SHANE

SHANE
Bab 29 : Editan foto yang gagal



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


...Ting.......


Zayn menoleh ke arah ponselnya yang tiba-tiba berbunyi saat ia tengah asik masak di kantin rumah sakit. Sebuah pesan dari Aldrich.


(''Rapikan isi seluruh rumah! Dan juga, ambil barang-barangnya Shane yang ada villanya. pindahkan ke rumah kita. Siang nanti Shane akan pulang ke rumah. Ingat! Tata dengan rapi. Jangan sampai membuat ke curigaan di hati Shane!'') Begitulah isi pesan dari Aldrich.


''Gila!''


...Braak........


Zayn membanting ponselnya hingga jatuh berkeping-keping setelah membaca isi pesan dari Aldrich.


''Bagaimana caraku mengambil barang-barangnya Nona Shane coba? Mana aku tahu kunci rumahnya ada di mana. Aldrich benar-benar kejam. Bisa-bisanya dia membalaskan dendamnya tanpa tanggung-tanggung.''


Luwis tertawa melihat Zayn mengamuk...


''Astaga ponselku!''


Zayn memunguti pecahan ponselnya setelah ia menyadari jika yang ia banting adalah ponsel kesayangannya.


''Kau bisa membelinya lagi Zayn. Untuk apa kau menangisinya?''


''Ponselku.....'' Ini adalah hadiah terakhir dari mantan pacaraku pertamaku Luwis! Buwaaaaa.....''


''Gilaaa.... dari mantan pacar masih kau simpan?''


''Tentu saja. Kenapa tidak? Semua barang-barang dari 23 mantan pacarku masih aku simpan semua. Bahkan walaupun itu hanya sebuah sepatu,''


''Diiih.... Aku baru tahu kalau kau itu ternyata penyayang barang dari mantan. Apa kau juga membuatkannya musium di kamarmu Zayn?'' Ejek Luwis.


''Ya,''


''Hahahahahahah.....'' Tawa Luwis menggelegar mendengar pengakuan Zayn. Selain tukang jahil dan playboy, ternyata Zayn punya kebiasaan unik.


''Puas-puaskan saja bicaramu Luwis. Lihat saja nanti, aku akan membalasmu!'' Ucap Zayn cemberut.


Di antara mereka bertiga Zayn yang paling muda umurnya. Yaitu 22 tahun. Sedangkan Luwis hampir sama dengan Aldrich. Hanya selisih 3 bulan saja. Namun kejahilan Zayn mampu mengalahkan mereka berdua hingga mereka berdua tak bisa berbuat apa-apa.


''Ya sudah. Cepatlah sana! Kau urus semua keperluan Nona Shane sebelum Aldrich benar-benar marah padamu dan mengirimmu ke ayahmu, hahaha....'' ucap Luwis yang menepuk pundak Zayn lalu pergi begitu saja meninggalkan Zayn.


''Dasar kau dokter yang tak berperasaan! Bahkan kau juga menertawakanku sebelum pergi, kau dan Aldrich itu sama saja,''


Zayn langsung menancap gas mobilnya untuk segera melaksanakan tugasnya sebelum ia benar-benar mendapatkan hukuman dari sahabatnya itu.


''Gila! Bagaimana caranya aku membuka kunci rumah Nona Shane. Bodoh! Aku melupakan sesuatu,'' ucap Zayn yang saat ini sudah berdiri di depan pintu gerbang rumah Shane.


Ia pun mengeluarkan sesuatu dari balik kantongnya.


''Ahaaa, akhirnya aku menemukanmu,'' Zayn mencium kunci serba guna yang selalu ia bawa-bawa kemana-mana.


( Note : Kunci serba guna sengaja Zayn buat karena Aldrich sengaja sering mengunci rumahnya agar Zayn tidak tinggal bersamanya. Jadi Zayn meminta tukang kunci kusus untuk membuatkannya sebuah kunci yang bisa membuka apapun bentuk lubang kuncinya.)


Setelah selesai membereskan semua barang-barang milik Shane, ia pun segera bergegas untuk kembali ke rumah.


''Aaaah.....'' Melelahkan sekali,'' Zayn terduduk di lantai dan bersandar kaki-kaki sofa.


Badannya yang penuh dengan keringat. Ia benar-benar sangat kelelahan setelah menyelesaikan tugasnya sendirian. Bahkan ia juga sudah menyiapkan sebuah foto yang bergambar potret Aldrich dan Shane yang sedang berpelukan seolah sebuah potret prewedding.


...Ckleeek......


Suara pintu terbuka. Zayn menoleh ke arah pintu utama.


''Kau sudah datang?'' Ucap Zayn tanpa beranjak dari tempat duduknya.


Rupanya Aldrich Shane sudah pulang dari rumah sakit.


