SHANE

SHANE
Bab 26 : Apa kau benar-benar Suamiku?



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


''Apa kau sama sekali tidak menganggapku sebagai ayahmu, Marlon?''


''Adikmu selama ini sudah bekerja keras mengembangkan pabrik dan perusahaan kita. Tapi apa yang kau lakukan? Apa! Apa kau pikir kau dan keluargamu bisa hidup makmur nyaman dan aman karena siapa? Kalau bukan karena aku dan adikmu!''


''Hahahahahaha......''


(Tawa Tuan Marlon menggema di se isi ruangan.)


''Karena adikku? Adik mana yang kau maksud? David?''


''Orang-orang yang telah menghancurkan hidup ibuku, bukanlah keluargaku. Tapi musuhku!''


''Marlon! Apa kau selalu menganggap ku dan adikmu musuh selama ini?''


''Ck....''Menurutmu?''


''Marlon, ayah tahu kau sangat membenci kami. Tapi, biar bagaimana pun aku tetaplah ayah kandungmu dan David, juga tetaplah adikmu. Apa rasa bencimu mengalahkan hubungan darah di antara kita?'' Ucap Tuan Mores yang perlahan memelankan suaranya.


''Ayah,'' Bukankah kau sudah tahu dengan jelas sebenci apa diriku terhadap kalian. Kau mengungkit atas jasamu karena hidup keluarga ku yang nyaman? Jika bukan karena wasiat ibu, bahkan aku tidak akan sudi menginjakkan kakiku di rumahmu ini,''


''Kau selalu memanjakannya sejak dia lahir bukan? Kau selalu menganggapku anak yang tidak berguna. Dan tanpa kalian sendiri sadari, tanpaku dan Shane hidup kalian pasti sudah lama berakhir.''


''Marlon! Kau masih berani mengungkit namanya!''


''Lalu kenapa aku tidak berani? Bukankah dia juga anakmu. Anak hasil dari wanita yang kau hancurkan hidupnya dan keluarganya 20 tahun yang lalu,''


''Marlon! Aku akui aku pernah menjamah ibunya. Tapi aku tidak yakin, kalau dia benar-benar darah dagingku. Aku yakin, ini semua adalah hasil dari permainan Shane yang ingin keluarga kita terpecah belah. Tidak seharusnya kau mempercayainya!''


''Aku tidak pernah mempercayai siapapun selain keluarga ku sendiri. Ibu, istri dan putri-putriku. Shane sudah ku anggap sebagai putri kandungku sendiri. Tentu saja aku harus mempercayainya. Bahkan aku berharap dia bisa membalaskan dendam keluarganya terhadapmu!''


''Apa kau tega melihat ayah dan adikmu mati di tangannya, Marlon?''


''Tentu saja.''


''Saat Shane berusia 5 tahun, kau saja tega membunuh kedua orang tuanya di hadapan kedua matanya sendiri. Apa kau lupa itu Mores!''


''Kau...!''


Tuan Mores hampir saja melayangkan kembali tangannya yang kini masih mengambang di udara.


''Kenapa kau tidak jadi menamparku? Padahal aku sudah sangat menantikannya.''


''Ayah, apa kau pernah mendengar sebuah pepatah "Apa yang kau tanam, itu yang akan kau Tuai," ( Apapun perbuatanmu semua ada konsekuensinya. Karena hukum karma tidak pernah salah alamad )


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Marlon pun meninggalkan ayahnya yang masih mematung di hadapan foto mendiang kakaknya.


Joice berlari menghampiri ayahnya setelah melihat ayahnya pergi dari kakeknya. Ternyata sejak tadi, Joice tidak kembali ke kamarnya, melainkan berdiri di samping almari yang menghalangi pandangan ayah dan kakeknya terhadapnya. Sehingga ia bisa dengan leluasa mendengarkan setiap perkataan yang di ucapkan oleh ayah dan kekeknya.


''Ayah!''


''Joice?''


''Sedang apa kau ada di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk kembali ke kamarmu sejak tadi?''


''Maafkan aku ayah,'' Joice menundukkan pandangannya. Tangannya pun saling bertautan dan kakinya bergerak gelisah.


''Ayah selalu mengajarimu agar tidak ikut campur dalam urusan orang tua Joice. Apa kau sudah tidak mau lagi mendengarkan ayah?''


''Tidak. Ayah, bukan itu maksud Joice. Joice hanya tidak ingin ayah kenapa-napa. Sebab itu Joice berdiri tak jauh dari ayah dan kakek. Maafkan Joice ayah, maaf. Joice berjanji tidak akan mengulanginya,''


Joice berlari menghambur ke pelukan Tuan Marlon. Ia pun menangis tersedu-sedu memeluk ayahnya.


