
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
''Aaaah....'' Dan mereka bertiga pun berteriak bersama karena saling terkejut.
...Plak.......
''Mah kenapa malah memukulku. Sakit tahu,'' ucap Aldrich sambil mengelus-elus pundaknya yang di pukul oleh mamanya.
''Salah kalian, mengapa malah berteriak! bikin kaget mama saja,''
''Bagaimana kami tidak terkejut. Mama saja tiba-tiba datang dari belakang tanpa suara dan malah mengejutkan kami,''
Mamanya Aldrich ingin menyela kembali ucapan putranya, namun seketika menghentikan niatnya tak kala melihat seorang gadis yang dibawa oleh putranya itu.
''Eh.... apa ini calon menantuku?'' ucapnya sambil memperhatikan Shane dari atas sampai ujung bawah.
Shane yang merasa di perhatikan pun merasa canggung. Entah mengapa rasanya seperti ada gelayar tertentu didalam lubuk hatinya.
''Maaah....!'' Jangan buat Shane merasa canggung. Aku masih dalam proses mengejar cintanya dan sampai saat ini dia belum mau menerimaku,''
''Astaga Aldrich Jourell Ewald! Sudah berapa bulan kau bersamanya? Bahkan kau belum bisa mendapatkan cintanya! Kau benar-benar putraku yang tidak cekatan. Kenapa kepintaran papamu dalam hal menggoda wanita tidak menurun padamu,''
''Benarkah ayah sehebat itu?'' Tatapan mata Aldrich seakan mengejek perkataan mamanya.
''Jika kau tidak percaya, tanyakan sendiri pada ayahmu,''
''Sayangku, maafkan putraku yang lemot ini ya? Oh iya, siapa namamu gadis manis?''
''Nama saya Shane bibi. Shane Olivia Zera,'' ucap Shane dengan menampilkan senyuman manisnya.
''Nama yang sangat cantik. Orang tua mu sangat pandai sekali dalam memilihkan nama. Oh iya, jangan panggil aku dengan sebutan bibi ya sayang. Panggil saja mama Ana,'' Ucap Anna lembut, wanita cantik yang telah melahirkan Aldrich beberapa tahun tahun lalu itu menyambut kedatangan Shane begitu hangat.
''Bagaimana bisa anda menjadi mamanya Aldrich, sedangkan anda masih terlihat cantik dan muda sekali,'' Shane memiringkan kepalanya memperhatikan pemilik mata teduh yang tak lagi muda namun kecantikannya masih sangat nyata itu.
''Hahahahah.....'' Bibirmu sangat manis sekali Shane. Kau juga sangat lucu. Pantas saja putraku sangat mencintaimu,''
''Tidak bibi.....'' Eh, maksud Shane mama Ana, mama benar-benar masih tampak muda dan mempesona. Kalau boleh tahu apa rahasianya ma? Shane juga ingin tampak awet muda seperti mama,''
''Astaga anak ini,'' Ana tersenyum menggelengkan kepalanya.
''Ayo masuk dulu, tadi bibi sudah menyiapkan banyak makanan untuk menyambut kedatangan kalian,''
Tanpa mereka sadari mata Shane tampak berkaca-kaca. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan dalam keluarga. Melihat keramahan mamanya Aldrich, membuatnya sangat merindukan sosok ibunya.
''Ayo duduk di sini sebelah mama sayang,'' Ana menepuk kursi di sebelahnya supaya Shane duduk di dekatnya.
''Tidak boleh! Tentu saja Shane akan duduk denganku. Mah, jangan coba-coba merebut gadisku dengan menggunakan pesonamu itu ya ma,''
Ana dan Shane tertawa melihat reaksi Aldrich seperti anak kecil yang sedang berebut sebuah mainan. Bahkan ekpresi wajahnya benar-benar terlihat sangat menggemaskan.
...Tuk.......
Sebuah buku melayang di kepala Aldrich hingga sang punya pun mngeduh kesakitan.
''Pah! Bisa tidak, setiap bertemu denganku bukumu kau simpan dulu di lemari. Kenapa setiap kita bertemu kau selalu membawa-bawa buku?''
