Suddenly Become A Former Protagonist

Suddenly Become A Former Protagonist
< Menyebalkan >



...Happy Reading...


.......


.......


.......


Terlihat dalam pandangan, kediaman Aristotle sudah di depan mata. Rebecca menghela nafas panjang sebelum beranjak memasuki pekarangan.


Memang tempat tinggal sang jendral perang tidak di ragukan lagi, dia bahkan sampai geleng-geleng kepala. Jika di bandingkan dengan rumahnya dulu di kehidupan sebelumnya, mungkin kediaman ini sedikit lebih besar.


Dengan langkah yang pasti, Rebecca berlenggang dari sana menuju pintu masuk, di temani semilir angin pagi beserta cahaya matahari yang masih terasa hangat.


Dia lalu mengetuk pintu kediaman cukup keras, agar orang dalam bisa mendengarnya. Di detik berikutnya, benda kotak tersebut di tarik menampilkan sosok seorang pria dengan setelan baju yang rapi.


Bagian dada sebelah kanan bertuliskan butler kediaman tuan Rages.


"Selamat pagi tuan, saya Rere dayang baru yang akan bekerja di sini."


Sesopan mungkin dia berucap agar nampak baik dalam pertemuan pertama, sedang pria tua di depannya hanya mengangguk singkat sebagai tanggapan, sembari mengundang dia masuk kedalam.


Rebecca pun mengekori butler tersebut sambil sesekali melirik-lirik sekitar ruangan yang nampak begitu berkelas dan mewah.


'Jadi begini dalamnya ...,' benaknya mengangguk singkat.


Sampai tak sadar bahwa tuan Rages sudah berhenti di tempat.


Hanya tinggal beberapa inci saja Rebecca hampir menabrak punggung sang butler, untung saja keberuntungan berpihak banyak padanya, dan hal tersebut dapat hindari.


"Hampir saja ....," gumamnya pelan seraya menyapu dada lepas terkejut.


Pria itupun mengetuk pintu yang berada di tengah-tengah lorong kediaman, hingga terdengar suara seorang pria yang menyuruhnya untuk masuk kedalam.


Pintu itupun di buka dengan hati-hati, menampilkan sosok pria berotot yang menawan sedang duduk menulis surat-surat di depan meja besar berwarna hitam.


Rambut peraknya yang terkena cahaya matahari pagi, membuat surainya berkilau seperti bintang di langit. Bola matanya yang mirip batu Ruby kini menatap lurus ke depan.


'Uh meskipun tampan, tapi auranya terlihat mencekam,' pikirnya melirik sekilas keberadaan pria tersebut.


'Tunggu... apa jangan-jangan dia itu Duke Aristotle?!'


lanjutnya menebak-nebak, karena dalam novel tidak di jelaskan secara detail perawakan Duke serta Duchess.


"Ada apa?" ucapnya singkat.


Sebelum menjawab, butler itu memberi salam hormat terlebih dahulu.


"Tuan, saya datang kesini hendak membawa satu orang pekerja baru."


'Wah ternyata benar dia tuan Duke,' ucapnya dalam hati, masih tidak percaya sama sekali.


Kini nampak pria itu menaikan satu alisnya seperti heran, atau mungkin tidak tahu?


"Aku tidak pernah merekrut pekerja baru sebelumnya ...."


Mendengar jawaban tersebut, Rebecca mengerutkan dahi merasa seperti telah di tipu, apa Duchess belum memberi tahu padanya?


"Ah, permisi, kemarin saya di rekrut oleh Duchess. Kata beliau dia sedang mencari dayang pribadi, lalu memberikan ini," jelasnya sambil menunjukan kartu alamat.


Mengetahuinya, pria yang sedang duduk itu menyuruh butler kediaman untuk memanggil  Duchess.


Setelah kepergian pria paru baya itu, tuan Duke kembali melanjutkan aktifitas menulisnya, membiarkan Rebecca begitu saja.


"Kau, dari mana asalmu?"


tanyanya seketika dengan nada yang dingin dan mencekam. Sebelum menjawab, Rebecca menarik nafas dalam-dalam untuk meredahkan rasa gugup yang datang.


"Saya datang dari County, tuan Duke."


Setenang mungkin dia mengatur nada bicara saat menjawab sang tuan kediaman. Pria itupun berhenti menulis sambil menatap mata violet Rebecca tajam.


"Tempat count Dowis? Atau yang lain?"


Mendengarnya, pria tersebut hanya mengangguk-angguk singkat.


"Ku dengar tanah di sana yang paling subur, tapi sepertinya sudah rusak. Hebat juga kau bisa bertahan di bawah kuasa orang yang hampir jadi rakyat jelata."


