SHANE

SHANE
Bab 11 : Persahabatan



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


Mendengar keributan, Istri dan kedua putranya Seno langsung menghampiri David.


''Apa yang terjadi dengan Suamiku Dav? Katakan! Kenapa mereka membawa suamiku. Mereka mau membawanya kemana?''


David tak menggubris pertanyaan istri Seno, ia malah menghampiri Rega dan Abigail, lalu menepuk pundak mereka berdua.


''Lebih baik bawa ibu mu pulang terlebih dahulu. Paman akan menyelidiki kebenarannya! Pastikan, jangan sampai Lita dan suaminya tahu tentang semua ini sampai paman menemukan kebenarannya,''


''Tapi paman...''


Abigail merasa sangat penasaran tentang isi Email yang membuat papanya terkena serangan jantung.


''Turuti saja perkataan paman, Gail.'' David pergi meninggalkan kerumunan.


Rega dan Abigail pun menuruti perintah David untuk membawa ibunya pulang. Sebelum pulang Abigail sempat melihat ke arah Shane. Kemudian segera bergegas pergi meninggalkan kediaman Mores.


Shane masih setia mendengarkan percakapan mereka sambil bersandar di tembok.


''Uhuk..uhuk...''


Shane terkejut. Dari arah belakang, tiba-tiba pundaknya di tepuk seseorang_ yaitu Tuan Mores.


''Kakek''


''Apa yang sedang terjadi Shane? Kenapa Seno sampai di bawa ke rumah sakit?''


''Tuan Seno terkena serangan jantung kek. Selebihnya Shane tidak mengetahui sebab dan apa yang sebenarnya terjadi. Tunggu saja sampai papa menyelidikinya, maka kita akan segera tahu penyebabnya,''


Tuan Mores hanya menganggukan kepalanya. Lalu pergi meninggalkan Shane.


"Pasti saat ini kau sedang kebingungan. Mari kita lihat, bagaimana kau akan menyelamatkan orang kepercayaanmu_ Seno dan keluarganya,"


Shane menyunggingkan senyumannya. Lalu pergi meninggalkan tempat itu. Masih banyak yang harus ia lakukan. Ia tak ingin waktunya terbuang sia-sia.


Tak jauh dari tempat Shane, Aldrich sedari tadi terus memperhatikannya. Aldrich merasa ada gerak-gerik aneh yang telah Shane lakukan.


''Apa perlu kita mengikutinya Al?''


''Tidak!''


Zayn tersenyum melihat ekpresi sahabatnya. Ia tahu pasti saat ini sahabatnya itu sangat penasaran kemana gadis itu akan pergi. Dan apa yang akan gadis itu lakukan.


Langkah Aldrich terhenti saat David kembali menghampirinya.


''Nak Aldrich. Aku rasa sebaiknya pembicaraan kita tadi, lebih baik kita lanjutkan besok saja. Besok biar sekertaris saya yang akan mengantarkan dokumennya ke kantormu,''


''Baiklah Tuan David. Jika memang harus seperti itu. Saya juga akan pamit pulang. Karena saya masih ada janji dengan seseorang,'' ucap Aldrich yang hendak membalikkan badan untuk melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


''Nak Aldrich,''


Aldrich kembali menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Tuan David.


''Apa masih ada yang harus kita bicarakan lagi Tuan David.'' Aldrich mengangkat salah satu alisnya.


''Oh iya, ini perkenalkan. Dia Eva_ putri sepupuku Bayu,''


David bermaksud untuk memperkenalkan Eva kepada Aldrich. Jika dengan adanya Eva bisa membuat Aldrich semakin mau untuk bekerja sama dengannya, bukankah itu lebih baik? Begitu pikirnya.


''Oh,''


Eva bermaksud mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Namun Aldrich sama sekali tidak mengindahkannya.


''Usianya sama dengan Nak Aldrich. Jika nak Aldrich ada waktu. kalian bisa mengobrol-ngobrol bersama. Aku rasa kalian cukup cocok. Atau, besok biarkan Eva saja yang mengantarkan dokumennya? Bagimana menurut Nak Aldrich?''


Mendengar perkataan David, mata Aldrich menatap tajam ke arahnya. Aldrich sungguh tidak suka dengan cara David yang menurutnya sangat menjijikkan.


