Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Mengundurkan Diri >



Lorong gelap nan lembab seketika terlihat saat ia membuka kedua kelopak matanya.


Mengeryit heran, pria itu lantas menyapu pandang ke sekitar tempat yang minim pencahayaannya seiring dengan tungkai kakinya bergerak maju.


Rasa familiar seketika menyeruak dalam hati ketika ia semakin dalam menelusuri lorong tersebut. Dia merasa seperti pernah mendatangi tempat ini sebelumnya.


Sejauh mata memandang, ia melihat sebuah pintu besar yang berdiri tegak beberapa meter di depannya.


Bergegas dia mendekati pintu itu dan segera mendorongnya setelah tiba di sana.


Matanya seketika membola saat ia melihat sejumlah penjara yang berjejer rapi dengan obor yang menggantung di setiap sisinya.


Sampai tiba-tiba beberapa serangan ingatan masuk ke dalam benaknya, membuat dia mengerang pelan.


Sekarang ia ingat. Alasan dia datang kesini adalah untuk menyelamatkan wanita yang ia cintai setelah semuanya berakhir.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera pergi dari sana.


Ketika pria itu hampir sampai pada tujuannya, dari kejauhan ia melihat siluet seseorang yang terkapar di atas lantai dingin dengan keadaan yang cukup menggenaskan.


Langkah yang sempat terhenti akibat penampakan yang di lihatnya, perlahan mulai bergerak sedikit demi sedikit.


Detak jantungnya memompa cepat dengan mulut yang terus menggumamkan beberapa kalimat permohonan tatkala ia semakin dekat dengan tujuannya.


Namun naas. Sekarang di hadapannya terbaring sosok wanita yang ia cintai dengan darah di sekujur tubuhnya, akibat sebilah pedang yang menancap tepat di daerah jantung.


Tak kuasa menahan rasa keterkejuatan yang menderanya saat ini, membuat kedua betis pria itu bergetar hebat sebelum kemudian jatuh berlutut di samping tubuh yang sudah mendingin.


Cairan asin yang sejak tadi tertampung dalam pelupuk matanya, seketika menetes membasahi kedua sisian wajah sang pria yang kini menatap kosong sosok di depannya.


Kedua telapak tangan kokoh miliknya mulai bergerak merengkuh tubuh sang kekasih yang sudah tidak bernyawa. Mempertanyakan apa yang sudah terjadi pada dirinya sendiri.


“Rebecca…”


Deg!!


Killian seketika tersentak kaget saat mimpi buruk yang kerap sekali menyapanya setiap ia tertidur, semakin menjadi-jadi dari waktu ke waktu.


Mereka seperti mengingatkannya tentang tujuan awal pria itu memutar waktu.


Mencoba untuk tetap tenang, ia lantas bergerak mengambil segelas air yang setiap malam selalu tersedia di atas meja samping tempat tidurnya.


Rasa lega seketika memenuhi tenggorokannya di kala cairan itu melesat masuk ke dalam tubuh.


Meletakan kembali gelas kosong ke atas nakas, maniknya tiba-tiba menangkap foto seorang wanita yang sangat ia sayangi sedang tersenyum lembut.


Sekejap, ia ikut tersenyum saat mengingat senyuman Rebecca yang sudah jarang sekali terlihat.


Entah karena apa, wanita itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Kadang dia terlihat seperti Rebecca pada umumnya, tapi kadang dia terlihat seperti orang lain. Mungkinkah itu efek karena dia yang telah memutar waktu? Jika itu benar, Killian merasa sangat bersalah.


Tapi, mau bagaimana lagi. Hanya itu jalan satu-satunya untuk menolongnya.


Mengingat saat dimana dia tidak dapat menolong Rebecca saja sudah membuatnya frustasi. Apalagi dengan membiarkannya begitu saja tanpa melakukan apapun.


Andaikan saat itu dia bertindak cepat dan mengumpulkan bukti yang kuat, pastilah ini semua tidak akan terjadi.


Killian meremas kuat selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Melampiaskan kekesalannya pada benda mati itu.


Jika saja dia tidak terperangkap rencana busuk Marquess Rone, pastilah dia sudah hidup bahagia bersama sang kekasih.


Namun, tidak ia sangka bahwa Marquess juga memanfaatkan Rebbeca dalam aksinya itu. Membuat wanitanya termakan gosip sekitar dan meracuni pikirannya untuk membunuh Harmonie.


