
Manik indah milik Duchess masih saja menatapnya intens. Sedang menunggu jawaban yang akan di katakannya sebagai keputusan final.
Menghela nafas pelan. Rebecca yang sudah mengumpulkan beberapa taktik untuk lolos dari sini pun mulai berbicara.
“Saya sangat berterima kasih atas kepedulian yang anda berikan Nyonya. Tapi, saya tidak bisa menerima hal itu.”
Kerutan di dahi Duchess menunjukan bahwa dia merasa bingung akan keputusan yang di ambil Rebecca.
Bukankah lebih baik untuk memasukkan orang tuanya ke rumah sakit ibu kota, agar mereka baik-baik saja? Kenapa sampai Rere menolaknya?
“Rere, apa maksudnya semua ini? Kau tidak ingin orang tua mu sembuh?”
Rebecca menggeleng pelan. Menolak asumsi yang di katakan majikannya. Mana mungkin dia sejahat itu pada orang tuanya, meskipun ini hanya kebohongan belaka saja.
“Saya sudah mencoba membawa orang tua saya ke rumah sakit ibu kota. Tapi tidak ada obat yang cocok untuk penyakitnya—”
Ia berhenti berbicara sembari meremas pakaian yang terbalut rapi sebagai respon khawatir agar Duchess dapat mempercayai setiap kata-katanya.
“Dokter menyarankan untuk membawa orang tua saya ke negara seberang. Katanya di sana mereka dapat mengobati penyakit yang di derita beliau.”
Beri apresiasi untuknya. Dia bahkan tidak percaya bahwa bisa selancar ini merangkai sebuah kebohongan. Sungguh, ia jadi sedikit merasa bersalah karna sudah membohongi keluarga Aristotle.
Tapi, mau bagaiamana lagi, hanya ini satu-satunya cara agar dia bia telepas dari sini.
Meskipun sejujurnya Rebecca tidak rela. Apa lagi dengan merelakan gajinya yang terbilang cukup besar untuk menepati janjinya pada tuan Count.
“Jika seperti itu, aku sudah tidak bisa menahan mu lagi.”
Perkataan itu sontak membuatnya merasa lega. Akhirnya dia bisa membuat Duchess mengerti dan dapat melepaskannya untuk pergi.
Selanjutnya, terlihat sang majikan menuliskan sesuatu di atas lembaran kertas pergi panjang kemudian memberikannya pada Rebecca.
“Itu adalah gajimu selama sebulan. Kau bisa mengambilnya di bank nanti.”
Matanya sempat berkilau saat melihat angka yang tertera di sana, sebelum kemudian mengangguk dan berterima kasih.
Tidak menyangka bahwa gajinya akan sebanyak ini dalam kurung waktu sebulan bekerja.
“Aku juga memberikan bonus gaji sebagai rasa terima kasih ku padamu yang telah bersabar melayani Mikel.”
Duchess tersenyum sedih. Dia begitu tidak rela melepas dayang hebat seperti Rebecca begitu saja.
“Terima kasih banyak Nyonya. Saja tidak akan melupakan kebaikan anda ini.”
Wanita itu mengangguk singkat. Mengiyakan apa yang di katakan sang dayang.
“Kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu. Salam untuk anda Duchess.”
Belum sempat Rebecca berbalik pergi, dia malah di tahan oleh majikannya.
Saat ia menoleh hendak bertanya, Duchess malah bangkit berdiri dan mengajaknya untuk minum teh bersama sebelum pergi.
Rebecca tentu saja mengiyakan ajakan tersebut. Mumpung ini adalah hari terakhir dia bekerja di kediaman Aristotle, jadi apa salahnya menghabiskan waktu bersama Duchess untuk sekadar minum teh berdua.
Setelah Duchess memerintahkan para pelayan untuk membawa peralatan serta bahan pembuatan teh ke dalam ruangan kerjanya, segera wanita itu dengan telaten meracik beberapa daun teh yang telah di keringkan ke dalam cangkir.
Rebecca bahkan merasa terharu, karna Duchess sendiri yang membuatkannya teh. Sungguh majikan yang baik hati.
...❁❁❁...
Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Senja kembali menyapa Rebecca saat ia keluar dari dalam ruangan Duchess.
Mengingat perbincangan seru yang mereka bicarakan, membuatnya jadi tidak sadar akan keadaan sekitar.
Beruntunglah dia sudah mengerjakan beberapa pekerjaan sebelum mengunjungi majikannya. Jika tidak, maka Mikel akan marah besar.
Rebecca juga saat ini akan berpamitan pada Mikel sebelum dia benar-benar pergi dan tidak akan kembali lagi ke sini.
Namun entah kenapa dia sedikit merasa sedih saat akan berpisah dengan tuan muda yang pemarah itu.
Mungkin karena Rebecca sudah cukup lama menghabiskan waktu bersama-sama dengannya, makanya dia jadi tidak rela untuk meninggalkan Mikel.
Ahh ... Aku sudah tidak bisa mengganggunya lagi deh, batinnya kecewa berat.
