
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Mikel cyril Aristotle, itulah nama anak yang akan Rebecca rawat kedepannya. Tidak pernah ia sangkah akan jadi begini. Pantas saja Duke mengatakan dia tidak akan bertahan lama di sini, ternyata ada hubungannya dengan sang anak yang nakal.
'Ternyata alasan gajinya tinggi adalah ini?'
Ia tertawa hambar di dalam hati, sambil menatap perawakan anak laki-laki yang sekarang tengah duduk di sofa, sedang di ceramahi ibunya.
"Ibukan tahu, aku sering menyambut para dayang baru. Jadi maklumi saja itu," sahutnya sambil membuang pandangan.
Duchess pun terdengar mengehela nafas pelan menatap sayu anak di depannya.
Melihat hal tersebut, Rebecca lantas bergerak mendekati Mikel. Dia lalu memutar pandangan anak itu jadi menghadap Duchess.
"Tuan muda, tidak sopan bersikap seperti itu pada orang tua,"
tekannya menunjukan senyuman menyeramkan, hingga Mikel sendiri sempat takut.
"Baiklah .... tugasku disini sudah selesai, kalau begitu aku undur diri dulu," ucap wanita itu dan di beri salam hormat oleh Rebecca.
Begitu pintu kamar tertutup, dia merenggangkan tangan bersiap untuk membersihkan kekacauan tersebut.
Sedangkan anak tadi hanya diam menatap pergerakan Rebecca yang nampak terlatih.
'Dayang kali ini tidak biasa,' pikir Mikel menatap curiga wanita bersurai hitam yang tengah menyapu ruangan kamar.
Sampai sebuah senyuman yang memiliki maksud dalam, muncul di wajah anak tersebut. Dia lalu melepaskan sepatunya hendak melempar benda itu pada Rebecca.
Belum sempat di lempar, suara yang dingin dan penuh penekanan terdengar.
"Tuan muda. Katakan jika anda ini berkelahi dengan saya," ucapnya sambil berbalik menatap Mikel yang terhenti di tempat dengan pose melempar.
"Siapa juga yang mau melempar mu, cih!" jawabnya memutar balikan fakta.
Padahal Rebecca melihat sendiri dari ekor mata bahwa anak itu akan melempar sepatu padanya.
"Eh, saya hanya mengajak anda berkelahi. Bukan menuduh anda melepar sepatu loh ....," sahutnya yang seketika membuat anak bernama Mikel terkejut.
Terdengar dia sedikit terbatuk. Mungkin tersedak ludah sendiri.
"Hei kau! Ambilkan aku air cepat!" titahnya segera.
Rebecca lalu memberhentikan acara bersih-bersihnya dan bergerak mengambil air yang ada di atas meja samping tempat tidur dan memberikannya pada Mikel. Lalu lanjut lagi bekerja.
...❅️❅️❅️...
Menjelang siang tepat saat waktu istirahat para pekerja di kediaman, sedari tadi Rebecca sedang mencari tempat untuk duduk, karna dia ingin makan dan juga ingin mencari teman.
Tapi belum sempat ia mendapatkan tempat duduk, seorang penjaga masuk ke dalam ruangan makan para pekerja kediaman, sambil menyebut nama Rere untuk segera datang, karena tuan muda memanggilnya.
Wanita itupun mendengus kesal sambil melepaskan piring makanan ke sembarang meja, dan berlalu dari sana.
"Jadi itu si dayang baru? Mau taruhan?"
"Heh ayo, sebulan dia akan keluar."
"Tidak. Menurut ku dua minggu lagi,"
Begitulah pembicaraan para pelayan yang ada dalam ruangan, mereka mempertaruhkan beberapa koin perunggu untuk Rebecca, karna dia akan cepat-cepat undur diri dari kediaman Aristotle.
Padahal dalam kepala wanita itu sendiri, dia akan bertahan sampai beberapa bulan lagi, hanya untuk mengumpulkan uang. Meskipun rasanya sulit, tapi hal seperti ini tidak akan memutuskan semangatnya.