''Baiklah. Ayah tidak akan memarahimu. Tapi berjanjilah satu hal!''


( Tuan Marlon memegang pundak Joice, dan Joice pun memandang ayahnya dengan seksama ) ''


''Kau tidak akan melakukannya lagi. Berjanji pada ayah, bahwa apapun yang terjadi nantinya, kau tidak boleh ikut-ikutan dalam masalah ini! Kau mendengarkan ayah kan Joice?''


''Iya ayah, Joice berjanji,''


''Baiklah, ayah percaya padamu. Sekarang, kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat,''


''Baik ayah,''


Tuan Marlon mengusap puncak kepala putrinya, lalu perlahan berjalan untuk masuk ke kamarnya. Namun...


''Ayah!''


''Apakah benar, kakak Shane putrinya kakek?''


''Ayah juga tidak tahu nak, ayah masih menunggu kabar dari anak buah ayah.''


''Apakah ayah masih menunggu Richard? Bukankah ayah tahu kalau Richard sudah menghiyanati ayah dan lebih memilih mematuhi perkataan paman David.''


''Ayah tidak sedang menunggu Richard, Joice. Ayah juga tahu jika sampai Shane tertangkap Richard, pasti kita tidak akan dapat menolongnya. Ayah sangat mengkhawatirkan kakakmu.''


''Semoga kak Shane baik-baik saja ya ayah.''


Tuan Marlon tersenyum mendengar perkataan Joice. Tuan Marlon sangat menyayangi kedua putrinya. Meskipun Shane bukan putri kandungnya, tapi ia sudah menganggapnya seperti putri kandungnya sendiri.


...Di Rumah Sakit........


''Seperti dugaanku ternyata,'' ucap Luwis yang saat ini sedang membaca hasil dari laporan pemeriksaan Shane.


''Maksudmu, Nona Shane benar-benar amnesia?''


''Benar Zayn. Aku sudah melakukan pengecekan secara keseluruhan. Dan hasilnya, akibat benturan hebat yang mengenai kepalanya, membuatnya mengalami amnesia. Tapi kalian tenang saja. Itu hanya sementara. Tapi aku juga tidak bisa memprediksinya.''


''Mungkin jika ada sesuatu yang memancing ingatannya, pasti ingatannya akan pulih kembali,''


Aldrich hanya duduk mendengarkan perkataan Luwis. Tapi ia juga bingung harus bagaimana kedepannya.


''Baiklah, sekali lagi terima kasih Luwis. Kau sudah banyak membantu penyembuhan Shane,''


''Santai saja,'' Luwis menepuk pundak Aldrich.


''Aku malah senang lo kalau dia lupa ingatan,'' ucap Luwis sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Luwis, Aldrich dan Zayn langsung terkejut.


''Maksudmu apa Luwis?''


''Bukankah itu bagus untuk Aldrich, Zayn. Jadi dia bisa lebih dekat dengan Nona Shane. Dan kita, benar-benar akan segera memiliki kakak ipar. Bukankah itu bagus Zayn?'' Ucapnya dengan tanpa rasa berdosa


( Beeeeeh, tapi aku suka wkwkwkwk )


''Kau berpikiran terlalu jauh Luwis. Mungkin kamar mayat sebrang ruangan ini, sangat cocok untuk ruangan barumu,'' ucap Aldrich yang mulai berjalan meninggalkan ruangan Luwis.


''Dasar berhati kejam!'' Gerutu Luwis.


Zayn hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Lalu ia pun segera beelari mengikuti langkah kaki Aldrich.


''Al, tapi menurutku ucapan Luwis sangat masuk akal,'' ucap Zayn yang kini berjalan di samping Aldrich.


''Jangan sembarangan Zayn. Kau tahu sendiri bagaimana ke adaan Shane saat ini. Jangan berpikiran macam-macam!''


''Baiklah-baiklah. Tapi ngomong-ngomong Al, apa yang akan kau katakan nanti pada Nona Shane? Apa kau akan mengaku sebagai suaminya? Hahahaha,''


''Zayn!...''


Zayn berlari menghidari kejaran Aldrich yang siap dengan kepalan tangannya.


''Baiklah-baiklah. Jangan mengejarku lagi. Aku sudah tidak sanggup berlari lagi. Kau benar-benar suami terbaik Nona Shane,'' ucap Zayn yang ngos-ngosan akibat kejaran Aldrich.


Niat hati hanya candaan, namun sialnya Shane tak sengaja mendengarnya saat ia membuka pintu ruangannya.


''Apa kau benar-benar suamiku?''


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