
''Aku harus segera mengabari papa,'' ucap Natan.
''Tapi kak... Kak Natan!'' Namun teriakan Joice tidak terdengar oleh Natan. Karena Natan sudah menjauh dari pandangannya dan sudah menelpon Tuan David.
''Halo pa, aku sudah menemukan Shane,''
''Shane? Dimana?'' Ucap Tuan David dari sebrang sana.
( Dua bulan setelah kejadian, Natan dan istrinya baru pulang dari acara honeymoon dan traveling mereka. Natan sama sekali tidak mengetahui apapun yang terjadi pada keluarganya. Termasuk penyebab kepergian Shane. Yang ia papa dan kakeknya katakan Shane sedang berkencan dengan seorang pria jahat dan tidak mau kembali lagi pulang ke rumah.
Hanya kabar bahwa kakek Marches meninggal akibat tertembak saja. Namun ia tidak diberi tahu sebab dan akibat semua itu.
Seluruh anggota keluarga juga dilarang keras membicarkan soal pemberontakan Shane. Mereka ingin menggunakan Natan untuk memancing Shane agar tertangkap.)
''Di toko bunga milik bibi Foste di persimpangan jalan antara daerah Tesand dan Proid,''
''Baiklah. Papa akan segera kesana. Kamu coba bicara sama adikmu, supaya bisa mengulur waktu sampai papa datang,''
''Baiklah pa, Natan akan coba,''
Sambungan telepon pun terputus. Natan kembali menyimpan ponselnya di saku. Lalu berjalan kembali menghampiri Joice.
''Kak, apa kakak sudah menelpon paman David?''
''Iya. Kakak juga sudah mengabari kalau kita menemukan Shane. Jadi Joice, tugas kita sekarang adalah menemui Shane dan sebisa mungkin mengulur waktunya sampai papa datang ke mari, ok!''
[°°Gawat! Bagaimana ini. Jika sampai kak Shane tertangkap oleh paman, pasti kak Shane akan bunuh oleh paman. Kak Natan sama sekali tidak tahu tentang masalah ini. Aku harus segera menghubingi ayah,°°]
Joice pun diam-diam mengirimkan pesan kepada ayahnya tanpa sepengetahuan Natan.
[°°Semoga kak Shane sudah pergi meninggalkan toko bunga itu. Ya Tuhan, Joice mohon, lindungilah kakakku Shane,°° ]
Joice berkomat-kamit merapalkan doa-doa.
''Kau sedang menggumankan apa Joice?''
''Ah!....'' Joice terkejut saat Natan menepuk pundaknya dan menanyainya.
''Bukan apa-apa kak, aku hanya berharap semoga kak Shane mau di ajak untuk pulang,'' elak Joice.
''Kau benar Joice. Kakak sangat merindukannya. Sejak kecil, Shane selalu menjadi anak yang pintar dan penurut, entah mengapa ia bisa terhasut oleh pria jahat tak bertanggung jawab!'' Ucap Natan dengan kesal.
[°°Sebenarnya bukan itu penyebab kak Shane pergi kak, tapi semakin sedikit kau mengetahuinya, itu semakin baik untukmu kak,°° batin Joice ]
Namun sayang, saat langkah kaki mereka sampai di depan pintu toko, rupanya Shane dan Aldrich sudah meninggalkan tempat itu.
''Sial! Kita kehilangan jejaknya lagi,'' ucap Natan yang emosi saat tahu Shane sudah meninggalkan toko bunga itu.
''Joice,'' ( Joice menoleh ke arah Natan ) ''Kau tunggu dulu di sini, kakak akan masuk untuk menanyai karyawan toko dulu,'' ucap Natan memegang pundak Joice,''
Joice pun mengangguk paham.
[°°Syukurlah... Kak Shane sudah pergi dari sini,°° Joice merasa lega karena doa-doanya terkabulkan.]
...Braaak.......
Tuan David sudah sampai di toko bunga beserta Richard dan beberapa anak buahnya.
''Di mana Natan, Joice?''
''Kak Natan masih di dalam paman,''
''Lalu kenapa kau di luar? Apa Shane masih di dalam juga?''
