SHANE

SHANE
Bab 5 : Penasaran



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


...Tok...tok...tok...


''Masuklah!''


''Tuan,'' Kenan menghampiri Aldrich yang kini tengah sibuk melihat-lihat sebuah berkas pekerjaannya.


''Kau sudah datang,'' ucap Aldrich tanpa melihat ke arah Kenan.


''Ini berkas informasi yang Tuan minta, untuk saya selidiki. Dan saya juga sudah mendapatkan biodata perempuan yang sudah menolong Tuan. ''Ini Tuan,'' Kenan pun menyerahkan berkas tersebut.


''Baiklah, kau boleh pergi sekarang,''


''Baik Tuan, saya permisi,'' ucap Kenan yang berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Aldrich akan membuka berkas tersebut, namun Zayn langsung merebutnya.


''Shane Olivia zera,'' Zayn mengangguk-anggukan kepalanya melihat isi berkas tersebut.


''Kembalikan padaku Zayn!'' Aldrich akan merebutnya, namun dengan segera Zayn menjauhkannya.


''Cantik juga.''


Aldrich hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Setiap kali melihat gadis cantik, pasti akan membuatnya penasaran.


''Apa gadis ini yang telah menolong kita dari para perampok waktu itu Al?''


Aldrich hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala.


''Putri kedua dari David Mores dan Sonya Mores.''


''Wait! Kenapa dia tidak menggunakan nama Mores di belakang namanya? Sedangkan, sepertinya seluruh anggota keluarga besar Mores, menggunakan marga Mores? Lihatlah!'' Zayn menyodorkan berkas tersebut ke hadapan Aldrich.


Aldrich mengernyitkan dahinya melihat isi informasi biodata tentang Shane.


''Apakah menurutmu gadis itu bukanlah anggota asli dari keluarga Mores, Al?''


''Mungkin,'' jawab Aldric sambil membaca keseluruhan informasi yang baru saja ia dapatkan itu.


''Aku akan meminta Kenan kembali untuk menyelidikinya lagi.''


''Tapi Al, jika Gadis itu bukan keluarga inti, lalu mengapa sebagian besar kendali ada ditangannya? Bukankah seharusnya Natan_putra pertama mereka yang memegang kendali.''


''Sepertinya, banyak sekali rahasia yang ada di keluarga Tuan besar Mores ya,'' ucap Zayn.


''Sini! Berikan berkasnya padaku.'' Zayn langsung merebutnya kembali dari tangan Aldrich.


''Aku akan menyelidikinya sendiri. Aku sangat penasaran dengan keluarga Mores. Terutama dengan gadis yang bernama Shane itu.'' Zayn pun pergi begitu saja meninggalkan ruangan Aldrich. Aldrich pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


...Di tempat lain...


Saat ini Ellen sudah duduk manis menunggu Shane. Bahkan ia sudah menunggu kurang lebih dua jam lamanya. Namun Shane sama sekali tak terlihat kedatangannya.


Di tempat lain, tanpa sepengetahuan Ellen. Gadis yang sedari tadi telah lama ia tunggu-tunggu itu, malah sedang asyik berendam air hangat bertaburkan bunga di tempat spa hotel tempat ia menginap.


''Bukankah kau ada janji dengan mantan gebetanmu My dear,''


Shane hanya menyunggingkan ujung bibirnya mendengar ucapan sahabatnya itu_ Jessica.


Jessica hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Shane. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Tentu saja Jessica sangat hafal dengan sikap dan sifat sahabatnya.


Jika sudah sayang, meski seperti orang bodoh, akan tetap terus mengejarnya.


Namun sebaliknya, jika sudah benci. Meski hanya bertatap muka pasti sepah rasanya dan tak sudi berlama-lama berurusan dengannya.


''Lagi pula, aku tidak pernah berjanji akan datang menemuinya bukan?'' Ucap Shane sambil asyik memainkan bunga-bunga yang ada di bathtub_nya.


Sambil tersenyum. Jessica mengambil handuk mandinya. Sepertinya Jessica mulai menyudahi acara berendamnya.


''Kau ini tega sekali. Kan kasihan anak orang kau buat jadi patung di restoran. Apa lagi, sudah jam segini. Pasti sebentar lagi ia akan di usir oleh pelayan restorannya, karena restoran akan tutup.''


''Baiklah!''


''Sejak kapan kau jadi cerewet dan mengurusi urusan orang lain Jes? Seperti bukan kamu saja.'' Shane pun ikut membersihkan badannya dari bunga-bunga dan sisa-sisa gelembung busa sabun. Dan mulai bersiap-siap untuk menemui Ellen.