“Ini semua salah ku,” ucapnya parau sembari menatap sayu bingkai foto yang tergeletak di atas nakas.


Kembali lagi ia teringat akan perbincangannya dengan Aaron di malam sebelum Rebbeca berubah drastis.


Saat itu Killian tengah di sibukkan oleh berbagai tugas serta tanggungjawabnya sebagai calon Kandidat Kekaisaran yang di tunjuk oleh Kaisar, setelah Pangeran pertama wafat beberapa minggu yang lalu.


Dia tidak memiliki waktu lebih bahkan untuk sekedar beristirahat. Apalagi dengan gosip yang beredar tentang hubungannya bersama Harmonie, makin membuat Killian tidak paham lagi dengan para bangsawan.


Padahal ia hanya menemani sahabatnya saja karna merasa ibah. Tapi kenapa sampai mereka berfikiran seperti itu? Tidakkah mereka sadar bahwa dia sudah memiliki tunangan? Apa jadinya nanti ketika Rebecca mendengar gosip tersebut.


Namun, Killian yakin bahwa wanita itu tidak akan termakan kabar burung yang tidak jelas asal-usulnya. Semoga saja.


"Menurut mu, bagaimana perasaan Rebecca saat mendengar rumor itu?"


Killian bertanya pada pengawal pribadinya, yakni Aaron. Pria itu nampak menimbang-nimbang jawaban apa yang ingin di katakannya.


"Bukankah sejak awal ini hanya pertunangan yang tidak memiliki perasaan sedikitpun di dalamnya, dan hanya untuk mengambil keuntungan saja? Jadi ... Lebih baik anda bersama dengan Lady Harmonie saja," ucapnya memberikan pendapat yang membuat sang majikan tersenyum kecil sampai Aaron tidak dapat melihat senyumannya itu.


"Kau benar—" Killian memberhentikan kegiatan menulisnya. "Tapi, sepertinya aku sudah jatuh hati pada Rebbeca, Aaron."


Ya, tingkah Rebecca yang begitu menggemaskan dalam pandangannya, cukup membuat Killian tertarik dan perlahan-lahan membuka perasaannya pada wanita itu.


Tanpa ia sangkah, semua bermula dari sana. Ternyata sejak kematian Pangeran pertama, Marquess Rone yang tidak ingin hidupnya jadi susah.


Membuat rencana agar anaknya bisa di tunangkan dengan Killian, setelah pria itu di tunjukan sebagai Kandidat kedua oleh Kaisar sendiri.


Maka dari itu, dia membuat gosip kedekatan Harmonie dan Killian.


Semua rencana itu di dengar langsung oleh Killian saat di mana Rebecca sudah di penjara akibat tindakan yang ia lakukan pada Harmonie.


Ahli-ahli ingin membongkar semua kebusukan Marquess, dia malah di ancam akan menjatuhi hukuman mati pada Rebbeca kalau Killian tidak mau menerima Harmonie sebagai tunangannya.


Dengan terpaksa ia harus melakukan itu semua sembari mengumpulkan bukti untuk membebaskan Rebbeca yang tinggal seorang diri saja.


Namun, semuanya gagal total. Banyak masalah yang harus ia hadapi.


Apalagi dengan Marquess yang mengetahui tujuannya untuk membebaskan Rebecca, makin membuat Killian tersudut.


Hingga ia tidak dapat melakukan apa-apa lagi dan harus melihat kematian dari wanita yang ia cintai.


Karna itulah dia melakukan sihir pemutar waktu yang di bantu oleh Eros untuk menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan pada Rebbeca.


Dan kali ini, dia tidak akan gagal lagi untuk menyelamatkan seseorang yang berharga baginya.


"Akan ku selidiki, siapa sebenarnya yang membunuh Rebecca."


...✾✾✾...


Angin sepoi-sepoi, matahari cerah, dan awan yang memayungi. Menampilkan suasana indah nan sejuk dalam pandangan. Siapapun yang melihatnya akan ikut takjub dan merasa tenang saat memerhatikan keadaan sekitar.


Namun itu hanya berlaku pada beberapa orang saja. Tidak dengan wanita bersurai hitam yang sedang menunjukan ekspresi datar hingga siapapun yang berpapasan dengannya akan merasa enggan untuk sekedar menyapa.


Dia terlalu larut dalam pikirannya sampai tidak mengkondisikan raut wajahnya.


Mengingat selama beberapa hari ini ada sesuatu yang janggal terjadi, termasuk perubahan majikannya yang jadi terlihat lebih pendiam dari biasanya. Itu membuat Rebbeca merasa aneh.


