
Helaan nafas lega terdengar kala mereka tiba di salah satu taman kediaman Rone yang cukup jauh dari tempat acara.
Rebecca reflek menatap wanita yang tadi menariknya menjauhi pesta secara tiba-tiba. Ia mengernyit heran tak kalah melihat ekspresi bahagia dari sang puan.
"Apa anda merasa puas setelah keluar dari acara mematikan itu?"
Pertanyaannya sontak mengundang atensi sepenuhnya dari lawan bicara. Ia lantas tersenyum sebelum kemudian mengeluarkan sapu tangan dan pergi membasahinya dengan air keran yang di buka.
"Benar, lalu maafkan saya sudah membuat gaun anda jadi kotor seperti ini."
Dengan telaten ia membersihkan gaun Rebecca yang terkena noda teh. Sang pemilik gaun pun menggeleng pelan sebelum mengatakan sesuatu.
"Jadi ... Demi keluar dari pesta, anda dengan sengaja menyenggol lengan saya?"
Pergerakan wanita itu tiba-tiba terhenti. Ia lantas berdiri tegak dan menatap kedua manik violet Rebecca dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Dia sedikit ragu-ragu untuk menjelaskan hal yang sebenarnya ia dengar beberapa waktu lalu di koridor kediaman Rone.
"Bu-bukan maksud saya seperti itu. Hanya saja, sebelum acara di mulai, saya izin pergi ke kamar kecil. Dan di tengah perjalanan, saya mendengar seseorang berbicara soal racun."
Rebecca lantas mengangkat satu alisnya tanda bingung. "Lalu, apa hubungannya dengan saya?" tanyanya yang langsung menerima tatapan terkejut dari sang lawan bicara.
"Saya juga tidak tahu. Tapi yang pastinya, mereka akan meracuni Lady dengan secangkir teh."
Penjelasan terakhir yang masuk ke dalam indra pendengarannya, membuat manik mata Rebecca melebar sempurna. Jadi ini alasan mengapa perempuan di depannya bertindak aneh sejak tadi?
Ternyata dia sudah mengetahui bahan apa yang di masukan ke dalam teh yang di suguhkan padanya.
Tapi, kenapa mereka melakukan hal keji seperti itu? Dia kan tidak membuat suatu kesalahan.
"Apa Lady membuat masalah belum lama ini, pada Lady Rone?"
Rebecca menggeleng pelan sembari menatap manik coklat milik wanita yang belum ia ketahui namanya siapa.
"Sebelum kita membahas ini lebih lanjut, perkenalkan saya Rebecca Dowis."
Dengan anggun dan sopan ia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu agar mereka berdua bisa nyaman dalam berbicara.
"Salam kenal Lady Rebecca, saya Felicia Elearson."
Wanita bernama Felicia ikut memberikan perkenalan yang tak kalah anggun dan sopan padanya.
Sesudah sesi perkenalan, mereka memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang tidak terlalu jauh dari posisi keduanya.
Mereka kemudian mendudukkan diri dengan nyaman sebelum keheningan panjang terjadi di antara dua insan tersebut. Rebecca lantas berdeham pelan hendak membuka topik terlebih dahulu.
"Sebelumnya ... Apa Lady melihat wajah pelayan yang melaksanakan perintah itu?"
Felicia menggeleng pelan sambil menunduk dalam sebagai jawaban atas pertanyaannya.
"Saya tidak sempat melihat wajah mereka dan langsung beranjak pergi karena mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat."
Kini wanita itu mengangkat pandangannya sembari menatap Rebecca yang ada di samping kiri tempat duduk.
Terlihat sekali bahwa dia sedang berfikir keras saat mendengar penjelasan yang di katakan Felicia.
"Oh ya, tadi anda berasumsi bahwa ini semua perbuatan Lady Rone?"
"Iya. Entah kenapa aku sangat yakin bahwa dia yang melakukannya. Dia kan merasa cemburu karna tuan muda Osmond telah menjauhinya dan lebih memilih Lady ketimbang dirinya."
Asumsi Felicia cukup membuatnya meringis pelan. Sebenarnya sampai mana gosip tentang hubungan mereka tersebar? Tidak mungkin sampai luar kontinen 'kan?
Tapi ... Saat melihat kekuatan gosip para bangsawan wanita beserta untek-unteknya, Rebecca jadi tidak begitu yakin akan gosip yang hanya tersebar di sekitar ibu kota saja.