''Sedang apa kau duduk di situ?'' Ucap Aldrich yang melihat sahabatnya malah duduk dilantai bukannya di sofa.


''Iya Tuan Zayn, mengapa duduk di lantai?'' Shane pun merasa heran melihatnya.


''Menurutmu?'' Zayn melihat sebal ke arah Aldrich. Sedangkan yang di tatap malah tersenyum puas dengan ke adaan Zayn saat ini.


''Nona Shane, ada sesuatu yang harus bicarakan dengan Aldrich. Bisakah Nona beristirahat di kamar dulu? Biarkan Pak Joko yang mengantar Nona dulu,'' Zayn meminta pak Joko_kepala pelayan di rumah Aldrich untuk mengantarkan Shane ke kamarnya.


Shane pun menganggukkan kepalanya mengikuti langkah kaki pak Joko.


Aldrich menjatuhkan tubuhnya pada sandaran sofa. Hari ini ia juga merasa cukup lelah.


''Aku mendapatkan kabar jika Tuan David masih mencari-cari keberadaan Nona Shane.''


''Lalu?''


''Apa nggak sebaiknya kita pergi dulu dari kota ini untuk menghidari mereka Al?''


''Itu tidak perlu. Aku bisa mengatasinya. Kau cukup pantau terus ke adaan mereka. Jangan sampai mereka menemukan jejak Shane.''


''Itu gampang. Tapi Al, aku ada saran. Sebaiknya kita mengganti panggilan nama nona Shane. Akan bahaya jika sampai ada yang mengenali namanya. Apa lagi saat ini Nona Shane masih perlu pengobatan. Data-data diri saat di rumah sakit, takutnya mereka akan menyelidikinya.''


''Kau benar, tapi apakah kita perlu mengganti namanya?''


''Bagaimana kalau kita memanggil Nona Shane dengan nama panggilan masa kecilnya?''


''Panggilan masa kecil?''


''Iya, dulu mendiang orang tuanya Nona Shane selalu memanggilnya dengan sebutan Oliv. Aku rasa nama itu bisa kita gunakan mulai sekarang Al,''


''Oliv? Bagus juga. Tuan Fajar memang sangat pandai dalam memilih nama. Baiklah, kita bisa memanggilnya dengan nama Oliv mulai dari sekarang.''


''Oh iya lupa,''


''Apa? Melihat ekpresimu, aku rasa aku akan mendapatkan kesialan lagi,'' ucap Zayn dengan nada ketus.


''Kau selalu berburuk sangka padaku Zayn. Padahal tadinya aku memintamu untuk menemui Kenan. Dia sudah menyiapkan barang-barangmu dan sebuah tiket pesawat. Itu hadiah untukmu karena kerja kerasmu hari ini. Tapi kau malah bepikiran buruk tentangku.''


''Tiket pesawat?'' Mata Zayn berbinar-binar mendengar kalimat tiket pesawat. Ia sangat senang traveling. Apa lagi di tempat yang banyaknya para gadis seksi berkumpul.


''Nikmati saja istirahatmu Zayn,'' (Aldrich menepuk pundak Zayn.) ''Aku akan meminta Kenan yang pergi berlibur,''


''Hei..! Tunggu dulu...tunggu..tunggu,'' Zayn berlari mengejar langkah Aldrich yang saat ini sudah berjalan setengah tangga.


''Aku akan mandi dulu. Awas saja jika kau sampai mengambil hadiahku kembali!'' Ucapnya yang langsung berlari menuju kamarnya.


Aldrich menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Ia kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menemui Shane.


...Di dalam kamar ...


Saat ini Shane tengah berdiri memandangi sebuah bingkai foto yang terpajang di kamarnya.


Sesekali ia tersenyum saat melihat potret tersebut. Aldrich yang baru saja melangkahkan diri memasuki kamarnya, merasa heran saat melihat Shane tersenyum sendiri.


''Apa yang sedang kau lihat, ''Hemm?'' Ucapnya sambil memeluk Shane dari belakang.


''Lihatlah foto kita suamiku!'' ( Sepertinya Aldrich sudah mulai terbiasa dengan panggilan suamiku.)


''Hahahahha....'' Aku tidak tahu apakah aku yang lupa, atau memang hahahahaha..... Aku sungguh tidak bisa menahan tawaku.''


Aldrich pun menoleh ke arah bingkai foto yang terpajang di kamarnya.


''Sialan kau Zayn!'' Teriak Aldrich yang terkejut dengan ulah Zayn.


-


-


-


Kira-kira, foto sepertinya yang Shane dan Aldrich lihat sampai-sampai membuat Aldrich geram dengan Zayn dan membuat Shane tertawa terpingkal-pingkal. Nantikan kisah selanjutnya ya 😘😘


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