
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Nafas Rebecca tercekat di antara tenggorokan saat suara langkah kaki itu makin mendekati tempat persembunyiannya. Dia menutup mata sambil bermohon agar mereka tidak menemukannya disini. Ya, Rebecca tengah bersembunyi dalam celah kecil dengan sisi kiri dan kanan di penuhi besi tua.
"Hmp!"
Dia menutup mulut dengan satu tangan ketika melihat sepatu bot hitam yang sering di gunakan Killian. Jatungnya berpacu kencang ketika dua ujung sepatu menghadap ke arahnya.
"... Sepertinya itu cuma seekor tikus yang lewat, tuan muda."
"Ku rasa juga begitu. Mari lanjutkan saja perjalanan kita," Killian berucap sembari melangkah pergi dari sana bersama dengan Aaron.
Sementara Rebecca, ia merasa lega akan mereka yang tidak menemukannya. Namun di satu sisi dia merasa jengkel saat di katai seekor tikus.
"Huh! Mana ada tikus secantik aku!" gerutunya pelan sembari keluar dari celah tersebut perlahan-lahan.
Dia lalu melirik kedua punggung yang sudah menjauh setelah kemudian beranjak pergi dari sana.
Dalam perjalanan Rebecca terus memikirkan tentang tindakan yang di lakukan Killian. Ini sudah sangat melenceng dari cerita aslinya, mulai dari perubahan Killian yang peduli padanya, lalu penemuan spirit stone yang lebih awal, sampai penyelidikan tentang penjualan orang tubuh manusia.
Saat sedang terhanyut dalam pemikirannya yang tidak kunjung selesai, Rebecca tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang lewat. Dia hampir saja jatuh kalau orang itu tidak menahan tangannya.
"Kamu tidak apa-apa Nona?" tanyanya sembari melepaskan pegangan.
Ketika Rebecca mengangkat pandangan ke atas, betapa terkejutnya dia melihat orang yang berdiri di hadapannya.
Ciri-ciri pria ini mirip dengan... Rocksy, orang kepercayaan sekaligus kekasih pangeran kedua. Walaupun dia menutup bagian kepala dengan tudung jubah.
"Ada apa nona? Kamu terluka?"
Rebecca berkedip sembari tertawa canggung, "Tidak. Saya baik-baik saja tuan, dan maaf sudah menabrak anda sebelumnya. Kalau begitu saya permisi dulu."
Tanpa berlama-lama ia segera pergi meninggalkan lorong sempit itu. Rocksy yang melihat kepergian wanita yang tidak ia kenal, mengernyit heran. Mungkinkah dia mengenal ku? Itu yang dia pikirkan saat melihat raut terkejut Rebecca tadi.
"Tidak, tidak mungkin. Pasti itu karna reflek terkejut."
Rocksy berbalik pergi sambil membuang pikiran anehnya tentang wanita barusan yang mengenalnya.
Tak!
Rebecca menutup pintu kereta kuda saat ia sudah berada di dalam kabin. Sembari duduk untuk beristirahat sejenak, ia mendesah pelan kala mengingat kejadian sebelumnya.
Dirinya begitu yakin pria tadi adalah Rocksy, karna ciri-ciri yang di tuliskan penulis sangatlah mirip dengan pria itu.
Dalam novel, Rocksy 'si pembantu Antagonis' di ceritakan sebagai orang licik yang menyusun strategi agar Pangeran kedua mendapatkan tahta kerajaan. Di samping itu, dia juga adalah kekasih Pangeran. Mereka menjalin hubungan terlarang tanpa sepengetahuan orang luar, tetapi mereka akan ketahuan oleh Rebecca.
Kalau tidak salah, saat itu Rebecca kebetulan lewat di taman utama istana karna merasa bosan berada dalam ruangan pesta, di tambah Killian yang menghilang entah kemana. Di sanalah dia melihat Pangeran dan Rocksy berciuman.
Rebecca tentu saja terkejut dan lekas-lekas pergi, karna merasa terkejut akan yang ia lihat barusan.
"... Sayang sekali Rebecca tidak mengambil bukti hubungan keduanya. Jika ia, pasti reputasi Pangeran akan turun dan pendukung Killian akan bertambah," monolognya sambil mengangguk kecil, dan di detik selanjutnya dia mendapatkan ide yang cemerlang.
Dia tersenyum miring sambil berbicara sendiri lagi.
"Aku akan membantu Killian untuk mengungkap kejahatan Pangeran serta hubungan terlarangnya. Meskipun alurnya sedikit berantakan, tetapi aku yakin ada bagian-bagian tertentu yang masih sama."
Sekarang, sudah Rebecca putuskan untuk sedikit membantu Killian, agar ia bisa mengalahkan antagonis pria yang licik. Jika dia berhasil, pastinya happy ending akan terjadi dan ada kemungkinan besar presentase kematiannya berkurang.
