SHANE

SHANE
Bab 23 : Tragedy is inevitable



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


''Bisakah kau tidak berteriak Sonya?''


David membenarkan bajunya lalu berdiri berjalan ke arah Shane.


''Apa kau sudah puas berbicara!'' Ucapnya penuh dengan penekanan. Dan tatapan yang tajam seakan menghunus ke arah jantung.


''Puas? Apa menurut papa, aku harus membuka semua kebusukanmu hanya di depan mama saja, atau perlu ku panggilkan kakekku tersayang juga?''


''Lancang!''


David melayangkan tangannya, namun Shane dengan segera menangkisnya menggunakan kakinya, hingga membuat David terjengkang kelantai.


''Tadi istrimu yang menamparku, sekarang kau pun ingin menamparku juga? Apa hobi kalian ini hanya tahu menyakiti orang lain saja!''


''Benar yang dikatakan paman Marches, anak pungut sepertimu jika tidak disingkirkan sekalian pasti akan membuat masalah kedepannya. Dan lihat! Sekarang kau pun sudah melakukannya!''


''Ah iya...'' Seharusnya kau mengikuti saran Marches untuk membunuhku sekalian beserta ayah ibuku. Benar bukan?''


David dan Sonya benar-benar merasa sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Shane.


[''Ayah ibu? Apa yang di maksud bocah sial itu adalah Fajar dan Alina?'']


David dan Sonya saling melirik satu sama lain.


''Tentu saja benar mereka. Memangnya siapa lagi orang tua kandungku selain mereka berdua Tuan David!''


''Kau..!''


''Apa yang sedang kalian ributkan!''


Tiba-tiba Tuan Mores datang menghampiri mereka dengan membawa dua anak buahnya.


''Ayah, sepertinya Shane sudah mengingat kejadian 15 tahun yang lalu,'' bisik David menghampiri ayahnya.


Tuan Mores melebarkan pandangannya. Menatap lekat-lekat wajah Shane yang saat ini begitu tenang berdiri di hadapannya sambil melipat kedua tangannya.


''Apa benar yang dikatakan oleh papamu, kalau kau tahu kejadian 15 tahun yang lalu?''


Shane tersenyum, lalu berjalan ke arah Tuan Mores.


''Kejadian 15 tahun yang lalu? Kejadian apa itu? Mengapa aku tidak mengetahui apapun tentang kejadian itu,'' ucap Shane, namun senyumannya terlihat jelas mengejek wajah Tuan Mores.


''Lancang!''


''Keluarga Mores sudah membesarkanmu dengan segala kasih sayang dan materi yang berkecukupan. Apa ini balasanmu terhadap kebaikan kami!'' Tuan Mores berkata penuh penekanan untuk mengingatkan kembali dengan siapa Shane berbicara.


''Kebaikan? Apa yang di sebut kebaikan adalah dengan membunuh orang tua kandungku demi merebut bisnis mereka, atau membunuh sahabatku yang kalian para tetua gilir hingga menghilangkan nyawanya, atau kebaikan yang membuatku selalu dicaci maki di pukuli dan di rendahkan dari kecil hingga sekarang?''


''Tuan Mores!... Ops.... salah, kakek! Oh maaf, sepertinya aku salah berucap lagi. Mungkin lebih tepatnya aku harus memanggilmu dengan sebutan Ayah!''


...Deaaaarrrrr......


Bak petir disiang bolong, semua orang benar-benar di buat tambah terkejut dengan pernyataan Shane. Bahkan Tuan Marlon dan Joice juga keluarga besar lainnya yang menghampiri mereka karena mendengar keributan.


''Apa maksud ucapanmu ha! Kau anak pembawa sial yang tidak tahu diri. Berani sekali berbicara omong kosong di depan seluruh anggota keluarga Mores!''


Istri Tuan Marches terlihat geram melihat keberanian Shane.


''Sudah kubilang kepadamu Adik, bunuh sekalian bocah kecil yang tidak tahu diri ini. Sekarang lihatlah! Lihat bagaimana dia mempermalukan keluarga kita?''


''Omong kosong? Apa kau pikir aku berbicara omong kosong! Tanyakan pada Tuan besar Mores, apa yang sudah ia lakukan 20 tahun yang lalu di desa keluargaku.''


''Apa yang dilakukan dia kepada ibu dan bibiku, hingga membuat bibiku gangguan mental akibat ulahnya yang menodai ibuku! Apa kau pikir mempermalukan keluarga Mores saja itu sudah cukup Nyonya Marches!''


