
Ruangan temaram yang hanya di terangi oleh beberapa api obor, nampak saat seorang wanita membuka kedua kelopak matanya.
Ia lantas mengernyit dalam. Mempertanyakan di mana dia sekarang. Padahal beberapa saat lalu dirinya masih berada di dalam kamar tidur dan sedang berbincang ringan bersama roh Rebecca asli.
"Mungkinkah aku ketiduran?" tanyanya seraya melangkah maju menelusuri tempat sekitar.
"Hmm ... Artinya ini dalam mimpiku, 'kan?"
Sekali lagi ia melontarkan satu pertanyaan pada dirinya sendiri sembari terus berjalan lurus tanpa memerhatikan tempat sekitar.
Tenggelam dalam pikirannya tentang beberapa keanehan yang terjadi pada alur cerita novel. Apa lagi dengan roh Rebecca asli yang muncul secara tiba-tiba, benar-benar sangat aneh.
Duk!
Langkah kakinya seketika terhenti saat merasakan sesuatu yang menghalangi jalannya.
Begitu manik mata wanita itu melirik ke bawah, di dapatinya tubuh Rebecca yang tergeletak tak berdaya di atas lantai. Wajahnya pun nampak pucat dan begitu mengerikan.
"Apa-apaan ini—!"
Dalam sekejap, Rebecca langsung tersadar dari mimpi anehnya itu. Nafasnya kini memburu tidak tenang di ikuti keringat dingin yang menetes dari atas kepala dan jatuh membasahi sisian wajahnya.
Entah kenapa saat ini dia merasa takut. Juga, untuk pertama kalinya dia memimpikan sosok Rebecca yang seperti itu. Benar-benar mengerikan jika di lihat secara langsung.
Tapi kenapa dia harus memimpikannya? Apakah ini akibat dari mereka yang membicarakan kematian Rebecca asli sebelum tidur?
‘Kau baik-baik saja—’
"Ahkk!!"
Rebecca berteriak kaget saat mendengar suara yang tak asing muncul dari samping tubuhnya. Dia bahkan meloncat dari atas tempat tidur dan terjatuh dengan tidak elitnya ke atas lantai akibat menabrak meja.
‘Pftt!’
Suara tawa yang di tahan terdengar mengudara dalam ruangan. Tatapan tajam pun di luncurkan Rebecca pada mahkluk tak kasat mata itu sebagai bentuk kekesalannya.
‘Maaf, aku tidak tahu bahwa kau sepenakut itu pada hantu.’
"Aku tidak penakut ya! Hanya terkejut—"
Tok, tok, tok
"Nona? Apa anda baik-baik saja?"
Ketukan pintu kamar di selingi suara seorang pelayan dari luar ruangan, membuat perhatian Rebecca teralihkan.
Dia lantas bangkit berdiri dengan sedikit meringis pelan sebagai tanda bahwa tubuhnya tidak baik-baik saja.
Kelihatannya pinggangnya akan membiru karna menabrak meja tadi.
Ceklek.
Saat pintu terbuka, di dapatinya seorang wanita cantik berambut coklat keriting yang sedang membawa baskom berisi air yang nantinya akan di pakai Rebecca untuk membersihkan wajahnya.
"Masuklah."
Ajakan itu di angguki oleh sang pelayan. Dia mengekori Rebecca kemudian meletakan baskom tersebut ke atas meja samping tempat tidur.
‘Ah! Olivia?’
Ia seketika menegang saat mendengar roh Rebecca berbicara secara tiba-tiba. Bagaimana jika pelayan itu mendengarnya dan malah merasa takut.
Namun, hal yang di pikirkan olehnya ternyata tidak terjadi sama sekali. Pelayan bernama Olivia hanya diam kemudian berbalik pergi setelah mengucapkan salam padanya.
"Eh ... Dia tidak mendengarnya?" tanya Rebecca yang kebingungan akan situasi sekarang.
‘Ya, hanya kamu saja yang bisa mendengar suaraku. Tenanglah.’
Setelah mendengar penjelasan yang di katakan Rebecca asli, ia kini bernafas lega sembari bergerak membersihkan wajahnya dengan air yang sudah tersedia.
‘Apakah kamu dekat dengan Olivia?’
Suara itu kembali terdengar dan di balas gelengan pelan dari lawan bicaranya.
"Memangnya kenapa?" tanyanya sembari mengambil handuk dan mengeringkan wajahnya.
‘Sudah sepatutnya kau dekat dengannya, karna dia dekat dengan ku bodoh. Ck! Pasti setelah memasuki tubuhku, kau menunjukkan sifat mencurigakan.’
