
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
''Iya,dan apa kau tahu apa yang telah Nona Shane lakukan sebelum kecelakaan yang menimpanya ini terjadi Al?''
Aldrich menggelengkan kepalanya.
''Nona Shane menemukan fakta bahwa dia bukan hanya anak angkat yang orang tuanya di bunuh oleh Tuan Mores saja, tapi juga ternyata ia adalah anak kandung Tuan Mores sendiri.''
''Apa! Bagaimana bisa?''
''Nyonya Alina_ ibu kandung Nona Shane, 20 tahun yang lalu di perkosa oleh Tuan Mores saat masih tinggal di desa.''
Aldrich semakin melebarkan pupil matanya. Ia sungguh tidak menyangka, betapa rumitnya masalah yang ada di keluarga Mores.
''Ibunya di perkosa tepat satu bulan sebelum pernikahanya dengan Tuan Fajar. Kakak Nyonya Alina menderita depresi berat karena ia yang menjadi saksi atas perbuatan keji Tuan Mores. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi adiknya_ Nyonya Alina.''
''Dan karena Nona Shane, mencob membalaskan dendamnya, akhirnya dia mengalami hal ini. Tapi walau begitu, ia juga sudah membunuh Tuan Marches_ kakaknya Tuan Mores. Juga sudah melukai Eva dan menghancurkan keluarga Tuan Seno. Sepertinya, Nona Shane ingin membuat hancur semua orang yang sudah terlibat dalam pembunuhan keluarganya.''
''Aku rasa semua informasi yang sudah aku dapatkan, sudah kukatakan dengan jelas padamu semuanya. Jadi, mana hadiahku Al?''
Zayn mengulurkan tangannya meminta hadiah dari Aldrich.
...Tuk.......
Bukannya hadiah yang ia dapatkan, tapi malah sebuah jitakan keras dari Aldrich yang mendarat tepat di jidatnya.
''Sakit!'' Zayn mengelus-elus jidatnya yang memerah akibat jitakan dari Aldrich.
''Itu hadiah yang pantas untukmu Zayn. Apa kau sudah lupa, karena perbuatanmu sekarang aku harus berpura-pura menjadi suami Shane. ! Dan itu semua berkat ulahmu Zayn!''
''Bukankah itu terdengar bagus Al? Selama ini kau tidak pernah jatuh cinta pada seorang wanita mana pun. Tapi semenjak kau bertemu dengan Nona Shane, hatimu jadi tergerak. Namun sayang, kau lemah dalam percintaan Al! Kau terlalu lambat menyatakannya. Dan dengan bantuanku sekarang kau bisa lebih dekat dengan Nona Shane,''
''Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku Al?''
''Berterima kasih gundulmu,'' Aldrich akan melayangkan kembali jitakannya, namun kali ini Zayn berhasil menghindarinya.
...Braak.......
''Kakak!''
Aldrich dan Zayn menghentikan obrolan mereka tak kala melihat Sella yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
''Ekheem...ekhem...'' Zayn hanya berdehem saja dan tidak menanggapi kehadiran Sella.
''Kak....'' Sella bergelayut manja di lengan Aldrich. Namun Aldrich langsung menghempasnya hingga tak sengaja membuat tangan Sella terbentur meja.
''Auuuu!''
''Kak, kau menyakitiku,''
''Aku akan lebih berbuat kasar padamu, jika kau sekali lagi menyentuhku!''
''Kak!''
Aldrich mengacuhkan panggilan Sella, dan lebih memilih pergi meninggalkan ruangan tersebut.
''Kak Zayn.....'' ucap Sella dengan suara manja yang sengaja ia buat-buat.
[°°Hueeeek....°°] Zayn muntah dalam hati xixixi...
[°°Aldrich sialan! Malah meninggalkanku dengan cewek jahat ini,°° ucapnya dalam hati.]
''Ada apa?'' Ucap Zayn dengan nada ketus.
''Bisakah kau membantuku membalutkan lukaku ini kak?'' Sella memasang ekpresi wajah yang memelas.
''Sepertinya aku tidak bisa,'' ucap Zayn. Dan Tuhan sedang membantu Zayn karena tiba-tiba Luwis datang untuk menemui Zayn.
''Kak Zayn, apa kau juga ingin mengacuhkanku?''
''Ini mumpung ada Luwis. Kau bisa memintanya untuk membalutkan lukamu. Lagi pula dia yang seorang dokter. Bukan diriku,''
Zayn memegang pundak Luwis lalu menariknya ke hadapan Sella. Setelah itu, ia langsung pergi berlari meninggalkan ruangan tersebut.