Padahal hal yang paling menyenangkan adalah melihat raut kesal Mikel ketika di ganggu olehnya. Rebecca bahkan jadi penasaran, akan seperti apa anak itu ketika dewasa nanti.
Pastilah dia akan jadi pemuda yang tampan seperti kakak laki-lakinya. Mereka kan hampir mirip. Hanya sifatnya saja yang berbeda.
Saat tengah terhanyut dalam pikirannya sendiri, dari kejauhan nampak Mikel yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Rebecca yang langsung menyadari hal itu menunjukkan raut kebingungan.
Bagaimana tidak, majikannya terlihat sangat berkeringat. Apa yang ia lakukan sampai seperti itu? Jangan bilang kalau Mikel baru saja selesai latihan berpedang. Tumben sekali.
Tapi lebih baik dia bertanya langsung pada pihak yang bersangkutan, dari pada harus menebak-nebak hal yang tak pasti.
Segera Rebecca melangkahkan kedua tungkai kakinya lebar-labar. Menuju ke arah sang majikan yang akan masuk ke dalam kamar.
"Tuan muda!"
Pergerakan Mikel tiba-tiba saja terhenti saat mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali tengah memanggilnya.
Menoleh malas. Ia langsung menatap wanita yang sedang tersenyum itu. Dan tanpa di sadari, detak jantung Mikel berdetak tak karuan.
Entah kenapa ingatan tentang Rebecca yang menciumnya waktu itu selalu saja terlintas dalam kepala ketika mereka bertemu.
Sial!
Mikel mengumpat dalam hati sembari membuang pandangan ke samping saat Rebecca sudah berada di hadapannya.
"Ada apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.
"Anda ... Latihan berpedang lagi?"
Pertanyaannya di angguki sekilas oleh si lawan bicara yang sejak tadi tidak mau menatapnya.
Rebecca lantas mengeluarkan sapu tangannya sembari menunduk menyeka peluh majikannya yang sangat banyak.
Mikel reflek menepis tangan wanita itu sambil mundur selangkah untuk menjaga jarak di antara mereka.
Hampir saja jantungnya copot saat menerima tindakan yang di lakukan sang dayang secara tiba-tiba.
Sedangkan Rebecca yang penerima perlakuan tidak biasanya itu, malah mengerucutkan bibirnya tanda kesal.
"Anda marah pada saya tuan muda?"
Mikel mengernyitkan dahi selepas menghela nafas pelan. Dia lalu memberanikan diri untuk menatap Rebecca secara langsung.
"Tidak tuh."
Bibirnya seketika membulat kala mendengar jawaban yang di katakan Mikel.
"Lantas, kenapa beberapa hari terakhir ini anda seperti menjauhi saya?"
Pertanyaan kedua darinya mampu membuat pemuda itu menjadi gelagapan. Dia bingung harus menjawab apa sekarang.
Dia jadi salah tingkah. Mungkin seluruh wajahnya sudah berwarna merah padam sekarang.
"Ka-kau—"
"Tolong maafkan saya. Pasti anda tidak menyukainya ya."
Rebecca tiba-tiba memegang tengkuknya yang terasa merinding saat melihat air muka majikannya. Apakah dia sudah salah bicara? Sepertinya iya.
"Sekali lagi saya minta maaf tuan muda, lalu saya juga akan—"
"Ck, dasar bodoh! Kau bahkan tidak mengerti bagaimana perasaan ku sekarang!"
Bentakan itu sontak membuat Rebecca terjengit kaget. Ini adalah kali pertama dia melihat Mikel marah besar. Sungguh sesuatu yang langka.
Lalu, apa maksudnya soal perasaannya? Bukankah dia sudah minta maaf sampai dua kali, apa itu masih belum cukup?
"Tuan muda, saya—"
Brak!
Tanpa menunggu kalimat selanjutnya yang hendak ia katakan, Mikel segera masuk ke dalam kamar dengan membanting pintunya cukup keras.
Ah ... Dia jadi makin marah. Tapi, aku kan sudah minta maaf...!
Ia memekik dalam hati sambil berdecak kesal. Padahal niat awalnya hanya ingin berpamitan secara baik-baik, tapi malah jadi seperti ini.
"Huft ... Ya sudah deh, nanti juga Duchess akan mengatakannya pada Mikel."
Dia pun segera melangkah pergi dari sana. Bersiap-siap pulang ke kediaman Dowis sebelum hari semakin gelap.
...❁❁❁...
Ketika malam menyambut, dengan tenang Rebecca membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang terasa empuk.
Memandang langit-langit ruangan sembari menghela nafas pelan.
Ia lantas memegangi kepalanya yang lagi-lagi terasa sakit. Entah kenapa, setelah kepulangannya dari kediaman Aristotle, kepalanya sering terasa sakit.
Mungkinkah ini efek kelelahan? Bisa jadi. Kalau begitu, lebih baik ia tidur sekarang. Siapa tahu saat bangun nanti sakit kepalanya sudah agak mendingan.
