SHANE

SHANE
Bab 6 : Sebuah Rahasia



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


Tanpa terasa tiga bulan telah berlalu. Aldrich dan Zayn pun sudah sibuk dengan pekerjaannya mereka sendiri. Aldrich dua bulan yang lalu telah mengakusisi sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti. Bahkan dalam waktu dua bulan Aldrich sudah membuat kemajuan yang pesat di perusahaannya, hingga membuat sebagian besar para pembisnis lainnya kagum dan salut pada pemuda berusia 25 tahun itu.


Tak sedikit pula para perempuan yang menjadi penggemar beratnya. Tak terkecuali Sella. Sella adik angkatnya Aldrich juga sangat tergila-gila pada Aldrich. Bahkan perempuan itu sudah menyukai Aldrich saat pertama kali mereka bertemu. Yaitu saat Orang tua Aldrich mengadopsinya dari sebuah Panti Asuhan.


Tak sedikit korban perempuan yang mencoba mendekati Aldrich, pasti akan langsung dibereskan oleh Sella.


Sella berkelakuan sadis dan berhati kejam. Ia akan bersikap lembut jika hanya dihadapan Aldrich dan Orang tua angkatnya saja. Namun Aldrich sangat mengetahui sifat asli adik angkatnya itu. Sehingga membuat Aldrich sangat membenci Sella.


''Braak''


Sebuah undangan, Zayn lemparkan di atas meja tempat Aldrich bekerja. Aldrich membenarkan kaca matanya lalu mengambil undangan tersebut.


''Putra pertama David Mores akan menikah minggu depan. Mereka memberikan undangan untuk kita. Apa kau mau menghadirinya Al?''


''Tidak.''


''Apa kau yakin Al? Aku sudah mendapatkan semua informasi tentang keluarga mereka lo. Mungkin juga mereka akan membuat kesepakatan kerja sama dengan perusahaan kita.''


Zayn tersenyum melirik Aldrich. Ia ingin tahu, apa reaksi Aldrich jika ia menyebut tentang rahasia di keluarga Mores. Terutama tentang gadis yang bernama Shane Olivia Zera.


''Lagi pula, aku mempunyai firasat kalau akan ada hal besar yang akan terjadi di keluarga itu. Bukankah akan sangat seru jika kita bisa menyaksikannya langsung,'' ucapnya lagi.


Namun Aldrich sama sekali tidak bergeming. Ia menaruh kembali undangan itu. Lalu kembali melanjutkan kesibukannya membolak-balik berkas yang sedari tadi ia pegang.


''Baiklah-baiklah! Aku akan pergi dulu. Hubungi aku jika kau berubah pikiran! Aku pasti akan mememanimu untuk datang ke pernikahan itu.''


Zayn tersenyum penuh misteri meninggalkan Aldrich.


Aldrich kembali mengambil undangan itu, lalu dibukanya perlahan. Pikirannya seakan enggan untuk datang. Namun hatinya terus memberontak untuk datang.


''Kenapa hati dan pikiranku tidak singkron. Apakah aku harus datang? Jika aku datang, apakah aku akan bertemu dengan gadis itu lagi?''


Aldrich pun berdiri mengambil jasnya lalu pergi meninggalkan ruangan kantornya itu. Namun, baru saja ia menutup pintu...


''Kakak!''


Aldrich hanya diam saja tanpa menjawab. Ia sungguh sudah sangat jengah melihat gadis yang saat ini berstatus sebagai adik angkatnya itu.


''Kak,''


''Untuk apa kau datang ke sini? Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah lagi menemuiku!''


Sella merangkul lengan Aldrich, namun dengan segera Aldrich melepaskannya dengan kasar. Namun Sella sama sekali tidak peduli dengan sikap kasar kakaknya itu. Yang ada malah semakin membuatnya jatuh cinta.


''Kak, kata kak Zayn kakak di undang di pesta pernikahan kak Natan? Apa kau akan datang kak?''


''Tidak!'' Jawab langsung Aldrich.


''Kenapa tidak datang? Mama dan Papa saja datang, kak. Jika kakak datang, aku bersedia kok jadi pendamping wanita kakak. Lagi pula kakak kan belum punya pacar,'' ucap Sella dengan tersenyum genit.


''Jika kau mau datang, datanglah sendiri! Jangan menggangguku!''


Aldrich berkata penuh dengan penekanan. Ia pun segera pergi meninggalkan Sella yang emosi karena di abaikan.


