
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Besoknya di kediaman Aristotle sedang di hebohkan tentang perubahan tuan muda kedua, yang kata para pelayan sedang belajar di perpustakaan utama. Tidak hanya itu saja, ada juga desas-desus lain soal berubahnya Mikel berkat bantuan dayang Rere yang kemarin datang berkunjung ke ruang belajar tuan muda ke dua.
Berita itu pun langsung menyebar dan sampai ke telinga pasangan Aristotle dan juga anak tertua mereka. Hingga sang Duchess harus pergi memastikan hal tersebut benar atau tidak.
Tok .... tok .... tok
Suara ketukan pintu mengusik seorang yang sedang duduk membaca buku, ia pun menoleh saat pintu terbuka. Menatap lurus seorang wanita yang sekarang sedang berjalan mendekatinya.
"Ada apa ibu?"
Mikel bertanya sembari berganti pandang pada buku yang ada dalam gengamannya. Sedang Duchess sendiri, ia tidak dapat berkata-kata lagi saat melihat anaknya sedang belajar. Ternyata gosip itu tidak salah.
"Emm .... mau ibu bawakan sesuatu? Teh? Atau kue?" tanyanya penuh sayang, sebab merasa sangat senang akan kejadian langka ini.
Sebenarnya mantra apa yang di gunakan Rere sampai anak keduanya mau belajar pagi buta begini.
"Tidak. Aku sudah memilikinya, ibu bisa keluar sekarang."
Jawaban itu segera di patuhi oleh Duchess karena dia tidak ingin anaknya terganggu dan malah berhenti belajar.
Sesudah pintu tertutup, wanita itu lekas-lekas memanggil butler kediaman untuk mengundang seorang pelukis terkenal yang ada di kekaisaran untuk segera datang ke kediaman Aristotle.
"Lalu di mana Rere?" tanyanya pada butler kediaman sebelum melangkah pergi.
"Dia belum datang, nyonya. Mungkin sebentar lagi."
Dengan nada yang terdengar sangat sopan, pria itu menjawab pertanyaan majikannya.
"Baiklah .... jika dia sudah datang, katakan untuk ke ruangan kerja Duke terlebih dahulu."
"Baik, nyonya."
Segera Duchess berbalik pergi dari sana menuju ruangan kerja suaminya, sementara butler kediaman langsung bergerak menunjuk beberapa pelayan agar berjaga di depan gerbang kediaman, untuk menyambut kedatangan Rebecca.
Saat waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, Rebecca baru saja turun dari dalam kereta kuda dengan tas selempang berwarna abu-abu yang melingkar di atas pundak kanan hingga ke pinggangnya.
Baru saja ia menginjakkan kaki di atas jalan setapak kediaman Aristotle, beberapa pelayan sudah menyambutnya dengan ramah. Mereka juga menyerahkan satu buket bunga, membuat Rebecca kebingungan di tempat.
"Kamu sangat luar biasa Rere! Cara apa yang kamu pakai sampai tuan muda kedua jadi begitu?"
"Benar, benar, aku ingin tahu!"
"Itu nanti saja, sekarang Nyonya dan tuan sedang menunggu mu di ruangan kerja mereka. Ayo!"
Pembicaraan yang tidak di mengerti Rebecca semakin membuat ia bingung. Di tambah mereka sudah menyeretnya pergi ke ruang kerja Duke tanpa menjelaskan apa-apa padanya.
Kenapa mereka jadi aneh? Padahal kemarin baik-baik saja deh,
pikirnya menatap satu persatu wajah pelayan yang membawanya kedalam kediaman.
Setibanya mereka di depan pintu ruangan, lekas-lekas benda itu di ketuk hingga terdengar suara dari dalam mengizinkannya untuk masuk.
Segera mereka mendorong punggung wanita itu untuk masuk kedalam ruangan. Dua pasang mata segera menangkap sosok Rebecca yang muncul akibat dorongan dari para pelayan tadi.
