
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
''Hallo Al? Maafkan aku yang mengganggu waktumu. Aku hanya ingin memberitahumu, kalau di sekitar rumah kita sepertinya sedang di selidiki oleh orang,''
''Di selidiki? Siapa?''
''Tuan David. Kemaren Kenan memberitahu jika banyak sekali anak buah Tuan Mores yang berkeliyaran di sekitar Tesand. Sebaiknya untuk sementara Nona Shane jangan dulu kembali ke rumah,''
''Kurang ajar! Berani sekali mereka berada di wilayahku. Baiklah, aku akan berbicara dengan Shane nanti. Kau selidiki terus apa saja yang akan di lakukan oleh Tuan David dan Tuan Mores. Dan juga, kalau bisa buat mereka segera meninggalkan tempat itu.''
''Baiklah Al. Akan aku usahakan nanti. Aku harus berbicara dulu dengan Kenan. Nanti aku kabari lagi,''
''Ok.''
Aldrich mengepalkan tangannya. Matanya menatap tajam.
''Di mana Al, pah?'' Ucap Shane yang datang sambil membawakan nampan yang berisi sepiring cemilan dan dua gelas jus Jambu.
''Dia sedang berada di taman belakang menerima telepon dari Zayn. Sepertinya sangat penting. Kau tunggu saja di sini, mungkin sebentar lagi dia akan kembali lagi.''
''Baiklah pa,''
Shane pun ikut duduk di kursi samping Morgan. Sesekali matanya tertuju pada sebuah benda yang ada di atas lemari pajangan.
''Apakah itu pistol asli pah?''
Morgan menoleh ke arah apa yang di tunjuk oleh Shane.
''Iya, dulu papa mendapatkannya dari seorang teman. Apa kau juga tertarik dengan senjata Shane?''
''Iya paman. Bolehkah Shane melihatnya paman?''
''Tentu saja boleh. Sebentar, paman ambilkan untukmu.''
Morgan membuka kaca lemari yang cukup tinggi itu. Dan mengambil pistolnya lalu ia serahkan kepada Shane.
''Ini,''
''Terimakasih papa,''
Morgan tersenyum manganggukkan kepalanya.
''Papa baru lihat, gadis seperti dirimu malah lebih tertarik dengan senjata ketimbang berburu baju-baju ataupun perhiasan-perhiasan. Bukankah gadis seusiamu biasanya lebih menyukai hal-hal yang menyenangkan ketimbang yang menegangkan ya,''
''Iya pah. Shane juga merasa aneh. Entah mengapa Shane sangat tertarik setelah melihat pistol ini, padahal Shane juga baru pertama kali melihatnya. Rasanya seperti ada getaran yang tidak asing,''
Morgan tersenyum dan mengusap puncak kepala Shane.
''Jika kau menyukainya, maka itu untukmu saja.''
''Aaah....! Tidak tidak pah, Shane mana berani. Pistol ini kan hadiah dari teman papa. Dan pastinya banyak kenangan yang tersimpan dalam memori pistol ini,''
''Tidak apa-apa. Ini untukmu saja. Lagi pula, teman papa masih hidup, masih segar bugar. Jika papa ingin sesuatu dari dia papa akan langsung mendatanginya. Simpanlah saja untukmu ya,'' ucap Morgan dengan senyuman.
''Terimakasih pah, Shane pasti akan menjaganya dengan baik-baik.''
Shane tersenyum gembira. Entah mengapa ia sangat senang mendapatkan sebuah pistol yang bahkan ia sama sekali tidak bisa menggunakannya.
''Apa yang sedang kalian obrolkan?''
Aldrich yang tiba-tiba muncul menyomot cemilan yang ada di tangan papanya.
''Dasar anak kurang ajar. Di meja masih banyak itu makanan, mengapa tidak mengambilnya sendiri. Malah menyerobot punya papa!'' gerutu Morgan.
''Tapi punya papa terlihat lebih menggoda pa,'' ucap Aldrich yang tertawa terbahak-bahak.
Shane masih sibuk mengamati pistol yang baru saja ia dapatkan itu. Bahkan ia sampai mengabaikan keberadaan Aldrich.
''Hei! Apa pistol itu lebih menarik ketimbang diriku ''Hemm?''
Aldrich yang tiba-tiba berbicara di belakang pundaknya membuat Shane terkejut dan hampir saja menjatuhkan pistolnya.
...Plak......
