SHANE

SHANE
Bab 22 : Sebuah Fakta



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


''Siapa dia Zayn?''


''Aa.... dia....''


Zayn bingung harus menjawab apa saat Aldrich bertanya padanya tentang orang yang ikut pulang bersamanya.


''Tuan, saya kemari karena kata Tuan ini, anda akan mengganti rugi atas kue yang Tuan ini ambil dari saya.''


...flashback On...


''Harus dengan cara apa agar aku bisa bertanya langsung dengan Nona Shane ya?''


Zayn berjalan mondar-mandir di depan pintu gerbang Villa Shana, sambil memikirkan cara untuk mencari informasi tentang keberadaan Shane yang berada di Villanya Ellen.


Dari sebrang jalan terlihat beberapa orang sedang membawa sebuah kotak yang berisi kue, keluar dari salah satu rumah. Sepertinya pemilik rumah itu sedang mengadakan sebuah pesta karena terlihat banyak sekali orang-orang yang mulai membubarkan diri. Dan kembali ke mobil mereka masing-masing.


Zayn mendapatkan sebuah ide saat seseorang lewat tepat di sampingnya.


''Permisi Tuan, bisakah kau memberikanki kue itu? Aku akan menggantinya nanti,''


''Tidak bisa. Ini kue untuk ibuku. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Aku tidak bisa membelikannya kue. Tapi aku beruntung karena ada orang baik yang mengundangku untuk menghadiri acara di rumahnya. Ini kue untuk ibuku. Maaf Tuan, aku tidak bisa memberikannya padamu,''


''Aku mohon Tuan, aku berjanji, nanti aku akan meminta sahabatku untuk membelikanmu kue ulang tahun yang paling bagus dan paling mahal untuk ibumu,''


''Bisakah kau memberikannya Tuan? Kumohon,''


Zayn memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


...flashback Off...


''Begitulah ceritanya Al,''


Aldrich memegangi kepalanya mendengar tingkah laku sahabatnya itu. Ia sungguh tidak habis pikir, seorang pewaris salah satu bisnis terbesar di kota London, tapi malah merampok seseorang di jalanan hanya demi sebuah kue.


Aldrich mengambil dompetnya, lalu menyerahkan beberapa lembar uang kepada orang asing tersebut.


''Ini ambilah dan belikan kue yang terbaik untuk ibumu,''


''Waaah... banyak sekali Tuan. Terima kasih... terima kasih,'' ucap orang tersebut sambil menundukkan kepalanya.


''Kau boleh pergi sekarang. Oh iya, katakan pada ibumu, aku mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Semoga Tuhan selalu menyertainya,''


''Sekali lagi terima kasih Tuan. Nanti, pasti akan saya sampaikan ucapan Tuan,''


Orang tersebut pun meninggalkan kediaman Aldrich. Dan kini yang tersisa tinggalah Aldrich dan Zayn yang masih enggan menatap wajah Aldrich.


''Sampai kapan kau menatap jendela itu? Jika sampai pecah kacanya, kau harus menggantinya sendiri,''


''Jangan berbicara denganku Al, kau itu sangat kejam padaku hari ini,''


''Benarkah? Aku padahal aku sangat penasaran. Bagaimana bisa seorang pewaris bisnis sampai merampok kue seorang pejalan kaki? Di mana ponsel dan dompetmu Zayn?''


''Tutup mulut pahitmu itu Al. Apa kau buta atau pura-pura buta? Jelas-jelas ponsel dan dompetku ada di dashboard mobilmu. Bukankah seharusnya kau dengan mudah melihatnya!''


Aldrich tergelak dalam diam. Ia benar-benar lupa, padahal dia tadi sempat memegang ponsel Zayn dan marah saat melihat Zayn tidak membawanya.


''Baiklah...baiklah. Maafkan aku, ini semua salahku,''


''Sepertinya fengshui rumah ini lumayan baik. Bahkan aku bisa mendengar seseorang yang tidak pernah berkata maaf, bisa mengatakan kata maaf. Tapi sayangnya aku tidak akan memaafkanmu untuk saat ini,''


''Nikmatilah rasa penasaranmu itu Al. Aku lelah setelah berjalan kaki berjam-berjam. Aku akan beristirahat dulu, By,''


Zayn berjalan menuju arah tangga lantai atas, namun langkahnya terhenti saat Aldrich...


