SHANE

SHANE
Bab 38 : Zayn... beraksi



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


...Bruuk.......


''Ah..!'' Maaf maaf, saya tidak sengaja,'' ucap Joice yang tidak sengaja menabrak seseorang saat membawa beberapa tumpukan barang hingga terjatuh dan duduk di lantai.


''Kau tidak apa-apa nona?'' Seseorang itu mengulurkan tangannya untuk membantu Joice berdiri karena saat ini posisinya Joice sedang terduduk karena jatuh tadi.


[°°Waaah tampan sekali pria ini.°°]


Joice dibuat ternganga karena terpesona dengan ketampanan pria yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.


''Nona...nona. Kau tidak apa-apa kan?'' Pria itu menjentikkan jarinya sehingga membuat kesadaran Joice kembali.


[°°Astaga! Apa yang sudah aku lakukan? Joice...Joice, sadarlah! Kau sudah mempunya Faris. Kau tidak boleh terpesona ah dengan pria lain lagi. Joice! Jaga mata dan hati kamu.°°]


''Aaah! Iya, terima kasih,'' Joice pun mengulurkan tangannya dan menerima bantuan dari seseorang itu.


''Maafkan saya Nona, karena diriku yang terburu-buru sampai-sampai menabrak nona,''


''Tidak apa-apa kok. Ini juga tidak sepenuhnya salah anda, saya yang tidak berhati-hati karena membawa terlalu banyak barang sampai-sampai Saya tidak bisa melihat jalan karena mata saya tertutup oleh tumpukan barang tersebut.''


''Baguslah kalau Nona tidak apa-apa. Senang mendengarnya,''


''Oh ya nona, perkenalkan saya Zain.''


''Joice,'' Joice mengulurkan tangannya menyambut tangan Zain.


''Mari, saya bantu nona membawakan barang-barang nona,''


''Ah.... maaf malah merepotkan Tuan Zayn,''


Zayn tersenyum lalu membantu mengumpulkan barang-barang yang tadi Joice bawa dan membantunya untuk memindahkannya ke mobil.


''Apakah masih ada barang yang ketinggalan lagi nona Joice?''


''Sepertinya sudah. Terima kasih Tuan, Tuan sudah membantuku membawakan barang-barang yang berat tadi. Maaf malah jadi merepotkan anda,''


''Tidak apa-apa nona, saya juga tidak sedang terburu-buru. Ah iya nona. Akan lebih enak didengar jika Nona mau memanggilku dengan nama Zain saja. Agar obrolan kita tidak terdengar kaku,''


''Ooh, tapi apakah itu pantas tuan? Kita baru saja berkenalan. Jika langsung memanggil nama, rasanya agak aneh,'' ucap Joice sambil menggaruk pelipisnya.


''Kau terlihat sangat menggemaskan Nona,'' Zayn mengacak-ngacak puncak kepala Joice. Dan itu sukses membuat Joice terkejut.


''Aaah.... maafkan aku. Aku terbiasa melakukan hal itu pada adik-adikku,'' elak Zayn ( 🙄 adik-adiknya yang di hawai dan di bar pribadinya.)


Ekpresi wajah Joice tiba-tiba berubah sendu. Dulu Kakaknya Shane lah yang sering memperlakukannya seperti itu namun kini, bahkan jejaknya saja ia tidak tahu. Joice benar-benar sangat merindukan Shane.


''Ada apa Nona? Mengapa wajahmu tampak murung? Apa ada yang salah dengan perkataanku?''


Joice tersenyum lalu menatap wajah Zayn. Zayn sendiri tiba-tiba merasa sangat canggung. Jantungnya berdebar-debar. Padahal ia sudah terbiasa menggoda gadis-gadis yang cantik dan seksi. Namun kali ini terasa berbeda tubuhnya memberikan reaksi yang asing baginya.


''Tidak apa-apa Tuan Zayn. Aku hanya teringat kakakku saja. Sudah lama aku tidak melihatnya dan aku sangat merindukannya,'' ucap Joice.


''Oooo.... seperti itu. Jika memang rindu mengapa tidak menemuinya saja?''