Mendengar pertanyaan Pamannya, Joice tidak mampu menjawabnya. kedua tangannya mengepal gemetar. Apalagi saat ini, ekpresi pamannya terlihat menyeramkan.
''Jawab Joice! Kenapa malah diam saja. Apa kau bisu hah!'' Tuan David mencengkram kuat kedua pundak Joice hingga Joice merasa sedikit kesakitan.
''Ayah!''
Natan langsung bergegas keluar dari dalam toko saat ia mendengar keributan dari luar. Namun yang ia lihat. Papanya malah membuat Joice merasa ketakutan.
''Natan!''
''Di mana Shane?'' Ucap Tuan David sambil melihat ke arah belakanh pundak Natan. Ia berpikir Shane mungkin bersembunyi di belakang Natan karena ketakutan.
''Dia sudah pergi pah,''
''Apa! Bagaimana bisa kau membiarkanya pergi begitu saja!''
''Aku...''
''Pah! Kenapa papa bersikap seperti itu? Bukankah kita hanya akan membawa Shane kembali pulang ke rumah, lalu mengapa papa sampai membawa Richard dan banyak anak buah papa?''
''Diam! Kau terlalu banyak berbicara. Lebih baik kau segera pulang dan bawa istrimu kembali ke rumahmu sendiri,''
''Pa....''
''Cepat!'' Teriak Tuan David tanpa menoleh ke arah putranya.
Natan merasa ada yang aneh dengan sikap papanya. Selama ini papanya selalu bersikap lembut terhadap dirinya. Namun entah mengapa sejak pernikahannya, rasanya bukan hanya papanya saja, namun seluruh anggota keluarga besar Mores seperti ada yang berubah.
''Ayo Joice, kita pulang.''
Natan menggandeng tangan Joice. Namun langkahnya terhenti saat tangan Joice satunya juga ditahan oleh Tuan David.
''Biar Joice papa yang antar pulang. Kau pulanglah sendiri,''
''Tapi pah, tadi Joice datang bersama...''
''Natan, sejak kapan kau jadi anak yang suka membantah ucapan orang tuan?'' Ucap Tuan David penuh penekanan.
''Paman, biarkan Joice pulang bersama kak Natan,''
Joice mempunyai firasat jika ia akan tidak baik-baik saja jika tidak segera pulang bersama dengan Natan. Namun cengkraman tangan Tuan David semakin mengerat hingga kuku-kukunya mengenai kulit Joice.
''Baiklah, tapi Natan mohon papa jangan memarahi Joice,'' ucap Natan sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu.
''Joice, kakak harus pulang dulu. Kau baik-baik jaga diri ya,'' pamit Natan.
''Tapi kak....''
Natan pun dengan berat hati meninggalkan Joice yang saat ini benar-benar merasa ketakutan melihat ekpresi wajah pamannya.
Setelah Natan benar-benar tak terlihat dari pandangan, Tuan David pun langsung melepaskan genggaman tangannya dengan kasar lalu berbalik mencengkram kedua pundak Joice. Membuat Joice benar-benar dilanda ketakutan.
''Katakan pada paman, Joice. Apa kau yang membantu Shane agar kabur dari tempat ini?''
Meskipun terdengar pelan suara David, namun kata-katanya penuh dengan penekanan.
''Joice belum bertemu dengan kak Shane, paman. Bagaimana bisa Joice membantu kakak untuk kabur?''
Joice berusaha sekuat mungkin menahan rasa takutnya, dan sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang.
''Pembohong! Kau dan papamu itu sama saja. Lebih baik, sekarang kau katakan pada paman. Dimana Shane berada saat ini!'' Teriaknya penuh emosi hingga membuat Joice memejamkan kedua matanya.
''Sungguh paman, Joice tidak tahu apapun. Joice berkata jujur paman,''
''Kau.....!''
David sudah tidak bisa menahan kesabarannya. Tangannya melayang di udara namun tanpa di duga, Tuan Marlon datang tepat waktu.
''Lepaskan tangan kotormu dari tubuh putriku!''
...Braak.......
Tubuh David terjungkal karena dorongan dari Tuan Marlon.
''Ayah....'' Joice langsung menghambur kepelukan ayahnya. Sedangkan David meninju tanah melampiaskan emosinya.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