SHANE

SHANE
Bab 41 : Raja Drama Zayn



...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...


''Bukankah dulu pabrik itu sudah diambil alih oleh keluarga Mores?''


''Ya, tapi sepertinya ada seseorang yang diam-diam kembali mengambil pabrik itu lewat tangan orang lain. Dan sepertinya mereka sekarang sedang mengembangkannya untuk melebihi kesukses_san pabrik teh milik Tuan Mores.''


''Selidiki lagi semuanya Zayn! Aku tidak ingin ada yang memiliki pabrik teh milik mendiang Tuan Fajar.''


''Apa kau juga tertarik dengan pabrik itu Al?''


''Iya. Tapi aku berencana untuk memberikan pada pemilik Aslinya. Bukankah dia yang lebih berhak?''


''Oooo....Maksudmu, kau akan mengambil alih pabrik itu, lalu dengan begitu kau bisa memberikannya kepada Nona Shane,''


''Hemm...''


Aldrich hanya berdehem menjawab perkataan Zayn. Ia sangat penasaran, selain dirinya siapa lagi yang tertarik dengan pabrik itu. Jika itu Shane yang notabennya putri Tuan Fajar pemilik asli pabrik itu , akan tetapi kondisi Shane saat ini sedang amnesia. Bukankah itu tidak mungkin? Tapi selain dirinya dan Shane, lalu siapa lagi.


''Kau tenang saja,'' Zayn menepuk bahu Aldrich.


''Aku akan menyelidiki semuanya. Kau cukup fokus saja dalam pengejaran cintamu itu. Hahahaha....''


''Sialan kau Zayn!'' Aldrich memukul bahu sahabatnya itu hingga membuat Zayn hampir terjungkal.


''Aku harus pergi dulu. Aku mendapatkan informasi jika putri Tuan Marlon akan berada di toko kue besok. Aku harus segera mengatur rencanaku agar nanti bisa lebih dekat lagi,''


''Baiklah. Kau bisa melanjutkan tugasmu. Tapi kau harus ingat! Tetap waspada dan berhati-hati. Setahuku Joice itu putri satu-satunya Tuan Marlon dan dia putri kesayangannya. Pasti banyak penjaga yang mengikutinya.''


''Kau tenang saja. Aku bisa mengatasi mereka,'' Zayn tersenyum melambaikan tangannya meninggalkan kamar yang saat ini Aldrich tempati.


Setelah kepergian Zayn, Aldrich membuka laptopnya untuk mencari informasi tentang perkembangan pabrik teh milik Tuan Fajar. Tangannya masih asik menggulir mousenya tanpa ia sadari Shane sudah berada di belakangnya.


''Apa kau masih sibuk?'' Tanya Shane yang langsung membuat Aldrich terkejut dan menghentikan jari tangannya seketika.


''Astaga, kau mengagetkanku saja,'' ucapnya.


''Apakah aku mengejutkanmu? Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu terkejut,'' Shane memiringkan kepalanya melihat ekpresi Aldrich yang saat ini mengelus-elus dadanya.


''Aku tidak apa-apa. Ayo,'' ( Aldrich berdiri )


''Pasti Mama dan Papa sudah menunggu kita untuk makan malam,''


''Benar. Mama dan papa sedari tadi sudah menunggumu. Oleh sebab itu aku pun segera memanggilmu. Aku kira kau ketiduran. Tapi ngomong-ngomong di mana Tuan Zayn? Kok tidak kelihatan?''


''Dia tidak ikut makan malam bersama kita. Ada urusan pekerjaan mendadak yang harus ia kerjakan. Oleh sebab itu ia segera pulang ke rumahnya.''


''Ooo....,'' ucap Shane yang ber oh ria saja.


...----------------...


Hari ini Joice kembali ke toko kue langganannya untuk membeli beberapa perlengkapan membuat kue. Besok adalah hari ulang tahun mendiang ibunya. Tidak biasanya Joice pergi sendirian namun kali ini, ia meminta kepada ayahnya agar para penjaganya tidak mengikutinya hari ini.


Di saat dirinya tengah asik memilih-milih bahan, tiba-tiba Zayn datang dan hampir menabraknya lagi.


''Sepertinya kita punya kebiasaan saling tabrak saat bertemu ya Tuan Zayn?''


Zayn menggaruk tengkuk lehernya. Tadinya ia memang berencana untuk membuat adegan tidak sengaja menabrak namun sialnya Joice langsung menghindarinya. Dan alhasil ia terjungkal dan tertimpa tepung. Wajah dan badannya pun berlumuran tepung. Zayn mengusap kasar wajahnya agar bisa melihat sebab ada beberapa tepung yang masuk mengenai matanya.