''Jika aku bisa bertemu dengannya, maka aku tidak akan sesedih ini,''


Joice begitu saja masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Zayn yang masih menatapnya dengan heran. Dan tanpa Zayn sadari, kedua matanya masih tertuju pada mobil yang di kendarai oleh Joice hingga hilang dari pandangan.


...Di Rumah sakit...


Aldrich masih setia menunggu Shane di rumah sakit. Sudah dua hari, namun Shane belum juga bangun. Bahkan pekerjaannya yang menumpuk ia bawa ke rumah sakit demi agar bisa menemani dan menjaga Shane.


''Makanlah dulu Al. Jika kamu tidak makan nanti malah ikut sakit. Jika kamu sakit, nanti siapa yang jagain Shane? Kamu juga harus menjaga kesehatanmu. Selain Shane kamu masih punya tanggung jawab terhadap ribuan karyawanmu itu.''


Ana menyodorkan kotak makanan yang tadi ia nasak sendiri.


''Mama dan rekan-rekan mama sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat Shane sehat kembali. Tapi kau juga tahu bukan? ''Manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhanlah yang menentukannya.''


''Menurut mama, apakah mungkin Shane ingatan Shane sudah pulih kembali?''


''Entahlah Al, kita tunggu saja sampai Shane bangun,''


Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba jari-jemari Shane mulai bergerak. Kedua matanya pun mulai bergerak untuk terbuka.


("***Ayah ibu, aku sangat merindukan kalian." )


Terlihat seorang gadis sedang menikmati indahnya pemandangan alam sambil tiduran di pangkuan seorang wanita. Di sebelahnya duduk seorang pria yang sebaya dengan wanita yang sedang memangku anak gadis tersebut***.


(''Nak kau harus kembali sadar. Belum saat nya kita berkumpul sayang. Ingatlah, sejauh apapun kami pergi, kasih sayang dan doa-doa kami akan selalu bersamamu nak,'')


''Haaaah.....'' Nafas Shane tersenggal-tersengal.


''Siapa mereka? Kenapa aku merasa sangat sedih. Hatiku pun terasa sakit. Apakah mereka adalah orang tuaku?''


...Uhuk...uhuk...uhuk......


Ruangan yang serba putih, baunya yang khas obat-obatan. Membuat Shane menyadari jika saat ini ia sedang berada di rumah sakit. Tiba-tiba kerongkongannya terasa kering seakan ia belum minum berminggu-minggu. Mendengar suara batuknya Shane, Ana dan Aldrich spontan menoleh.


''Shane....!''


Raut wajah yang lega dan bahagia terlihat terpancar jelas di wajah Aldrich dan Ana. Ana segera melakukan pemeriksaan.


''Shane? Apa kau mendengarkanku nak?'' Ucap Ana.


''Mama,''


Ana tersenyum lega mendengar Shane yang masih memanggilnya dengan sebutan mama.


''Mamaaaa....'' Shane memeluk Ana erat-erat.


Entah mengapa ada ketakutan dihatinya. Ia belum mengingat apa-apa, namun mimpinya terasa sangat nyata. Apalagi saat ia mengingat kembali tentang kejadian dua hari yang lalu saat pistol berada ditangannya, rasanya seperti sudah ribuan kali menggunakannya. Saat ini ia hanya ingin dukungan kekuatan. Dan ia bisa mendapatkannya dari Ana.


Ana sangat tulus menyayanginya. Bahkan saat ia belum sadar, Shane juga bisa merasakan bagaimana Ana merawatnya dua hari ini. Tangannya yang hangat penuh kasih, Shane rasanya benar-benar sangat merindukan sosok seorang ibu.


''Tenanglah nak, tenangkan pikiran kamu ya,'' Ana mengelus-elus pundak Shane.


Shane merasa nyaman di dalam pelukan Ana. Rasa ini, kasih sayang yang saat ini Shane rasakan. Membuat hati Shane terasa melemah. Namun jauh didalam lubuk hatinya saat ini Shane benar-benar membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu.


...----------------...


...Braaak.....Pyaaaar!!...


Semua seisi meja jatuh berserakan di lantai bahkan pecahan gelas dan piring juga berserakan di mana-mana. David nampak sangat emosi saat mendengar informasi dari Richard.


''Aldrich?''


''Benar Tuan. Saat ini Nona Shane sedang berada di tangan Tuan Aldrich.''


-


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih