
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Menjelang sore setelah selesai mengerjakan pekerjaannya sebagai dayang pribadi, Rebecca kini bersiap-siap akan kembali pulang ke kediaman Dowis.
Dia lalu bergerak mengetuk pintu kamar Mikel untuk berpamitan. Saat sudah menerima izin masuk, tangan putihnya mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar.
Terlihat dalam pandangan, kamar tidur yang beberapa saat lalu rapi, sudah acak kembali.
Rebecca kemudian menghadap kiri, melihat anak laki-laki itu yang tengah tengkurap di atas tempat tidur sambil membaca buku.
Ia pun menghela nafas pelan sembari merapikan kembali kamar yang seperti kapal pecah ini. Setelah selesai, dia lalu mendekati Mikel, hendak menjelaskan sesuatu.
"Tuan muda, saya akan kembali besok karena tidak bisa tidur di sini," jelas Rebecca yang membuat mata Ruby lelaki itu menatap-nya terkejut.
Bukan berarti dia merasa sedih perempuan ini pergi, tapi rencana yang ia buat untuk menakuti dayangnya jika tidur di sini jadi gagal.
"Kenapa pulang? kau kan dayang ku," jawabnya sambil bangun dari atas tempat tidur, buku yang di pegang pun di biarkan begitu saja.
"Orang tua saya sedang sakit, jadi saya harus pulang. saya juga sudah meminta izin pada nyonya dan tuan,"
Balasnya menatap perawakan Mikel yang hanya ber-oh ria. lelaki itu kemudian menggerakkan tangannya seperti mengusir, Rebecca yang mengerti segera menunduk memberi salam dan keluar dari dalam kamar.
Setelah kepergiannya, Mikel langsung merebahkan dirinya kembali ke atas tempat tidur dengan gaya terlentang. Matanya menatap lurus langit-langit kamar yang luas.
"Aneh .... kenapa dia tidak marah padaku saat mengacak-acak kamar ini lagi? Dia juga tidak menatap ku tajam saat aku mengerjainya," monolognya heran.
Dia lalu bergerak menyamping sambil menutup mata merasa lelah. Sebelum Mikel benar-benar tertidur, ia mengucapkan beberapa kata, wanita itu berbeda.
Di waktu yang sama setelah selesai berpamitan, Rebecca keluar dari dalam kediaman menuju ke depan gerbang, yang di sana sudah ada dua kereta kuda.
Wanita itu bingung setengah mati, mana yang harus ia naiki? Di tambah keduanya berkualitas bagus. Sesayang inikah Duchess padanya?
"Ah! yang kiri saja," ujarnya sambil bergerak ke arah kereta kuda berwarna putih.
Saat hendak membukanya, tiba-tiba dari dalam ada sebuah dorongan juga yang membuat Rebecca kaget dan jatuh.
"Siapa kau?!" ucapnya.
Membuat Rebecca mendongkak menatap perawakan seorang pria tampan dengan rambut perak yang berkilau. Netra merah muda milik-nya begitu indah namun tajam, sedang menatap Rebecca.
'Ciri-cirinya mirip dengan Duke Aristotle,' pikirnya sambil bangkit berdiri, kemudian meminta maaf.
Tiba-tiba dari belakang datang butler kediaman, tuan Rages. Dia lalu memberi salam sambil menyebutkan kata tuan muda.
Seketika Rebecca terkejut, jika tuan muda .... artinya dia adalah anak laki-laki pertama keluarga Aristotle.
'Tapi tenang .... di dalam novel, tidak menjelaskan banyak soal pria ini, harusnya dia tidak terlalu penting kan? namanya saja tidak ku ketahui,' pikirnya sambil mengangguk-angguk singkat.
Kini pandangan pria tersebut berahli menatap Rebecca, karena wanita itu belum menjawab pertanyaan yang dia lontarkan sebelumnya.
"Tuan muda, dia adalah dayang baru tuan Mikel," jelas Rages saat melihat majikannya tengah menatap penasaran wanita bersurai hitam ini.
"Ah ia, salam kenal tuan muda... saya Rere," sahutnya secara tiba-tiba setelah tersadar.
Pria itu pun hanya menatapnya sebentar kemudian pergi bersama butler kediaman, Rebecca lantas berdecak pelan menatap kepergian mereka.
