku yakin kali ini Lady akan menyukainya, karna dengar-dengar Killian sudah tidak peduli pada mu. Percuma kan gosip yang Lady buat-buat selama ini...?"


Pangeran menyeringai tipis menatap Harmonie yang sekarang menunjukkan raut terkejutnya. Terlihat rahang wanita itu sedikit mengeras, menatap dingin Pangeran yang masih setia menunjukkan senyuman kecilnya.


Bagaimana bisa dia mengetahui rencana ku?


"... Sepertinya Pangeran kita kurang kerjaan hingga harus memata-matai keluarga Rone."


Jawaban itu membuat Pangeran kedua terkekeh pelan, ia lalu bergerak mengeluarkan sebuah kertas putih yang di lipat rapi kemudian meletakannya ke atas meja.


"Karna aku kurang kerjaan, maka tidak banyak waktu untuk berbincang dengan mu." Dia bangkit dari duduknya sambil merapikan kemeja yang kusut, "Itu surat negosiasinya, aku tidak akan memaksa mu untuk membacanya. Hanya ada satu hal yang ingin ku katakan...," ucapnya menyeringai tipis sambil mendekati Harmonie.


Pangeran lalu menunduk sembari berbisik pelan di telinga wanita itu, ".... Kau ingin hidup mewah kan?"


Bola mata Harmonie seketika membola, dia tidak bergeming beberapa detik ke depan. Sampai terdengar suara pintu tertutup barulah dia mengerjap pelan menyadari dirinya sudah sendirian di dalam ruangan tamu.


Bola mata peraknya kini bergulir menatap lama kertas putih yang ada di atas meja, dengan pikiran yang kacau balau. Dia lantas mengambil kertas tersebut dan meremasnya kuat, tetapi di detik selanjutnya wanita itu berhenti sebentar.


Kau ingin hidup mewah 'kan?


Suara Pangeran yang terus memutar di kepalanya membuat Harmonie kesal, dia pun berteriak sambil melempar vas bunga yang ada diatas meja ke arah dinding ruangan.


"Hahaha! Kita lihat, negosiasi seru apa yang dia berikan..."


Dengan tangan yang terkepal erat, Harmonie menatap nyalang surat yang ada dalam genggamannya.


...∆••∆...


Menjelang makan siang para pekerja, seorang wanita bersurai hitam tengah duduk beristirahat di bawah pohon rindang sambil menunggu jemuran sang tuan muda kedua kering.


Wajahnya terlihat tenang saat menutup kedua kelopak mata, tetapi tidak dengan pikirnya sekarang. Rebecca saat ini tengah bergulat dengan beberapa rencana yang ia susun, mengingat perubahan alur novel yang semakin kacau.


Sempat dia berdecak kesal kemudian menghela nafas pelan, masih setia menutup kedua matanya menikmati semilir angin yang berhembus membawa aroma pakaian yang tadi ia cuci.


Sampai tiba-tiba kedamaian tersebut hilang saat suara seorang pelayan berteriak memanggil-manggil namanya dari kejauhan.


"Rere," panggilnya sumbang.


Segera Rebecca membuat kedua kelopak mata menatap sosok wanita yang rambutnya di cepol ke atas, sedang terengah-engah sehabis berlari.


"Ada apa?"


"Susu ... Hah ... Mengamuk--tuan, hah ... hah... "


Rebecca menepuk jidatnya tidak mengerti akan bahasa planet yang di katakan pelayan bernama Helen ini, dia lantas berdiri sambil mengusap pelan punggung wanita itu.


"Tarik nafas ... Hembusan ... Tarik nafas ... Hembusan..."


Helen mengikuti apa yang di katakan Rebecca pelan-pelan, setelahnya wanita itu bisa bernafas normal. Ia lalu berterima kasih pada Rebecca sambil menyeka pelu yang bercucuran menggunakan lengan bajunya.


"Sekarang katakan, apa yang ingin kamu sampaikan."


"Tuan muda mengamuk, karena susu yang di buat tadi berbeda rasanya. Karna itu Nyonya menyuruh saya untuk memanggil mu, untuk sekedar menunjuk koki yang membuat susu tuan muda pagi tadi."


Penjelasan panjang kali lebar kali tinggi itu di dengar oleh Rebecca, ia pun mengangguk pelan seraya menatap Helen yang masih diam menunggu jawabannya.


Sambil berlalu pergi, Rebecca malah cengegesan sendiri ketika mengetahui bahwa susu buatannya di sukai Mikel. Sepertinya ia punya cara lain untuk membuat anak itu tetap patuh kedepannya.


Hehehehe... tidak sia-sia juga usaha ku,


Helen yang ada dibelakang Rebecca malah menatap heran tingkah laku teman setempat kerjanya yang terlihat aneh sekaligus menyeramkan. Jujur saja ia tidak dapat mengerti jalan pikiran Rere saat ini.


...∆••∆...


Dalam ruangan kerja yang cukup senyap, seorang pria bersurai hitam tengah menatap ke arah luar jendela dengan kedua tangan dalam saku celana.


Selama beberapa saat ia termenung mengingat memori lama yang cukup membuat pikirannya kacau. Dia pun meringis pelan saat bayangan-banyangan seseorang yang bersimpah darah muncul tiba-tiba dalam benak.


"Aku harus melindunginya ... Rebecca," ucapnya pelan sembari menatap sayu taman kediaman.


Tiba-tiba suara ketukan pintu yang terdengar nyaring membuyarkan lamunannya. Killian berbalik, di dapatinya seorang pria yang tidak lain kesatria pribadinya.


"Tuan, ada beberapa penyihir utara yang datang berkunjung. Sepertinya mereka tertarik dengan penemuan spirit stone langkah anda," jelas Aaron kesatria pribadi Killian.


Ia menaikan salah satu alis sambil mengerjap pelan, "Katakan aku akan segera kesana."


Aaron mengangguk paham, "Baiklah tuan, saya pamit undur diri. Salam."


Dia berbalik sambil menutup pintu ruangan kerja Killian, di ikuti helaan nafas pelan dari pemilik ruangan. Sepertinya dia akan segera bertemu dengan penyihir yang membantunya saat itu, dan akan memberikan imbalan sesuai keinginannya.


Sebelum pergi menemui para penyihir, Killian mengambil sebuah bingkai foto ukuran kecil yang ia letakan sejak lama di atas meja kerja.


Menatap wajah seorang wanita yang tengah tersenyum. Perlahan-lahan tangannya bergerak menyentuh permukaan foto tersebut sambil melengkungkan senyuman kecil.


Rebecca sungguh sangat cantik jika tersenyum seperti ini, tapi entah apa yang terjadi pada wanita itu. Dia yang sekarang sudah sangat jarang tersenyum, dan hanya menunjukkan raut tidak nyaman serta kaku.


Ia menatap sayu foto itu, "Maafkan aku, Rebecca. Kali ini aku pasti akan melindungi mu," ucapnya yakin.


Killian lalu meletakan kembali bingkai foto di atas meja seperti semula dan beranjak pergi dari dalam ruangan, ingin menemui beberapa penyihir yang datang ke kediamannya.


...∆••∆...


Ceklek.


Pintu ruangan makan di buka oleh Helen yang datang bersama-sama dengan Rebecca. Suasana dalam ruangan cukup senyap ketika mereka sampai, dan ada beberapa koki yang sedang berjejer di sebelah meja makan dengan kepala tertunduk takut.


Tapi saat mereka melihat Rebecca, senyuman lega seperti melihat sang penyelamat muncul di setiap wajah para koki kediaman.


Kenapa mereka menatap ku begitu?


Keduanya lalu membungkuk memberi salam hormat sebelum mendengar penjelasan dari Duchess.


"Rere, syukurlah kamu datang. Sekarang katakan, siapa koki yang membuat susu Mikel pagi tadi?" tanyanya penasaran.


Rebecca pun tersenyum sambil menjawab, "Saya yang membuat susu tuan muda pagi tadi, nyonya." Jawaban itu reflek membuat semua koki memandangnya tekejut. Termasuk kakak beradik Aristotle--oh jangan lupa juga Duke.


"Kamu ternyata yang membuatnya? Ku pikir koki kediaman."


"Tidak mungkin kau! Pasti dia berbohong, mana bisa Rere melakukan pekerjaan dapur!" timpal Mikel yang membuat Rebecca tersenyum kesal dengan perempatan imajiner yang muncul di dahinya.


"Saya tidak berbohong. Tuan muda," jawabnya menekan kata berbohong sambil tersenyum kecil.


"Kalau begitu buatkan susunya sekarang, karna aku juga ingin mencicipinya."


Tuan muda pertama kini angkat bicara membuat Rebecca mendelik dengan tatapan tidak mengerti padanya.


"Ibu juga setuju dengan perkataan Christof. Jadi kamu bisa membuat tiga susu--"


"Aku juga ingin merasakannya," timpal Duke tiba-tiba yang membuat seluruh koki terkejut. Ini adalah kali pertama tuan mereka mau mencicipi susu buatan tangan orang lain yang belum lama bekerja di kediaman.


Rebecca pun tersenyum kaku di tempat.


Apa aku harusnya membuka usaha cafe susu ya?


"Baiklah, akan saya buatkan. Saya permisi dulu."


Rebecca segera pergi dari sana menuju dapur kediaman, sementara beberapa koki yang melihat kepergiannya segera mengekori dari belakang. Ingin mengetahui cara seperti apa yang di gunakan Rebecca dalam proses pembuatan susu.


^^^To be continued...^^^