''Apa lihat-lihat! Mau ku cungkil mata kalian hah!'' Sella mengamuk saat tingkahnya menjadi tontonan para karyawan kakaknya.


...>:::::💖:::::<...


Di kediaman keluarga Mores sudah mulai tampak ramai dengan kedatangan para kerabat dan para Tetua di keluarga mereka. Para pelayan pun mulai sibuk menghias rumah.


Shane baru saja tiba kediamannya. Hari ini ia mendapat tugas penting, yaitu mengambil flash disk yang berisikan dokumen-dokumen penting rahasia perusahaan. Karena selain membahas pernikahan kakaknya, para Tetua juga akan membahas seluruh aset mereka.


''Eh, Non Shane sudah pulang,'' ucap Bi Narsih sambil memberi hormat pada nona mudanya itu.


''Bi, para Tetua ada diruangan mana Bi?''


''Para Tetua sedang berkumpul di ruangan pribadi Tuan Besar Non. Tadi Tuan David juga sudah menanyakan kedatangan Non Shane terus. Lebih baik, segera ke sana dulu Non!'' Ucap Bi Narsih. Bi Narsih tidak ingin jika nanti Nona mudanya itu terkena marah lagi.


Shane pun mengangguk paham. Ia kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


Shane menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka, yaitu ruangan pribadi Tuan Mores_ kakek Shane.


Tadinya Shane bermaksud untuk langsung masuk dan menyerahkan flash disk tersebut. Namun langkahnya terhenti tak kala ia mendengar namanya di sebut-sebut.


''Dav, ku dengar putri pungutmu itu sudah sukses mengelola pabrik tehmu itu. Apa kau berencana untuk terus memeliharanya,'' ucap Marches yaitu paman dari papanya_kakaknya Tuan Mores.


David hanya tersenyum sambil meneguk segelas anggur.


''Sudahlah! Jangan bahas soal anak pungut itu. Dari dulu aku sudah mengatakan pada adik. Lebih baik bunuh sekalian bocah itu, biar mati bersama orang tuanya. Tapi Adik malah tetap bersikeras memeliharanya. Aku hanya takut jika kedepannya malah akan menjadi bumerang untuk keluarga kita,'' ucap istri Tuan Marches.


...DEG.......


Badan Shane bergetar.


''Apakah yang mereka maksud adalah diriku? Tapi selain aku, papa kan tidak memiliki putri lain.''


''Sudahlah. Jangan membahas-bahas lagi soal Shane, aku muak mendengar setiap namanya di sebut!'' Ucap David_ papa Shane.


hati Shane terasa ngilu saat ia mengetahui kebenaran tentang dirinya. Ternyata dia hanyalah anak pungut. Dan yang lebih membuatnya tambah ngilu, kalau ternyata Orang tua kandungnya di bunuh oleh orang yang selama ini ia hormati dan patuhi?


Shane tersenyum penuh kegetiran


...''Dunia benar-benar suka bercanda denganku,''...


Pantas saja selama ini papa dan mamanya sangat membencinya. Ingin sekali rasanya Shane berlari masuk lalu menembaki mereka semua dengan pistol yang masih ia simpan di saku jasnya.


''Aku memeliharanya karena saat itu keluarga istrinya David sangat menginginkan seorang putri. Lagi pula, selama ini bukankah bocah itu yang membuat kita hidup aman dan membuat perusahaan dan pabrik kita semakin maju! Bukankah ini sepadan?''


Shane semakin dibuat terkejut dengan perkataan kakeknya. Ia sungguh tidak menyangka, hidupnya selama ini hanya untuk di manfaatkan. Walau badan bergetar, mata pun sudah mulai basah karena air mata yang tiba-tiba mengalir begitu saja. Shane masih tetap berusaha menenangkan pikirannya agar tidak bertindak gegabah.


''Kau benar kak, memang sepadan. Tapi apakah putramu Marlon benar-benar menyayanginya? Ku lihat Marlon sangat dekat dengan anak pungut itu,''


Tuan Mores membuang nafasnya.


''Jika Marlon lebih membelanya, maka lebih baik aku hanya memiliki satu putra saja.''


Emosi Shane benar-benar sudah di ubun-ubun. Tapi ia tidak ingin terlihat bodoh dan lemah. Shane segera menghapus air matanya. Menampilkan senyuman, ia kemudian berbalik pergi meninggalkan kediaman keluarga Mores.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