Satu pukulan mendarat dengan sempurna di pundak Aldrich.
''Au....''Sakit sayang,'' keluhnya sambil mengusap-usap pundaknya yang habis dipukul oleh Shane.
''Siapa suruh kau mengagetkanku. Lihatlah! Hampir saja pistol pemberian papa rusak akibat jatuh karenamu!'' ucap Shane yang cemberut kesal dengan kelakuan Aldrich.
''Kan belum jatuh sayang, kenapa masih harus mukul?''
''Tentu saja harus dipukul! Biar tahu rasa kamu. Huuh..''
''Sudah...sudah. Kalian ini malah ribut. Lebih baik ayo antarkan mama pergi mengambil donor jantung milik salah satu pasien mama,''
''Enggak mau ah mah, Al masih harus mengerjakan pekerjaan kantor. Lebih baik ajak saja papa. Lihat tuh! Dia yang menganggur mentang-mentang karena dia putra pemilik rumah sakitnya,'' tunjuk Aldrich pada papanya yang sedang menelan cemilan.
''Uhuk...uhuk...''
''Dasar anak kurang ajar,'' Morgan melemparkan sebuah bantal sofa ke arah Aldrich. Meskipun tidak kena.
''Biar Shane yang ikut dengan mama. Tidak apa-apa kan mah?'' Ucap Shane. Dan tanpa ia sadari pistol yang ia genggam ia masukkan ke dalam tas yang masih ia cengklang. ( Apa sih bahasanya? pokonya masih ia pakai lah''
Ana tersenyum
''Tentu saja tidak apa-apa sayang. Mama malah senang mendengarnya. Ayo kita berangkat sekarang! Biarkan Al dan papamu ribut di rumah.''
''Kok gitu mah. Lebih baik Al ikut mama saja dari pada di rumah sama dia,''
''Dia...dia siapa yang kau maksud hah? Sini kau anak kurang ajar biar papa beri pelajaran karena sudah tidak sopan,''
Morgan berdiri dan akan melempar bantalnya kembali namun Aldrich sudah bersembunyi di belakang mamanya.
''Jangan kau halangi istriku, biar aku memberi pelajaran pada anak kurang ajar itu.''
Keributan mereka terhenti saat ponsel Aldrich kembali berdering. Aldrich memgangkat tangannya.
''Hallo...''
''Iya. Baiklah aku akan segera ke sana,''
Aldrich menutupi spiker ponselnya.
''Maafkan aku mah, aku harus pergi ke kantor sekarang,'' ucapnya yang langsung berlari pergi begitu saja.
''Dasar anak itu. Kalau urusan kantor saja no 1,'' Morgan menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu.
''Ya udah mah, biar papa saja yang mengantarkan kalian,''
''Tidak usah pah, mama biar pergi sama Shane saja. Lagi pula papa kan sebentar lagi ada janji temu dengan para petinggi rumah sakit,''
''Baiklah kalau begitu. Kalian berhati-hatilah,''
''Iya pah, kami berangkat dulu,''
Ana dan Shane pun langsung menancap gas mobilnya meninggalkan kediaman mereka.
''Kenapa firasatku tidak enak ya. Semoga saja mereka baik-baik saja,''
Entah mengapa setelah kepergian istrinya dan Shane Morgan merasa tidak enak. Sepertinya ada sesuatu hal yang buruk yang akan menimpa mereka namun ia pun segera menepisnya. Ia percaya semua pasti baik-baik saja.
...****************...
Setelah mengambil donor jantung milik pasiennya, Ana dan Shane segera bergegas untuk ke rumah sakit.
Tadinya Ana mengendarai mobilnya dengan hati-hati seperti biasanya. Namun tiba-tiba dari arah belakang mobilnya ada beberapa mobil yang mengikuti mereka.
''Mah, sepertinya kita sedang di ikuti,'' ucap Shane yang pertama menyadarinya.
''Iya kah?''
Ana menoleh ke kaca untuk melihat apa yang sedang terjadi.
dan Benar saja, mobil-mobil yang mengikuti mereka bahkan tak segan-segan menyerempetnya.
''Aaah...'' Teriak Ana yang sedikit merasa ketakutan.
Namun anehnya Shane sama sekali tidak takut.
''Mama fokus saja menyetir. Shane yang akan mengehentikan mereka,''
''Apa! Apa yang akan kau lakukan Shane?''
Ana merasa aneh dengan tingkah Shane. Dan
...Dor.......
''Aaah....''
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