Sesampainya ia di depan pintu kamar, di ketuknya pintu tersebut. Hingga terdengar suara Mikel dari dalam memberinya izin untuk masuk.
Saat pintu kamar terbuka, siraman air datang lagi padanya. Sampai membuat ia basah kuyup. Sementara sang pelaku hanya tertawa terbahak-bahak sambil pergi meninggalkan Rebecca.
"Sabarlah Rebecca! Demi uang dan hidup yang indah di masa depan," gumamnya mengepalkan kedua tangan.
Ia kemudian bergerak mengambil kain pel untuk membersihkan lantai yang berair.
Beruntunglah dia tahu hal-hal seperti ini, sebab di kehidupannya sebagai Viely, sebelum menjadi pemimpin bisnis dia harus bekerja dari bawah dulu.
Makanya kerja seperti ini tidak kaku lagi untuknya.
Selepas itu, dia lalu pergi menuju teras kamar untuk menjemur diri di sana. Sebab baju dayangnya hanya ada satu saja, di tambah Rebecca tidak membawa kemeja lebih saat datang kesini, mengingat dia yang akan kembali pulang.
Saat sedang berjemur, dari arah belakang datang Mikel dengan sepiring kue cokelat di tangannya.
"Belum kering juga ya?" tanyanya dengan mulut yang penuh dengan kue kering.
Sedang Rebecca hanya menatapnya sekilas, tidak berbicara.
"Tuan muda tahu ya, saya belum makan apapun. Makanya anda datang kesini untuk mengejek saya dengan segunung kue cokelat. Maaf tapi itu tidak berpengaruh sama sekali."
Penjelasan tersebut membuat lelaki bersurai perak itu membulatkan matanya tidak percaya. Apa rencananya ini begitu mudah terbaca?
"Siapa juga yang berfikir begitu. Cih!"
Mendengar hal itu, Rebecca terkekeh pelan. Dia lalu menatap majikan kecilnya yang ada di samping kanan.
"Memangnya ada larangan untuk ku kesini? Ingat, ini tempat pilihanku bodoh," timpal Mikel.
Rebecca hanya mengangguk mendengar perkataan tersebut, sambil berbalik menatap lurus ke depan. Menikmati pemandangan gunung serta kota-kota yang terlihat dari sini.
"Pilihan anda memang bagus. Ini tempat yang cocok untuk menenangkan diri," balasnya menghirup udara segara kemudian menghembusnya pelan-pelan.
"Saya dayang keberapa anda kali ini?" tanya Rebecca tiba-tiba.
Mikel pun membuang pandangan sambil menjawab,
"Seratus."
Rebecca lantas tersenyum simpul sambil mendekati anak itu, tangannya bergerak menyentuh pucuk kepala Mikel. Membuat yang di sentuh tersentak kaget.
"Dengar ya tuan muda. Saya tidak akan sama seperti dayang yang keluar, karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jadi, berjuanglah untuk membuat saya keluar dari sini," ucapnya sambil beranjak pergi, hendak menemui seseorang.
Sedangkan Mikel hanya terdiam tidak dapat berkata-kata lagi.
...❅️❅️❅️...
Dalam ruangan rapi dan teratur, Duchess tengah duduk merajut syal untuk suami dan kedua anak laki-lakinya di temani dayang setianya.
Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan kegiatan wanita itu, dia lalu menyuruh dayangnya untuk membuka pintu kamar segera.
Begitu di buka, ternyata yang datang berkunjung adalah Duke. Perempuan itupun langsung tersenyum hangat menyambut sang suami.
"Tumben sekali siang ini kamu datang berkunjung, biasanya nanti sore," ucapnya menatap Duke, yang bergerak mendekatinya.
"Ya, ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mu."
Duke mendudukkan diri tepat di samping istrinya yang sejak masuk terus memperhatikannya.