Hal berikutnya yang mengganggu pikirannya adalah tambahan alur cerita yang tidak ada dalam novel.


Di mulai dari undangan minum teh para putri bangsawan dari Harmonie sang pemeran utama wanita yang di adakan lusa depan, serta ajakan kencan dari Killian di esok hari.


Dia bingung harus berbuat apa sekarang. Banyak jalan cerita novel yang sudah melenceng jauh dari cerita aslinya, dan itu tidak baik untuk Rebecca yang hanya bergantung pada jalan cerita novel asli.


Jika seperti ini terus, maka dia harus bergerak cepat dan mempersiapkan rencana cadangan lainnya, jika sewaktu-waktu ada kejadian tak terdunga yang membahayakan satu keluarga Dowis.


Namun sebelum itu, sesuai janjinya bersama dengan sang ayah waktu itu—Di mana Rebecca harus mengundurkan diri dari pekerjaannya—Maka dia akan menepatinya sekarang juga.


Lagi pula, uang yang sekarang ia miliki sudah bisa untuk membeli sebuah restoran ataupun lahan untuk di jadikan tempat berbisnis. Otak pintarnya ini sangatlah hebat dalam menyusun rencana atau mencari keuntungan lebih dalam pekerjaan.


Tak sia-sia dia belajar giat meskipun harus mati dan berpindah tempat ke dalam dunia novel.


Tok, tok, tok


Suara ketukan yang menggema dalam ruangan, membuat eksitensi pemilik kediaman menoleh kearah pintu berukuran besar yang menjadi satu-satunya jalan masuk ke dalam ruangan.


Pintu pun terbuka setelah mendengar izin dari dalam tanda memperbolehkan seseorang di luar sana untuk masuk menghadapnya.


Sosok familiar yang nampak dalam pandangan sang Duchess, membuat wanita itu tersenyum lembut.


Segera dia menggundang Rebecca untuk mendekat hendak bertanya perihal apa sampai ia datang ke ruang kerjanya.


“Salam untuk anda, Nyonya Duchess.”


Ia menuduk memberikan salam ala-ala bangsawan sebelum kembali berdiri tegap menatap wanita rupawan dengan paras lembut yang tengah duduk di hadapannya.


“Tumben sekali kamu ke sini, Rere. Apa ada suatu hal penting yang ingin di bicarakan?”


Sebelum menjawab pertanyaan Duchess, Rebecca menghela nafas pelan memikirkan kata-kata apa yang cocok untuk di jadikan sebuah alasan yang masuk akal pada sang majikan.


“Saya … Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini Nyonya.”


Manik indah milik wanita ibu Mikel membola saat mendengar penuturan yang di ucapkan oleh Rebecca selaku dayang pribadi anaknya.


“Ap-apa! Kenapa? Tiba-tiba saja kamu ingin mengajukan pengunduran diri seperti ini, apa gaji mu masih kurang? Mau ku tambahkan?”


Hampir saja Rebecca menganggukan kepalanya saat mendengar kalimat terakhir yang di katakan Duchess.


Siapa juga yang tidak mau gajinya di naikan. Sayang sekali dia harus menolaknya, mengingat janji yang telah ia buat waktu itu.


Gara-gara ayahku, aku rugi besar.


“Ti-tidak Nyonya. Gaji saya lebih dari cukup. Alasan saya ingin mengundurkan diri adalah karna orang tua saya yang penyakitnya semakin parah. Maka dari itu saya ingin merawat mereka.”


Duchess terlihat mengeryitkan dahinya memikirkan sesuatu. Selepas itu dia terlihat mengangguk mantap.


“Baiklah,” ucapnya melipat kedua tangan di atas meja.


Rebecca yang melihat respon wanita itu, sedikit menunjukkan senyumannya. Dia pikir akan mengalami kendala saat mengajukan pengunduran diri seperti ini, ternyata tidak.


“Bawalah orang tua mu ke rumah sakit yang ada di ibu kota. Biar aku yang akan menanggung biaya perawatannya, asalkan kamu tidak mengundurkan diri dari pekerjaan ini.”


Rebecca termangu di tempat saat mendengar kalimat lanjutan dari bibir majikannya. Sepertinya ini tidak akan berakhir begitu saja.


Haa... Aku jadi harus mengeluarkan taktik selanjutnya agar di bebaskan dari tempat ini, benaknya menghela nafas panjang.