
...Happy reading...
.......
.......
.......
Siraman cahaya tiba-tiba saja datang menusuk penglihatan Viely. Terlihat mobil dengan kecepatan penuh menuju kearahnya yang berada di samping jalan. Dia tak mengira akan jadi seperti ini ....
Benturan keras terdengar, Viely terhempas cukup jauh dari tempatnya berdiri. Seluruh tubuhnya terasa berat, ia melirik kesana kemari dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sedangkan sang pengemudi tadi langsung lari meninggalkan Viely sendirian. Dia enggan bertanggung jawab karena tidak ada yang melihat hal yang ia lakukan.
Darah segar kini mulai menggenangi trotoar. Mungkin karena sudah mendekati kematiannya, suara angin malam yang berhembus pelan terdengar seperti sebuah melodi indah.
Detik-detik saat kesadaran Viely hampir hilang, setetes cairan bening jatuh melewati pelipisnya.
"Kenapa .... jadinya begini ...., " ucapnya lemah.
Perlahan-lahan pandangannya menjadi tidak jelas, aliran darah serasa terhenti, di ikuti detak jatungnya yang berdegap begitu pelan dari biasanya.
Dia pun menghembuskan nafas terakhir di tempat dingin itu tanpa ada seorang pun yang menolong.
...❅️❅️❅️...
Dalam keadaannya yang terbaring lemah, Viely merasakan sesuatu yang empuk nan hangat menutupi tubuhnya, matanya yang terpejam di bukanya perlahan. Selepas itu Ia mengerjap beberapa kali sampai semuanya terlihat jelas.
Ia mengira dirinya berada di rumah sakit, ternyata tebakan itu salah besar. Ruangan ini berbeda dengan rumah sakit.
Segera Viely menopang tubuhnya untuk duduk, sembari melihat sekeliling dengan aneh.
Kamar luas bernuansa minimalis, perabotan kuno namun elegan, tirai putih yang panjang, ornamen berwarna perak di setiap dinding putih, terasa aneh baginya.
"Di mana aku ...., " ujar Viely sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
Setelah kemudian tersadar bawah suara yang keluar berbeda dengan milik-nya.
Seketika ia langsung membuka selimut yang menutupinya, nampak baju tidur lengan pendek melekat pada tubuhnya.
Kulit tangan mulus dan putih makin membuat dia ketakutan, karena warna kulitnya bukan seperti ini.
Dengan cepat ia bangkit berdiri menuju cermin rias yang ada di sudut ruangan. Begitu pantulan dirinya terlihat, wanita itu membulatkan matanya tidak percaya.
Dia memegang kedua pipi sembari menepuk-nepuk, mencubitnya dan itu terasa sakit, pertanda ini bukan mimpi.
Rambut panjang berwarna Golden white yang sedikit bergelombang, hidung mancung dengan garis wajah yang sempurna, serta bibir merah ranum, tak lupa juga bola mata violet yang begitu memesona.
Ciri-ciri ini mirip dengan ....
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, seorang wanita berpakaian maid masuk membawa baskom kecil dalam genggamannya.
Lantas Viely hanya diam menatap sosok yang baru saja masuk kedalam kamar. Perlahan wanita itu mendekat sembari memberi salam hormat padanya.
"Nona Rebecca .... selamat pagi!" serunya dengan sopan.
Begitu mendengar kata Rebecca, ia sontak kaget dan langsung membuka mulut bertanya.
"Apa aku adalah Rebecca Dowis?" tanyanya hendak memastikan sesuatu.
Wanita itu sempat terdiam. Dengan sorot mata yang kebingungan, ia mengangguk mengiyakan pertanyaan barusan.
"Nona apa anda baik-baik saja?" ujarnya sekali lagi, mencoba untuk memastikan bahwa sang majikan baik-baik saja.
Tidak dapat menjawab, kakinya langsung bergetar dan jatuh tersungkur kelantai dingin secara kasar.
'Kenapa aku berada dalam novel love prince, dan menjadi Rebecca, mantan protagonis yang mati bunuh diri!' pikirnya gelisah.
...❅️❅️❅️...
Awal dari hubungan mereka tidak berjalan dengan baik, karena Killian pria yang memiliki sisi dingin serta cuek dan sangat jarang berbicara banyak.
Namun bagi Rebecca, Killian adalah cinta pertamanya. Perjuangan yang ia berikan dan lakukan sepanjang cerita, membuat perasaannya menggebu-gebu serta mengelitik saat membaca kisah mereka.
Tetapi begitu masuk dalam pertengahan novel, semuanya berubah. Akibat kematian pangeran pertama yang adalah kekasih dari Harmonie Rane sahabat kecil Killian.
