SHANE

SHANE
Bab 27 : Kebohongan Yang Manis



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


''Apa kau benar-benar suamiku?''


Mendengar apa yang sudah di ucapkan oleh Shane, langsung membuat Aldrich dan Zayn terdiam seketika. Wajah mereka berdua terlihat pucat pasi.


[°°Menurutmu, apakah Shane mendengarkan semua pembicaraan kita tadi Zayn?°°


°°Entahlah.'' Al apakah Nona Shane akan menghabisi kita berdua karena ucapan candaan kita tadi?°°


°°Matilah saja kau Zayn! Ini semua gara-gara dirimu. Sekarang kau membuatku merasa canggung.°°


°°Hehe... Please forgive me,°° ucap Zayn sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.]


Aldrich dan Zayn saling melirik satu sama lain. Seakan mereka bisa bertelepati dalam hati.


''Kenapa Tuan tidak menjawab pertanyaanku?'' Shane memiringkan kepalanya memandang ekpresi kedua pria tampan yang saat membisu seakan sedang cosplay menjadi patung hadapannya.


[°°Jawab pertanyaannya sekarang! Kau harus mempertanggung jawabkan atas perbuatanmu itu!°°


°°Kenapa harus aku? Kau ingin melemparku ke mulut singa betina Al!°°]


''Ini kesempatan yang bagus untukmu Al. Manfaatkan kesempatan ini. Ingat! Sebuah kesempatan yang baik, tidak akan pernah datang dua kali,'' bisik Zayn di telinga Aldrich sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Aldrich dan Shane.


Aldrich menghela nafasnya melihat kelakuan Zayn. Sejak dulu ia memang tidak pernah bisa menang dari kejahilan Zayn.


Aldrich menghampiri Shane.


''Kau mau kemana? Tubuhmu belum benar-benar pulih. Jangan terlalu banyak bergerak,'' ucapnya sambil memegang kedua pundak Shane.


''Maafkan aku suamiku. Pasti aku sudah membuatmu khawatir,'' ucap Shane dengan wajah sendu.


...DEG......


Pupil mata Aldrich melebar, jantungnya berdetak kencang. Rasanya seperti ada ribuan kupi-kupu di dalam hatinya.


''Suamiku?''


''Iya.'' Bukankah kau suamiku Tuan?''


Senyum Aldrich terasa kikuk, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.


...Ting.... Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Aldrich....


(''Karena sudah terlanjur, maka untuk sementara ini akui saja dia sebagai istrimu Al. Nikmati peranmu sebagai suami sementara. Bukankah aku hebat Al? menyerahkan tugas berharga ini kepada sahabat tersayangku. Hahahaha....'' Di tambahi dengan stiker anak kecil yang tertawa terbahak-bahak sampai terjungkal.


''Aku benar-benar akan melemparmu ke kandang singa Zayn! ''KAU TUNGGU SAJA PEMBALASANKU!'' Begitulah balasan isi pesan Aldrich untuk Zayn. )


Aldrich kembali menatap wajah gadis yang saat ini masih memandanginya dengan ekpresi wajah seakan penuh pertanyaan dalam benaknya.


''Baiklah-baiklah. Ayo masuk dulu ke dalam. Kau tidak boleh terlalu lelah karena terlalu lama berdiri di sini,''


Aldrich pun mengantarkan kembali Shane ke ranjangnya agar ia bisa beristirahat kembali. Aldrich juga tak segan membenarkan bantal dan selimut Shane.


''Mau kemana?'' Tanya Shane yang langsung memegang salah satu lengan Aldrich, saat melihat Aldrich yang akan meninggalkannya lagi.


''Aku tidak akan kemana-mana, aku hanya akan duduk di sofa itu.'' Aldrich menunjuk ke arah Sofa dan ia pun perlahan mencoba melepaskan genggamnya tangan Shane. Namun sayangnya, bukannya terlepas malah semakin erat rasanya.


''Jangan tinggalkan aku, kumohon,''


...Deg....deg...deg......


Jantung Aldrich semakin meronta-ronta tak kala Shane malah memeluk dengan erat lengannya.


[ °°Perasaan macam apa ini? Kenapa jantungku berdebar sangat kencang?°°]


Sesaat Aldrich merasa dunianya seakan berhenti di hadapannya. Gadis cinta pertamannya sedang memeluk lengannya. Bahkan melarangnya pergi walaupun hanya sejengkal.


''Aku hanya akan duduk di sofa itu. Kau tidak perlu khawatir jika aku akan pergi. Lagi pula, tadi aku sudah meminta Zayn untuk membawakan semua pekerjaanku ke mari. Jadi aku akan selalu menemani_mu selama kamu di rawat di rumah sakit ini,'' Aldrich mengusap-ucap puncak kepala Shane.