''Kau!... Dasar anak tidak tahu di untung matilah kau!''


Nyonya Marches mengarahkan sebuah pisau ke arah Shane, namun dengan cepat Shane menghindar dan tanpa sengaja pisau itu malah mengenai perut Eva.


''Omaaa....'' Eva merintih kesakitan menahan perutnya yang terus mengeluarkan darah.


Shane tersenyum miring melihat ke arah Nyonya Marches. Kemudian berjalan pelan ke arahnya.


''Apa yang akan kau lakukan! Kau anak pembawa sial apa kau benar-benar punya keberanian saat kau sendiri masih berada di kandang macan!''


''Hehehhe....'' Pasangan yang idiot!''


...DOR.......


''Kau! Mores! Bunuh dia sekarang.'' Perintah Nyonya Marches yang melihat Shane dengan penuh dendam.


''Kalian cepat bawa suamiku dan cucuku ke rumah sakit!''


Di saat para beberapa pengawal membawa Tuan Marches dan Eva ke rumah sakit, kini Shane benar-benar sudah terpojok di antara kakek dan papanya itu.


''Apa kau sudah puas bermain-mainnya Shane?'' Ucap Tuan Mores.


''Oh, ayolah ayah, aku belum puas bermain dengan mereka,''


''Tutup mulutmu bedebah!''


...DOR......


Satu tembakan David arahkan ke kepala Shane, namun Shane dengan cepat menghindar.


''Berguna juga ajaran Marlon padamu, sampai-sampai peluruku meleset dari cangkang otakmu itu,''


''Tentu saja sangat berguna, benarkan paman?'' Shane berkata lalu menoleh ke arah Tuan Marlon yang masih diam saja menjadi penonton di ruangan itu.


''Mari kita lihat, apakah kau bisa lebih gesit lagi ketimbang peluruku!''


...Dor...dor dor......


Tiga kali tembakan namun semua meleset begitu saja.


''Sepertinya ke ahlianmu berkurang semenjak 15 tahun yang lalu Tuan David. Apa dengan cara seperti itu kau membunuh ibu dan ayahku!''


''Tentu saja, bahkan dengan pistol yang sama. Nyawa ibu dan ayahmu dan sebentar lagi dirimu juga akan mati di tangan pistol ini!''


''Ooo...Ayahku? Apa kau tidak melihat bahwa ayahku masih berdiri di hadapanmu Tuan David? Eh maaf kakak David!''


''Berhenti berbicara omong kosong Shane!''


''Omong kosong? Apa kau tidak melihat wajah ayahmu yang diam saja saat aku berbicara? Lihatlah David! Lihat dengan seksama!''


Mendengar ucapan Shane, David pun menoleh ke arah Tuan Mores. Di sana terlihat Tuan Mores menatapnya penuh dengan kesenduan. Entah apa yang dipikirkan oleh Pria tua paruh baya itu.


''Ayah! Katakan sesuatu! Katakan padaku bahwa itu semua bohong bukan? Kau tidak pernah menghianati Ibuku kan ayah? Kau tidak pernah menghianatinya kan!'' Teriak Tuan David.


''Jangankan menghianati ibumu, bahkan istri sah pertamanya saja ia khianati. Apalagi ibumu yang hanya seorang simpanan! Apa menurutmu seorang wanita simpanan lebih penting daripada istri sah, Tuan David?'' Ucap Shane yang tersenyum mencibir kebodohan David.


''Kau! Kau bocah pembawa sial! Matilah kau!''


... Dor....dor... dor... dor...


Kali ini Shane tidak diam saja. Shane pun membalas tembakan Tuan David hingga mengenai salah satu kaki Tuan David.


''Akh.....'' Rintinya sambil memegangi satu kakinya yang terkena tembakan.


''Sepertinya sudah cukup untukku bermain-main malam ini. Silahkan menikmati pertunjukan yang sudah aku suguhkan malam ini. Terima kasih untuk semuanya,'' ucap Shane, lalu pergi melompat ke arah jendela balkon. Lalu pergi mengendarai mobilnya.


''Sialan kau Shane!''


''Richard!''


''Iya Tuan?''


''Kau harus mendapatkan Shane, hidup ataupun mati. Seret dia di hadapanku. Akan ku hukum dia dengan tanganku sendiri!'' Teriak Tuan David.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