''Apa kau yakin akan beristirahat begitu saja Zayn? Sepertinya tiket ke hawai ini tidak ada gunanya,'' ucap Aldrich sambil memegang beberapa lembar kertas yang ternyata itu adalah tiket dan perlengkapan lainnya untuk berlibur.


''Hawai?''


''Yaah, tapi aku harus membuangnya sekarang,'' Aldrich melempar tiket itu ke tong sampah. Namun Zayn dengan cepat menyambarnya sebelum tiket itu benar-benar jatuh ke tempat sampah.


''Oh....anakku...kau tidak apa-apa sayang,'' ( Zayn menciumi tiket itu )


''Cepat katakan apa yang kau dapatkan selain merampok kue pejalan kaki!''


''Hei! Aku tidak merampok ya, aku memohon padanya secara baik-baik,''


...Sriiing.......


( Anggap aja itu suara tatapan maut dari Aldrich )


Glek... Zayn kesusahan menelan salivanya, saat melihat tatapan Aldrich.


''Transaksi jual beli? Bukan hal mudah bisa mendapatkan Villa di daerah ini. Bagaimana bisa?''


''Kalau soal itu, aku tidak tahu lagi. Sebaiknya kau tanya sendiri padanya. Aku harus bersiap-siap dulu,''


''Goodbye Al See you next week,'' Zayn pergi ke kamarnya meninggalkan Aldrich yang masih dalam kebingungannya sendiri.


...~~}♡{~...


Shane memarkirkan mobilnya di halaman kediaman Mores.


...Brak.....


''Nona,'' Bi Narsih terlihat tergopoh-gopoh menghampiri Shane.


''Ada apa Bi? Kenapa kau terlihat cemas?''


''Nona, kenapa Nona baru kembali. Tuan dan Nyonya sangat marah karena Non Shane sejak masalah kemaren tidak pulang ke rumah,''


''Oo...''


''Non, kok malah ber Oh ria saja. Nona tahu sendiri jika Tuan David marah, Nona pasti akan di hukum,''


''Tenang saja bi, aku bisa menghadapinya sendiri. Bibi tidak perlu mencemaskanku,''


Shane memegangi kedua pundak bi Narsih. Lalu bergegas masuk ke dalam.


''Aduh non,semoga Tuan tidak memberikan hukuman yang berat kepada Non Shane,'' ucap Bi Narsih yang melihat kepergian Shane.


''Masih tahu jalan pulang rupanya!''


''Dasar anak pembangkang! Kau selalu saja membuat papamu repot,''


Shane hanya diam saja mendengar kemarahan papa dan mamanya itu.


''Dari mana saja kau ha! Apa kau tidak tahu keluarga kita sedang dalam masalah. Kau malah enak-enakkan keluyuran sesuka hatimu?''


Shane mengepalkan tangannya, ia benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi dihadapan pembunuh orang tua kandungnya dan sahabatnya itu.


''Apa kau sudah puas memakiku pah?''


Plak...


Sebuah tamparan melayang di pipi mulus Shane. Hingga pipinya terlihat merah, dan ujung bibirnya ada seberkas darah yang keluar.


''Apa didikan keluarga Mores tidak pernah masuk di otakmu ha! Berani sekali kau menjawab ucapan suamiku!''


''Suamimu?'' Shane tersenyum mendengar ucapan Nyonya Sonya_ orang yang selama ini ia anggap sebagai mamanya. Namun sama sekali tidak pernah menganggapnya.


''Apa kau cukup puas dengan laki-laki pembunuh seperti dia mah? Yang bahkan tidak segan-segan membunuh wanita Simpanannya saat ia sudah merasa bosan!''


''Tutup mulut sampahmu!''


Sonya akan kembali melayangkan tangannya, namun Shane kali ini langsung menangkapnya.


''Kau!''


''Jika kau tidak percaya, kau bisa langsung bertanya kepada suamimu tersayang itu! Benarkan Pah!'' Ucap Shane penuh penekanan.


''Pah, apa maksud ucapan anak sial itu? Cepat katakan! Katakan padaku kalau kau tidak pernah menghiyanatiku!''


David terlihat hanya diam saja. Namun pandangannya sangat jelas mengarah pada wajah Shane.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