"Sa-salam, Nyonya dan Tuan."
Ia menunduk sopan kemudian menegakkan tubuh kembali dengan tidak memandangi wajah majikannya, sesuai aturan yang terserah di buku. Namun secara tiba-tiba Duchess mendekat dan mengambil buket bunga yang ada dalam genggaman Rebecca.
Grep!
Satu buah pelukan langsung yang di berikan nyonyanya, membuat Rebecca terkejut. Kenapa Duchess memeluknya? Apa yang sebenarnya terjadi disini?
Beberapa pertanyaan yang muncul dalam kepala, langsung terjawab saat Duchess berbicara tepat di samping telinganya.
"Terima kasih Rere! Berkat mu Mikel mau belajar!"
Akhirnya dia bisa mengerti mengapa mereka bertindak aneh sejak awal, ternyata itu ada hubungannya dengan si tuan muda ke dua. Tetapi, bukankah ini terlalu berlebihan? Sebenarnya seberapa malas Mikel itu?
Di detik selanjutnya, Duchess segera melepaskan pelukannya sambil menatap mata violet Rebecca.
"Katakan apa yang kamu inginkan? Akan ku berikan apapun sebisa ku."
Perkataan itu sontak membuatnya terkejut kembali, bukankah ini sebuah keberuntungan yang tidak boleh di sia-siakan?
Beruntung sekali dirinya ini, padahal ia melakukan hal itu agar Mikel tidak mengganggunya dalam proses bekerja, tetapi yang terjadi malah dia mendapat jekpot besar dari Duchess.
"Emm .... saya hanya ingin di naikan gaji saja .... boleh kah?"
...∆••∆...
Mengingat gajinya yang di tambah dua kali lipat, siapa yang tidak senang? Jika di hitung-hitung gajinya ini hampir sama dengan gaji butler kediaman.
"Ternyata anak menyebalkan itu bisa membuat ku jadi kaya, aku harus menemuinya saat jam istirahat," ucapnya sembari lanjut menyeka debu yang masih menempel di atas meja samping tempat tidur.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat Rebecca harus memberhentikan aktifitasnya sebentar kemudian bergerak membuka pintu kamar.
Di depan pintu berdiri seorang pria yang ia kenal siapa itu, lekas-lekas Rebecca menunduk memberi salam hormat pada tuan muda pertama.
"Maaf sebelumnya, tetapi tuan Mikel sedang belajar di perpustakaan."
Tanpa basa-basi lagi ia langsung menjawab pria itu, sambil berfikir mana mungkinkan tuan muda pertama datang ke sini hanya untuk mencarinya? Sangat mustahil—
"Aku mencari mu, bukan Mikel."
Rebecca langsung mem-beo di tempat, dia tidak dapat mengontrol ekspresinya yang sedang bengong sekarang.
"Tapi kenapa saya—"
"Ikuti aku."
Tanpa menjawab, tuan muda pertama segera pergi meninggalkan Rebecca. Wanita itu pun berdecak kesal sembari mengikuti majikannya dari belakang dengan tergesa-gesa, sebab perbedaan langkah kaki mereka sangat jauh.
Sesampainya mereka di ruangan pribadi milik tuan muda pertama, Rebecca langsung di perintahkan untuk duduk terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan. Wanita bersurai hitam itupun segera mematuhi perintah tersebut, dan menempati sebagian dari sofa panjang yang ada di sudut ruangan.
" .... silahkan berbicara tuan muda," ucapnya membuka obrolan, sebelum waktu istirahat tiba.
Karna Rebecca masih memiliki banyak perkerjaan sebelum menemui Mikel. Mereka pun duduk saling berhadapan dengan meja bundar sebagai pemisahnya, lantas manik merah muda yang tampak dingin itu menatap Rebecca cukup lama sebelum kemudian berbicara.
"Siapa kamu sebenarnya?"
Sontak Rebecca kaget, tapi ia berusaha untuk tetap tenang dalam kondisi sekarang. Jika dirinya panik, maka tuan muda pertama pasti akan curiga.
"Saya? Saya Rere, tuan muda. Mengapa Anda bertanya hal yang sudah pasti," jelasnya sambil menunjukkan raut wajah se-polos mungkin agar pria di hadapannya ini percaya.
Terdengar dia mendengus berat sembari berpangku kaki dengan kedua tangan saling menyilang di depan dada.
"Aku tahu kamu mengerti apa yang ku katakan, tanpa perlu menjelaskannya secara bertele-tele."
Dia menekan setiap perkataan yang di keluarkan. Bagaimana tidak? Rere ini memiliki pemikiran yang sangat luas dan berbeda dari para pekerja yang ia temui di kediaman Aristotle.
Dengan arti lain, dia bukan sekedar wanita biasa yang hanya ingin mencari uang untuk bertahan hidup. Pasti Rere memiliki niat tersembunyi.
Sebelum berbicara, Rebecca menghela nafas pelan sembari menatap lurus ke dalam mata tuan muda pertama, yang namanya saja tidak di ketahui Rebecca. Sebab si penulis tidak terlalu menjelaskannya dalam novel.
"Ini pasti tentang tuan muda Mikel, anda penasaran kan? Mengapa sampai dia belajar?" tanyanya balik.
"Jelaskan."
Sudah Rebecca duga, ternyata dia bertanya seperti itu karena ada hubungannya dengan perubahan Mikel. Sama seperti sebelumnya, pasangan Aristotle juga penasaran akan apa yang sudah ia katakan pada tuan muda ke dua, sampai dia mau belajar.
"Saya dan tuan Mikel hanya bertaruh saja. Jika dia mendapat nilai seratus di pelajaran sejarah, maka saya akan memberikan hadiah. Namun kalau tidak, maka dia akan belajar dengan rajin."
Rebecca sedikit mengubah cerita yang sebenarnya, agar pria ini berfikir bahwa hal yang mereka lakukan sangat kekanak-kanakan tapi masuk akal. Sama seperti yang ia ceritakan kepada Duke dan Duchess Aristotle.
...∆••∆...
Jam istirahat telah di depan mata, seseorang yang sudah menunggu sedari tadi bergegas pergi ke arah perpustakaan utama, untuk mengecek keadaan sang tuan muda kedua.
Baru saja akan mengetuk pintu persegi panjang itu, tarikan dari dalam sudah mendahului pergerakan Rebecca.
"Kenapa kau ke sini?" lontarnya dengan nada bosan seperti sediakala.
Wanita Dowis itu berbatuk kecil, menatap anak laki-laki bersurai perak secara intens.
"Anda baik-baik saja kan? Bukankah menyenangkan jika belajar?" ejek Rebecca sembari menggerakan kedua alisnya naik-turun.
Decakan kesal terdengar ketika di rasa sang dayang sedang mengejeknya. Buru-buru Mikel melangkah pergi dari sana sambil membawa satu buah buku sejarah yang tebalnya tidak terkira.
Rebecca tertawa kecil sambil mengekori sang majikan yang sudah cukup jauh.
"Tuan muda, anda sepertinya sangat tertekan."
Tatapan sinis seketika di berikan Mikel. Tunggu saja, jika nanti nilai ujiannya seratus, maka orang yang pertama harus melihat itu adalah Rere sendiri. Lalu dari situlah dia akan berbalik mempermalukan wanita menyebalkan ini.
"Kau sungguh sangat berisik! Enyahlah!" bentaknya sembari menginjak sepatu hitam Rebecca.
Wanita itupun mengaduh kesakitan seraya menatap tajam Mikel yang sekarang sudah pergi meninggalkannya. Sekali lagi dia harus bersabar, sebab Mikel adalah salah satu kunci untuknya agar mendapatkan uang tambahan serta kenaikan gaji.
"Aku harus menyusun rencana lagi."
^^^To be continued ....^^^