Rebecca kemudian mulai mengatur posisi nyamannya sambil menguap pelan. Dia pun memejamkan kedua kelopak matanya dan tertidur pulas.
Membiarkan waktu untuk terus berlalu, menggantikan malam yang tenang menjadi pagi yang cerah.
...❁❁❁...
Terpaan sinar mentari pagi yang menembus rumah kaca milik keluarga Dowis, tidak membuat beberapa orang yang ada di sana merasa terganggu akan kehadirannya.
Mereka malah asik mengobrol satu sama lain, melontarkan beberapa kisah lama sembari sesekali tertawa.
Well, pagi ini Count Dowis mengajak Rebecca juga ibunya Stella untuk makan pagi bersama di rumah kaca yang tergeletak di belakang kediaman mereka.
Selagi semuanya memiliki waktu luang, jadi apa salahnya jika mereka makan bersama-sama untuk saat ini.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah mengundurkan diri dari pekerjaan mu itukan, Rebecca."
Seorang pria yang tidak lain adalah Count Dowis, melontarkan beberapa kalimat pengingat atas janji yang di buat sang anak waktu itu.
Sambil memotong beberapa daging panggang, Rebecca mengangguk sekilas sebagai jawaban.
"Lain kali kamu tidak perlu bertindak jauh seperti itu Rebecca. Ayah tidak ingin kamu kenapa-napa."
Nada khawatir yang terdengar jelas dari balik bibir ayahnya, mengundang Rebecca untuk menatap pria paru baya itu.
"Ayah ... Meskipun begitu, aku akan tetap membantu mu. Mana bisa aku membiarkannya begitu saja—"
"Rebecca..."
Wanita berparas cantik yang duduk di sampingnya, segera menyentuh pelan pundak sang anak. Memberi kode agar dia tidak menyulut emosi ayahnya.
Rebecca kemudian mengangguk mengerti sebelum angkat bicara.
"Maaf ayah. Lain kali aku akan membicarakannya dengan mu."
Count Dowis mengangguk pelan di ikuti senyuman kecilnya. Bukan maksudnya dia melarang Rebecca bekerja. Hanya saja, dia tidak ingin anaknya menanggung beban berlebihan di pundaknya itu.
"Oh iya!" pekiknya yang mengundang atensi kedua pasangan Dowis untuk menatapnya.
"Ada apa nak?" Stella tersenyum lembut saat melihat wajah berseri Rebecca.
"Emm ... Itu, kemarin aku mendapatkan gaji pertama ku, dan itu cukup banyak! Bahkan sangat banyak! Bagaimana jika kita membeli tanah dan membangun bisnis, ayah?"
Perkataannya sontak membuat kedua orang tuanya terkejut di tempat. Tidak menyangka bahwa Rebecca akan memikirkan hal seperti itu.
Sementara Rebecca? Dia masih saja diam menatap kedua orang tuanya. Ya, ada sedikit perubahan rencana.
Lebih baik dia menyerahkan pembangunan usaha pada ayahnya. Karna beliau cukup telaten dan bisa memilah usaha apa yang sedang di butuhkan Kekaisaran.
"Rebecca ... Kamu benar-benar tidak bisa terbaca sekarang. Ayah juga sebenarnya sempat berfikir ingin membangun usaha, hanya saja keuangan kita belum memadai."
"Tapi sekarang sudah memadai kan?"
Count sempat tersenyum saat mendengar kalimat tersebut. Dia kemudian mengangguk tanda setuju.
"Baiklah ... Ayah akan mengikuti usul mu ini."
Rebecca yang mendengarnya seketika memekik gembira. Akhirnya, setelah berjuang selama sebulan, ia bisa membantu keluarganya walau tak seberapa.
"Tapi ... Berapa jumlah gaji mu itu, Rebecca?"
Countess bertanya penasaran di ikuti Count yang tiba-tiba sadar dan ingin mengetahui jumlah gaji anaknya.
Rebecca segera mengeluarkan slip gaji yang ia bawa dan menunjukannya pada kedua orang tuanya.
Untuk kesekian kalinya mereka kembali terkejut. Merasa tidak percaya akan apa yang mereka lihat sekarang.
"Astaga! Apakah gaji seorang dayang memang sebanyak ini?"
Stella menggeleng tak percaya sambil melirik Rebecca yang malah mengulum senyumnya.
"Hehehe ... Sebenarnya, itu karna Duchess sangat baik pada ku. Dia memberikan beberapa bonus gaji karna aku bisa mendidik—"
Di tengah pembicaraan, Rebecca tiba-tiba berhenti berbicara. Membuat kedua orang tuanya saling melempar pandang satu sama lain.
"Mendidik siapa?" tanya Count sembari mengernyitkan dahinya.
Namun, Rebecca masih berdiam diri saja. Dia tidak mengingat apapun.
Padahal dia yakin mengingat nama orang itu, kenapa sekarang dia malah melupakannya?
Apa yang sebenarnya terjadi?