Sakitnya sih tidak seberapa, tapi malunya seumur hidup.


Zayn yang melihat uluran tangan Joice tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.


[ ''Aha!...Kenapa aku tidak terpikirkan ide seperti itu!'' batinnya dalam hati.]


''Auuukh....''


Zayn mengeluh dan memegangi pinggangnya.


'' Ada apa Tuan? Apa pinggangmu terasa sakit?'' Tanya Joice.


''Sepertinya pinggangku sakit akibat terbentur lantai tadi.'' Ucapnya yang berpura-pura.


''Astaga! Anda harus segera membawanya ke dokter. Jangan sampai terjadi apa-apa pada pinggang anda Tuan!'' Ucap Joice. Joice yang tadinya biasa-biasa saja langsung berubah menjadi panik karena melihat ekspresi Zayn yang seperti benar-benar menahan rasa sakit.


Zayn hanya mengangguk lemah. Joice pun segera memapah Zayn dan segera membawanya ke rumah sakit. Zayn tersenyum melihat kepanikan di wajah gadis manis yang saat ini duduk di sebelahnya menyetir mobilnya. Akting yang luar biasa Zayn! Seharusnya kau menjadi seorang artis saja. Pasti banyak penghargaan Oscar dan penghargaan lainnya yang akan dengan mudah Zayn dapatkan.


[''Sial! Seharusnya tadi aku turuti saja perkataan ayah untuk membawa beberapa pengawal. Bodohnya aku. Lihatlah Joice! Sekarang kau jadi kerepotan sendiri bukan!'' Joice menggurutu di dalam hati. ]


[''Bahkan dalam keadaan panik pun gadis ini terlihat sangat imut dan menggemaskan sekali. Seandainya dia tidak masuk dalam tugas misiku, pasti aku akan menjadikannya salah satu pacarku,'' batin Zayn yang kini tengah tersenyum memandangi wajah Joice.]


Sesampainya di rumah sakit Joice langsung meminta para suster untuk segera membawa Zayn agar bisa segera mendapatkan perawatan. Zayn diam-diam meminta dokter untuk melarang Joice ikut masuk ke dalam ruangan. Setelah sampai di dalam ruangan, Zayn pun meminta dokter untuk berpura-pura mengatakan bahwa Zayn mengalami cedera yang cukup parah dan Ia membutuhkan seseorang untuk merawatnya sementara.


Awalnya dokter menolak! Karena itu tidak sesuai dengan prosedur. Sebenarnya pimggang Zayn tidak apa-apa namun Zayn bersikukuh dan memohon kepada dokter dan bahkan mengatasnamakan Tuan Morgan sebagai direktur rumah sakit itu. Akhirnya dengan terpaksa dokter pun menyetujui permintaan Zayn dan mengatakan kepada Joyce bahwa Zayn mengalami cedera cukup parah di pinggangnya.


Dan untuk sementara ini, ia harus menggunakan kursi roda dan membutuhkan pendampingan dan perawatan kusus dari seseorang yang harus selalu menemaninya. Joice bingung harus bagaimana? Zayn bercerita bahwa dirinya tinggal sendirian di Tesand. Dia tidak memiliki siapapun karena keluarganya jauh berada di London.


Joice menutup kedua matanya, mengeluh pada takdir yang sial ini.


''Bagaimana bisa aku bertemu dengan hari yang sial ini!'' ucapnya. Ia mengusap wajahnya dan membuang nafasnya dengan kasar.


''Baiklah. Biarkan untuk sementara ini, saya yang merawat Tuan Zayn,'' ucap Joice dengan terpaksa.


''Baiklah kalau begitu saya akan menuliskan resep obat yang harus anda tebus dan memberikannya kepada Tuan Zayn agar cederanya lekas sembuh,'' ucap dokter itu.


''Baiklah Dok. Dan terima kasih,'' ucap Joice


Joice berpamitan pada Zayn untuk menelepon keluarganya dahulu sebelum ia pergi bersama Zayn untuk merawatnya. Zayn pun mengangguk sebagai jawaban. Setelah kepergian Joice, Zayn tersenyum bahagia karena rencanannya telah berhasil.


-


-


-


πŸ’– Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


πŸ’– Like


πŸ’– Vote


πŸ’– Gift


πŸ’– Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanyaπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°