Rebecca mengubah tatapannya menjadi datar saat mendengar kalimat bodoh yang di tujukan padanya. Ternyata pemeran wanita yang begitu ia sukai, memiliki sifat menyebalkan seperti ini.
Sial. Aku menyesal sudah menangis untuknya saat membaca novel.
‘Hei, jangan menatapku seperti itu. Wajahku jadi jelek tahu!’ protesnya yang di hiraukan oleh Rebecca.
Dia makin menunjukan ekspresi jeleknya dan membuat Rebecca asli makin kesal.
‘Ahk! Baiklah, baiklah! Kau tidak bodoh. Tetapi ceroboh!’
"Cih! Tentu saja aku tidak bodoh. Apa kau tahu, aku ini dulunya adalah seorang bos perusahaan besar!"
Rebecca menekan kalimat bos seraya menunjukkan senyuman angkuhnya yang jarang sekali ia tunjukan.
‘Terserah! Ck, entah kenapa sifatmu ini jadi mirip sahabat karibku.’
"Eh, sahabat?"
Rebecca mengulangi kalimat tersebut dengan raut wajah yang seolah-olah mengatakan itu tidak mungkin.
Setahunya, dalam cerita novel Love Prince, penulis tidak pernah menceritakan tentang teman atau sahabat dekat dari Rebecca. Karna setiap harinya wanita itu selalu di ceritakan bersama Killian juga aktifitas lainnya sebagai seorang bangsawan. Sampai akhirnya dia menjadi jahat dan berakhir membunuh dirinya sendiri di depan Killian.
Sebenarnya seberapa jauh alur novel ini berubah?
‘Kenapa tiba-tiba kau diam?’
Perkataannya itu di balas gelengan pelan dari Rebecca. Ia kemudian melangkah ke samping tempat tidur dan mendudukkan diri di sana dengan rasa penasaran yang muncul dalam hatinya.
"Siapa nama sahabatmu itu?"
Terdapat jeda panjang di antara mereka sebelum kemudian roh Rebecca asli melontarkan jawabannya.
‘Isabel Pother. Anak perempuan dari Duke Pother.’
...✾✾✾...
Kediaman yang megah dan asri kini nampak dalam pandangan kedua insan yang baru saja keluar dari dalam kereta kuda.
Mereka kemudian melangkah mendekati pintu utama yang masih tertutup sebelum mengetuknya pelan.
Suara deritan pintu seketika terdengar di ikuti sosok seorang pria berpakaian pelayan yang muncul dari balik pintu.
"Selamat siang, tuan Jacob. Lama tidak bertemu."
Pria itu tersenyum sopan saat mendengar sapaan hangat yang di lontarkan Duchess Aristotle padanya. Dia pun membalas sapaan tersebut sembari memberi salam ala bangsawan.
"Ada keperluan apa sampai Duchess serta tuan muda Mikel datang ke sini?"
Masih dengan senyuman di bibir indahnya, Duchess menjawab pertanyaan kepala pelayan tanpa berbelit-belit.
"Kami ke sini ingin mengunjungi sahabatku, Cassius. Apa dia ada di dalam sana?" tanya Duchess. Takut bila sosok yang ia cari sedang tidak ada di tempat.
"Oh, tuan. Mari masuk dulu dan akan saya panggilkan tuan Cassius segera."
Jacob mempersilahkan keduanya masuk dan menuntun mereka ke arah ruang tamu yang terbilang besar.
Para pelayan pun dengan telaten melayani mereka atas perintah Jacob. Dari menyiapkan kudapan beserta teh hangat sebagai pendampingnya.
Setelah beberapa menit menunggu, pintu ruangan tamu tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok pria gagah dengan aura berwibawa di ambang pintu.
Walaupun sudah terlihat garis keriput di wajahnya, namun ketampanan pria itu tidak di ragukan lagi. Matanya yang tajam bagai burung elang kini menatap lembut ke arah Duchess.
"Eleanor..."
Suaranya yang dalam mengalun lembut dalam ruangan. Sang pemilik nama pun langsung berdiri dengan senyuman indah yang terukir jelas dalam raut wajahnya.
"Salam kepada Duke Pother."
Duchess menunduk sopan sebagai salam yang selalu di lakukan para bangsawan untuk menghormati seseorang. Sama halnya dengan Mikel yang berada di samping ibunya.
"Hei, Eleanor. Jangan terlalu formal padaku. Santai saja, kita ini sudah seperti keluarga."
