SHANE

SHANE
Bab 3 : Kenangan Masa Lalu



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


Tiga Tahun yang lalu....


...Dor...dor...dor......


''Bagus Zera, sepertinya kau sudah lebih unggul dariku ya?''


Shane tersenyum mendengar pujian yang terlontar dari bibir manis Ellen. Sudah sejak lama Shane memendam perasaan suka terhadap Ellen. Namun sepertinya Ellen tidak menyadari perasaannya atau_kah pura-pura tidak mengetahuinya. Meskipun begitu Shane tetap menyukainya, karena baginya Ellen adalah cinta pertamanya. Ia berharap, suatu saat nanti Ellen akan mau menerima cintanya.


''Kau selalu memuji adikku Ell, apakah tidak ada rencana untuk menjadi adik iparku Ell?'' Sela Natan_kakaknya Shane.


Shane merasa malu setelah mendengar ucapan kakaknya. Bahkan pipinya kini merona seperti sebuah tomat yang ranum nan siap dipetik.


''Kau ini bicara apa sih Tan? Zera itu sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Jadi jangan bicara sembarangan,''


Mendengar ucapan Ellen, wajahnya memuram dan hati Shane mencelos seketika.


..."Ada yang retak tapi bukan kaca...


...Ada yang patah tapi bukan kayu...


...Ada yang terluka namun tidak berdarah"...


Natan yang menyadari perubahan ekpresi adiknya, langsung menghentikan pembicaraan mereka. Dan mencoba mengalihkannya.


''Oh ya, Ell siang ini Chaca akan datang ke reunian kita. Apa kau akan datang?''


''Chaca? Wah gadis cantik yang jadi primadona di kampus kita dulu kah?'' Ucap Ellen dengan penuh semangat. Natan mengangguk sebagai jawabannya.


Shane sudah terbiasa mendengar obrolan mereka yang terlihat bersemangat saat membahas para wanita cantik. Ellen memang suka dengan wanita-wanita cantik, apa lagi yang kaya dan mudah digoda. Tapi Ellen selama ini memperlakukan Shane sangat berbeda. Lebih menjaga, menyayangi dan selalu ada saat Shane membutuhkannya. Sebab itulah yang membuat Shane jatuh cinta pada Ellen.


Ellen sering bergonta-ganti pacar. Bahkan tanpa terkecuali, semua ia perkenalkan kepada Shane.


Hingga suatu sore...


''Kak, aku mau memgantarkan makanan ke rumah kak Ell!'' Teriak Shane dengan gembira, karena ia baru saja belajar memasak. Ia bermaksud ingin memberikan makanan yang ia masak untuk pertama kalinya kepada Ellen.


''Ell...!'' Ellen tidak ada di rumah.'' Namun suara Natan mengecil saat melihat adiknya sudah menjauh dari pandangan. Sehingga Shane sama sekali tak mendengar suara Natan.


Gadis itu pun dengan gembira mengendarai mobil barunya yang baru ia dapatkan dari pamannya setelah memenangkan pertandingan panahan. Ia bermaksud ingin menunjukkannya pada Ellen, karena mobil itu juga adalah mobil yang ingin Ellen miliki sejak lama. Sekaligus mengantarkan makan siang hasil dari belajar memasak untuk pertama kali baginya.


Kini mobil yang di kendarai Shane udah sampai di bawah apartemen milik Ellen. Ia pun bergegas untuk naik ke lantai atas agar bisa segera bertemu dengan Ellen.


Ckleek...


Karena Shane dan Natan sering pergi ke rumah Ellen, sebab itu Shane punya kunci rumah Ellen.


''Kenapa rumahnya terlihat sangat sepi?''


Shane mencoba melebarkan pandangannya mencari sosok yang ia cari. Namun tak terlihat batang hidungnya.


Shane kembali mengayunkan langkahnya menuju ke kamar pribadi Ellen. Terlihat, pintu kamar Ellen terbuka sedikit. Shane bermaksud ingin memberi kejutan, namun sepertinya malah ia sendiri yang terkejut saat melihat sosok yang sedari tadi ia cari.


Badannya terasa membeku. Hatinya pun langsung hancur seketika, saat ia tak sengaja melihat Ellen sedang bercumbu mesra dengan seorang perempuan.


