SHANE

SHANE
Bab 30 : Kejujuran Aldrich



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...



( Yang ingin tahu foto yang membuat Aldrich geram dan Shane tertawa terpingkal-pingkal )


Zayn berlari keluar rumah tak kala mendengar teriakan Aldrich, sambil menyeret kopornya. Kenan dan pak Joko yang melihat tingkah Zayn yang bisa tersenyum menggelengkan kepalanya.


''Cepat antarkan aku ke bandara Ken! Sebelum Aldrich benar-benar memakanku,''


''Baik Tuan,''


Akhirnya Zayn pun lolos dari amukan Aldrich gara-gara masalah editan fotonya.


''Sudahlah. Jangan memarahinya. Lihatlah! Foto ini tidak terlalu buruk kok. Kau masih tetap lebih tampan dari pada kura-kura dan zebranya,'' Shane mencubit kedua pipi Aldrich untuk menghiburnya.


[°°Lihat saja kau Zayn, jika sampai aku melihatmu belum pergi dari rumah ini, aku pastikan kau akan langsung ku kirim ke London,°° dalam hati Aldrich]


''Aku akan mandi dulu, kau juga bersih-bersih dulu setelah itu kita makan bersama,'' ucap Aldrich yang akan melangkahkan kakinya ke kamar yang ada di sebelah kamar yang di tempati oleh Shane.


''Kenapa tidak mandi di sini?'' Shane menahan satu lengan Aldrich.


[°°Bagaimana aku menjelaskannya kalau kita sebenarnya belum menikah. Kita tidak mungkin tinggal dalam satu kamar sebelum adanya ikatan pernikahan,°° ]


Aldrich benar-benar merasa sangat dilema. Ia pun kembali memutar langkah kakinya ke arah Shane.


''Ada sesuatu yang ini aku bicarakan denganmu. Mari duduklah dulu,'' Aldrich menggandeng tangan Shane dan menduduknya di ranjang.


Shane terdiam memandang wajah tampan Aldrich dengan senyuman. Sedang yang di tatap malah semakin membuatnya gelisah.


''Katakan saja. Kenapa malah terlihat gusar,'' ucap Shane yang menarik tangan Aldrich agar ia juga ikut duduk di sebelahnya.


Aldrich menarik nafasnya dalam-dalam lalu perlahan ia keluarkan.


[°°Apakah jika aku jujur, Shane akan marah padaku karena telah menipunya? Akankah dia membenciku dan akan langsung meninggalkanku saat ia tahu kebenarannya? Tapi, aku tidak ingin terus-terusan membohonginya. Ini sangat tidak adil untuknya,°°]


''Kenapa malah terdiam, hemm?'' Shane memegang dagu Aldrich.


''Sebenarnya kita bukanlah suami istri,'' ucap Aldrich.


...Deg......


Bukan suara jantung Shane, melainkan suara detak jantung Aldrich yang perlahan-lahan mulai dag dig dug der. Karena tidak melihat reaksi apapun dari wajah Shane.


''Kau boleh marah padaku. Kalau perlu kau boleh juga memukulku karena telah lancang membohongimu. Aku mohon maafkan aku Shane,'' Aldrich memegang kedua tangan Shane.


''Aku tahu,'' hanya itu kalimat yang Shane ucapkan setelah mendengar penjelasan dari Aldrich.


''Tahu?'' Aldrich bingung, bagaimana Shane bisa mengetahuinya.


''Tentu saja aku tahu. Jika kita memang suami istri, pasti di jari manis kita sudah ada sepasang cincin pernikahan. Dan juga, bukan karena itu saja. Sejak dari aku bangun, lalu di rumah sakit, setelah itu kita pulang lagi ke rumah ini. Kau terlihat menjaga jarak denganku. Dari segi ucapan dan gestur tubuh, kamu juga seakan sangat berhati-hati.''


[°°Memang gadis yang sangat pintar. Bahkan ia bisa membaca situasi tanpa harus di jelaskan,°°]


Aldrich semakin di buat kagum akan kemampuan Shane.


''Apa kau tidak marah padaku?''


''Tidak. Untuk apa aku marah. Tapi ada satu hal yang membuatku belum mengerti,''


''Katakan saja. Aku akan menjawabnya untukmu,''


''Jika kita bukan pasangan suami istri. Lalu apa hubungan kita? Dan kenapa kau sangat perhatian padaku layaknya perhatian kepada pasanganmu sendiri?''