Rebecca pun tersenyum lebar ketika sudah menemukan plan C untuk ia lakukan ke depannya.
...∆••∆...
Terlihat bangunan tua dengan dua penjaga bertubuh besar yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu. Killian dan Aaron perlahan mendekati tempat yang di sebut pasar gelap itu. Ketika tiba di depan pintu, mereka di cegat oleh dua penjaga tadi yang jika di bandingkan dengan tubuh Killian cuma terpaut beberapa angka saja.
"Ada urusan apa kalian kesini."
Satu di antaranya bertanya, dan tanpa menjawab Aaron mengeluarkan dua kantong berwarna coklat muda yang di dalamnya ada sejumlah emas. Dia lalu memberikannya pada kedua penjaga.
"Izinkan kami masuk."
Mendengar itu mereka langsung tersenyum sumringah kemudian mempersilahkan Killian dan Aaron untuk masuk ke dalam. Begitu pintu terbuka lebar, aroma tembakau serta alkohol tercium jelas dalam indra penciuman mereka.
Suasana di dalam sungguh ramai dan bersisik, di tambah cahaya dalam ruangan sedikit redup.
"Selanjutnya kita akan melakukan apa?" tanya Aaron yang menurunkan oktaf suaranya.
"Pertama-tama kita tinjau dulu keadaan sekitar. Jika kita langsung bertanya, maka mereka akan curiga dan segera pergi dari sini."
Aaron mengangguk pelan, mereka lalu pergi menunju meja yang berdekatan dengan tempat kasir dan duduk diam di sana sambil memerhatikan keadaan sekitar ruangan.
Satu pelayan pun mendekati mereka sembari bertanya apa yang akan keduanya pesan. Aaron lalu mengatakan untuk memberikan dua botol alkohol dengan kadar rendah.
Pelayan itu mengangguk dan segera pergi memenuhi pesanan, setelah cukup lama menunggu akhirnya dua botol alkohol sudah tiba. Tapi mereka tidak sedikitpun bergerak untuk membukanya, sebab memesan minum ini hanya sekedar basa-basi saja.
Di saat yang bersamaan para wanita penggoda datang mendekati mereka, hendak menawarkan diri. Namun keduanya hanya diam tidak memberikan tanggapan terhadap pertanyaan juga sentuhan mereka.
"Tuan, baik-baik saja kan?" Aaron bertanya karna yang ia tahu, tuan mudanya sangat tidak suka jika di sentuh oleh orang asing.
Ajudannya sempat tersenyum kecil saat mendengar perkataan tersebut. Tidak ia sangka tuan muda yang terkenal dingin ini bisa menyukai seorang wanita.
"Kelihatannya anda sangat tertarik pada Lady Dowis."
"Lebih dari kata tertarik," ujarnya tersenyum tipis.
Tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti kala ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan. Orang itu bertubuh tinggi dan berisi, dia memakai jubah hitam menutupi kepala.
Killian lalu memberikan kode pada Aaron lewat tatapan untuk mengawasi orang berjubah hitam tersebut. Terlihat dia mendekati kasir sambil berbisik pelan, sang kasir mengangguk kecil kemudian menyerahkan sekantong emas. Dia lalu menandatangani sesuatu kemudian segera pergi dari sana.
Bergegas mereka bangkit berdiri dan pergi mendekati kasir sambil mendorong para wanita penggoda yang menahan mereka.
"Bolehkah kami bertanya sesuatu?" Killian lebih dulu berbicara dengan nada sopan namun terdengar dingin. Kasir pria yang berjaga mengangkat satu alisnya seperti berkata 'apa?'
"Siapa orang sebelumnya yang kamu berikan sekantong emas penuh."
"Dia adalah klien special kami, jadi tidak sembarangan kami membeberkan identitasnya pada orang lain."
Lelaki itu menjawab datar sambil menatap sinis Killian, melihat tatapan tersebut Aaron menjadi kesal. Jika saja dia tahu siapa orang yang sedang berbincang dengannya, pasti kasir ini akan lari ketakutan.
"Aku akan memberikan mu bayaran tiga kali lipat, jika menjawabnya."
Dia terlihat memikirkan perkataan Killian, dan di detik selanjutnya kasir itu mengangguk setuju. Kapan lagi dia akan mendapatkan uang sebanyak itu, jika menolak sangat di sayangkan.
"Tetapi kami tidak bisa memberikan identitasnya. Walaupun di bayar mahal. Sebenarnya orang yang tadi sedang melakukan transaksi jual beli organ tubuh anak-anak."
Aaron sangat terkejut saat mendengar hal itu, namun tidak dengan Killian. Karna dia sudah tahu siapa pelakunya, jadi ia hanya tinggal mengumpulkan beberapa bukti yang kuat.