''Apa aku perlu mengantarmu My dear?''


''Lanjutkan saja kegiatanmu! Aku tidak mau mengganggu kencanmu. Aku akan mengurusnya sendiri.''


[ Andai kamu tahu yang sebenarnya Shane. Aku tak yakin, apakah kamu masih akan tetap mempercayaiku dan mau bersahabat denganku. Atau malah membenciku. Jessica meneteskan air matanya memandang kepergian sahabatnya itu.]


''Sudah hampir tutup restonya. Bahkan pelayan sudah berulang kali bertanya padaku. Tapi kenapa Zera belum datang juga.'' Ellen sudah seperti setrikaan yang maju mundur. Terkadang duduk, terkadang juga berdiri.


Shane tersenyum mengejek memandang Ellen sambil bersandar di daun pintu.


''Jangan harapkan orang menyeberangi samudera untukmu kalau kamu saja tidak mau melompati kubangan untuk mereka.''


Shane berjalan menghampiri Ellen.


Ellen sangat senang mendengar sang pemilik suara yang sedari tadi ia sudah tunggu-tunggu sejak lama. Meskipun bermulut pedas dan penuh sindiran. Namun Ellen berusaha mengabaikan itu semua.


''Kau sudah datang Zera?''


''Apa kau tidak lihat kalau aku sudah berdiri dihadapan mu?''


''Bukan begitu Zera, mari duduk dulu sini.'' Ellen menarik salah satu kursi untuk mempersilahkan Shane untuk duduk.


''Baiklah! Aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Katakan saja jawabanmu atas pertanyaanku tadi pagi!''


Ellen menarik nafas panjangnya. Pandangannya tulus melihat wajah Shane. Ada rasa nyeri di ulu hati setiap kali melihat Shane bersikap dingin terhadapnya. Dulu mereka sangat dekat, sangat akrab. Sekarang, rasanya seperti antara gagang dan ujung pisau.


Dengan satu kali tarikan nafas panjang, Ellen kembali membuang perlahan nafasnya.


''Kenapa malah bengong? Apa kau pikir waktuku tidaklah berharga?''


Kesabaran Shane mulai menghilang tak kala melihat pria yang saat ini duduk dihadapannya itu masih saja diam membisu.


''Kalau kau tidak mau berbicara, maka aku akan pergi,'' Shane akan berdiri kembali. Namun dengan segera Ellen menahan tangannya.


''Aku akan membayarnya dengan Villaku beserta isinya yang ada di Tesand. Kau juga boleh mengambil mobilku yang ada di Villa itu,'' ucap Ellen dengan suara berat.


''Tesand?''


( Ellen pun mengangguk )


''Apa kau yakin?''


''Tentu saja. Bukankah kau sejak dulu sangat menginginkan memiliki Villa di daerah itu?''


''Heeh!'' Shane tersenyum mendengar pernyataan Ellen.


Siapa yang tidak tahu Villa mewah yang ada di Tesand milik Ellen. Sudah sejak lama Shane sangat menginginkan untuk memiliki sebuah Villa di Tesand. Namun, hanya beberapa orang saja yang boleh memesannya di perumahan elit itu. Karena hanya anak dan cucu keturunannya saja, baru mereka berikan. Kecuali ada sesuatu hal yang mendesak, baru mereka menjualnya kepada orang luar.


''Baiklah, aku menyetujuinya.''


Ellen sangat senang mendengarnya. Akhirnya Shane mau membantunya, meskipun harus mengorbankan Villa warisannya.


Baru saja Ellen hendak memegang tangan Shane. Namun Shane langsung berdiri.


''Istrimu ada di kota Dover,London. Dia tengah mengandung putri keduanya. Carilah sendiri! Selebihnya, tergantung usahamu untuk bisa menemukannya,'' ucap Shane dengan senyum mengejek.


''Putri kedua? Maksud kamu apa Zera?''


''Kau itu bodoh atau tidak mau menerima kenyataan? Seharusnya kau sudah menebak atas perkataanku bukan?''


''Ingat janjimu! Jangan lagi muncul dihadapanku.'' Shane pun berjalan meninggalkan retoran itu. Namun sebelum pergi,


''Oh iya, Senang berbisnis denganmu. Hahahaha,''


Setelah itu Shane pun benar-benar pergi meninggalkan Ellen yang masih mematung dengan seribu pertanyaan yang entah pada siapa ia bisa mendapatkan jawabannya.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