"Apa itu?"
"Ini soal dayang tadi, aku penasaran alasan mu memilih dia yang dari kalangan rakyat biasa."
Duchess lantas tersenyum simpul, sambil bergerak menggenggam tangan pria itu dengan lembut. Netranya menatap lurus Duke, sebelum kemudian berbicara.
"Alasannya, karena sifat wanita itu .... dia terlihat bisa merawat Mikel dengan baik," jelas Duchess secara singkat agar mudah di pahami oleh suaminya.
Duke pun terdiam mendengar jawaban tersebut, ia bahkan jadi teringat akan kejadian tadi saat di ruang kerjanya, wanita itu dengan berani menyahuti hinaan yang ia berikan pada Count Dowis.
Itu terasa aneh baginya, karna sangat jarang orang dari kalangan rakyat biasa mempunyai keberanian seperti itu.
"Baiklah ... Aku mengerti, semoga saja dayang itu dapat bertahan serta dapat mengubah kebiasaan buruk putra kita," jawaban Duke segera di angguki oleh istrinya.
Mereka menaruh harapan besar kepada dayang kali ini. Meskipun hal tersebut terlihat memungkinkan untuk jadi kenyataan.
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu yang kedua kalinya terdengar. Duchess lalu memberi izin seorang yang ada di luar sana untuk masuk kedalam.
Saat pintu terbuka, nampak perawakan dayang yang saat ini mereka bicarakan, Rebecca.
"Rere? ada apa?"
tanya wanita yang adalah nyonya keluarga Aristotle. Sebelum menjawabnya, Rebecca menunduk memberi salam terlebih dahulu pada kedua pasangan Duke dan Duchess.
"Maaf menganggu, ada satu hal yang ingin saya sampaikan," ucapnya.
"Apa itu Rere?" tanya Duchess penasaran akan hal yang mau di katakan dayang tersebut.
"Ini mengenai saya yang tidak bisa tinggal di sini, mengingat orang tua saya yang sedang sakit-sakitan ada di rumah," jelasnya berbohong.
Sedang pikirannya berkata mana mungkin dia akan tinggal di sini, walaupun memang sudah kewajiban setiap dayang kediaman untuk menetap di rumah sang majikan.
Tetapi masalahnya ada pada Count yang masih belum mengetahui hal yang ia lakukan ini. Makanya akan bahaya jika dia tidak pulang ke rumah.
Dua orang yang tengah duduk kini saling membuang pandangan satu sama lain, memikirkan tentang perkataan Rebecca sebelumnya.
"Hmm .... tapi perjalanan dari sini sampai di rumah mu pasti jauh." jelas Duchess setelah terdiam beberapa detik.
"Itu tidak masalah, saya bisa naik kereta kuda cepat meskipun biayanya mahal," sahut Rebecca yang mempunyai maksud tertentu.
"Tidak-tidak. Karena kamu dayang dari keluarga Aristotle, maka aku yang akan menyediakan kereta kuda untuk mengantar mu," timpal Duchess setelah mendengar perkataan Rebecca.
Sedang wanita itu langsung bersorak-ria dalam hatinya karena Duchess memakan cepat umpannya.
"Tapi sayang, apa ini tidak berlebihan? Dia hanya seorang dayang saja," sanggah Duke yang membuat Rebecca sempat menatap jengkel pria tampan yang pelit itu.
"Ini tidak berlebihan, apa kamu lupa dengan yang ku katakan tadi?"
ucap wanita itu sekali lagi.
Duke hanya menghela nafas sambil mengangguk singkat.
Beruntung sekali dia dapat mengambil hati nyonya keluarga ini, padahal Rebecca hanya menolongnya dari pencuri, tapi Duchess membalasnya dengan sebuah kepercayaan penuh padanya.
"Terima kasih banyak tuan, nyonya. Kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu," ucapnya sembari meninggalkan ruangan kamar yang di tempati Duchess dan Duke.
^^^To be continued ....^^^