"Bagaimana kabar kalian? Semua baik-baik saja bukan?" tanya Duke sambil melipat kedua tangannya di atas paha. Pandangannya tak luput dari Duchess yang telah menjadi sahabat masa kecilnya.
Gadis imut yang telah tumbuh menjadi wanita cantik dan anggun itu, tidak pernah melupakannya. Meskipun mereka sudah jarang bertemu dan hanya berkabar lewat surat saja.
"Kabar kami baik, bagaimana dengan mu Cassius? Ku dengar Isabel sedang sakit. Karna itu kami berkunjung."
Helaan nafas berat di selingi senyuman sendu kini nampak dalam ekspresi wajah Cassius. Mengingat anak semata wayangnya yang tidak sadarkan diri hampir dua bulan penuh, tidak membuatnya baik-baik saja.
"Kamu benar Eleanor. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba sakit, padahal selama ini aku selalu memperhatikannya."
Duke mengernyit dalam tanda tidak mengerti. Mungkinkah anaknya menyembunyikan sesuatu tentang penyakit yang ia derita dan bersikap baik-baik saja di hadapannya?
"Apakah ada penyakit berbahaya yang dia sembunyikan? Bagaimana tanggapan dokter?"
Cassius menatap lurus ke arah Duchess kemudian memberikan jawabannya.
"Kata dokter anak itu tidak memiliki riwayat penyakit parah. Tubuhnya
sehat—"
"Apa?! Bagaimana bisa itu terjadi?"
Duchess terkejut mendengar penjelasan tidak masuk akal yang di katakan Cassius. Seseorang yang bahkan sudah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur selama hampir dua bulan penuh, tidak memiliki penyakit serius? Lelucon macam apa ini?
"... Awalnya aku sama seperti mu Eleanor. Karna tidak percaya, aku kembali lagi memanggil para dokter terkenal dari negara seberang. Tetapi tanggapan mereka tetap sama."
Cassius berkata sedih. Dia tak sanggup jika pada akhirnya putri kesayangannya itu pergi meninggalkannya sendiri seperti yang terjadi pada istrinya.
"Paman, bagaimana dengan para penyihir?"
Pertanyaan singkat dari Mikel mengundang tatapan tanya dari kedua bela pihak yang sejak tadi berbincang-bincang tanpa memedulikannya. Lagi pula Mikel tidak merasa tersinggung atas sikap mereka.
"Penyihir? Apa maksud mu Mikel," ucapnya penasaran sembari mengernyit tanda tidak mengerti.
Sama halnya dengan Duchess yang ada di sampingnya.
"Menurut saya, khusus aneh seperti ini lebih baik di tangani langsung oleh seorang penyihir. Karena percuma saja memanggil para dokter bodoh itu, jika tidak mendapatkan hasil yang memuaskan."
Duchess tersenyum kaku saat mendengar sejumlah kalimat kasar yang di katakan anaknya.
Ternyata, jika di perhatian lebih dalam lagi, cara bicaranya yang blak-blakan dan terlalu jujur itu turun dari Duke Aristotle.
"Jadi maksudmu, Isabel tidak sakit dan hanya mengalami sesuatu yang hanya di ketahui para penyihir?"
Mikel mengangguk mantap sebagai jawaban sebelum melihat Duke Pother yang kini tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Menurutnya, para penyihir bisa memberikan jalan keluar yang pasti tentang penyakit misterius yang di derita Isabel. Meskipun bayaran untuk mempekerjakan penyihir cukup tinggi.
"Baiklah. Aku akan memanggil seorang penyihir ke sini untuk memeriksa keadaan Isabel."
...✾✾✾...
Tok, tok, tok
Ketukan pintu yang terdengar cukup nyaring, memberhentikan kegiatan seorang pria yang tengah berkutat dengan pekerjaannya.
"Masuk."
Sebuah perintah yang di ucapkannya mengundang seseorang di luar sana untuk masuk ke dalam ruangan. Kini manik biru pria itu menangkap dua sosok pria yang ia kenali.
"Tuan muda, Eros—"
"Yo! Killian. Senang bertemu dengan mu lagi."
Pria bersurai biru itu memotong ucapan Aaron tanpa merasa bersalah sama sekali. Andai Killian memiliki sifat yang sama seperti Duke Osmond, dapat di pastikan lidah Eros akan di potong sampai tak tersisa.
"Ada apa sampai kau memanggilku lagi kesini?"
Eros mengambil tempat di salah satu sofa panjang sembari membaringkan dirinya di sana. Melihat sikap tidak sopan yang di tunjukkan pria itu, membuat perempatan imajiner muncul di dahi Aaron.
