
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
...Di rumah itu, dalam semalam dua nyawa melayang....
...Dalam semalam, tawa bahagia berubah menjadi duka lara....
...Dalam semalam seorang gadis kecil berusia lima tahun menjadi seorang yatim piatu....
...Dan dalam semalam, Dendam yang tak terlupakan akan segera di mulai....
Perlahan kesadaran Shane mulai kembali. Kini ia pun sudah kembali mengingatnya. Mengingat kenangan pahit tentang pembunuhan kedua orang tuanya.
''Shane? Kau tidak apa-apa?''
Jessica masih kebingungan melihat Shane yang sedari tadi tiada merespon perkataannya.
''Shane!''
''Aku tidak apa-apa Jes, aku hanya lelah saja. Lebih baik kau kembali saja ke kamarmu. Aku juga akan pergi beristirahat.''
Shane berucap sambil tersenyum. Ia tak ingin sahabatnya mengkhawatirkan dirinya. Shane langsung mematikan layar laptopnya dan juga tidak menceritakan apapun tentang keluarganya. Ia tidak ingin sahabatnya terlibat dalam dendamnya.
Di dunia ini, kini hanya Jessica yang ia miliki. Shane tidak ingin Jessica dalam bahaya.
''Baiklah, aku akan pergi beristirahat. Tapi kamu harus janji! Kamu juga akan beristirahat. Ok!''
''Iya...iya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku. Sana..sana!''
Shane mendorong pelan punggung Jessica hingga keluar dari kamarnya.
Namun setelah sahabatnya keluar, tubuh Shane luruh ke lantai. Air matanya tak dapat lagi ia bendung.
''Ayah Ibu, maafkan Oliv. Oliv telah berkhianat pada kalian. Seharusnya Oliv membunuh mereka, tapi Oliv malah membantu mereka selama ini. Maaf kan Oliv, ayah ibu.''
Tangisan Shane tercekat di tenggorokan. Ia pun segera menghentikan tangisannya. Di usapnya dengan kasar air matanya.
''Aku tidak boleh seperti ini! Aku akan membalaskan dendam atas kematian ayah dan ibu. Oliv Janji Ayah, ibu. Oliv pasti akan membuat mereka membayar atas perbuatan mereka, Oliv akan memberikan keadilan kepada kalian!''
''Tuan Mores! Kau membesarkanku hanya untuk dijadikan tameng bukan? Lihatlah! bagaimana tameng ini akan membuat keluarga kebanggaanmu itu satu persatu menemui penderitaannya!''
Tak lama kemudian ponselnya berdering. Shane segera berdiri untuk melihat siapa yang telah menghubunginya.
''Tiga puluh lima panggilan.'' Shane tersenyum remeh melihat papanya berulang kali menelponnya.
''Mari kita lihat. Apa lagi yang pembunuh ini inginkan?'' Shane pun kemudian menghubungi balik papanya.
''Halo pa,''
''Dasar anak tidak berguna! Kemana saja kau ha!''
''Maaf pah, aku sedang di rumah sahabatku. Besok baru akan pulang,''
''Di rumah sahabatmu? Apa kau bodoh hah! Aku menyuruhmu melakukan hal kecil saja kau tidak becus! Bahkan hanya mengambil flash disk, tapi kau malah keluyuran kemana-mana? Sejak kapan kau menjadi anak yang pembangkang?''
''Maaf pah.''
Tangan Shane mencengkram kuat ponselnya. Bukan lagi takut akan kebencian papanya, tapi takut tidak bisa mengendalikan emosinya. Dan nanti malahan akan membuat semua rencananya menjadi kacau berantakan.
''Aku akan segera pulang untuk mengantarkannya pah,''
''Cepatlah! Para Tetua sudah menunggumu sedari tadi. Jika dalam sepuluh menit kau belum sampai juga, aku yang akan menyeretmu sendiri ke gudang!''
Tut....tut...tut...
Sambungan pun diputuskan begitu saja oleh papanya setelah memarahi Shane habis-habisan.
Shane langsung bergegas menyalin semua isi yang ada di flash disk. Lalu bergegas mengganti bajunya.
''Kau mau kemana Shane?''
Jessica bertanya saat melihat Shane yang terburu-buru keluar dari kamarnya.
''Aku harus pulang Jes, papaku menelponku.''
''Apa dia memarahimu lagi?''
Shane menjawabnya dengan senyuman. Jessica membuang nafasnya menanggapi jawaban Shane.