Seorang laki-laki dan perempuan saling menautkan bibir mereka, tangan mereka pun saling berpelukan. Mata yang penuh hasrat dan nafsu hingga tidak menyadari keberadaan seorang gadis yang kini menangis tanpa suara saat melihat keadaan mereka berdua.


''Ayo kita pulang,''


Mata Shane tiba-tiba gelap saat sebuah telapak tangan menutupi kedua matanya. Kemudian tangannya ditarik untuk segera pergi dari tempat itu. Tempat yang membuatnya terluka. Bahkan yang membuatnya mati rasa.


Di mobil, Shane hanya terlihat diam saja. Tanpa sebuah kata, dan tanpa air mata. Natan merasa sedih melihat keadaan adiknya itu. Tangannya mengepal erat. Ingin rasanya ia kembali ke rumah itu dan memukuli sahabatnya. Namun ia juga tak bisa menyalahkan sahabatnya begitu saja.


''Kakak,''


''Aku ingin pergi ke pantai. Bisakah kakak menemani ku?'' Ucap Shane.


Dan sejak saat itu, Shane seakan mati rasa dengan lawan jenis. Selama ini, waktunya hanya ia habiskan dengan berlatih dan bersekolah dengan sungguh-sungguh. Cerdik dan berwawasan luas sudah pasti itu juga salah satu ke ahliannya.


Namun rasa sayang dan dan cinta yang ada di hatinya telah padam bersama dengan kepergian Ellen tiga tahun yang lalu.


Beberapa bulan lagi kakaknya Natan akan menikah. Dan bertepatan juga dengan ulang tahun kakeknya yaitu Tuan Mores. Shane sudah di wanti-wanti agar tidak membuat masalah. Namun kenyataannya apapun yang dilakukan oleh Shane, akan selalu salah di mata papa dan mamanya.


''Aku akan menemui paman. Kau pergilah saja sendiri,'' Shane meninggalkan Joice begitu saja, hingga membuat Joice mengerucutkan bibirnya.


''Kau selalu seperti itu. Lihatlah! Aku juga yang akhirnya selalu ditinggalkan. Kau dan ayah sama saja,'' gerutu Joice. Namun Shane hanya tersenyum dan melambaikan tangannya mendengar gerutuan adik sepupunya itu.


Di belakang rumah kediaman Tuan Marlon


''Ya, benar seperti itu. Bodoh! Seharusnya kau mengayunkan pedangmu!''


Suara Tuan Marlon yang kini terlihat sedang mengajarkan ke ahliannya kepada beberapa anak buahnya. Cara menggunakan pedang.


Dari arah belakang


''Hap..''


Shane sengaja menyergap pamannya, namun pamannya dengan lihai mampu menandingi ilmu bela diri Shane.


''Prak!''


Sebuah Vas bunga pecah dan kedua tangan Shane sudah di kunci begitu saja menggunakan satu tangan pamannya.


''Aku kalah lagi paman...''


''Menyebalkan sekali! Kapan aku bisa mengalahkan_mu paman?'' Gerutu Shane.


''Kau kurang berlatih. Yakinlah, suatu saat kau bisa lebih hebat dari paman,'' ucap Tuan Marlon.


''Apa kau sudah membereskan sampah yang ada di wilayah A?''


''Sudah selesai paman.''


''Kebetulan sekali mereka akan beraksi merampok dua orang Tuan muda. Namun aku sudah membereskan mereka paman. Aku rasa semua warga yang akan bekerja di kebun kita akan aman saat melewati wilayah itu,''


''Bagus sekali Shane. Paman percaya, kau tidak akan pernah mengecewakan perintah paman. Lagi pula mereka pantas mendapatkannya! Sudah berapa nyawa yang sudah mereka habisi, lansia, ibu hamil, bahkan anak-anak yang masih balita saja tidak luput dari senjata tajam mereka.''


( Sambil menepuk bahu Shane )


''Kau sudah bekerja keras membereskan mereka, kau layak mendapatkan hadiah dari paman. Seharusnya papamu bangga padamu. Tapi, ah...ya sudahlah. Ayo! Temani paman minum teh saja,''


Shane hanya diam, tidak menjawab apa-apa. Baginya sudah biasa kalau ia tidak pernah di anggap oleh orang tuanya. Baginya dengan adanya pamannya dan kakeknya yang menyayanginya, itu sudah lebih dari cukup.


Dan mereka pun meminum teh bersama sambil mengawasi pelatihan beberapa anak buah Tuan Marlon.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