("Menjalin kerja sama dengan menyodorkan seorang wanita cantik. Anda benar-benar seorang pemberani Tuan. Apa lagi menyodorkannya ke arah Aldrich. Seorang kepala batu dan berhati es. Tidak semua orang akan tergoda dengan wanita cantik dan seksi. Terlebih Aldrich. Kau benar-benar pemberani, Tuan" )


Zain berucap dalam hati. Sambil mengangkat kedua jempolnya ke arah Aldrich.


''Tapi Tuan Al....''


Suara Eva tercekat saat melihat Aldrich begitu saja meninggalkan dirinya dan David yang masih ingin berbicara.


''Paman....''


''Tenanglah Eva! Paman pasti akan berusaha mendekatkanmu dengannya. Jika kita bisa menjalin kerja sama dengannya, akan sangat menguntungkan untuk keluarga kita. Besok, pergi ke kantor paman untuk mengambil dokumen. Kau bisa mengantarkannya ke kantor Aldrich. Setelah itu, kau bisa melakukan apapun,''


David berkata sambil memandangi punggung Aldrich yang semakin menjauh dari pandangannya.


''Kau meninggalkan seorang wanita cantik nan seksi begitu saja Al.''


''Jika kau mau, kau bisa membawanya. Lagi pula Tuan David sudah memberikannya cuma-cuma.''


''Haah! Bahkan wanita yang ada di apartemenku lebih cantik dari dia,'' ucap Zayn


''Kau tidak kekurangan wanita, lalu untuk apa kau masih menanyakannya?''


Zayn tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Berpakaian terbuka dan minim, tentu saja bukan tipe Aldrich. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Tuan David mempunyai pikiran menggunakan seorang wanita untuk menjalin kerja sama dengan Aldrich.


''Apakah mereka tidak pernah mendengar gosip tentangmu Al?''


Aldrich hanya menautkan alisnya menanggapi candaan Zayn. Siapa yang tidak tahu gosip tentang Aldrich.


Seorang pebisnis muda bertalenta. Meski banyak perempuan yang mencoba mendekatinya, namun Aldrich sama sekali tak pernah menggubrisnya. Oleh sebab itu banyak gosip yang mengatakan kalau Aldrich seorang Gay ( penyuka sesama jenis ) karena seringnya bersama Zayn.


''Memangnya ada gosip apa tentangku?'' Aldrich menatap tajam Zayn. Sampai yang ditatapnya merasa bergidik ngeri.


''Tidak ada. Hanya sekelompok orang yang mengatakan kalau kau itu seorang Gay.''


''Oh, baguslah.''


''Apa-apaan kau ini! Kau bisa menjadi Gay sendiri. Tapi jangan mengajakku. Apa kau tahu, orang-orang menggosipkan_mu dengan ku. Bukankah itu tidak adil untukku.''


Aldrich menyunggingkan ujung bibirnya mendengar Zayn tidak terima dikaitkan dengannya.


''Kau bisa pergi ke London dahulu. Bukankah Ayahmu selalu menyuruhmu untuk pulang?''


''Dih kau ini. Dia menyuruhku pulang karena jalangnya yang tidak bisa memberikannya keturunan. Enak saja memintaku kembali hanya untuk mengurus perusahaannya. Suruh saja jalangnya itu.'' ucap Zayn.


''Dia ingin menjadikanku sebagai boneka di perusahaannya, sedangkan dia akan enak-enakkan dengan wanita-wanitanya. Sampai kapan pun aku tidak akan sudi menemuinya.''


Mendengar ucapan Zayn, Aldrich menjadi diam. Ia sangat memahami kondisi sahabatnya itu.


Sejak kecil orang tua Zayn sudah bercerai. Ibunya seorang Artis terkenal. Ayahnya seorang pebisnis yang handal. Sejak kecil kedua orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaanya masing-masing tanpa memperdulikan Zayn.


Zayn sangat kekurangan kasih sayang. Mereka hanya memenuhi kebutuhan materi. Namun sama sekali tidak peduli dengan hidup dan matinya Zayn.


Hingga suatu ketika Zayn mengalami kecelakaan yang sangat parah. Dan dilarikan ke rumah sakit. Bahkan saat di ujung kematiannya, orang tua Zayn sama sekali tidak ada yang menjenguknya. Ibunya Aldrich lah yang merawat Zayn sampai sembuh. Dari situ Zayn dan Aldrich saling kenal dan menjadi sahabat.


Ayah Aldrich direktur rumah sakit dan ibu Aldrich seorang dokter bedah. Mereka bekerja di rumah sakit yang sama. Karena Rumah sakit tersebut milik keluarga Ayahnya Aldrich.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