"Begitu rupanya."
Ia tersenyum canggung sembari mengesampingkan rambutnya ke belakang telinga.
"Sebenarnya ada satu hal yang membuat saya kepikiran."
Rebecca berkedip sekali sembari menatap bingung ke arah Felicia. Menunggu lanjutan dari perkataannya yang membuat lawan bicara merasa penasaran.
"Bagaimana bisa keluarga Rone beralih faksi secara tiba-tiba. Apa lagi dengan Pangeran yang sekarang menjadi tunangannya. Mungkinkah karena Lady Harmonie di tolak oleh tuan muda Osmond, maka dari itu dia mencari sosok berpengaruh selanjutnya?"
Pertanyaan yang tak terduga dari Felicia, kembali membuat Rebecca berpikir keras untuk yang kesekian kalinya. Ternyata teman barunya sering mengikuti berita atau gosip seputar Kekaisaran.
Berbeda dengan penampilannya yang lembut, ternyata dia orang yang cukup aktif soal gosip.
"Entahlah. Saya tidak berfikir sampai sana."
Ya, karna masih banyak yang perlu Rebecca pikirkan dan lakukan, makanya dia tidak peduli tentang alasan dasar keluarga Rone berpindah faksi. Karna yang terutama baginya adalah harus bertahan hidup apapun yang terjadi.
"Lady, bagaimana jika kita kembali? Sepertinya sudah cukup lama kita pergi meninggalkan pesta."
Sebelum Felicia berbicara lebih banyak lagi, Rebecca segera mengambil tindakan pencegahan untuk memanggilnya kembali ke pesta. Perempuan itupun menyetujuinya dan segera melangkah pergi bersamanya.
Entah kenapa moodnya hari ini mudah sekali berubah-ubah. Antara dia yang merasa lelah atau karna mimpi aneh sebelumnya.
...❀❀❀...
"Tuan, ini adalah cucu saya yang bernama Rere."
Wanita paru baya itu tersenyum lembut sembari menunjuk seorang wanita yang berdiri tepat di sampingnya.
Mikel yang awalnya memunggungi mereka, segera menoleh dalam hitungan detik ke arah belakang.
Senyuman serta tatapan antusias yang sebelumnya menghiasi wajahnya, seketika tergantikan dengan ekspresi kecewa.
Sosok bernama Rere yang sekarang berdiri di hadapannya dengan sikap malu-malu bukanlah wanita yang di ia cari. Sedikit Mikel berdecak kesal sembari menghembuskan nafas kasarnya.
"Sepertinya dia bukan wanita yang ku cari. Kalau begitu, ini uangnya."
Meskipun pencariannya belum membuahkan hasil, dia akan tetap mencari Rere dan membawanya kembali ke kediaman Aristotle.
Aku yakin dia tidak akan meninggalkan wilayah ini begitu saja. Tunggu dan lihatlah, aku akan menemukan mu.
Benaknya sembari menelusuri tempat sekitar dengan seksama. Takut bila ia melewati satu hal penting yang berhubungan dengan Rere.
Sementara wanita paru baya berserta cucunya yang di tinggal pergi Mikel, langsung menunjukkan raut kekecewaan yang terlihat sangat jelas.
"Nenek, sepertinya harapan ku tentang mendapatkan seorang pria bangsawan tampan tidak akan terwujud."
Mendengar perkataan tersebut, wanita tua itu segera merangkul cucunya dengan penuh kasih sambil mengusap pelan punggungnya.
"Jangan berkecil hati. Harapan akan selalu datang pada mereka yang mau bersabar, nak."
...❀❀❀...
Senja yang damai, mengiring kereta kuda milik keluarga Dowis ke dalam wilayah County. Hembusan angin lembut yang menyentuh surai seorang wanita, tidak membuatnya terusik atau merasa kesal.
Mungkin itu karena tenaganya sudah terkuras habis saat menghadiri pesta teh yang di selenggarakan oleh keluarga Rone.
Makanya dia jadi tidak terlalu bersemangat selama perjalan pulang dan hanya berdiam diri saja dalam kabin kereta kuda.
Memandang bosan keadaan sekitar yang masih ramai akan aktifitas para warga juga penjual yang mempromosikan barang dagangannya.
