SHANE

SHANE
Bab 7 : Kebenaran



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


Saat ini Shane terlihat diam membisu memandangi layar laptopnya yang masih menampilkan beberapa vidio dan gambar. Air matanya tampak mengalir membasahi pipinya. Tangannya terlihat gemetar sambil menggulir keyboard laptopnya.


Ternyata, selain dokumen-dokumen penting rahasia perusahaan. Flash disk itu juga berisi rekaman CCTV dan beberapa bukti pembunuhan yang di lakukan oleh anggota keluarga Mores.


Termasuk rekaman CCTV pembunuhan orang tua kandung Shane.


Dini hari pada tanggal - Juli- 199-


Seorang pengusaha Teh terbesar di kota B. Pasangan suami istri, Fajar Prasetya dan Istrinya Alina Zera Putri, mengalami nasib naas.


Rumah mereka didatangi para perampok. Keduanya meninggal akibat tertembak dibagian kepala dan dada yang tepat mengenai jantung.


Banyak dugaan bahwa itu bukanlah sebuah perampokan dan akibat persaingan bisnis. Karena harta benda mereka, tak satu pun yang di curi. Namun kabar tersebut hanya berembus sementara saja. Bahkan berita itu seperti hilang begitu saja dari permukaan.


Dalam beberapa bulan kemudian pabrik dan perusahaan mereka tiba-tiba mengalami kebangkrutan. Banyak para karyawan yang berdemo karena gaji mereka yang belum terbayar.


Lalu tiba-tiba, datanglah seorang pengusaha kaya dari Kota Proid yang membeli perusahan serta pabrik itu. Mereka juga mengganti rugi gaji para karyawan. Yaitu Tuan Mores.


Tanpa banyak orang tahu, Fajar dan Alina memiliki seorang putri yang berusia lima tahun. Namun semenjak kejadian itu, putri mereka menghilang begitu saja tanpa jejak.


''Ayah ibu,''


Shane menundukkan kepalanya di tutupi kedua tangannya. Baru kali ini Shane merasa hidupnya benar-benar hancur seketika. Bukan karena ia baru tahu jika keluarga Mores bukan keluarganya. Melainkan saat ia mengetahui bahwa pembunuh orang tuanya adalah orang yang selama ini ia hormati dan patuhi.


Di genggamnya erat-erat flash disk tersebut. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing.


''Aaaakh!'' Shane berteriak sambil memegangi kepalanya.


Jessica yang mendengar jeritan sahabatnya, langsung berlari menghampiri Shane.


''Kamu kenapa Shane?''


Jessica berusaha menenangkan Shane sambil memeluknya erat-erat.


Tiba-tiba di dalam kepala Shane muncul bayangan-bayangan seperti sebuah vidio yang berputar di dalam otaknya.


''Nak, apa pun yang terjadi nanti kamu harus tetap bersembunyi di sini ya!''


Seorang wanita terlihat memeluk putrinya dan memerintahkan putrinya untuk bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.


''Iya Bu, tapi kenapa aku harus bersembunyi?''


Gadis kecil yang belum tahu apa-apa itu terus bertanya kepada ibunya. Rumah mereka sedang kedatangan beberapa tamu. Namun dari yang terlihat, mereka sedang memperdebatkan sesuatu. Hingga terdengar suara tembakan...


...DOR........


''Ibuuuuuu....'' Gadis kecil itu langsung menangis tak kala mendengar suara tembakan.


''Tetaplah di bawah tempat tidur sampai Ibu memanggilmu ya nak!'' Perintah perempuan itu sambil mencium kening putrinya.


Perempuan itu lalu bergegas berlari ke arah suara tembakan tadi.


Gadis kecil itu telah berhenti menangis. Ia berjalan perlahan ke arah pintu sambil membekap mulutnya sendiri.


''Suamiku.....''


Ternyata, suara tembakan tadi berasal dari salah satu tamu yang menembak suami perempuan itu.


Perempuan itu menangis sambil memangku suaminya yang sedang sekarat.


''Sebenarnya apa mau kalian! Kenapa kalian membunuh suamiku!'' Teriak perempuan itu di selingi dengan suara tangisan.