Aldrich menundukkan pandangannya. Cinta memang sangatlah rumit. Ia sudah terbiasa menghadapi berbagai jenis sifat klien-kliennya. Ataupun persaingan sengit untuk mendapatkan sebuah sebuah proyek. Tapi saat berhadapan dengan Shane, rasanya seperti ada ribuan belenggu yang mencoba menahannya.


''Karena aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu.''


''Pertama kali bertemu?'' _Shane


''Iya, saat itu kamu dengan berani seorang diri menolongku tak kala aku sedang di situasi yang sulit,''


''Situasi yang sulit seperti apa?'' Shane memiringkan kepalanya mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Aldrich.


Aldrich berjalan ke arah jendela. Pandangannya lurus menatap jalanan ibu kota.


...''Apa kau tahu Shane. Aku mencintaimu namun aku selalu berusaha menyembunyikannya dalam setiap sikap dinginku. Mungkin aku bukan yang terbaik bagimu, menjadi seorang yang tak berarti apa-apa untukmu. Namun setelah pertemuan itu, aku selalu ingin sekali bertemu denganmu, mencari tahu tentangmu, dan ingin merasakan bahagia bersamamu. Kebahagiaanku bersamamu mungkin hanya seperti mimpi, tapi aku selalu berharap biarlah mimpi itu terus menemani di setiap tidurku."...


Mendengar ucapan Aldrich, Shane langsung menghambur memeluk Aldrich dari belakang. Dibalik punggung Aldrich yang lebar dan nyaman, Shane menghirup nafasnya dalam-dalam merasakan aroma tubuh yang khas milik Aldrich.


''Apa kau membenciku?''


''Alasan apa hingga aku harus membencimu. Kau memberikan ku cinta yang tulus. Meskipun aku lupa tentang kita, namun aku percaya cinta dan perhatianmu tidaklah sebuah dusta.''


Aldrich membalikkan badannya dan memeluk tubuh gadis 162 cm itu.


''Aku sangat menghargai kejujuranmu,'' ucap Shane.


Kini pandangan mereka saling bertemu. Bagai bintang utara dan selatan yang saling memancarkan cahayanya. Ada dorongan kuat di hati mereka berdua untuk saling menautkan lisan mereka. Namun, prinsip hidup yang mereka yakini menjadi pembatas agar mereka tidak bertindak terlalu jauh.


''Apa kau bersedia menikah denganku?'' Ucap Aldrich dengan tatapan penuh harap.


Shane mainkan jari-jarinya di dada bidang Aldrich.


''Mengapa tidak menjawab ucapanku?'' Aldrich mengangkat dagu Shane dan menatapnya dalam-dalam.


''Maafkan aku, bukan maksudku....''


''Apa kau tidak bersedia menikah denganku?''


''Bukan itu maksudku,''


Shane bingung harus bagaimana ia menjelaskan tentang perasaannya. Aldrich laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab. Cintanya yang tulus tidak perlu ia ragukan lagi. Namun ia juga tidak bisa membohongi perasaannya.


Meskipun sudah ada ketertarikan di dalam hatinya, namun ia belum sepenuhnya yakin akan perasaannya. Belum lagi, ia tidak mengingat apa pun tentang masa lalunya.


''Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak bersedia menikah denganku,'' ucap Aldrich.


Namun dalam matanya tergambar jelas rasa kecewa. Namun ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Ia akan tetap menghargai keputusan Shane, apapun itu. Biarlah cintanya tetap seperti semula.


''Jangan memandangku dengan perasaan seperti itu.'' Shane memegang kedua pipi Aldrich.


''Aku memang tidak bisa menikah denganmu untuk saat ini. Tapi, itu bukan berarti aku tidak bersedia menikah denganmu.''


Aldrich sedikit kebingungan dengan kata-kata Shane.


''Kau tahu ingatanku belum pulih. Aku tidak ingin suatu saat akan menjadi kendala untuk kita di masa yang akan datang. Aku ingin mengingat dulu kembali semua memoriku yang terlupakan. Baru setelah itu kita bisa membahasnya lagi,''


''Kau tidak keberatan kan?''


Aldrich melunturkan wajahnya yang muram. Perlahan senyumannya pun mulai terbit.


''Tentu saja aku tidak keberatan. Selama kau tidak menolakku, aku pasti akan menunggumu sampai kapanpun,'' ucap Aldrich penuh semangat.


''Benarkah? Lalu, apakah aku perlu pulang dulu ke rumahku sendiri saat ini?''


''Eeh..!''


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