Sampai tiba-tiba pandangannya jatuh pada satu bangunan bertingkat dua yang tidak lain adalah sebuah toko kue.
"Pak berhenti."
Satu perintah lolos begitu saja dari mulutnya di iringi roda kereta kuda yang berhenti berputar. Dia segera membuka pintu kereta dan turun dari dalam kabin.
"Nona, apa ada tempat yang ingin anda datangi?"
Salah satu pengawal yang sejak tadi mengiring perjalanan majikannya agar tetap aman, angkat bicara saat itu juga.
"Ya, tunggulah di sini. Aku hanya pergi untuk membeli kue, kemudian kembali."
Sesudah menjelaskan tujuannya, dia segera melangkah pergi menuju toko kue yang ada di depan mata.
Sepertinya, menikmati hal manis akan membangkitkan semangat dan juga moodnya yang kebetulan sedang kacau hari ini.
Pikirannya masih saja mengingat soal racun yang di masukan seseorang ke dalam tehnya atas perintah Lady Rone? Masih jadi pertanyaan apakah benar Harmonie yang menjadi dalang utamanya atau bukan.
"Makin hari, alurnya semakin kacau saja. Sebenarnya apa pemicunya sih—Aduh!"
Perempuan itu merintih kesakitan saat wajahnya menabrak tubuh seseorang yang baru saja keluar dari dalam toko kue.
"Sepertinya kedua matamu bermasalah, hingga menabrak orang yang hendak keluar."
Komentar yang terdengar menyebalkan di telinga sang puan, membuatnya menatap sengit seorang pria yang di tabraknya belum lama ini. Sempat ia mengernyit heran saat melihat sosok tersebut.
Sepertinya aku pernah melihatnya deh. Tapi di mana? Ah! Mungkin hanya perasaan ku saja.
"Minggirlah! Jangan menghambat jalan ku Bodoh!"
Wanita yang tidak lain adalah Rebecca, membelalakan matanya saat mendengar kata hinaan yang di tujukan padanya.
Dia segera mengangkat satu tangannya sambil menunjuk pria menyebalkan yang berjarak beberapa senti di depannya.
"Aku bukan bodoh ya! Minggir kau!"
Dengan kasar Rebecca mendorongnya ke belakang. Dan tanpa meminta maaf, dia segera pergi dari sana.
Grep!
Reflek ia berhenti di tempat saat merasakan cengkraman seseorang yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dia lantas menoleh ke belakang dan melihat pria sebelumnya sedang menahannya dengan mimik wajah yang sulit di jelaskan.
"Kenapa—"
"Siapa kau? Kenapa suara mu mirip dengan wanita yang sedang ku cari saat ini? Ah, bukan hanya itu saja. Warna mata mu pun sama persis dengannya."
Rebecca menatap bingung pria bersurai silver di depannya. Manik berbeda warna itu kini saling beradu pandang dalam diam.
Sebenarnya apa maksud dari perkataannya itu? Aku mirip siapa?
...❀❀❀...
Plak!
Satu tamparan keras, mendarat dengan sempurna di wajah seorang pelayan wanita yang menunduk gemetar di hadapan majikannya.
"Bodoh! Kenapa kau bisa gagal!"
Dengan kesal ia berteriak marah sembari menjambak rambut pelayan itu cukup kasar, sehingga helaian rambutnya tercabut.
"Ahk! Ma-maafkan saya nona Harmonie! Tapi itu semua bukan sepenuhnya salah saya. Lady yang ada di samping nona Rebecca-lah yang mengacaukan—Ahk!"
"Diam! Atau kubungkam mulut mu dengan sisa racunku."
Harmoni makin menarik surai pelayannya tanpa ampun seraya menatap bengis kearahnya. Menghiraukan rintihan kesakitan yang terdengar dari mulut sang pelayan.
Dia begitu tahu bahwa siapa yang bersalah dan mengacaukan rencana yang sudah di buat Pangeran.
Tetapi, untuk melampiaskan kekesalannya yang menggebu-gebu, dia lebih memilih orang lain sebagai targetnya.
"Sial! Kenapa perempuan itu selalu bisa melepaskan diri dari kematian! Menyebalkan!"
Ia mengeram pelan sembari menghempas tubuh pelayannya dengan kasar ke atas lantai, sebelum kemudian berbalik pergi dari dalam ruangan.