Sejak saat itu Killian perlahan-lahan mulai menghilang tidak seperti ia yang biasanya. Bahkan di hari ulang tahun Rebecca, pria itu tidak kelihatan sama sekali dan hanya mengirimkan surat permintaan maaf serta hadiah ulang tahun.
Seiring berjalannya waktu, mulai terdengar gosip di kalangan bangsawan, bahwa sebenarnya Killian tidak mencintai Rebecca, alasannya menerima pertunangan dua keluarga karena ingin melupakan wanita yang Killian cintai yaitu Harmonie.
Awalnya Rebecca tidak percaya saat mendengar hal itu, dan segera menyelidikinya.
Hingga satu fakta yang dia dengar sendiri saat mengunjungi kediaman Osmond, membuatnya yakin bahwa dia hanya sebuah tempat pelarian saja bagi Killian.
"Menurut mu bagaimana perasaan Rebecca saat mendengar rumor itu?" tanya Killian pada pengawal pribadinya.
"Bukankah sejak awal ini hanya pertunangan yang tidak memiliki perasaan sedikitpun di dalamnya, dan hanya untuk mengambil keuntungan saja? Jadi .... lebih baik anda bersama dengan Lady Harmonie saja," jelasnya balik.
"Kau benar—" jawab Killian.
Bagaikan luka sobek yang di berikan garam, sungguh sangat menyakitkan dan begitu perih. Pembicaraan mereka selanjutnya tidak di dengar lagi oleh Rebecca, karna sangking terlukanya dia.
Dengan cepat Rebecca meninggalkan kediaman Duke, bersama perasaannya yang bercampur aduk.
Mulai sejak saat itu Rebecca menjadi orang yang kasar serta selalu semena-mena, ia terus bertengkar dengan Killian jika menyangkut Harmonie.
Dan tepat saat malam pertama musim gugur, Rebecca masuk kedalam kediaman Marquess Rone untuk membunuh Harmonie, dalam aksinya ia ketahuan dan langsung di tangkap lalu di penjarakan.
Akibat tindakannya itu, keluarga Dowis terseret dan di hukum pancung oleh Kaisar. Setelah kematian keluarganya, Rebecca sadar bahwa ia sudah salah bertindak seperti itu.
Bahkan saat menjelang hari kematiannya, hanya ada kesunyian sebagai teman terbaik yang tidak pernah sekalipun meninggalkan-nya.
Rebecca duduk meringkuk dalam penjara dingin berbalutkan pakai tipis, dengan tubuhnya yang kurus hingga menampilkan tulang selangka. Ada juga beberapa luka yang membekas di kedua tangan dan kakinya.
Tiba-tiba dari sudut ruangan, terdengar pintu penjara yang bergeser tanda di buka oleh seseorang.
"Sudah waktunya kamu di eksekusi," ucap seseorang yang tidak lain Killian.
Wanita itu akhirnya tersenyum pasrah sebagai jawaban. Killian lalu menarik Rebecca yang tidak bisa bangkit berdiri, dan keluar dari dalam penjara.
Saat dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, dengan suara yang gemetar Rebecca berbicara sebagai kata-kata terakhirnya.
"Ini sudah seharusnya aku dapatkan, maafkan aku yang sudah menyulitkan mu .... harusnya aku sadar, sejak dulu kamu tidak mencintai ku, di hatimu hanya ada Harmonie seorang."
Mendengar kata-kata parau Rebecca, Killian berhenti sejenak. Menatap mata violetnya yang redup layaknya seekor ikan mati.
"Diamlah!" serunya terdengar ketus. Membuat Rebecca tertawa pahit.
"Kamu membenci ku kan Killian .... jadi .... "
Tiba-tiba Rebecca bergerak mengambil pedang yang ada pada Killian.
"Rebecca! Apa yang kamu—" ucapannya terjeda begitu mendengar perkataan mantan tunangannya.
"Sampai akhir, tidak pernah sekalipun aku membenci mu Killian. Aku masih tetap mencintaimu .... dan terima kasih untuk semuanya."
Bibir pucatnya perlahan bergerak di ikuti setitik bulir yang bening jatuh membasahi pipi. Rebecca tersenyum dengan tulus pada pria yang ia cintai, kemudian menikam jantungnya sendiri.
Itu adalah akhir dari Rebecca Dowis, wanita favorit Viely yang ada dalam novel love prince. Padahal di awal cerita mengatakan dia adalah pemeran utamanya, tapi sepertinya itu di ubah oleh sang penulis.
Saat mengetahui alurnya seperti itu, kelanjutannya saja tidak ia baca, karena pastinya Killian akan menikah dengan Harmonie.
Lalu sekarang? Dia malah mati di tabrak dan masuk kedalam novel menyedihkan ini. Sungguh nasip yang buruk!