''Tentu saja untuk memberimu pelajaran. Apa kau tidak malu Al? Bahkan dengan mamamu saja kau tidak mau mengalah. Padahal waktunya yang kau habiskan dengan gadismu jauh lebih banyak ketimbang dengan mamamu,''
''Siapa yang sibuk setiap hari sampai-sampai tidak ada waktu menemani anaknya bermain? Bahkan sampai dewasa pun, jangankan mengobrol, duduk untuk sarapan bersama saja sudah tidak pernah. Selalu saja pasien yang menjadi alasan,''
Ana tertunduk lesu mendengar ucapan putranya. Sedari kecil Aldrich selalu sering ia tinggal sendirian. Padatnya jadwal dan terkadang ada pasien dadakan, membuat waktu kebersamaan dengan putranya semakin berkurang. Hanya Zayn dan Luwis, dan para pelayan saja yang selalu menemani Aldrich setiap harinya.
Shane melihat kesedihan di mata Ana. Shane menggenggam tangan Ana dan memberinya senyuman semangat.
''Apa kau tidak malu mengucapkan kata-kata seperti itu. Kau sudah besar bahkan umurmu lebih tua ketimbang denganku. Tapi, lihatlah bagaimana cara berbicaramu itu. Benar-benar terdengar sangat menggelikan. Kau seharusnya bersyukur, meskipun orang tuamu sibuk, tapi perhatian dan kasih sayang mereka tetap ada padamu. Mencukupi kebutuhanmu dan keluarga bukanlah hal yang mudah.''
Shane menunjuk tegas di wajah Aldrich, membuat hati Aldrich bergetar mendengar setiap kata yang Shane lontarkan. Ana dan Morgan pun ikut terdiam kagum akan penjelasan yang Shane katakan.
Ana dan Morgan sudah mendengar semua cerita tentang shane dari Zayn dan Luwis. Namun baru kali ini sosoknya yang tegas dan wawasannya yang luas membuat mereka semakin kagum.
Aldrich tersenyum memandang wajah Shane.
''Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau akan marah karena perkataanku?''
''Tidak. Tapi aku sangat kagum padamu. Dan aku juga baru menyadarinya bahwa kehidupanmu juga bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Tapi kau memiliki pikiran yang lugas. Yang bahkan aku sendiri saja tidak bisa sampai berpikir seperti itu,''
''Mungkin karena otakmu terendam air kolam,'' ucap Shane tanpa sadar. Shane langsung menutup mulutnya menggunakan tangannya saat semua mata tertuju padanya.
''Heheheh.....'' Shane menunduk malu, pipinya memerah terasa panas karena menahan malu akan kata-katanya sendiri.
''Hahahaha.....'' Menantu kita benar-benar sangat menggemaskan ya Ma,''
''Iya pah, mama juga sangat bahagia karena Aldrich bisa bertemu dengan perempuan yang baik dan mempunyai pikiran yang bijak seperti Shane.''
''Shane? Oh namamu Shane, nak?''
''Iya paman,'' jawab Shane.
''Paman? Kau memanggil istriku dengan sebutan mama. Tapi memanggilku dengan sebutan paman. Hei nak, aku ini tidak sedang menikahi adikku ya, jadi jangan memanggilku dengan sebutan paman. Panggil juga aku dengan sebutan papa,''
''Aaah....!'' Papa?''
''Eei...'' Hahahhaha....'' Dan mereka semua pun tertawa bahagia.
...----------------...
Setelah selesai makan malam, Shane sudah beristirahat di dalam kamar yang sudah Ana siapkan. Hari ini mereka menginap di rumah orang tua Aldrich. Sedangkan Aldrich sendiri masih mengobrol-ngobrol dengan papanya.
( Ponsel Aldrich berdering )
''Sebentar pa, Al angkat dulu,'' ucap Aldrich sambil menunjukkan ponselnya pada papanya.
Morgan melambaikan tangannya dan menyuruh Aldrich untun berbicara dulu dengan sang penelpon.
''Ada apa?'' ucap Aldrich setelah lumayan jauh dari papanya.
''Hallo Al? Maafkan aku yang mengganggu waktumu. Aku hanya ingin memberitahumu, kalau rumah kita sepertinya sedang di selidiki oleh orang,''
''Di selidiki? Siapa?''
''Tuan.......
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