"Katakan siapa namanya? Kami akan memberikan bayaran lebih tinggi dari sebelumnya."
Kini Aaron yang angkat bicara, tetapi seperti yang sudah di katakan kasir itu sebelumnya. Dia tidak akan memberitahukan identitas dari kliennya. Aaron pun menggebrak meja dengan kasar, hingga semua pandangan tertuju pada mereka.
Killian yang melihat hal itu segera menenangkan ajudannya dan menarik dia pergi dari dalam ruangan, namun sebelum itu Killian memberikan satu kantong sedang berisi emas pada sang kasir sebagai janji sebelumnya.
Setibanya mereka di luar, Aaron berdecak kesal sambil bertanya kenapa Killian tidak memaksa kasir itu untuk bicara.
"... Jangan terlalu terburu-buru, karna aku sudah tahu siapa pelakunya. Kita tinggal mengumpulkan bukti yang kuat, jadi kita harus mencari tempat di mana mereka mengurung anak-anak yang di culik sebelum organ mereka di jual."
Sempat Aaron mengernyit bingung saat mendengar penjelasan Killian, dia bahkan jadi penasaran akan siapa orang yang di maksud. Sebab dalam Kekaisaran, Kaisar melarang keras perdangangan organ tubuh manusia. Dan jika di temukan, mereka pasti akan di hukum mati.
"Siapa itu tuan muda?" tanya Aaron dengan raut penasaran. Killian sempat melirik pria itu sebelum akhirnya menjawab.
"Pangeran kedua, Charles."
...∆••∆...
Besoknya menjelang siang di depan kediaman Aristotle, Rebecca bersama dengan Mikel dan dua pengawal lainnya sudah berdiri di samping kereta kuda.
Sesuai yang di katakan tuan mudanya kemarin, bahwa ia harus menemaninya ke acara kumpulan anak-anak bangsawan. Jadi Rebecca sudah bersiap-siap untuk itu.
"Silakan naik Tuan muda."
Rebecca membuka pintu kereta sembari mempersilahkan Mikel untuk masuk, lelaki itupun bergerak dengan satu buku di tangan kirinya dan berlenggang masuk ke dalam kereta kuda.
Setelah di rasa tuannya sudah duduk dengan nyaman, saatnya Rebecca bergerak naik. Namun aksinya terhenti kala mendengar suara Duchess yang memanggilnya dari jauh.
Ia pun berbalik ke belakang, "Nyonya? Ada apa?" tanya Rebecca sambil tersenyum kecil.
"Tolong jaga Mikel baik-baik, karna sudah sebulan ini berita tentang penculikan anak sering terjadi."
Nampaklah wajah khawatir Duchess, tetapi dengan cepat Rebecca mengatakan bahwa ia akan menjaga Mikel dengan baik selama dalam perjalanan.
"Huft... andaikan aku di izinkan Mikel untuk ikut, pasti aku sudah pergi bersamanya. Tapi, anak itu lebih suka bersama mu. Jadi aku tidak bisa memaksanya."
Rebecca menunjukkan raut cengo saat mendengar perkataan Nyonya kediaman. Bukankah kata Mikel kemarin bahwa ibunya sedang sibuk, jadi dia memanggilnya untuk di temani?
"Anu... maaf sebelumnya, tapi kata tuan muda kedua anda sedang sibuk. Makanya tuan memanggil saya."
Duchess menunjukkan raut tidak percaya akan yang di ucapkan Rebecca. Namun di detik selanjutnya dia mendekat dan berbisik pelan.
"Apa Mikel berdecih saat mengatakan aku sedang sibuk?"
Dia menutup matanya sambil mengingat pembicaraan kemarin, setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan Duchess, Rebecca mengangguk pelan.
"Ternyata begitu... perlu kamu tahu, ketika Mikel berdecih artinya dia sedang berbohong," jelasnya pelan agar tidak di dengar oleh Mikel.
"Eh, begitukah...? Akan saya ingat itu Nyonya."
Kini Rebecca tahu akan satu hal tentang sifat anak nakal itu, syukurlah dia menjelaskannya pada Nyonya rumah. Kalau tidak? Pastilah dia tidak akan tahu apa-apa.
"Rere! Cepat masuk!" teriakan tiba-tiba dari dalam kereta kuda membuyarkan obrolan singkat mereka.
Rebecca pun berpamitan pada Duchess sambil menunduk sopan. Ia lalu berbalik masuk ke dalam kereta kuda. Ke empat roda itupun berputar meninggalkan kediaman Aristotle dengan Duchess yang melambai singkat pada mereka.
...~Christof Jors Aristotle~...
...gambar di ambil dari pin...
^^^To be continued...^^^