''Baiklah. Berhati-hatilah! Dan jangan ngebut!'' Teriak Jessica saat langkah Shane mulai menjauh dari pandangannya.
••••••{》♡《}•••••••••
Sesampainya di kediaman Mores, Shane langsung bergegas ke ruangan tempat para Tetua berkumpul. Dan menyerahkan flash disk tersebut kepada papanya.
''Dasar bodoh!'' Maki David saat menerima flash disk dari tangan Shane.
''Sudahlah Vid!''
David langsung diam seketika ketika memdapatkan pelototan tajam dari Tuan Mores.
''Cucuku, kemarilah!''
Shane sebenarnya enggan untuk duduk bersama mereka. Karena ia harus kuat-kuat menahan emosinya agar tidak gegabah.
''Kakek,''
Shane memeluk kakeknya seperti biasa. Ia tidak ingin membuat mereka curiga kalau ia sudah mengetahui semuanya.
''Oh iya nak. Perkenalkan, dia_ Abigail putra dari Tuan Seno teman bisnis papamu,''
Shane dapat dengan jelas membaca gerak-gerik kakeknya itu.
''Pasti kakek menyuruhku duduk disini, selain membahas soal bisnis pasti akan membahas soal pernikahan bisnis juga. Heh! Mereka ingin mengorbankaku demi memperbesar bisnis mereka. Jangan harap!''
Shane mencebik keras pemikiran kolot Tuan Mores.
''Shane! Kenapa kau duduk di sini?'' Shane langsung menoleh ke arah sang pemilik suara yang bertanya padanya.
''Paman,''
''Joice mencarimu sedari tadi. Pergilah ke depan menemuinya!'' Tuan Marlon memberi kode kepada Shane untuk segera meninggalkan ruangan itu.
''Sebenarnya ada untungnya juga jika aku tetap berada di sini. Aku bisa mendengar rencana yang akan mereka lakukan. Tapi Paman malah menyuruhku untuk keluar. Sepertinya, mereka akan membahas sesuatu hal yang sangat penting,'' batin Shane.
''Shane?'' Tuan Marlon mengulangi panggilannya lagi karena melihat Shane yang malah bengong.
''Iya paman.''
''Kakek, Shane pamit pergi dulu untuk menemui Joice.''
Pamit Shane. Namun tangannya terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik tasnya. Lalu menyelipkannya diantara tumpukan bantal di sofa tempat tadi ia duduk.
''Baiklah, pergilah dulu sana. Nanti kita bicarakan lagi perlahan,''
''Iya kek.''
Shane pun meninggalkan ruangan tersebut.
''Kenapa kau malah menyuruhnya keluar? Apa kau tidak lihat, kalau aku sedang menjodohkan Shane dengan putra Tuan Seno?''
Tuan Mores terlihat sangat marah, karena rencananya dikacaukan oleh putranya itu.
''Tapi pah, Shane belum cukup dewasa. Bukankah masih jauh umurnya jika kita membahas soal pernikahan. Apa lagi, ini bukan pernikahan biasa. Melainkah pernikahan bisnis,''
PLAAAK...
Sebuah tamparan menggema di seisi ruangan tersebut. membuat semua orang menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke arah Tuan mores.
''Lancang!''
''Tau apa kau soal bisnis hah? Kau itu cukup melatih para bawahanmu saja. Kau tidak perlu mencampuri urusan keluarga dan perusahaan.''
''Tapi pah....''
''David!'' Teriak Tuan Mores memanggil putra satunya_ papanya Shane.
''Bawa kakakmu ini keluar dari ruangan ini! Suruh dia merenungkan kesalahannya.'' Perintahnya.
David pun segera membawa kakaknya keluar.
''Kak, kenapa kau selalu membantah perkataan papa? Kau sangat tahu sifat papa. Seharusnya kau patuhi saja,''
''Patuh?''
''Aku bukan dirimu yang selalu patuh dengan semua perintah papa dan para tetua Vid. Aku dan papa selamanya tidak akan pernah sejalan. Karena prinsip kami jelas sangat berbeda,'' ucap Marlon sambil menepuk bahu adiknya itu. Lalu perlahan pergi meninggalkannya.
Di sisi lain
Shane sudah mendengarkan percakapan mereka semuanya. Senyumnya mulai terukir indah di bibirnya.
''Kakak!''
Shane terpaku saat seseorang menepuk bahunya.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