Mendengar kata ejekan tersebut, membuat perempatan tak kasat mata muncul di dahi Rebecca. Mentang-mentang derajatnya Duke, suka sekali menghina orang.


Benar ternyata. Pria ini sudah tidak lagi menyukai Count Dowis, sebab musuh bebuyutannya Duke Osmond menjalin ikatan dengan keluarga Dowis.


"Menurut pandangan orang lain begitu tuan. Tapi, Count Dowis mampu membuat kami merasa nyaman, walaupun dia sedang kesulitan," tekan Rebecca di setiap kata demi kata yang terlontar.


Duke pun terkejut mendengarnya. Pria itu bahkan berfikir bahwa wanita seperti ini pasti tidak akan bertahan lama di kediamannya.


'Aku tidak begitu tahu masalah apa di antara kedua Duke ini, karena di dalam novel hanya mengatakan mereka musuh bebuyutan. Mungkin dari segi politik,' pikirnya menebak-nebak.


Hingga terdengar suara ketukan bersamaan datangnya Duchess yang sudah di kenali Rebecca sejak dia mengatakan ingin mencari dayang pribadi di kediamannya.


Rebecca lalu memberi salam dengan sopan, seperti yang sudah ia pelajari semalam. Duchess pun tersenyum ramah seperti sebelumnya, sembari mendekati Rebecca.


Di pengang pundak wanita bersurai hitam itu dengan hati-hati, sambil menatap sang suami yang menunggu sedari tadi untuk di jelaskan.


"Sayang, gadis ini adalah orang yang kutunjuk untuk menjadi dayang pribadi selanjutnya, menggantikan dayang yang keluar beberapa minggu lalu. Dia juga yang menolong ku kemarin dari pencurian," jelas wanita bermanik pink, sambil sesekali tersenyum pada Rebecca dengan lembut.


"Tapi dia dari kalangan rakyat biasa, mana bisa menjadi dayang pribadi dan aku rasa dia tidak akan tahan sini."


Suara Duke tiba-tiba berubah drastis saat berbicara dengan Duchess, membuat dirinya terkejut. Ternyata pria bermulut pedas ini bisa bersikap demikian,


"Kitakan belum melihat kemampuannya? Lagi pula siapa tahu dia bisa lebih baik dari dayang-dayang keluarga bangsawan,"


Timpal Duchess membuat pria itu tidak bisa melawan lagi, dia lalu menerima keinginan sang istri dengan lapang dada.


"Nah, ayo ikuti aku .... kamu akan memulai pekerjaan sesegera mungkin," ujar wanita itu.


'Hanya begitu? Ku kira butuh di tes dulu?!'


benaknya heran dengan perasaan yang terasa tidak enak, ia lalu bergerak mengikuti sang majikan menuju ke lantai berikutnya dalam diam, tapi pikiran terus saja berkelana kemana-mana.


"Oh iya satu hal lagi, siapa namamu?"


"Saya Rere, nyonya besar."


"Nah, Rere. Dalam bekerja sebagai dayang pribadi, aku menyerahkan semua tanggung jawabnya kepadamu. Jika ada masalah yang menurut mu fatal barulah kamu memanggil ku."


Penjelasan Duchess yang makin membuatnya curiga, apakah ada peraturan dimana dayang pribadi bertanggung jawab penuh pada diri sang majikan melewati apapun?


Perkataan Duchess ini seperti orang yang sudah menyerah pada situasinya, lalu melemparkan tanggung jawab pada orang lain.


Mereka pun berhenti di depan pintu putih yang bercorak indah, Duchess lalu mengetuknya sembari masuk kedalam.


Rebecca seketika melongo melihat situasi sekarang, kamarnya sungguh seperti kapal perang yang hancur lebur. Tidak mungkinkan ini kamar Duchess? Atau jangan bilang ....


"Nak .... kamu di mana?"


Mendengarnya yang memanggil kata nak, membuat pupil mata Rebecca bergetar.


'Oh Tuhan jangan bilang aku menjadi dayang pribadi anaknya yang ke dua!'


Tiba-tiba serangan bola-bola air yang entah datang dari mana, langsung mengenai wajahnya hingga riasan yang sudah susah paya di poles untuk hari ini jadi rusak.


'Anak kurang ajar!' umpat Rebecca menahan amarahnya.


"Oh astaga! Rere, kamu baik-baik saja?"


tanya Duchess khawatir. Dia lalu mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada Rebecca. Setelah serangan itu, kini terdengar suara seseorang yang tertawa di balik teras.


Menampilkan sosok anak laki-laki yang lumayan tinggi dengan surai perak serta bola mata yang mirip batu Ruby. Rebecca seperti melihat Duke Aristotle versi kecil saat ini.


'Habis sudah kewarasan ku ini.'


^^^To be continued ....^^^