Sembari bergerak ke arah kanan, tempat di parkirnya kereta kuda kedua. Ia lalu masuk ke dalam diiringi kusir kuda yang datang.
Rebecca kemudian menyuruh sang kusir untuk segera pergi. Roda kereta kuda pun berputar menelusuri jalan setapak, menuju ke kota County.
...∆•••∆...
Rebecca membaringkan dirinya ke atas tempat tidur yang empuk. Sehabis perjalanan jauhnya, entah kenapa dia hanya ingin tidur saja. Mau mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah di hari pertama ia bekerja.
Di tambah dia harus ekstra sabar menghadapi anak yang bernama Mikel. Tidak di sangkah pemeran sampingan seperti merekalah yang menjadi satu-satunya tempat mencari uang bagi mantan protagonis Rebecca.
Yah, walaupun itu semua adalah ulahnya karena mau mengubah hidup keluarga Dowis agar tidak berakhir tragis.
'Pokoknya harus berhasil!'
Saat tengah terlalut dalam pemikiran yang tiada habisnya, suara ketukan pintu mengakhiri semua. Rebecca lalu memberikan izin seseorang yang di luar sana untuk masuk kedalam.
Ngomong-ngomong, soal ibunya Stella. Beliau tengah menghadiri acara tea party yang di adakan sahabatnya, di kediaman Baron. Sedang Count, dia memiliki banyak urusan yang harus ia selesaikan. Jadi di kediaman ini hanya ada dirinya dan para pekerja serta pengawal.
"Salam nona, maaf mengganggu... tapi tuan muda Osmond datang berkunjung."
Rebecca yang tengah berbaring santai seketika di kejutkan oleh penjelasan singkat dari Emily, dayang pribadinya.
"Apa! kenapa pria itu kesini!" teriaknya tanpa sadar. "Ma-maksudku .... jamu dia dengan kue dan teh, aku akan segera menyusul kebawah," lanjutnya menenangkan diri dari keterkejutan yang datang.
Setelah dayang tersebut pergi dari dalam kamar, Rebecca segera mencebik kesal sambil menggigit kuku jarinya merasa gugup.
"Dalam novel kan, Killian baru menemui Rebecca saat Count mengundangnya untuk makan siang bersama. Dan itu terjadi saat pertengahan musim panas, inikan baru awal musim panas,"
monolognya mengacak-acak surai, sambil bergerak membuka lemari baju, hendak mengganti gaunnya dengan yang lebih layak.
Sesudah memilih gaun yang simpel dan nyaman, segera wanita itu keluar dari dalam kamar, hendak menemui sang pemeran utama dalam novel Love Prince.
'Seperti apa perawakannya ya? Dalam novel kan bilangnya menawan. Ah tidak tahulah,' pikirnya kalut sambil mengangkat gaun yang di pakai agar dia dapat berlari.
Begitu tiba di depan pintu ruang tamu, Rebecca menelan kasar ludahnya merasa gugup. Tapi dia harus menahannya agar tidak kelihatan jelas.
Saat kedua tangannya mendorong pintu tersebut, hal yang ia lihat pertama kali adalah seorang pria menawan atau bisa di katakan sangat menawan tengah duduk.
Pria itu pun berpaling menatap seseorang yang datang, itu adalah Rebecca.
Seketika langkah kaki wanita itu terhenti, pupil matanya membola kala melihat langsung perawakan sang pemeran utama.
'Tampan!' pekiknya dalam hati, dengan degupan jantung yang berdetak cepat.
Bukan karna ia jatuh cinta atau bagaimana, ini reflek dari tubuh Rebecca saja. Dia 'kan mencintai Killian.
Kini Mata biru pria itu menatap lekat tunangannya, di ikuti pergerakan lembut surai hitamnya yang di gerakan angin sore dari jendela ruangan tamu.
Rebecca pun mulai melangkah mendekati Killian yang terus menatapnya sejak tadi. Setelah sampai di depan-nya, Ia lalu menunduk memberi salam.
"Salam tuan—"
Grep!
Tubuhnya seketika menegang, saat Killian tiba-tiba bangkit berdiri dan memeluknya erat, bahkan terdengar suara helaan nafas lega darinya yang melewati telinga Rebecca.
'Apa-apaan ini! Kenapa dia jadi aneh!' jeritnya dalam hati.
...~Killian Luis Osmond~...
...gambar di ambil dari pin...
^^^To be continued ....^^^