Dia saja tidak berani melakukannya, tetapi dengan lancangnya penyihir itu bertindak sesuka hati.
"Hei kau—"
"Sudahlah Aaron. Eros memang seperti itu," timpal Killian sembari bangkit berdiri dan duduk bersebrangan dengan Eros.
Dalam beberapa saat, terjadi keheningan panjang di antara mereka sebelum Killian angkat bicara.
"Ini tentang Rebecca. Kurasa kamu harus segera melaksanakan tugasmu itu, Eros."
Mengerti dengan alur pembicaraan yang Killian katakan, pria itu segera mengangguk pasti sebagai jawaban.
"Jangan lupakan tentang bayarannya ya!"
Killian menggeleng pasrah saat melihat sahabatnya yang begitu tergila-gila dengan uang. Padahal dia sudah cukup kaya jika melihat statusnya sekarang.
"Ya, aku tidak akan melupakan kewajiban itu. Juga, kau harus menjelaskan tentang 'orang lain' yang pernah kita bicarakan saat berada di menara sihir waktu itu."
Eros mengernyit dalam. Mencoba untuk mengingat-ingat pembicaraan mereka waktu itu. Hingga tiba-tiba saja dia menjentikkan jarinya sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Ah! Soal itu ternyata. Jadi, begini, kau mengatakan bahwa Rebecca berubah 'kan?"
Killian mengangguk pelan tanpa melepaskan pandangannya dari Eros yang masih dalam posisi yang sama sejak tadi.
"Nah, mungkin saja perubahannya itu terjadi karna ada jiwa lain yang memasuki tubuh tunanganmu—"
"Apa!!"
Eros menutup kedua telinganya saat mendengar teriakan Killian bersama Aaron yang begitu kencang saat mendengar penjelasannya.
"Bagaimana—"
"Itu hanya asumsiku saja, Killian. Ku pikir, karna hal yang kau minta saat itu berhubungan dengan pusaran waktu. Bisa saja ada jiwa yang terseret kan?"
"Tapi, kalau misalnya dugaanmu itu benar..."
Killian bergumam pelan sembari mengepalkan kedua tangannya. Mulai berfikir bahwa selama ini dia telah menghabiskan waktu dengan orang asing yang berkedok sebagai Rebecca.
"Aku kan belum mengeceknya. Siapa tahu dia tetaplah tunanganmu, hanya saja kau yang sudah salah sangka akan sikapnya—"
"Bagaimana jika benar dia orang lain?!"
Killian berkata rendah sembari menatap dingin ke arah Eros. Membuat pria itu menelan kasar ludahnya sendiri seraya beranjak duduk.
"Huft ... Kalau dia orang lain, artinya jiwa Rebecca berada di dimensi lain. Bukankah kita melakukan perputaran waktu seminggu setelah
kematiannya—"
"Hentikan! Itu tidak mungkin terjadi!Aku ... Padahal aku kembali untuknya, tapi malah—"
Puk!
Eros menepuk kasar pundak Killian. Kini pandangan keduanya bertemu dalam beberapa detik ke depan, sebelum akhirnya Eros memilih untuk memutuskan kontak dan duduk di samping sahabatnya itu.
"Tenanglah ... Akan ku pastikan jiwa Rebecca akan kembali, jika memang benar ada jiwa lain yang menempati tubuhnya saat ini."
Setelah berkata seperti itu, Eros segera bangkit berdiri. Pandangannya kini tertuju pada Aaron yang sejak tadi menatap mereka tidak percaya.
"Oh iya! Dia kan tidak tahu soal perputaran waktu!"
Ia menunjuk Aaron kemudian berbalik melihat Killian. Tatapan matanya menyiratkan suatu hal yang sulit di tebak oleh beberapa orang.
"Lakukanlah. Cukup hanya kita berdua saja yang tahu."
Begitu Eros menerima persetujuan dari Killian, ia segera merapalkan sebuah mantra dan menjentikkan jarinya ke arah Aaron.
Pria itupun langsung melupakan pembicaraan yang di katakan Killian bersama Eros beberapa saat lalu.
"Selesai! Kalau begitu aku pamit dulu! Jangan lupa untuk menambah bayaranku! Sampai nanti!"
Eros menjentikkan jarinya dan dalam sekejap mata ia menghilang tanpa jejak. Tujuannya sekarang adalah menemui Rebecca, tunangan sahabatnya.
...{ Mikel Cyril Aristotle }...