''Suamimu sangat bodoh! Kami sudah berbicara baik-baik untuk menyerahkan pabrik dan perusahaannya. Tapi apa yang dia katakan?''


''Beraninya dia bilang tidak akan menjualnya meskipun nyawanya sebagai taruhannya! Bukankah ini yang dia inginkan? Jadi, kami pun terpaksa mengabulkannya, benar bukan?''


Seorang pria paruh baya berkata sambil memegang dagu perempuan itu.


''Ciih!''


Perempuan itu meludah tepat ke wajah pria paruh baya tersebut. Dan


''Dasar perempuan ******! Berani sekali meludahiku!'' Ucap pria itu penuh dengan emosi.


Perempuan itu memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan dari pria paruh baya itu. Namun tiba-tiba gadis kecil itu berlari sambil memegang sebuah pisau yang ia arah kan ke pria paruh baya tersebut.


Pria itu dengan sigap menghindar hingga hanya salah satu jarinya saja yang terputus terkena pisau tersebut.


''Kau orang jahat! Beraninya menyiksa ibu dan ayah ku!''


Bocah kecil kecil itu berusaha menusuknya kembali. Namun kepalanya tertahan oleh tangan pria itu.


''Bereskan mereka! Dan jangan sampai meninggalkan bukti sekecil apa pun!'' Perintahnya.


''Lepaskan aku! lepaskan aku!''


Gadis kecil itu terus memberontak dan berusaha melepaskan diri.


''Aaaaakh!''


''Sialan! Berani sekali kau menggigitku!''


Karena tangannya digigit gadis kecil itu, pria paruh sampai tak sengaja membanting tubuh gadis kecil tersebut hingga tubuh kecilnya tersungkur menyentuh lantai.


Darah mulai membasahi wajah mungilnya. Matanya terus menyorot wajah pria paruh baya tersebut. Tak ada suara tangisan meski air mata dan darah membasahi wajah mungilnya.


...Dor...dor..dor.....


Lima kali tembakan tepat mengenai kepala dan jantung kedua pasangan suami istri itu. Bahkan mereka membunuhnya tepat di depan mata putri kecil mereka.


''Ibuuuuu...'' Gadis itu berteriak sekuat tenaga dan berusaha merangkak ke arah ibunya yang kini sudah tak bernyawa. Namun dengan segera Pria paruh baya tersebut menangkapnya kembali.


''Oliv, apa kau lihat nak? Bukankah ibumu terlihat cantik saat badannya berlumuran darah nak?'' Ucap pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah Tuan Mores.


Bocah perempuan kecil itu adalah Shane. Namun ayah dan ibunya selalu memanggilnya dengan sebutan nama Oliv.


Shane kecil bahkan tak mampu lagi mengeluarkan suaranya. Gadis kecil itu hanya diam membisu menatap wajah ayah ibunya yang sudah tak bernyawa.


''Bunuh saja sekalian bocah itu kak! Aku tidak mau jika kelak bocah itu akan menjadi masalah untuk kita di kemudian hari,'' ucap salah satu dari mereka_ adik Tuan Mores.


''Aku akan mengurusnya. Lebih baik kalian bersihkan saja tempat ini. Buatlah seakan ini kasus perampokan!''


''Tapi kak bagaimana jika.....


''Sudahlah. Ikuti saja perintahku! Apa kau mau aku membunuhmu sekalian!''


''Baiklah kak, aku akan menurutimu. Tapi ingat perkataanku kak. Jika suatu saat bocah itu membuat masalah, maka jangan salahkan aku jika aku sendiri yang akan menghabisinya,''


Lalu pria-pria itu pun terlihat sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.


Perlahan kesadaran Shane kecil mulai memudar dan akhirnya tak sadarkan diri. Tuan Mores terlihat tersenyum menatap wajah gadis kecil yang saat ini ada di dekapannya itu.


''Akan ku buat kau menjadi gadis hebat. Dan dalam asuhanku, aku ingin kau menjadi pelindung untuk seluruh anggota keluarga Mores. Tolong jangan salahkan diriku nak, salahkan saja nasibmu yang tidak beruntung itu. Hahahaha...''


Tawa Tuan Mores menggelegar di seisi ruangan.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