''Benarkah?''


''Iya,''


Shane tersenyum melepaskan genggaman tangannya.


Aldrich pun kembali melanjutkan aktivitasnya. Karena pekerjaannya benar-benar sudah menumpuk akibat ia sibuk merawat Shane.


Melihat Aldrich yang kembali menyibukkan diri, Shane mendudukkan badannya. Karena matanya tidak mau di ajak untuk beristirahat.


''Jika dia adalah suamiku, berarti aku sudah menikah,''


''Apakah kami juga sudah mempunyai anak? Oh iya, namaku Shane. Dia berulang kali memanggilku dengan nama Shane, tapi kenapa aku tidak tahu siapa namanya?''


''Aaaakh....'' Shane berteriak kesakitan. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk kepalanya. Bahkan hidungnya kini mengeluarkan darah.


''Shane,''


Aldrich terkejut mendengar teriakan Shane. Terlebih lagi saat melihat darah yang keluar dari hidung Shane semakin membuatnya bertambah panik.


Luwis dan beberapa suster segera memeriksa ke adaan Shane.


''Kau tenang saja. Aku sudah memberinya obat penenang. Dan tubuhnya juga sudah mulai stabil kembali,''


''Lalu kenapa tadi Shane berteriak kesakitan? Bahkan sampai hidungnya mengeluarkan darah juga,''


''Mungkin itu reaksi karena Nona Shane memaksa mengingat memori yang telah ia lupakan.''


''Apa jika sering seperti itu akan membahayakan?''


''Bisa juga membahayakan. Maka dari itu akan menjadi tugas untukmu supaya kau menjaga Nona Shane agar tidak terlalu memaksakan ingatannya,''


Aldrich menganggukan kepalanya memahami perkataan Luwis.


''Baiklah, karena semua sudah stabil, aku pergi dulu Al. Pasienku sudah menungguku,''


''Pasien?''


Luwis tersenyum mengangkat sebelah alisnya.


''Zayn terjatuh menabrak salah satu pasien yang sedang duduk di kursi roda. Kakinya lecet,''


Aldrich tertawa mendengar kesialan yang baru saja menimpa sahabatnya itu.


''Puas sekali tertawamu Al. Sepertinya kau punya dendam kesumat padanya,''


Aldrich menghentikan tawanya. Matanya kini menatap tajam ke arah Luwis.


''Bukankah kau akan pergi dari sini Luwis! Kenapa masih berdiri di hadapanku?''


Mendapatkan tatapan tajam dan kata-kata pedas Aldrich, Luwis langsung ngibrit meninggalkan ruangan tersebut.


...----------------...


''Sepertinya kau sangat menikmati lukamu Zayn,''


Zayn langsung melepaskan genggamnya dari tangan seorang suster cantik dan menyuruhnya untuk pergi.


''Apa kau sangat membenciku Al? Sampai-sampai matamu seperti gatal saat melihatku bersenang-senang dengan wanita cantik,''


Aldrich langsung berjalan mendekat ke arah Zayn lalu mengambil bantal dan melemparnya ke muka Zayn.


''Aldrich Jourell Ewald! Kau mau membunuhku!''


''Jangan bermain drama! Cepat katakan apa yang sudah kau dapat dari hasil penyelidikanmu?''


''Kau benar-benar menyebalkan Al,''


Zayn menyerahkan ponselnya dan menyuruh Aldrich untuk melihat sebuah vidio di ponsel itu.


...Setelah Aldrich selesai menonton...


''Apa maksud dari vidio ini Zayn, dan siapa keluarga itu? Kenapa mereka di bunuh bahkan sang pembunuh membunuh mereka dihadapan putri mereka?''


Zayn mengehela nafasnya....


''Gadis kecil itu adalah Nona Shane yang masih berusia 5 tahun.''


''Haaaah.....'' Aldrich terkejut mendengar ucapan Zayn. Ia sungguh tidak menyangka, masa kecil Shane sangatlah mengerikan.


''Jadi ini orang tua kandungnya Shane?''


''Iya,'' Dan setelah peristiwa pembunuhan itu, Shane di pun di angkat sebagai anak oleh Tuan David dan di jadikannya sebagai pelindung di keluarga mereka.''


''Benar-benar gila! Setelah membunuh keluarganya, lalu mengangkatnya sebagai putri untuk melindungi keluarga mereka?''


''Bukan hanya itu Al, tapi semua properti orang tua Nona Shane di ambil alih oleh Tuan Mores,''


''Brengsek!....'' Aldrich membanting barang-barang yang ada di nakas samping Zayn duduk.


''Apa sebelum kecelakaan, Shane mengetahui semua ini?''


''Iya. Dan........


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