''Kak Zayn!''
''Sudahlah Sella, sini aku bantu balutkan lukamu sebelum terinfeksi kuman,''
Sella mengepalkan kedua tangannya melihat Aldrich dan Zayn yang selalu mengabaikannya.
...****************...
''Bagaimana hasil pencarianmu?''
''Maafkan saya Tuan. Saya sudah mencari Nona Shane kemana-mana. Bahkan di sisa reruntuhan mobil milik Nona Shane. Tapi kami sama sekali tidak menemukan jejaknya,''
''Apakah Shane sudah di tangkap oleh Richard?''
''Kami rasa belum Tuan, sebab kami datang lebih awal ketimbang rombongan Richard.''
''Kemana anak itu. Aku benar-benar sangat khawatir padanya,'' Tuan Marlon memegang dahinya yang kini terasa berdenyut menyakitkan.
''Apa jangan-jangan kak Shane hanyut ayah? Kata kak Robert, tempat kakak jatuh ada di jurang yang terjam dan di bawahnya ada aliran sungai yang sangat deras,''
''Tapi kami juga sudah menelusuri sungai itu hingga ke hilir. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Nona Shane, Nona Joice,''
''Tetap lakukan saja pencarian sampai Shane di temukan. Jangan sampai keduluan Richard, Robert!'' Perintah Tuan Marlon.
''Baik Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu,''
''Ya, pergilah!''
Robert dan rekan se timnya pun mulai kembali mencari keberadaan Shane.
''Ayah.....'' Joice memeluk ayahnya.
''Tenanglah. Ayah yakin, kakakmu pasti baik-baik saja.''
''Iya ayah, Joice sangat percaya dengan kemampuan kak Shane. Tapi ayah, apakah kak Shane juga membenci kita ayah? Aku takut ayah, aku takut jika kak Shane benar-benar membenci Joice dan tidak mau menjadi kakaknya Joice lagi.''
Tuan Marlon tersenyum mengusap puncak kepala Joice.
''Kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang masalah itu Joice. Ayah percaya, kakakmu itu anak yang baik. Dia bisa membedakan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak bersalah. Sifat dan sikapnya adalah turuan dari orang tuanya yang sudah terkenal akan kebaikannya. Jadi kau tidak perlu khawatir,''
''Iya Ayah. Semoga ucapan ayah benar,''
...Di rumah sakit...
Saat ini Shane tengah berdiri memandangi pemandangan yang ada di luar jendela ruangannya.
''Kau sedang apa?'' Ucap Aldrich yang melihat Shane berdiri di depan jendela.
''Sedang menikmati pemandangan. Ke marilah! Udara di sini sangat sejuk sekali,''
Aldrich mengambil sebuah selimut, lalu memakaikannya di tubuh Shane.
''Terimakasih,'' ucap Shane.
''Udaranya memang sangat sejuk. Tapi kau juga tidak boleh terlalu lama berdiri di sini. Nanti bisa terkena flu,''
''Baiklah-baiklah. Tapi ngomong-ngomong, kapan aku akan di perbolehkan untuk pulang? Rasanya aku sudah sangat bosan berada di sini,''
Aldrich memandangi wajah Shane yang terlihat imut dengan ekpresi yang menggemaskan.
[°°Bagaimana ini? Jika Shane meminta pulang, apakah aku harus membawanya pulang ke rumahku. Tapi melihat ke adaan rumah yang seperti itu, bukankah akan langsung ketahuan kalau kami bukanlah pasangan suami istri?°°]
Aldrich benar-benar di buat pusing akibat perbuatan Zayn. Ia pun segera mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Zayn.
''Ada apa? Mengapa tidak menjawab pertanyaanku?'' Shane membuyarkan lamunan Aldrich.
''Ah? Tidak apa-apa. Ayo kembali ke ranjangmu. Kau sudah terlalu lama berdiri di sini. Nanti aku akan berbicara dengan Luwis, supaya memperbolehkanmu untuk pulang,''
''Benarkah?''
''Iya,''
''Yeaaaaaay'' Muach...muach ( Shane mencium kedua pipi Aldrich) ''Terimakasih,'' ucap Shane dengan senyuamn.
Aldrich terpaku diam membisu. Ciuman Shane yang sangat cepat, sulit ia hindari dan kini ia benar-benar tidak tahu apa yang ada di hatinya.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